
Bram terhenti kala orderan misterius harus ditunda, karena Hari Hartanto, lebih dulu datang. Ia meremas wajahnya berharap ia tak dicegah saat pergi, bagaimanapun Bram sedang menunggu verifikasi id name slot yang sedang mengirim sesuai alamat yang di minta.
"Kak jangan dulu pergi!"
"Aku ada misi pekerjaan yang lebih penting daripada menjadi pemilik bar ini! Kau sungguh kompeten tidak menyeleksinya?!"
Para pengunjung saat itu dengan segera heboh, tentang bagaimana bisa Robert yang terkenal tangguh kini dapat begitu menurut pada salah satu penjaga dari bar tersebut seolah takut akan sesuatu.
“Hey, bukankah penjaga tersebut merupakan Teguh?"
Salah satu pengunjung, mulai mengenali Teguh yang memang sempat begitu di kenal namanya di wilayah tersebut.
“Kudengar dirinya sempat menghilang sekitar beberapa tahun lalu, siapa sangka kini dirinya malah bekerja di bar Lightdark ini."
“Pantas saja Robert begitu patuh padanya, ternyata mantan bosnya yang kini di hadapinya."
Beberapa pengunjung lain, mulai mengerti apa yang sedang terjadi saat itu, juga mulai menyadari sepertinya Bram, yang sempat berurusan dengan Robert tidak sesederhana kelihatannya.
Di mana bahkan Teguh yang begitu ditakuti Robert saja, tidak berani menyinggung Bram bahkan memilih melawan atasannya sendiri di banding menuruti perintah Brio untuk mengusirnya, bahkan ia telah ditendang jadi pengangguran, beruntung pelayan wanita itu naik pangkat.
Salah satu pria 26 tahun seumuran dengan Bram segera memasuki bar Lightdark saat itu, di tengah situasi yang tengah begitu hening, kedatangannya tentu segera menarik perhatian mereka yang ada di dalam bar.
“Hey, apa kalian mengenal siapa dirinya?"
Salah satu pengunjung, ketika melihat pemuda yang baru datang melangkahkan kakinya menyambangi Brio, jelas nampak tidak senang dari ekspresi wajahnya.
Beberapa pengunjung lain dengan segera mencoba mengingat saat itu, siapa pemuda yang baru datang setelah merasa wajah dari pemuda tersebut entah mengapa begitu familiar.
__ADS_1
“Hari? Bukankah dirinya Hari Hartanto." Salah satu pengunjung, setelah berhasil mengenali siapa pemuda yang baru datang tersebut.
Pemuda dengan wajah tampan serta rupawan yang merupakan Hari tersebut, dengan segera mengayunkan kakinya sebelum menghantam Brio yang saat itu tengah memohon maaf pada Bram.
Buaghh!!!
Tendangan Hari menghantam tepat saat itu di ulu hati Brio, di mana dengan segera membuat Brio meringis kesakitan.
Hari sendiri merupakan pewaris utama serta satu-satunya dari keluarga Lightdark, keluarga kaya dengan begitu banyak bisnis yang keluarga tersebut jalankan. Termasuk bar Lightdark, yang bahkan telah di limpahkan kepada Hari setiap dari cabangnya, tidak ada yang tahu jika pemilik asli sebelumnya adalah Bram, sebelumya pergi dari rumah.
“Teguh, bawa sampah ini keluar. Entah kau sendiri yang membawanya atau bawahanmu, pastikan satu kakinya patah ketika pergi dari sini" Hari, pada Teguh saat itu sembari menunjuk Brio yang tengah meringis.
“Tuan Hari, mohon maafkan aku yang tidak memiliki mata hingga menyinggung salah satu dari orang terdekat anda." Brio saat itu, berharap Hari mau mengubah pikirannya.
“Ada Teguh di sini yang mengenali siapa dirinya, kakak paling berhargaku. Mengapa kau masih mencoba mengusirnya bahkan tanpa bertanya terlebih dahulu pada Teguh yang mengetahui semua itu?" Hari, tidak ingin mendengar lebih jauh alasan dari mulut Brio.
“Arghh!!!"
Teriakan terdengar kencang saat itu tepat setelah Brio keluar dari sana, di mana setiap dari pengunjung yang mendengarnya hanya bisa membayangkan apa yang terjadi pada Brio saat itu tanpa berani melihatnya secara langsung.
“Mereka, siapa mereka?" Hari, pada Teguh mempertanyakan siapa Robert serta lima orang lain yang ada di sana.
Teguh sendiri hanya menggeleng pelan tidak terlalu mengerti, sebelum mengucapkan bila seharusnya Robert beserta anak buahnya ikut terlibat saat itu dengan apa yang terjadi pada Bram.
Hari, sendiri hanya mengangguk sebelum melirik Bram, menaikan alisnya. Mencoba bertanya apakah perlu atau tidak Robert atau siapalah itu dirinya urus juga.
“Hajar setiap dari mereka, lakukan itu dengan cepat karena ada yang ingin ku bicarakan padamu." Bram, sebelum duduk saat itu kembali ke mejanya. Karena memang Hari lah alasan Bram, datang saat itu ke bar tersebut.
__ADS_1
Teguh akhirnya meminta seluruh orang untuk tidak memperhatikannya lagi! Dan meminta Celine mengurus tugas beratnya menggantikan Brio.
***
"Kak! Maaf harusnya aku tidak perlu melakukan kesalahan, identitasmu terbongkar tadi!"
"Sudah terjadi, lagi pula satu bar ini hanya 500 orang, pastikan tidak sampai pada telinga mama. Berikan chip ini pada papa, siapa calon tunanganku bernama Via itu sangat tidak pantas masuk di keluarga kita!"
"Baik. Kak, tapi kenapa kamu memilih menjadi pengantar box sayur. Ketimbang menekuni usaha papa yang sangat pesat dan maju ini? Kau memilih jadi kurir sayuran box?"
"Bocah tengik! Berkunjunglah ke kantorku sebagai pembeli. Kau beli timun emas harga yang bisa fantastis, apalagi pasaran sedang naik mencapai tiga puluh juta paling kecil dalam berat satu kilo."
"Whooah! Timun emas seperti apa yang kau jual hingga harganya mendunia kak."
Bram menunjuk pesanan delivery saat ini, terlihat dimata Hari, pesanan itu mencapai delapan puluh juta untuk dua buah timun emas.
"Kak, tapi mengurus Bar dan Cafe papa lebih besar yang kau dapat kak! Kembalilah!"
"Salah! Belum genap sebulan aku bahkan bisa membuat cabang dua bar seperti papa jika aku ingin! Jadi tetaplah menjadi pewaris papa kebanggaan papa." jelas Bram lalu pergi.
Tak begitu lama, Bram menuju bengkel motor dan akan segera pulang untuk mengambil orderan pesanan yang akan segera dikirim satu setengah jam lagi. Tetapi ia menatap pesan Agi, teman kost dimasa susahnya yang meminta bantuan. Jika dirinya memesan timun emas, untuk pesta pertunangan tuan Tio dan kekasihnya itu.
Hal itu membuat Bram mencebik senyum masam, jika perjodohan itu akan putus dengan sendirinya. Bahkan ia membayangkan raut wajah keluarga Tio, dan Via calon wanita yang akan menjadi tunangannya itu kala tahu siapa Bram sebenarnya.
'Mereka pikir, pengantar box sayuran selalu miskin?' gerutu Bram yang kesal, karena orang selalu melihat tampilan luarnya saja.
'Apa yang salah jika profesiku terkena panas, dan terlihat berkeringat lelah dengan pakaian sederhana?' batin Bram senyum lucu, menahan tawa karena sakit di area bibirnya.
__ADS_1
Tbc.