
Sementara itu, masih di hari yang sama, di tempat terpisah, jauh dari lokasi keberadaan Bram dan Olive sekarang. Bram di minta untuk menebus obat, sehingga kala itu ia ingin sekali mengambil dana beberapa uang cash keperluannya.
Setelah yakin orangtua anak itu datang, Bram segera memberikan satu amplop di samping bahu tangan anak itu, yang terkena gips di leher. Bram mengambil beberapa gepok uang untuk keperluan anak itu sembuh total.
Karena Bram yakin, beberapa banyak anak yang di cekoki barang haram dari keluarga tidak mampu. Jadi hal yang Bram lakukan adalah menolong anak anak itu agar tidak terkena dampak.
Tlith!
[ Selamat Bram, misi melawan penjahat di area sekolah hampir selesai. Tugasmu kali ini adalah mencari strategi dan mengalahkan satu markas genk merah! Agar mereka tidak beroperasi lagi di sekitaran. Maka keberhasilanmu wajib di puji. Selamat, kamu bisa pulang Bram! ] pesan System.
Bukan hal yang biasa, Bram sudah rindu untuk pulang. Memberitahukan pada keluarganya, jika ia masih hidup. Sehingga Bram yakin, para pengedar barang haram sudah sedikit dan takut, apalagi dari beberapa mereka sudah bertemu Bram, dengan kekuatan sengatan listriknya, Bram tunjukan agar mereka berhenti berulah menindas anak anak sekolah abu abu, ditempat ia bekerja sebagai guru tiga bahasa.
Bram pun selesai menebus obat, hingga matanya menepis salah ruangan aneh. Mirip sebuah warung kopi namun berpintu setengah, yang membuat hati Bram beranjak mendekat ingin tahu, ada apa gerangan disana.
Markas pria berjenggot, yang bertempat di alu lalang rumah sakit. Bram saat itu, telah kembali dari apotek. Ia pun mengintip rasa penasaran.
BRANG ....
Benda padat yang terbuat dari kaca berbentuk seperti vas itu dibanting ke lantai, dengan sangat keras.
Setidaknya Bram melihat, lima orang pria perkasa tersentak kaget, saat vas tersebut dihancurkan tepat di depan mata mereka.
__ADS_1
"Bagaimana bisa si Joni mati?!" bentak keras dari pria setengah baya yang sebagian rambutnya sudah memutih itu. "Kamu, Jodi!" tunjuknya kemudian, pada salah satu dari kelima pria perkasa itu.
"Maafkan saya, Bos, tapi orang itu sangat kuat sampai-sampai kami tidak bisa melawannya, tangannya mengeluarkan api listrik." jelas pria bernama Jodi itu sebagai pengakuannya pada Bos-nya.
Pria setengah baya yang sebagian rambutnya telah memutih itu, adalah ketua dari Organisasi genk Merah yang perkasa.
Bendera dan nama di dinding yang Bram lihat saat itu adalah, Kura-kura Merah, iyalah Organisasi yang menguasai daerah tersebut. Wilayah kekuasaannya meliputi, tiga warga. Ketiga wilayah yang letaknya tidak terlalu luas. Namun, pertumbuhan penduduknya cukup tinggi.
Buana, pria setengah baya itu mencengkram kerah baju Jodi, dengan sebelah tangannya. Menatap nanar anak buahnya itu.
"Dia yang hebat atau kalian yang lemah!"
Satu tinju pukulan keras diberikan untuk anak buahnya yang telah gagal menjalani tugas seperti biasanya. Bahkan hari ini salah satu anggota genk Merah harus meregang nyawa karena ulah orang asing.
Jodi terpental dan tersungkur di lantai sambil memegangi perutnya, yang nyeri akibat terkena tinju dari Bos-nya.
Melihat rekan mereka yang tak berdaya, keempat pria perkasa itu menundukkan kepala, mana berani mereka memandang langsung Buana, dalam keadaan bosnya itu sedang marah.
"Untuk kalian berempat! Cepat cari tahu siapa yang sudah membuat Joni kehilangan kepalanya itu!" bentak Buana, sambil menjatuhkan perintah kepada anak buahnya.
Setelah berhasil menemukan dia, maka bunuh dan bawakan kepalanya ke hadapanku. Paham!!
__ADS_1
"Siap, Bos!" jawab serentak keempatnya sambil mengangkat kepala dan menaikkan kedua bahu. Setelah itu, tanpa berkata-kata lagi, mereka pergi dari sana, berlari meninggalkan ruangan yang minim penerangan itu.
Sementara itu, Buana mendekatkan badannya, duduk berjongkok di depan Jodi yang masih meringis kesakitan di bagian perutnya.
Bukan hanya perut, tetapi wajahnya juga sudah babak belur. Darah segar mengalir bukan hanya dari tepi bibir saja, tetapi hidung serta pelipis matanya.
"Dirimu tahu bukan, hukuman untuk mereka yang gagal menjalankan tugas?"
Jodi tak berani menatap lama-lama bosnya. Bukan hanya itu saja, bahkan dirinya tak kuasa untuk mengeluarkan hembusan napasnya.
Buana beringsut, diperhatikannya sang anak buah yang sudah bekerja padanya selama belasan tahun itu.
Sebagai atasan yang baik, Buana ingin mengingat kontribusi yang sudah Jodi torehkan untuk Organisasi Genk Merah, sekaligus ingin melihat wajah pria berjenggot agak tebal itu untuk yang terakhir kalinya.
Bugh!! Anak buah itu ditendang dan terpental sejauh sepuluh kilo meter. Sehingga Bram yang mengintip, ia masih menatap sekeliling atur strategi.
Bram tahu, mereka sedang mencarinya dari pengakuan anak buahnya, ia adalah salah satu dari tiga pria gempal dan kurus yang melawannya saat itu, berhasil kabur. Sementara kelimanya sudah menjadi abu, setelah mati dan darahnya kering beberapa hari lalu.
'Kenapa dia kuat, tidak langsung mencariku sendiri saja! bisa punya kemampuan tendang sekali hancur, malah menyuruh anak buahnya?' batin Bram.
Tbc.
__ADS_1