
Di penjara, semua tuduhan bukti. Bram kembali tidak ditahan, akan tetapi karena yang ditahan adalah orang kuat seperti Mr Taylor, maka mustahil ia tidak bebas. Kekuatan orang berkuasa, tetaplah akan mudah dibeli, bahkan semua petugas berseragam akan mudah dibeli itu pasti.
"Semua data, ini real. Kejahatan mr Taylor yang menipu kami, bahkan tanah itu bukan lagi sengketa. Saksinya adalah pak Rahmat, ia sedang menuju kemari." cetus Bram.
"Baik, kita akan proses. Tapi tetap saja, mr Taylor akan dibebaskan dengan jaminan." ucap petugas seragam coklat itu.
Sementara Elea dan Bram, sudah emosi menggebu. Benar ia adalah mafia tanah, dengan modus dua kepemilikan saat menjual deal. Setelah tanah itu berhasil subur, maka cara liciknya untuk gunakan dengan alasan masih miliknya.
"Bram, pulanglah dengan kekasihmu. Soal seperti ini tidak bisa dilunakkan dengan bukti kejujuran." bisik Kristal.
Bram, pun mengangguk. Sementara Kristal telah menuju ruangan yang tak terlihat. Entah apa yang akan dilakukan oleh Kristal pada mr Taylor. Saat Bram ingin menghampiri Kristal, ia di cegah petugas untuk pulang dan membawa pengacara handal. Elea tak bisa berbuat apa apa, ia menenangkan kekasihnya itu. Karena ia tahu, kekuasaan lebih nomor satu di dunia ini meski sudah ada bukti masih saja, kalau bukti itu saja tidak cukup.
"Kita pulang sekarang Bram!"
"Tapi rumah impian kita telah hancur, El."
"Apartemenku masih cukup! Lagi pula, aku biasanya selalu siaran langsung hampir sepanjang waktu. Selesai siaran, aku langsung tidur dan tidak ada waktu sama sekali untuk membersihkan. Jika kamu pindah, kamu bisa membantuku membersihkan rumah kecilku, anggap saja kita mulai dari nol, rumah rusak itu peninggalan system. Ayolah kita kecilkan masalah ini!"
Bram, memandangi Elea yang ada di hadapannya. Sebenarnya hatinya sangat tersentuh, tapi dirinya sekarang sudah memiliki Elea yang sempurna, apa pantas ia tinggal bersamanya, tanpa ikatan suami istri.
Selain itu, Bram tidak ingin orang lain mengetahui hal tentang dirinya yang menjadi pewaris konglomerat. Kalau dia tinggal bersama Elea di apartement kemungkinan untuk bisa ketahuan tidak bisa terelakan.
"Terima kasih, tapi aku adalah pria dan kamu wanita. Kurasa agak tidak leluasa kalau kita tinggal berdua." ujar Bram pelan setelah bimbang sebentar.
__ADS_1
"Kamu takut kalau aku akan melahap dirimu?" ujar Elea pada Bram, dengan ekspresi sinis.
"Bukan seperti itu... Justru aku yang takut akan mengambil keuntungan darimu, apalagi kamu yang sekarang adalah pembawa acara, penelitian. Kalau penggemar siaran langsung tahu kamu tinggal dengan seorang pria, bukankah mereka akan membunuhku?" ujar Bram sambil terkekeh.
"Tapi ruangan kita ada sekat! Saat aku siaran, kamu bisa fokus dengan timun emasmu. Jika kamu pulang, kamu akan lelah Bram. Lokasi usaha kamu itu enam jam, sangat melelahkan!"
Melihat Bram, tidak berniat untuk tinggal bersamanya, Elea pun tidak mengatakan apa-apa lagi.
Apalagi Bram, memiliki uang yang banyak sekarang. Kalau saja bisa tinggal bersama dan di temani Elea yang cantik, itu benar-benar membahagiakan. Tapi karena Bram sudah komitmen, ia tidak ingin di dekat kekasihnya itu, ia melupakan misi deliverynya. Maka dia sama sekali tidak berani memiliki niat lain sebelum misinya selesai, sudah dipastikan jika bersama Elea, ia akan ingin lebih jika dekat sangat.
Namun, sebenarnya kata-kata Elea hari ini dapat dianggap sebagai pengingat bagi Bram bahwa dirinya sangat kaya sekarang.
Dia sebenernya tidak perlu tinggal dirumah kecil, dia bisa pergi ke tempat terbaik di kota S untuk membeli villa, juga sekalian membeli mobil sport.
"Baiklah, aku akan setuju apapun yang kamu lakukan Bram. Selagi masalah menimpamu, aku tetap disampingmu!" ujar Elea senyum, hal itu membuat Bram bahagia.
***
-- Hotel DeLuxas --
Pukul sembilan pagi keesokan harinya.
Bram, terbangun oleh deringan ponsel yang tiba-tiba.
__ADS_1
Bram, mengambil dan melihat ponselnya sekilas. Ternyata Hari yang menelpon, Bram pun segera menerimanya.
"Kak, apakah Anda sudah tiba di Javanegra Gourmet Atelier Restaurant sekarang?" tanya Hari.
"Gawat, aku lupa hal ini, aku pergi sekarang juga!"
Mungkin karena tadi malam dia sedikit bersemangat tentang bagaimana dirinya harus menggunakan uang di tangannya, sehingga, Bram lupa bahwa dirinya ada janji temu dengan Hari, terkait bukti Mr Taylor
Bahkan saat ini, message email terpampang dari Saga! Ia adalah anak angkat Mr Taylor yang akan membantunya, dalam kasus kelicikan mafia tanah.
'Haah, dia serius atau ini jebakan? Seharusnya Saga, ia lebih membela ayah angkatnya. Bukankah kelicikannya untuk memperkaya, dan hidup Saga juga terjamin. Lalu ia bilang, akan memberi kartu mati mr Taylor?' gumam Bram, saat itu masih menempelkan ponsel di telinga.
Sementara tangan satunya ponsel tablet khusus, ia menatap pesan yang masuk. Dan membaca chat dari Saga!
"Kak! kau dengar aku bicara, tidak?" teriak Hari.
"Ah! Ya, aku akan bersiap. Tapi tugasmu carikan aku villa dekat tanah sengketa. Kau tahu, rumahku hancur. Sementara aku akan urus sisanya, Taylor akan aku jebloskan tanpa uang jaminan. Aku pastikan, kekuasaannya tidak setenar sekarang ini." lirih Bram, yang saat ini memikirkan ide.
Tling!
[ Bram, cepatlah turun! Lantai Ground bertemu pria bertopeng, topi kupluk. Kau akan menemukan jawabannya, untuk mengalahkannya! ] pesan System.
Tbc.
__ADS_1