
Ke esokan harinya, Mikha sangat sepi dimana tidak ada lagi tawa suaminya, namun demi janin yang benar benar tumbuh. Maka ia harus tinggal di mansion Bram, dan Hari di masa kecil dahulu. Lagi pula, rumah ini kebanyakan di huni oleh pengawal dan beberapa anak angkat Bram. Sementara Inggrid dan Bram, pergi ke eropa, apalagi akan kasusnya itu.
Di taman belakang, Mikha di dekati Ryo sepupu mas Hari. Yang saat itu, Ryo pernah satu sekolah dengannya dulu, bersama Osin juga, setelah keluar dari asrama. Sehingga jika mereka berdua akan terasa tidak canggung ketika mereka mengobrol.
"Potong bunga, ingat jangan capek capek!"
"Heuuumph. Tenang aja Ryo."
"Mengurus menjaga orang bunting lebih berat, dibanding urusan kantor." sindir Ryo, yang membuat tatapan Mikha menggeleng.
"Hish! Baiknya itu mulut."
Mikha kembali sibuk menghampiri, dan membantu bibi memotong daun bunga mawar yang kering, menyirami dengan semprotan tanaman. Lalu Ryo tiba saja senyum menghampiri.
"Wah, bagus nih. Para wanita sedang bermain air dan mengurus bunga yang cantik."
"Halah, Ryo. Lo ga ada kerjaan lain ya, selain ngekor terus gue?" ketus Mikha, pasalnya jika mereka bertemu akan biasa saja bicara.
"Gak ada, kerjaan gue supaya lo tetap aman. Tanggung jawab gue sama paman Bram. Lo tahu gak, ada dua iblis bermuka dua. Yang gue takutin bakal bikin lo celaka."
'Iblis .. Bermuka dua ..?' terdiam Mikha
Hingga di mana Mikha duduk di taman, lalu Ryo mengambil gunting dan mencoba membantu Mikha menghias bunga pot semakin cantik.
"Gue mau tanya sama lo Mikha. Jawab jujur ya!"
__ADS_1
"Heuump, apa dulu. Tergantung pertanyaannya lah." senyum miring Mikha, yang tak canggung pada Ryo, keponakan mas Hari itu.
"Apa rencana lo selanjutnya Mikha?" tanya Ryo.
"Soal apa, soal mas Hari lagi?" tatap Mikha, Ryo mengangguk alis.
"Entahlah, pusing memikirkan. Yang jelas Gue mencintai mas Hari, dan gue ga akan pernah percaya kalau mas Hari benar udah tiada. Andai aja gue ga hamil, mungkin dari ujung ke ujung, gue udah cari mas Hari," ungkapnya.
Ryo terdiam, ada rasa tak percaya baginya. Ia segera mematung menatap bunga pot. Melihat Mikha yang gundah kebingungan. Akan ada kesulitan setelah ini.
"Baiklah. Tenangkanlah diri lo Mikha. Gue pastiin pasti ada jalan. Jika lo dalam dan amat dalam mencintai om Hari. Dia pasti bakal kembali dan gue sama Eri serta Osin bakal terus pantau cari keberadaan bos Hari. Gue harap lo tetap berhati hati, meski tinggal di rumah seindah ini!"
"Apaan sih, kaya ada ancaman aja ngomongnya Ryo." mencoba alibi, karena Mikha sebenarnya tahu apa yang di maksud perkataan Ryo padanya.
"Ryo, gue boleh ngomong sesuatu gak?"
"Apa ya Mikha?" menoleh masih mode memotong daun kering.
"Mili, itu suka lo ya? soalnya pas makan malam. Raut wajah kalian berbeda."
"Uhuuuuk .. Uhuuuuk, Mikha Lo kaya ember kalau ngomong, masa ia si anak iblis suka sama gue. Gue sih ogah lah, males banget. Gila aja, bisa berakhir mati di gantung gue. Masa gue suka ama sepupu sendiri."
Mikha tertawa kala Ryo terbatuk gugup. Hingga ia semakin seru menggoda Ryo dan terlihat bibi ikut senyum tertawa di sampingnya. Namun langkah pandangan Mikha terhenti kala melihat di ujung pohon besar, seseorang menatapnya dengan wajah sinis.
'Kenapa pria roda berpakaian mumi itu melihat ke arahku?' batin Mikha.
__ADS_1
Ryo saat itu mengambil ember, mengisi air dibak hitam dengan separuh tenaga ia mencoba membantu tanaman hias cepat selesai. Ryo masih bicara banyak, lupa soal tatapan dan langkah Mikha yang menghampiri tangga bergoyang di depan rumah tuan Bram. Tangga itu menembus tegap yang disampingnya pohon besar ribuan tahun yang terlihat besar dan rindang.
Mikha melangkah dengan perlahan, hingga ditengah pohon. Ia di tepis tangan oleh Ryo saat itu.
"Aunty Mikha yang baik, nyonya Hari. Tolong Jangan ke rumah itu, tetangga itu julid tak suka paman Bram dan keluarga kita. Apapun yang kamu lihat, hindari dan masuk!" menarik tangan Mikha dengan lembut.
"Tapi pakaian mumi itu, natap aku terus. Ryo, siapa tahu dia butuh bantuan kan?"
Tanpa satu kata, tetangga ibu paruh baya berjalan, mendekat ke arah itu dan mendorong pria mumi itu masuk ke dalam rumah kecilnya rapat rapat.
Brugh!!
Pintu tertutup keras.
"Tuh, liat kan? Ibu itu introvert dan ga suka siapapun sok akrab." cetus Ryo, membuat Mikha gagal hampiri pria di kursi roda. Bahkan instingnya mengatakan dia bisa saja mas Hari, dimana kecelakaan itu jika mas Hari selamat, seratus persen kulitnya akan terbakar.
***
Namun di tempat Lain, Damar dan Bram sedang menguji herbal sun system, dimana kali ini mereka yakini penelitian milik paman Hari, akan berhasil setelah akan resmi uji coba.
Satu sisi satu pengawal berbicara, kala ada satu titik, dimana terakhir Hari, dan seseorang yang menyebabkan Hari kecelakaan telah ditemukan.
"Segera ke lokasi!" ujar Damar, dengan beberapa pengawal.
Tbc.
__ADS_1