Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
INGIN CEPAT PULANG


__ADS_3

"Mau ke mana, Jingga?" tanya Miranti saat dia mendapati putrinya membawa tas ransel besar di punggungnya.


"Mau merantau, Ma," jawabnya dengan suara Sanggau.


"Kamu nangis? Kenapa?" Ibunya hafal dengan gelagat putrinya, dia tahu ada yang tidak beres.


Hamish dan Tjandra memperhatikan dari meja makan. Lalu Lena pun datang, ikut nimbrung, setelah ia kembali dari desa sengketa menemui suaminya.


Jingga sendiri menatap sinis keduanya, bisa-bisanya mereka makan dengan tenang di atas penderitaan orang lain.


"Jingga menangisi hidup Jingga yang ternyata sama sekali tidak berguna, tapi masih berharap takdir baik dari Tuhan. Sepertinya Jingga mulai tidak tahu diri," celoteh Jingga sembari berusaha menyindir abang dan ayahnya yang memang tidak tahu diri.


"Apa maksud ucapanmu Jingga?" tanya Tjandra.


***


Kantor Bram.


Uhuk uhuk uhuk.


Bram tersedak tiba-tiba, padahal dia tidak sedang makan.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya salah satu karyawannya. Sebab, saat ini dia tengah berada di ruang meeting.


Setelah meminum air putih di hadapannya, Bram mampu meredakan batuk.


"Tidak apa-apa. Maaf mengganggu presentasinya, silahkan lanjutkan," ujar Bram pada salah satu pimpinan humas.


"Jadi, untuk masalah perizinan dan sengketa lahan yang sempat mengganggu proses pembangunan sudah clear, Pak," sambung salah satu karyawan menyelesaikan laporannya.


"Bagus kalau begitu, usahakan yang seperti kemarin jangan terjadi lagi. Kita memang mengedepankan keuntungan untuk perusahaan, tapi jangan lupakan hal-hal semacam itu. Karena itu sangat penting untuk menentukan kinerja dan keberhasilan kita. Tidak perduli itu dengan klien atau aspek-aspek lain yang bersangkutan." Bram memberi sedikit tambahan, pada divisi humas agar lebih memperhatikan detail-detail kecil yang sering diabaikan oleh pihak konstruksi.


Kebetulan sekali S Kontruksi, tak jauh dari lahan sengketa milik pabrik Timun Emas, yang kali ini Bram percayakan pada adiknya, sebagai manager.


"Ada lagi yang lain?" sambung Bram pada rapat rutin yang selalu dia agendakan.


Semua orang dalam ruang rapat, saling menatap satu sama lain.


"Jangan sungkan, kalau kalian memiliki unek-unek atau ada hal yang ingin disampaikan mengenai apa pun. Kenyamanan misalnya atau yang lain-lain," sambung Bram.


"Tidak ada keluhan, Pak. Sejujurnya kami merasa puas dengan kepemimpinan anda," jawab seorang general manager yang awalnya meragukan kinerja Bram. Namun, setelah beberapa tahun bekerja di bawah pimpinan Bram. Dia merasakan semangat yang luar biasa, padahal CEO mereka itu tidak terlalu banyak bicara.


Mungkin ini yang dikatakan 'talkless do more' atau 'utamakan aksi daripada reaksi.'


"Pak, boleh saya bertanya?" ujar seorang karyawan yang terkenal cantik di seluruh kantor S Konstruksi. Dia juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat besar.

__ADS_1


"Ya, silahkan," jawab Bram.


Dengan malu-malu, karyawan tersebut bertanya. "Apa Bapak tidak mencari istri lagi?"


Sorakan langsung memenuhi ruang rapat, seluruh kepala divisi yang ada di dalam ruang rapat mengolok-olok karyawati itu.


Bram hanya tersenyum tipis dan memberi kode pada Kenan, yang hampir serupa dengan makhluk astral jika saja dia tidak bernafas. Untuk keluar dari ruang rapat.


"Ada beberapa proposal pengajuan proyek pembangunan. Mereka ingin S Konstruksi yang menangani," lapor Kenan setelah dia memilah beberapa proposal yang dikirim ke emailnya.


"Bawa semua ke ruanganku, Ken. Aku ingin melihatnya." Bram bergegas menuju ruangannya, sedangkan Kenan berhenti di depan ruangan atasannya. Untuk mengambil tab dan beberapa dokumen yang sudah dia print.


Mendapat akses tidak terbatas di ruangan khusus CEO, Kenan tidak perlu izin untuk masuk ke dalam ruangan Bram. Toh atasannya itu bukan tipe orang yang suka membawa wanita main dalam tanda kutip di ruangannya.


Satu lantai penuh dengan desain mewah khas Handaru, yang dulu sempat ditakuti dan dicibir oleh Bram, masih ingat kala hubungannya dengan Elea tak direstui, entah kenapa kini mereka jadi akrab setelah Damar lahir. Kini pria itu dapat merasakannya, siapa yang menyangka seorang pengantar makanan. Bisa duduk di kursi petinggi perusahaan, dengan privilege sebagai menantu Handaru.


Tidak hanya itu, otak Bram yang sangat khas Anumerta. Cerdas, mampu memanipulasi klien, memiliki mulut manis, bisa memanfaatkan situasi dan celah, bisa mengambil hati dan kepercayaan karyawan.


Tidak akan ada yang menyangkal jika Bram adalah monsternya bisnis. Ditakuti sekaligus disegani, oleh mereka yang kenal dan tahu siapa pemegang kontrol S Konstruksi yang sebenarnya.


Meski dia sudah beberapa kali memasuki ruangan Bram, Kenan tetap saja bergidik dengan aura yang menguar dari ruangan tersebut.


Dingin dan tenang, seolah kamu sedang memasuki samudera.


Dengan cepat dan teliti, Bram memilah dan menandatangani berkas mana saja yang dia setujui.


Sampai tangannya berhenti bergerak, ketika ponselnya berdering.


"Halo Pah. Ada apa?" tanya Bram setelah dia menerima telfon dari Reksa, sang papa.


"Apa kamu sibuk?" Reksa bertanya terlebih dahulu,


Melihat beberapa berkas yang masih belum dia sentuh, serta jadwal yang terpampang di tab. Bram menepikan pekerjaannya, Reksa lebih penting dari setumpuk kertas.


"Tidak Pah."


"Ada yang ingin Papa bicarakan denganmu. Ini menyangkut peninggalan ibumu," tutur Reksa.


"Baik, Bram akan segera pulang." Memberi anggukan pada Kenan, Bram meminta asistennya itu untuk bersiap pulang.


"Segeralah pulang. Damar juga selalu menanyakan dirimu." Reksa menatap cucu nya yang baru saja pulang dari Taman kanak-kanak.


"Kakek, kapan daddy pulang," seruan Damar terdengar di telinga Bram.


Hal itu menerbitkan senyum rindu, padahal tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. Bram sudah menghabiskan waktu bersama dengan putranya.

__ADS_1


"Katakan pada Damar. Bram akan segera pulang, Pah."


Setelah mematikan panggilan teleponnya, Bram meminta Kenan menyimpan kembali berkas yang tadi dia serahkan.


Merapikan dokumen-dokumen tersebut, Kenan menyimpannya ke dalam lemari Bram dan menguncinya.


"Ayo Ken. Jangan buang waktu, oh ya. Bawa dokumen tadi pulang, aku akan memeriksanya di rumah." Dengan tidak berprikeasistenan, Bram meminta Kenan membawa dokumen tadi pulang.


Padahal, Kenan sudah menyimpan rapi dokumen tersebut ke dalam lemari.


"Tapi Tuan--"


"Ayo Ken, jangan buang-buang waktu," potong Bram tidak sabar.


Dengan wajah datar khasnya, Kenan mengambil kembali dokumen yang telah dia masukkan ke lemari. Untuk dimasukkan ke dalam tas dan bergegas menyusul atasannya yang super entahlah.


Kalau sudah seperti ini, rasanya Kenan menyesal karena hanya memiliki satu ekspresi. Seharusnya dia memiliki paling tidak bermacam-macam ekspresi. Supaya bisa menunjukkan kekesalannya pada Bram.


Sudah bukan hal baru lagi bagi karyawan S Konstruksi, melihat CEO mereka pulang. Padahal matahari masih berada di atas kepala, beberapa mungkin membicarakan perkara integritas atasan mereka. Meski mereka sebenarnya sudah tahu seperti apa kinerja dan cara kerja pria itu.


DI BERBEDA RUANGAN.


Namun, beberapa lagi membiarkan saja yang penting gaji lancar.


"Orang kaya mah gitu ya, bodo amat mau pulang tengah hari juga," gumam seorang karyawan.


"Ya biar sih, toh ini juga perusahaan dia yang punya," bela yang lain lagi.


"Iya juga sih," balas karyawan tadi menerima nasibnya sebagai karyawan biasa.


"Permisi."


Dua karyawan tadi kompak menoleh pada orang yang baru datang, bertepatan dengan kepulangan atasan mereka.


"Ya, Mbak. Ada yang bisa kami bantu," tanya mereka yang kebetulan bekerja sebagai resepsionis.


"Saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini, Bram Hartanto." kata orang tersebut.


"Kalau boleh tahu, anda utusan dari perusahaan mana, Mbak? apa sudah ada janji?" tanya karyawan, seolah mencari keberadaan Bram, yang mungkin masih saja di kantor S Kontruksi ini.


TBC.


Sambil tunggu Up! Yuks mampir ke temen litersi Author.


__ADS_1


__ADS_2