
"Jika kau berhasil mencapai sistem tertinggi, maka semua orang akan takluk di bawah kakimu!" seru Olive bernada serius di tengah-tengah ketegangan yang ada. Kali ini ekspresi yang ditampilkan datar-datar saja. Rasanya tawar seperti teh yang tidak diberikan gula.
Bram tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya di hadapan pria yang bahkan usianya saja tidak dapat ditebak oleh dirinya. Saking tidak percayanya dengan apa yang didengarnya, Bram sampai menampar pipinya beberapa kali. Dia berteriak dan teriakannya sebanyak tamparannya.
"Aku mungkin salah dengar," batinnya sambil menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin ada sistem-sistem di dunia nyata. Hal seperti itu hanya ada di novel-novel fantasi. Di zaman modern kayak gini mana mungkin ada yang namanya sistem. Ya, tidak salah lagi. Telingaku memang salah dengar. Bahkan harusnya sistem delivery saja memakai bantuan komputer, dan sebuah aplikasi."
Bram mengacak pucuk rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Setelah sebelum ini dia harus dikejutkan dengan kehadiran Olive yang mengaku sebagai Utusan Langit, kini dirinya harus dihadapkan dengan hal yang semakin jauh diluar nalar manusia.
Sejauh yang dirinya ketahui, Sistem adalah tingkatan dalam dunia kultivasi. Dirinya acap kali membaca novel-novel yang memiliki alur cerita sistem dan kultivasi.
Jika praduganya benar, maka dirinya harus bersemedi, lalu berkelana ke penjuru dunia untuk meningkatkan kultivasi miliknya. Dalam artian, maksud dari tugas membawa kedamaian dunia kembali, iyalah harus berkultivasi, begitukah?
Memikirkan bagaimana dirinya harus berkultivasi setelah ini, membuat jantung yang memompa aliran darah pun tidak dapat bekerja sebagaimana seharusnya. Darah yang mengalir ke otaknya seolah membeku mengakibatkan dirinya sulit berpikir dan kesadarannya perlahan-lahan mulai menipis. Bram yang memang memiliki riwayat sesak napas pun, mulai merasa seperti terbakar.
Mendapati perubahan signifikan dari Bram. Olive bukannya merasa cemas, sebaliknya dia terlihat baik-baik saja dan lebih tenang dari sebelumnya.
Dia mengikis jarak yang memang hanya beberapa jengkal itu, "Bodoh!" umpatnya sambil menyentil kening Bram dengan sebelah tangannya.
Darah yang semula membeku di bagian otak pun, perlahan-lahan mulai berjalan normal lagi. Hati yang terasa seperti dibakar itu perlahan-lahan mulai terasa tenang.
Bram terbelalak, mendapati seluruh organ tubuhnya kembali normal, terutama organ tengah dibawah leher, yang sudah tidak sesak lagi dan bagusnya, dia mendapatkan kesadarannya kembali.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Pertanyaannya itu ditanggapi dengan tenang dan santai oleh Olive.
"Seharusnya, penyakit turunanmu itu sudah menghilang, tapi mengapa masih tetap ada, ya? Jangan-jangan karena penyakit sesak napasmu diturunkan langsung dari ayahmu, inilah yang menjadi penyebab susah untuk disembuhkan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Bram, ia malah mengganti topik pembicaraan. Bram ingin mengumpat. Namun, segera diurungkan niatnya tersebut dan yang dilakukannya sekarang adalah berterimakasih.
__ADS_1
"Terima kasih. Aku tidak tahu apa jadinya jika tidak ada dirimu."
"Ya, itu sudah jadi tugasku. Misimu kali ini harus mengkesampingkan keluargamu di dunia nyata! Papamu, dan orang yang kamu sayang akan aman."
Bram melebarkan mulutnya. Biarpun begitu, tidak ada sepatah katapun yang terlontar darinya. Sementara itu, Olive menyeringai.
"Terhitung sudah tiga kali aku menyelamatkan nyawamu dan bisa-bisanya kau menganggapnya hanya dua kali?" protesnya bernada kesal.
Bram terkesiap, sebelah matanya berkedut selesai mendengar penuturan Olive yang lebih pantas disebut manusia perhitungan dibandingkan Utusan Langit.
"Baiklah Tuan Olive, aku berhutang nyawa tiga kali pada Anda," ungkap Bram formal.
Olive tersenyum tipis sambil mengangguk, susah mendapat pengakuan barulah Olive membuka Buku Takdir-nya kembali.
Bram pun telah siap menerima segalanya, tetapi, Olive mengurungkan niatnya pada detik itu juga, alhasil buku tersebut ditutupnya kembali.
Setelah puas bermain-main, barulah Olive serius dengan apa yang seharusnya menjadi tugasnya.
"Bram Hartanto. Raja Langit memintamu untuk melumpuhkan para mafia, setiap langkahmu akan ada sistem dengan jari, setiap kamu berkata maka akan menjadi kenyataan, di depan lawanmu! Hal ini menjadi keputusan Raja Langit sebagaimana yang telah menjadi takdirmu," jelas Olive lantang.
Bram hampir tersedak napasnya sendiri sesudah mendengar penuturan Olive.
"Jadi artinya ..."
"Sama halnya dengan kultivasi para dewa, yang mengharuskan dirimu mencari pengalaman hidup. Sistem ini pun tidak jauh berbeda, kamu diharuskan mencari Poin Kemenangan dan mengumpulkannya sebanyak-banyaknya. Dengan cara inilah, kau bisa mencapai Tingkat Tertinggi dalam Sistem tingkat tinggi," seloroh Olive lebih dulu sebelum Bram mengeluarkan pemikirannya.
"Astaga ... Mengapa hidupku berat sekali? Mendengarnya saja sudah membuat kepalaku pusing, apa lagi saat menjalankannya nanti?" Bram membatin, biarpun diucapkan dalam hati, tetap saja Olive dapat mendengarnya.
"Salah sendiri, kenapa memilih dunia hitam dan amat kaya dibandingkan cita-citamu yang menjadi Dokter itu?" cibir Olive kemudian tanpa rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
Mendapat cibiran, dirinya pun tidak terima. Bram sudah siap mengeluarkan unek-uneknya, tapi Olive langsung mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat supaya menahan diri untuk tidak bersuara.
"Aku sudah tahu semua alasannya. Jadi, kau tidak usah mengulang penjelasan yang sudah jelas-jelas kuketahui," tegasnya tanpa berkedip.
"Satu hal lagi, jangan tanyakan dari mana aku tahu. Kau adalah orang normal, bisa melihat dan mendengar. Sudah pasti kau mengetahui jawabannya tanpa harus aku yang bicara," tutupnya tanpa ekspresi.
Bram mengelah napas panjang. Dia dibuat pusing tujuh keliling menghadapi Olive yang menurutnya penuh misteri. Selain kedatangannya yang tiba-tiba, setiap perkataannya pun tidak mampu ditebak. Selalu ada saja hal yang membuat Bram geleng-geleng kepala.
Penjelasan pun dilanjutkan kembali. Olive menjelaskan satu persatu aturan dalam Sistem tertinggi yang menjadi tugas Bram pada kehidupan keduanya ini.
"Stop!" Kali ini Bram, yang mengangkat telapak tangannya. Olive berhenti bicara, segera dia menutup Buku Takdir yang baru dibacanya hingga lembar kesepuluh.
"Sebentar, aku ingin bertanya," lanjut Bram kemudian.
Olive bergumam, seraya melipat kedua tangan dan mengelus dagunya. Dia memilih diam sekarang, memberi ruang terlebih dulu pada Bram.
"Jadi sekarang aku berada ditahun berapa?"
"Tahun 2021," jawab enteng Oliver Kristalion tanpa ekspresi.
"Apa, 2021? Tentunya aku tidak salah dengar bukan?"
Olive mengangguk, "Ya, yang kau dengar benar adanya. Sekarang kau berada di tahun 2021, satu bulan sebelum insiden mobilmu terjun ke sungai itu!" tunjuk Olive pada aliran sungai yang berada tepat di belakang Bram, sekaligus cara dirinya mengakhiri kalimat.
Bram berbalik badan, memandang aliran sungai dengan perasaan tak terduga sebelumnya.
"Bagaimana, apa kau mengingat semuanya?" cetus Olive datar-datar saja.
Tbc.
__ADS_1