Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SIASAT MENGHANCURKAN


__ADS_3

Bram, masih melangkah mengumpat dibalik dinding kayu. Memperhatikan yang ia rasa, Ketua tertinggi, dari barang haram. Sangat disayangkan mereka sudah mengotori wilayah anak anak remaja yang baik, dikotori dengan benda haram yang membuat mereka candu obat obatan terlarang, terlebih lagi sasaran mereka keluarga miskin yang tidak mampu.


Jadi Bram, meyakini target pria itu agar anak anak remaja yang masih polos itu, bisa saling mencuri, merampas dan membunuh agar genk mereka tersebar dan anak anak remaja mati perlahan karena overdosis, dan menguasai wilayah rumah orang miskin yang mereka incar, untuk kepentingan mereka pastinya.


Buana, bergema, sebagai atasan yang baik, ingin mengingat kontribusi yang sudah Jodi torehkan untuk Organisasi Kura-kura Merah, sekaligus ingin melihat wajah pria berjenggot agak tebal itu untuk yang terakhir kalinya.


Tanpa menunggu lama lagi, Buana mengambil sebuah pedang yang letaknya tidak jauh dari posisinya berdiri. Pedang yang masih terbungkus rapi itu, segera ditarik keluar.


Sreeeth...


Bram menatap nanar, saat Buana mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher Jodi. Sekali tebasan, satu kepala terlepas dari tempatnya, menggelinding ke sudut ruangan. Darah segar menyembur seperti air mancur, lalu membasahi pakaiannya dan wajahnya pun turut terkena darah dari anak buahnya tersebut.


"Ini hukuman bagi mereka yang telah gagal menjalani tugas!" ucap pria tetua jahat di dalam markas.


Buana, memasukkan pedang pada sarungnya kembali. Dirinya tidaklah peduli, Jodi adalah orang lama atau baru dalam organisasinya. Bagi pria yang usianya lebih dari enam puluh tahun itu, kesalahan tetaplah kesalahan, tidak peduli ia berkontribusi pada organisasi atau tidak.


"Siapa dia yang telah ikut campur dalam urusan Kura-kura Merah?" gumamnya menatap nanar objek kosong di depannya.


"Sampai diriku bertemu dengannya, maka hari itu akan menjadi waktu terakhir untuknya menghirup udara segar!" tekadnya sambil menggenggam erat pedang di tangan kanannya.


Bram menoleh saat rasa aman, ia segera mencari derigen dan melakukan sesuatu yang pas. Pria besar tinggi itu mempunyai pedang yang amat runcing dan panjang. Bram entah tidak yakin, apa akan bisa melawannya satu lawan satu saat ini juga. Mengingat kehidupan Bram pertama ceroboh, mati menghampiri markas mafia palsu yang meminta pajak diluar nalar, Bram pun mati sia sia ke jurang. Kesimpulannya, Bram tidak ingin mati kesekian kali, yang tak ada lagi mungkin bisa kembali dihidupkan.


Layaknya manusia, mereka hidup lagi setelah dari kematian panjang, bagai putri tidur ( mati suri ) maka, mati suri hanya bisa dialami sekali dalam kehidupan, Bram tak ingin kehidupannya yang kedua ini bodoh dan tidak tegas. Ia harus kembali pulang, dengan nama yang lebih kuat, semua orang takut menyentilnya apalagi merendahkannya seperti dulu Bram, menjadi pengantar sayuran.


Di Perjalanan!! ( Rumah Sakit )

__ADS_1


Asyim ...


Sementara itu, Bram pun terus saja bersin-bersin. Dalam hitungan beberapa menit, dirinya sudah bersin lebih dari sepuluh kali.


"Siapa yang sedang membicarakan diriku?" celetuknya berdengus kesal, sembari menyumpal hidungnya dengan tisu lantaran sejak beberapa menit yang lalu, dirinya terus bersin, saat Bram sedang menunggu di depan ruangan ICU


Sudah hampir satu jam Bram, duduk menunggu di sana. Selama itu juga belum ada satu pun yang keluar dari ruang ICU.


Tidak henti-hentinya Bram melihat benda perak yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Berapa jam lagi aku harus menunggu tanpa kepastian?"


Dia mengoceh sendiri di sana tanpa adanya teman yang duduk di sampingnya. Sungguh malang nasibnya. Tidak di kehidupan pertama dan kedua, dirinya terus sendirian.


Ketika sedang merutuki nasibnya yang tak pernah berubah, pintu ruang ICU akhirnya terbuka juga dengan sosok pria bertubuh tinggi 188 cm, yang menjadi bintangnya.


"Bagaimana keadaannya?" Bram, tanpa basa-basi lagi langsung menanyakan perihal kondisi remaja laki-laki yang diselamatkannya itu.


Namun, belum sempat dokter berucap, Bram, sudah lebih dulu memotong, dengan mengangkat sebelah tangannya, "Tunggu dulu! Tuan tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang kondisi anak itu. Aku sudah mengetahui jawabannya, secara Tuan 'kan Utusan Langit, jadi menyembuhkan seseorang pasti mudah bukan bagi, Tuan? Dan tidak seharusnya Tuan Langit, terus merubah wajah." cetug Bram.


Bram, menjatuhkan tatapan sinis untuk pria sebagai Utusan Langit itu, sambil berjalan melewatinya. Saat dirinya berdiri sejajar dengan Olive. Bram kembali berkata.


"Terima kasih karena Tuan sudah bekerja keras menyembuhkan anak itu. Aku akan menganggap kerja keras Tuan ini, sebagai hutang budi. Tenang saja, aku akan membalas kebaikan Tuan di masa depan."


Setelah berkata demikian, Bram segera mendorong pintu di depannya, memasuki ruang ICU guna melihat kondisi terbaru dari remaja belia yang disematkannya itu.


Olive termangu. Belum pernah dirinya melihat Bram, semarah ini. Sorot matanya bahkan mengandung kemarahan, sampai kalimatnya harus tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


"Tak kusangka, dia cukup berani juga."


Helaan napasnya dalam-dalam, lalu mengendalikan pikirannya kembali. Sedikit merapikan pakaiannya, sebelum memasuki ruangan. Utusan langit itu berfikir baik, jika kehidupan Bram yang kedua tidaklah bodoh lagi dan menerima dirinya di injak injak. Jadi tahapan menjadi bos jutawan yang terkenal disegani, akan melekat nanti pada diri Bram.


***


Dua hari berikutnya. Bram memulai aktivitas seperti biasa. Tepat pukul 13 : 00, Bram meninggalkan sekolah setelah selesai menjalankan tugas sebagaimana seharusnya.


Dia berjalan melewati gang yang biasa dilewatinya sambil bersenandung. Suasana hatinya hari ini cukup baik, sejak pagi dirinya tidak henti-hentinya mengumbar senyuman pada setiap orang yang ditemuinya. Ya, meskipun harus dianggap orang yang tidak waras, tapi Bram tak mempedulikannya.


Namun, di tengah jalan santainya, Bram dijegal lima pria dewasa, bertubuh kekar dengan otot-otot besar, serta jenggot dan kumis tebal.


"Siapa kalian?" Dirinya melontarkan pertanyaan klasik yang biasa didengarnya saat bertemu orang asing.


"Kami datang untuk membalaskan kematian rekan kami yang telah kau bunuh!" berang salah satu pria, menekan bidang bahu Bram dengan jari telunjuknya.


"Membalas kematian rekan kalian? Siapa nama rekan kalian itu, sampai-sampai kalian meminta pembalasannya padaku?" balas Bram, santai, sambil menyingkirkan jari pria tersebut dari salah satu badannya, dengan gerakan menyapu.


"Jangan mengelak, kau itu yang membunuh wakil ketua kami, Joni." ujar pria jangkung sinis menatap Bram.


Tbc.


~ Happy Reading All ~


Author Usahakan Setiap Hari Crazy Up!

__ADS_1


Nantikan keseruan Bram, yang kembali jadi bos jutawan ya.


__ADS_2