Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KISAH AKHIR JINGGA


__ADS_3

Sementara Di Tempat Lain :


Hilang kata-kata di bibir Jingga, rasanya ia ingin bunuh diri tak mendapatkan Bram! Bahkan keluarganya di ambang kehancuran.


Dia shock, tidak tahu harus menanggapi bagaimana! tapi dunianya sudah seperti jungkir balik karena kalimat yang di dengarnya barusan.


Harus bahagia, sedih atau curiga, Jingga tak tahu!


Namun


"Waaaah!"


Jelas bukan Jingga yang memekik kagum. Tapi caranya merespon sungguh membuat Jingga malu.


"Ibu apa-apaan sih!"


Gara-gara Lena, Jingga ingin bicara apa tadi dia jadi terdistraksi.


"Tapi itu kan waj--"


"Ish, Ga gitu ibu!


"Yang dikatakan oleh ibumu benar!" tapi Bram saat itu membela Lena, bahkan Bram tidak pernah suka padamu, lagi pula keluarga mereka dan kita bermusuhan. Jadi menikah dengan Boim adalah tepat." ujar ibu.


"Itu kewajibanku. Ayahmu tidak salah. Aku pengantin pria harusnya memang aku yang menanggung biayanya." Boim bicara sambil dia menarik tangan Jingga, menaruh kartu hitam itu dalam kepalan Jingga.


"Ambil!" tegas Boim.


"Carilah satu perhiasan yang kau suka! ukuran jari tanganku sembilan belas. Carikan juga untukmu sayang!"

__ADS_1


"Ayo- Nak!" pinta Tjandra untuk menurut agar keluarganya tidak bangkrut.


CUP!


'Woaaaaah, Ya ampun Jingga kau beruntung sekali! calonmu sangat romantis! Dan lihat bagaimana caranya mencuri kecupan darimu, berhasil membuatmu tak bisa berkata-kata! Uh, Aku ingin kembali muda rasanya!'


Lena sangat terhibur melihat Boim yang tak mau berdebat lagi, langsung mengecup bibir sang kakak sepupu tercintanya.


"Jangan buang waktu lagi, sayang!" ucap Boim saat Jingga masih mematung.


"Pergi dah belanjalah! Aku kerja dulu."


Boim bicara sambil menggerakkan tangan kirinya yang memegang tablet, seakan sengaja mengingatkan tentang misi yang harus dituntaskan oleh Boim dalam seperempat tahun ke depan.


"Katakan di mana kita akan membahas ini?" seru Boim yang sudah membalikkan badan, bertanya pada Dark, pengawal papa mertuanya.


"Mungkin kita bisa bicara di ruang pertemuan, tuan?"


Kakek dan ayah Jingga adalah petinggi perusahaan. Wajar mereka memiliki ruang rapat khusus andaikan terpaksa rapat tapi tak ingin keluar rumah, karyawanlah yang akan datang. Boim setuju, bicara dimanapun asal bisa fokus. Namun ketika Boim mau melangkah


"Boim--"


Jingga masih mencoba menghentikan langkah Boim lagi! Dia ingin tahu Apa tujuan Boim sebenarnya, mau menikahinya setelah Jingga berbohong dan ditolak mentah oleh Bram, bahkan diambang kebangkrutan akibat sang papa mendapat finalti di perusahaan s kontruksi, karena sidang dan bukti juga Tjandra terancam penjara atas kasus lain.


"Kita bicarakan nanti malam sebelum tidur, sayang!" permintaan Jingga, masih tetap ditolak tapi kata-kata Boim barusan sudah membuat bulu kuduknya merinding.


"Katakan padaku, kau meraba otot tubuhnya? Kencangkah"


"Berapa ronde dia menaklukanmu, Jingga?" sindir Lena, yang kala itu merasa bangga, karena Jingga tidak bisa masuk ke dalam keluarga Bram Hartanto, dirinya bicara seperti itu karena dirinya keluarga dari Hari Armanto yang masih satu keluarga dari paman Reksa.

__ADS_1


"Gayanya bagaimana? Ughh, kau sudah melakukan model apa saja?"


"Lena diamlah, kalau kau tak diam, kita tidak akan pergi kemanapun!"


Hingga Jingga terpaksa harus menyentak begini, supaya Lena tak lagi banyak mengganggunya.


'Ampun deh! pertanyaannya macam detektif aja! masa iya aku juga harus menceritakan hal macam itu? dia ingin tahu sehebat apa? memanjangkan milikna saja dia tak bisa! seberapa panjang miliknya? hah, yang mau aku hisap itu paling sepanjang jari telunjukku! meraba? diizinkan pegang juga tidak! gaya Apa? gaya mengomelnya? menyebalkan sekali!'


Jingga masih menggerutu di dalam hatinya sambil menghentakkan kakinya ingin pergi meninggalkan ruang makan. Bukankah mereka disuruh belanja tadi?


"Eeeh, Jingga kau tidak boleh jalan terlalu cepat! pelan-pelan kau sudah mengandung!"


'Ya ampun, siksaan hidupku ternyata belum berakhir!'


Jingga bergeming dalam hatinya karena Jingga juga sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Lena yang berhasil menertawakan setelah ditolak mentah oleh Bram, dan dinikahi oleh Boim.


"Kau harus pelan-pelan melangkah!"


"Lena diamlah! aku tidak akan kenapa-napa! aku sering melihat wanita berbadan dua dan mereka berjalan biasa saja! dan asal kau tahu, aku tidak sedang hamil. Kemarin itu gosip agar aku dinikahi Bram, jadi aku pasti bisa menjadi nyonya Bram, dan kau ingat. Aku akan menendangmu sebagai adik ipar." tawa Jingga yang frustasi.


Jingga sungguh kesal pada Bram setelah dinikahi Boim! Karena sekarang penderitaannya belum selesai sampai di sana.


"Tolong carikan gaun yang pas supaya tidak terlalu terlihat kalau putriku sedang isi, bahkan Bram kita undang. Lena tolong kirim undangan ini pada suamimu Hari, dan kakak iparmu itu ya! Si Bram itu harus tahu, jika dia menolak putriku dia bisa bahagia hidup bersama Boim."


"Baik aunty." senyum Lena pamit.


Lena sendiri bukan anak kandung, melainkan ia anak dari adik dari Tjandra beberapa warisan di handel dan di anggap sebagai anak. Ironis keluarga yang tamak bukan?!


TBC.

__ADS_1


Crazy Up Sudah Tiba! terimakasih atas dukungan Bram Ya! Kisah Bram akan berlanjut kelak ke anak anaknya.


Kisah Jingga kembaran Elea yang licik sudah berakhir ya All. Dan Elea kini kembali hidup dalam bantuan system.


__ADS_2