
Daru, sengaja melangkah jarak tinggi, agar bisa menghalangi jalan Siren.
"Siren, saya akan meminta kamu bergabung untuk bisnis tadi, kita harus bekerja sama karena daya magnet mu, aura mu kuat, saya tidak akan pergi sebelum kamu menjawab."
"Maaf, Tuan Daru, masih ada yang lain, Saya rasa saya tidak bisa. Saya disini, hanya bisnis mertua saya yang harus turut andil, jadi untuk menjadi bagian itu .. Saya tidak yakin karena .." terdiam Siren.
"Harus izin suaminya lebih dulu Daru!" jawab Damar, dari arah lain. Hal itu membuat Siren senyum.
Siren senang, jika Suaminya dan paman Kenan sudah mendekat, tak sadar Siren tersenyum melihat suaminya datang. Seolah mempermudah jalan ia lepas dari kejaran Daru.
"Hubby .." Siren memeluk suaminya dengan erat.
"Hubby. Tunggu! apa kalian sudah menikah?"
"Kenapa kau kaget, sejak kau culik wanitaku, kau berada di jeruji besi, aku sudah menikahinya. Jadi hempaslah kau dari Siren, agar tidak merumitkan bisnismu kelak!" tegas Damar, menatap tajam pria yang ingin sekali ia benci.
Helaan nafas, Daru pun pamit dan melangkah, diikuti asistennya.
"Sayang apa kamu baik baik saja?" Damar mencium kening istrinya.
"Hubby setelah kamu datang, Aku amat membaik 100%."
"Lalu stelah dari sini kamu akan kemana sayang?"
"Kemenara eifel, ya kan Mikha?"
"Apa .. menara eifel, lalu sudah hampir malam." gerutu Mikha.
"Heuumph, ga masalah kan."
"Lha kamu enak ada suami, lha aku gimana ..?" menatap ke arah pak Kenan, tak satupun suaminya datang.
"Eheuuum, Udara dingin, tidak baik untuk kesehatan." lirih Hari Hartanto, membuat Mikha memeluk.
"Kalau begitu, saya pamit! Siren dan Mikha besok jangan sampai telat jam 01 siang, kita akan memulai acara terakhir, good joob semoga sukses untuk besok, persiapkan diri kalian ya!"
"Baik paman." Siren dan Mikha bersamaan, ketika paman Kenan pamit karena mereka sudah ditemani para suami masing masing.
Semua mata memandang, terasa canggung kala itu. Hari dan Damar pergi ke satu tempat, meminta istri mereka diam menunggunya sebentar, hingga bisikan Mikha bergerutu kala itu.
"Sir, aneh enggak sih. Situasi kaya gini bikin apa coba? kamu tahu ..?"
__ADS_1
"Tahu apa Mikha?"
"Antara paman dan Keponakan double date. Hahaha."
His! Siren menyempatkan tawa, terhenti karena, tiba saja secangkir coklat hangat menjulur dekat pada Mikha dan langkah mereka terhenti. Mikha pun menatapnya dengan dalam.
"Coklat hangat, mengurangi panas dingin!"
Hari, pun memberikan satu gelas tepat di samping kiri Mikha. Dan satu lagi Damar tak kalah, seolah meminta jarak untuk waktunya berpisah.
"Cuacanya memang ga bagus, ayo minum!"
Siren tersenyum dan Mikha menatap Damar, sedang memeluk Siren dari belakang. Dengan secangkir coklat hangat juga, mereka sedang minum romantis sekali. Satu gelas berdua, dipeluk erat dari belakang, jerit batin Mikha menjerit, karena suaminya Hari, tidak seromantis anak muda biasanya.
"Ayo, Mikha ikut aku, jangan menguntit pasutri lain yang sedang intim!" Hari, mengajak istri mudanya pergi. Dan meminta Damar bertemu esok lagi berkabar.
Damar membalikkan badan sang istri, sehingga saling menatap dari pelukan erat dibelakang punggung Siren.
"Sayang, mereka pasti tak enak dengan kita yang masih suasana pengantin, lagi pula paman pasti sebenarnya romantis, hanya saja paman berumur dan malu. Aku rasa sebaliknya juga begitu, mereka naif tak jujur diawal, gengsi sekali mereka berdua. Aku rasa paman akan mengajaknya dinner."
"Hubby, kamu kah yang mengajak paman Hari, kesini? memang project sudah selesai?"
"Iya siapa lagi sayang, begitu tau istri mudanya menjadi model dengan istriku ini, dia langsung landing, mendarat berlabuh pada wanitanya begitupun aku, tidak mau istriku di tatap pria lain."
Damar langsung mengecup bibir Siren, dan memeluk erat pinggang, yang terasa amat menonjol terasa.
Siren hanya bisa pasrah, bagus diluar negeri seperti ini sudah hal tak asing, malam begitu dingin akhirnya terpaksa bergegas pergi.
Selama satu jam, kami makan dan tiba didepan menara Eifel ditengah malam yang penuh kerlap kerlip.
Satu jam mereka bercerita, Siren menjelaskan tentang berita dan foto bersama Daru. Damar pun mendengar dengan tatapan cemburu. Ia semakin menggesek erat pinggang istrinya,
tak ingin istrinya disukai laki - laki lain.
"Hubby jangan disini malu!"
"Tak apa sayang aku mendengarkan, tapi aku pun semakin panas, ayo kita ke hotel dekat sini. Kita menginap bermalam disini, anggap saja ini adalah honeymoon dadakan."
Siren pun tersenyum lebar, honeymoon apa hubby, kita sedang bekerja dan berlibur beberapa jam bonusnya.
"Kalau begitu kamu ingin kita kemana sayang, luangkanlah jika masih ada waktu?"
__ADS_1
Damar pun memegang erat sang istri, sedang tangan kirinya berada dalam saku celana.
"Aku ingin ke negeri sakura hubby."
Damar, pun menurutinya dan berbisik.
"Kelak kita pasti akan kesana."
Tiba sudah di hotel bintang lima di paris.
Four seasons hotel george V paris.
Damar, memesan kamar vvip yang semalam dengan harga wah, kolam yang berada dalam ruangan dan luas megah.
Dadakan juga mereka, membeli pakaian di butik, mereka lelah berbelanja karena tak membawa baju ganti, sehingga mereka menghabiskan dengan boros.
"Hubby," kita tak seharian kenapa memesan kamar seluas ini? kamu sedang tidak membawa rekan kawanmu datang kesini kan?"
"Sayang ayolah, kita rileks spa dan treatment sebelum olahraga panas dimulai, kita santai makan malam dengan jamuan spa, nikmati sayangku. Ruangan luas ini kita harus jamah seisinya, mengertikan maksud suamimu?"
Gleuk.
Siren menelan saliva yang amat tiba - tiba menjadi kering rasanya di mulut, ia paham Damar meminta jatah malam ini. Panas adegan apa yang ingin suaminya lakukan saat bercinta, seisi ruangan kamar, ruang tamu dan kamar mandi yang luas seperti tiga kamar, belum lagi kolam renang yang luas,
'Akan berapa ronde malam ini?' batin Siren melemas dan duduk disofa.
"Sayang, ayo ganti bajumu bersihkan diri kita akan treatment sebelum dimulai, kita akan isi perut dengan sajian di hotel ini."
"Aaaaa... buka mulutmu, ini supplement mu, aku bawa bersiaplah dua jam lagi!" bisik Damar pergi ke suatu tempat, setelah Siren menganga dan menguyah suplement bagai patung.
Siren tersenyum, semoga besok acara berjalan dengan lancar dan tak remuk badan.
"Beginikah rasanya jika sudah jadi istri, tertindas selalu ketika sang suami meminta jatah, entah itu lelah atau tidak, tak ada kata penolakan." lirihnya sangat berdebar, hukuman karena kerjaan yang menumpuk, akan lelah dengan ulah suaminya jika cemburu berlebih.
Siren pun segera berganti baju untuk spa dan treatment, dimana beberapa pelayan datang membantu Siren, ia bergegas ke kamar mandi mengganti pakaian.
Sementara Damar, menunggunya diruang tamu, ketika Siren masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Siren terkejut memutar mata, bukan main suaminya itu, sangat boros sekali kamar mandi ini, luasnya seperti kamar tidur utama saja di kali 3.
Siren pun keluar, sudah ganti bajunya. Sehingga kala itu, terlihat pula beberapa pelayan treatment senyum meminta Siren, ke ruang berikutnya.
"Mari Nyonya!" di anggukan Siren
__ADS_1
TBC.