Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 MENCARI DATA


__ADS_3

Siren hari itu pergi bersama Damar, hingga mereka menepi di sebuah cafe puncak.


Damar pun berkata, "Kamu lapar Sir, kita mampir resto tempat ini ya, katanya ini tempat paling enak makanannya?"


"Hehehe boleh deh. Eh ya! kamu benar nekat ya datang ke kampus cewe."


"Biar saja, memang kenapa kamu kan bukan istri orang. Apa kamu telah bertunangan dengan Daru, yang kamu ceritain itu?"


"Kita ke pantai itu, duduk di sana kita bicarain disana, kayaknya asik." ucap Siren, dan Damar mengekor.


Siren menghela nafas, ia hanya terdiam mendengarkan, senyum tak mau menjawab.


"Untuk apa kamu khawatir aku sudah disini. Maaf andai aku tau saat tadi kamu dihampiri wanitanya Daru, maaf aku terlambat melindungi mu. Paman Alex sedang mencari data kelemahan Daru, sehingga dia pasti ga akan mudah menemui kamu lagi." Damar menatap sang kekasih.


"Tapi Damar, kamu tau aku sebenarnya sakit saat wanita tadi bicara seperti itu. Bahkan di kampus mungkin aku akan menjadi bahan gunjingan karena wanita tadi masuk ke kantin dengan ramai menuduhku."


"Tenanglah kamu ga usah khawatir ya Siren! aku janji akan membantumu. Aku paham kamu ingin memberontak berbicara pada papa, tapi aku yakin kamu juga punya alasan dan takut jantung papa mu semakin buruk kan, aku rindu kamu yang kuat dan tegas. Bukankah selama ini kamu selalu berdandan ala pria?" elak tawa goda Damar.


"Kamu tuh ya ..! by the way terimakasih Damar, aku sangat berterimakasih sama kamu."


"Tenanglah! sudah seharusnya kan."


Lama mereka menghabiskan waktu makan dan berbicara penuh. Siren yang tiba di satu pantai tak jauh dari cafe meregangkan kedua kakinya di atas air laut, ia duduk bersama dengan Damar diujung jembatan, menatap air laut dan ombak, memang benar menenangkan juga mendengar suara burung yang terbang dengan angin kencang.


"Kenapa kamu melamun Siren?"


"Aku takut, kalau kamu terus bersamaku. Papaku tahu, jika kamu adalah putra dari Bramantyo. Aku khawatir terjadi sesuatu setelah kamu singkirkan Daru."


"Kamu ga percaya, sama aku?"


"Entahlah aku takut aja! kamu harus tahu Damar, biasanya keluarga yang sudah lama bermusuhan. Tidak mudah mereka berteman semakin dekat, meski itu generasinya."


"Baiklah maafkan aku ya Siren! aku janji padamu, semua akan baik baik aja."

__ADS_1


Damar pun menyentuh pipi Siren. Setelah itu Siren pun bersandar dipundak Damar, sambil memainkan memercik air dikakinya.


"Siren .... maafkan aku yang terlambat mencarimu karena aku banyak trouble dalam usaha Dady. Aku terlihat egois karena mencintaimu tapi aku menginginkan dirimu lebih dulu, harusnya saat di paris kita pernah satu tim, aku tidak meninggalkanmu, jika tidak kamu tak akan terjerat seperti ini!"


"Sudahlah! Damar semua ini sudah terjadi hanya satu kita harus menghadapinya dan menyelesaikannya. Aku hanya pasrah akan apa nanti yang terjadi itu saja."


Siren merogoh ponsel nya, terkejut ketika ia salah mengambil ponsel.


"Damar gawat kita harus turun dan pergi, aku lupa hari ini papa kembali pulang dari rumah sakit, aku harus menjemputnya."


"Oke! aku antar, kita bisa cepat kok."


Damar melupakan, kala ponselnya juga bergetar. Yang sudah pasti dari paman Alex, Damar melupakan pertemuan penting yang saat itu sudah ada Bram, sang dady yang menunggunya di kantor.


Beberapa jam kemudian! Tiba dirumah sakit, satu jam kemudian Damar setia menunggu di luar, mengantar Siren, meski ia sudah pasti menerima panggilan dari paman Alex.


"Kenapa kamu diantar dia, Nak?" ucap papa Adit.


"Pah ... please papa tidak usah berfikir tak enak. Siren membuat skripsi dan kebetulan tempat magang Siren dekat dengan Damar. Lagi pula Damar bisa membantu papa dari ranjang. Siren bantu bereskan yang lain dulu ya."


Damar pun, bersabar akan perlakuan papa Siren, karena sepenuhnya kesalahannya yang telah mengabaikan Siren dan membiarkan Daru lebih dulu masuk, apalagi kisah mereka bertentangan pada keluarga mereka yang pernah beradu bisnis, menyebabkan Tjandra kakek dari Siren di penjara dan bangkrut karena dady Bram membalaskan dendam.


"Ayo, om! Damar bantu, cepat sehat ya om."


ucap Damar.


Namun hanya mendapat balasan isyarat saja. Bahkan sepanjang perjalanan mereka diam, hingga berada di tepi rumah. Damar pun mengantar hingga papa Adit ke kamar dan beristirahat.


"Damar makasih ya kamu sudah antar. Oh ia kamu pulang dulu aja sudah larut malam, Juga untuk soal tadi, maafkan sikap papaku ya!" bisik Siren.


"Tak apa Siren, aku akan sabar perlahan."


Siren tersenyum ketika Damar melontarkan kata itu.

__ADS_1


"Damar semangat ya berjuang ambil hati papa, bye selamat malam."


Damar pun tersenyum memberi balasan dan kode membulat tanda ok!! ia pamit dengan motor besarnya, menuju pulang sampai rumah. Tanpa tahu, jika papa Siren meminta putrinya menjauhi Damar, karena keluarga mereka pernah bersiteru hebat dan tidak mungkin merestui, bahkan jika berteman saja mungkin kakek Tjandra akan murka membuang Siren dan dirinya.


"Jauhi dia, Siren. Papa minta darimu!"


"Pah ayolah! kita hanya berteman dekat, kita punya project dan impian suatu hal yang berbeda, ini demi masa depan bersinar Siren."


"Keluarlah dari rumah ini, jika kamu tidak peduli pada papa. Jika si Bram tahu, putranya dekat dengan cucu dari pria yang pernah membuat dirinya hampir terbunuh, perusahaannya bangkrut. Apakah tetap baik baik saja?" Siren terdiam, sungguh ini adalah sebuah dilema baginya.


***


Sementara Damar, yang baru sampai. Ia di cecar habis habisan, ketika Bram menunggu putranya pulang, dan membuat suatu hal kesalahan yang menurut Bram fatal.


"Dady, aku pulang. Maaf terlambat."


"Dari mana saja kamu, baru pulang semalam ini. Benarkah kamu pergi dengan teman wanita, tidak hadir pertemuan klien tadi siang?"


"Dady ayolah! aku masih remaja, yang masih ingin menemukan jati diriku. Bisakah mengenalkan aku pada klien nanti saja?"


"Damar! ingatlah semua yang telah dady dan kakekmu pertahankan, kau harus fokus pada bisnis dadymu. Jika wanita nomor dua, dia jika setia pasti akan menunggumu."


"Jadi, mau dady apa?"


"Fokus pada bisnismu, juga kamu berjanji pada dady untuk meluncurkan sebuah komputer system dari aliran sinar matahari, yang berfungsi mendetec seluruh virus hacker masuk. Apa kamu lupa?"


"Tidak! butuh proses Dady. Aku mohon mengertilah, besok aku pasti akan ke kantor. Tapi jangan larang aku di jam tertentu yang tidak bisa aku tinggalkan." ucap Damar dan berlalu.


Bram terkejut melihat putranya labil, bisa bisa seluruh kekayaan yang ada akan lenyap jika Damar tidak bersungguh sungguh.


"Alex aku minta data, seluruh teman Damar yang sedang ia dekati sekarang juga!" ujar Bram, membuat Alex terdiam gugup.


"Ba-baik. Segera saya akan temukan."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2