
Hingga siang berlalu, Siren makan. Ia lapar meski tak berselera, namun ia hadapkan dengan senyum semangat, karena ada nafas dan detak jantung yang bernyawa yang ia harus jaga sampai waktunya tiba.
Beberapa waktu lalu, Siren ke kamar mandi dan mencoba tespack. Rasanya tak percaya, ketika garis dua, melihat suami nya selingkuh dengan sekertaris. Sehingga ia kembali, dan mencoba biasa saja, semata agar Damar tidak curiga, karena Siren tak sanggup memberitahu kabar bahagia.
Damar masih terdiam penuh bingung, yang menemani istrinya. Di pikirannya adalah ia telah gagal menjadi suami yang membuat jiwa hati, dan belahan jiwanya terluka. Damar pun akan memecat dan membuat perhitungan pada Sena nanti, jika sampai ia berbohong.
Siren menatap Damar, ia berusaha untuk menahan amarah dan tidak stres. Wajah sikap barunya, seolah tak terjadi apa apa, semata menutupi luka kesedihan, dan menutupi aib nya didepan oranglain, publik dan keluarga. Mungkin ia akan meninggalkan Damar perlahan dan menutupi kehamilannya adalah cara terbaik.
"Hubby, maafkan aku ayo kita kembali pulang ke rumah, aku sudah tidak marah kita selesaikan ini nanti di rumah!" lirihnya yang secair es.
Siren mencium lengan suaminya dengan penuh rasa cinta dan hormat, entah tangisan apa yang menetes, ia tak sanggup jika melepaskan Damar. Tapi bagaimana dengan anak ku dan bagaimana dengan luka menempel di hati ini, jika suamiku akan bersanding dengan seorang Sena.
Akhirnya aku kalah menghadapi wanita gulali licik itu. Mulai detik ini aku harus memasang wajah dua dan hati yang dua, sakit melekat tapi di depan publik seperti bahagia.
Siren mengajak suami nya sarapan bersama, tanpa adanya pelukan keharmonisan. Dan ketika kembali, Damar mengajak ke mansion Dady Bram.
Dady!
Bram, menyambut kedatangan Siren dan Damar kala itu, dengan peluk cium hangat, bercerita dan mempersiapkan resepsi.
Hingga hari berlalu, Siren menginap dirumah papa mertuanya.
"Siren, Dady sudah senang khawatir jika Dady benar - benar akan mempunyai cucu, tapi begitu kamu bilang sedang datang bulan. Lekas lah sering sering buat dengan Damar ya, jangan menundanya. Mansion ini terlalu luas tidak ada tangisan anak kecil."
Siren, tersenyum menahan rasa sakit diperutnya, seolah anak dikandungnya tahu jika ibunya sedang berbohong. Bahkan batin Siren yang menjawab dan berbicara, sesekali mengelus perutnya.
__ADS_1
'Maafkan momy sayang, momy akan melindungi mu tetaplah kuat!' batin Siren.
Damar pun menghampiri memeluk erat pinggang istrinya.
"Dady tenang saja, setiap malam detik kami selalu membuatnya, ia kan sayang." Damar menatap Siren, bahkan Siren pun membalas senyuman manis dan mencium lengan suaminya.
Damar merasa setiap hari perlakuan berbeda, ketika didepan publik terlihat mesra, namun ketika sedang berdua tak khayal Siren, jadi dingin dan tak ingin disentuh, ketika aku bertanya pun sulit kaku untuk membalas jawab.
'Maafkan aku istriku.'
"Sayang, aku harus ke kantor ada meeting dadakan, istirahatlah untuk esok!" ucap Damar.
"Iya, hubby. Hati hati lah!"
Damar, melangkah semakin jauh dan tiba saja sang papa, mengirim pesan padanya.
[ Apa Siren sudah tau kejadianmu dengan Sena? ]
Damar pun membalas sudah, dan kita semua baik baik saja Dady, tak perlu khawatir.
Damar menjelaskan, membuat Bram tenang, ia tak ingin masalahnya, Dady Bram ikut kedalamnya, apalagi sampai kedua orangtua Siren tahu.
Sesampai di kantor Damar memecat Sena, asisten sekretaris ia rubah menjadi pria semua, semata demi istrinya.
Bahkan Damar pun merubah jadwal kemanapun, dan merekrut pegawai baru dan lama menjadi pendamping kemana ia pergi. Asisten supir pribadi lama bernama Tor, adalah yang terlama dan pria yang sudah mengikuti tuan Damar dari jaman iya kecil.
__ADS_1
Sewaktu kantor itu masih dipegang paman Alex, dari dua generasi.
***
Sesampai di rumah dengan penat, Siren bahkan menyiapkan air hangat, dan membersihkan segala hal keperluan suaminya, namun raut wajahnya selalu berbeda dan tak ada senyuman, senyuman itu ia selalu melihat ketika didepan orang banyak saja.
Di depan Dady Bram, dan orangtuanya serta kerabat lain mereka akan manis, tapi ketika sedang berdua tak ada romantis dan hangat.
Damar menarik tubuh Siren dan memeluknya dengan paksa, meski istrinya memberontak untuk melepas dan berjaga jarak.
"Sayang, aku tak akan memintanya! Aku akan menunggu sampai kamu memaafkan suamimu ini. Jangan biarkan aku tanpa senyum mu, aku menginginkan dirimu yang awal, jangan membuat jarak aku tak sanggup!" Damar bahkan memohon.
"Hubby. Maaf aku tidak bermaksud, beri aku ruang."
Siren menatap pada suaminya, membalikkan tubuhnya dengan saling memandang.
"Aku sangat kecewa padamu hubby. Hanya saja ketika aku rindu, rindu kehangatan dan pelukanmu, rindu kecupan manis, bayangan mu dengan Sena terpampang terlintas di pikiranku, bagaimana bisa aku biasa saja?" lirih Siren, membuat Damar terdiam pasi.
"Aku tidak sanggup melakukannya, jika kamu lelah menikahlah dengan Sena, lepaskanlah aku. Aku tidak sanggup kamu menyentuhku,
Aku harap kamu membatalkan resepsi dan menikahlah dengan Sena, terlebih bicaralah pada Dady Bram."
Tangis Siren pecah, sehingga Damar ikut menyayat hati, melihat belahan jiwanya terluka.
TBC.
__ADS_1