Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MASIH TAK PERCAYA


__ADS_3

Selepas Mikha dalam pemeriksaan dokter, Osin segera mencari Lena, yang ia yakini wanita itu masih ada di sekitaran rumah sakit, selama empat puluh menit, Osin menatap Lena yang berdiri sedang menelepon seseorang.


Bugh.


"Hey. Lo ngapain Mikha?" teriaknya, kala membenturkan bahu Lena.


"Ah, dasar cewe bar bar kasar banget sih. Gue gak apa apain. Cuma liat real kenyataan wanita itu aja, kasian yah." senyum Lena berlalu pergi meninggalkan tatapan orang yang melihat aksi mereka.


"Sialan lo. Gue sumpahin kena karma."


Toloooong!! Suster tolong saya, ada pasien darurat!! Teriak Osin ikut menenangkan dan membangunkan kala tiba dua perawat dengan sebuah kursi roda.


"Dasar ibu bapak gak ada pikirannya, kalian cuma bisa fotoin aja. Gue harap kejadian kaya gini menimpa kalian semua!" kesal Osin berteriak dengan nada ketus pada orang keramaian itu.


IKH, Apaan SIH! GAJELAS NIH TEMEN KOMPLOTANNYA PASTI.


Osin menggeleng kepala, ia tak menyangka jika kemanusian semakin rendah. Melihat orang kesakitan, apalagi di rumah sakit bisa bisanya orang mengabaikan seperti tadi. Apalagi hal itu, menimpa Mikha, itulah kegeraman aksi Osin yang mengingat, dimana Lena sengaja melakukan bully, mempermalukan Mikha.


"Dasar rumah sakit gede, apa gak ada suster yang berjaga ya. Masa ia semua suster di dalam ruangan pasien." bentak Osin kesal, hingga Lena pergi menjauh dari Osin.


Sementara Mikha masuk kedalam ruang ugd. Rumah sakit yang membuat dirinya harus di periksa langsung, tak lama dokter Hara datang dan bertatap dengan Osin.

__ADS_1


"Dokter Hara. Tolong Mikha, saya mohon!"


"Tenang bu Osin, saya akan berusaha sebaik mungkin." lalu berlalu pamit masuk keruang unit gawat darurat.


Ah, tidak!! Tolong .. sakit !! teriakan Mikha terdengar, hingga mengigit sebuah kain. Mikha merasakan rasa sakit yang teramat dahsyat. Hingga di mana, ia mencoba mendengarkan intruksi dokter Hara. Agar Mikha mengambil nafas dengan perlahan, hingga di mana jarum suntik tiba saja masuk kedalam nadi tangan Mikha.


Beberapa menit, dokter Hara mengecek keseluruhan posisi janin dan detak jantung yang ia sambungkan dengan alat menembus kedalam layar monitor. Mikha telah cukup tenang, namun mata seperti mayat hidup diam tanpa berkedip membuat dokter Hara menatap kepada beberapa suster.


"Pindahkan pasien ke ruang vip. Cek secara berkala satu jam sekali. Saya harap semua akan berjalan dengan baik, tanpa ada gangguan ataupun suatu kelainan!"


"Baik sus, saya segera menyiapkannya." balas suster.


Dokter Hara keluar dari ruangan ugd setelah melepas masker dan sarung tangannya. Ia mencuci tangan dan segera membuka pintu.


Terdapat Ryo yang baru saja datang bersama Eri yang tiba. Ia tak sengaja langsung ke rumah sakit menemui keadaan Mikha, bagaimanapun Mikha adalah pengganti bos Hari, selagi tak ada dan belum ditemukan.


"Ya, bagaimana dengan nyonya Mikha?" tanya Eri membuat tatapan tak percaya.


Begini. Kami akan mengecek secara berkala satu jam sekali, saya berharap kalian bisa menenangkan pasien dan memberi asupan gizi yang cukup. Kondisi ibu Mikha saat ini sangat syok dan kesedihan mendalam membuat ia sedikit terganggu akan kesadaran, jika ia terlalu stress. Bisa mengakibatkan bu Mikha mengalami sindrom otak dan amnesia sementara. Di mana pasien tak bisa menerima kenyataan, tetapi ia masih jelas apa yang masih terjadi seolah fresh baru terjadi, apalagi kandungan yang masih rentan untuk dijaga, kami mohon kerjasamanya ya!


Penjelasan dokter Hara membuat mereka lemas, pasalnya Mikha tak bisa terus stres dan syok berat. Karena berpengaruh pada janinnya, belum lagi ketika Mikha sulit masuk makanan, hingga di mana ia harus mengalami perawatan di rumah sakit.

__ADS_1


"Bagaimana ini, bu Mikha tak boleh seperti ini. Jika seperti ini, keadaan yang sebenarnya tak akan bisa mengungkap bagaimana pak Hari tiada. Saya di minta tuan Bram, untuk menjaga bu Mikha dan janinnya sebagai penerus. Melatih bu Mikha untuk menggantikan pak Hari." jelas Eri.


"Tapi Mikha bilang, pak Hari belum meninggal. Dia ga terima pak Hari meninggal." jelas Osin, yang terus percaya pada batin sahabatnya itu.


Ryo masih menatap jelas, ia juga memikirkan cara untuk membantu keberadaan Hari dan yakin sahabatnya masih ada.


"Tunggu, apa tes dna dari Fran sudah keluar. Apa benar itu raga Hari, soal abu gosong?" Eri mengangguk setelah mendapat pertanyaan dari Ryo.


"Kemungkinan seperti itu." lemas Eri.


Hingga di mana, seorang ibu paruh baya tiba saja datang menghampiri.


"Kalian, kenapa mengumpul di sini. Siapa yang sakit?"


Osin terkejut, tapi tatapan Eri dan Ryo jelas tersirat hormat menyukai wanita yang baru saja tiba di depannya saat ini, dimana Osin kebingungan. Apakah ibu paruh baya ini berhak tahu, jika tuan Hari kecelakaan dan mengenaskan.


Sementara Mikha dalam ruang Ugd, ia masih samar dimana mas Hari memperlakukan baik, memperlihatkan seluruh kantor dengan bantuan system, dimana suaminya itu menjadi percobaan dan tidak percaya jika semua akan menjadi kenangan pamit terakhir.


"Suamiku belum meninggal kan dok?" lirik Mikha, saat suster memberikan suntikan.


Terlebih sang suster dan dokter saling menatap, seolah bingung untuk menjawab.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2