
Bram merasa pupus, sudah kedua kalinya ia menghubungi Elea, tanpa suara sedetik nafas pun. Ia tak ingin, Elea khawatir akan dirinya yang menghadapi banyak penjahat. Maka Bram berharap, Elea bisa menjalankan bisnis yang ia tinggalkan dan tetap setia menunggunya.
Bram pun mendapatkan banyak informasi dari kedua anggota genk Merah yang berhasil ditangkapnya. Dari keterangan keduanya, Bram cukup terkejut lantaran ucapan mereka sama persis dengan yang Olive tuturkan.
Benar adanya kalau wilayah Alam Buana tidak memiliki pihak keamanan seperti polisi. Kekuasaan dari pemimpin genk Merah yang membuat para polisi ini angkat kaki dari wilayah tersebut.
Sekarang Bram jadi berpikir, seberapa hebatnya ketua Mafia genk Merah ini, sampai tidak ada polisi yang mampu mengimbangi kekuatannya? Apakah kehebatannya mengalahkan anggota-anggota Naga Buaya yang terkenal perkasa dan tak terkalahkan itu? Sebelum Bram mati.
"Kakak!" teriak seorang remaja belia kira-kira berusia 16 belas tahun, sedang berlari menuju Bram, yang baru saja selesai mengajar di salah satu kelas.
"Arsen." Terlihat wajah cerita terpancar dari pemuda yang kini mulai terbiasa menjalani kehidupan keduanya tersebut.
Tidak seperti sebelumnya, Bram sering mengeluh lantaran pada kehidupan keduanya ini berbanding terbalik dengan kehidupan pertamanya. Namun, lambat laut dirinya mulai terbiasa dan berdamai dengan kenyataan.
"Kakak baru selesai mengajar?" tanya remaja laki-laki bernama lengkap Arsen Khaimar itu.
Remaja yang diselamatkan oleh Bram beberapa hari yang lalu. Kondisinya yang semula babak belur dan penuh luka lebam itu berangsur-angsur membaik.
"Iya, kakak baru saja selesai mengajar. Kamu kenapa ada di sini, bukankah ini masih jam belajar?" balik Bram bertanya.
Arsen menanggung, membenarkan praduga Bram, "Guruku izin tidak masuk kak. Jadi, aku memutuskan untuk mencari kakak," akunya kemudian.
Kening Bram, sedikit mengerut, "Mencariku, untuk apa? hal ini bukan jadwal kakak mengajar di kelasmu."
__ADS_1
Kebingungan Bram langsung dibalas dengan gelengan kepala, "Bukan soalan pelajaran Kak, tapi ... Kakak mendekat ke sini," pintanya sambil mengibaskan tangan kanannya. Bram yang paham akan isyarat tersebut, segera membungkuk, mendekatkan kepalanya sedekat mungkin dengan Arsen.
"Aku akan memberitahukan kakak markas genk Merah," bisik Arsen, anak pemuda yang hampir mati dan terlihat psikisnya lebih kuat.
Sepasang bola mata itu langsung membulat, "Hem, jadi kamu sungguh-sungguh mengetahui letak markas genk Merah?"
"Sebenarnya aku tidak tahu lokasi pasti markas utamanya di mana, karena mereka sering berpindah-pindah, tapi aku bisa menunjukkan jalan pada kakak, tempat genk Merah menyekap anak-anak seperti aku ini."
Pengakuan Arsen semakin memantik rasa penasaran Bram. "Di mana itu? Bisakah kamu antarkan kakak sekarang ke sana?" tawarnya tanpa berbasa-basi.
Arsen yang semula takut, takut akan terkena marah, kini tampak begitu antusias. "Jadi benar, kakak mau pergi ke markas itu?" tanyanya hanya ingin memastikan saja.
Bram, mengerjapkan matanya sambil mengangguk pelan, "Sebenarnya kakak juga berpikir untuk mencari markas mereka sendiri, tapi karena kamu sudah berkata demikian, maka kakak akan mendatangi markas itu. Apa lagi, jika lokasi ini dijadikan sebagai tempat untuk menyekap anak-anak seperti dirimu, maka kakak tidak akan membuang waktu lagi." jelas Bram, pada salah satu muridnya.
Dirinya juga menambahkan akan segera mencari markas besar Organisasi genk Merah itu dan membawa kembali senyuman di wilayah tersebut.
"Berjanjilah setelah semua misi selesai kakak, kamu tidak membocorkan apa yang kamu lihat saat itu."
"Heuumph! Ok kak." senyum Arsen.
Melihat anak-anak kembali tersenyum tanpa merasa tertekan, menjadi suatu hal yang begitu menenangkan hatinya. Mungkin pada kehidupan pertamanya, Bram lebih memilih menutup diri dari dunia luar, maka pada kehidupan kali ini, dirinya ingin lebih banyak mengenal tentang dunia.
"Lalu, kapan kita akan pergi, Kak?" tanya Arsen begitu antusias. Dibandingkan Bram yang memikirkan strategi, remaja 16 tahun itu tampak sangat bersemangat.
__ADS_1
"Bagaimana setelah pulang sekolah nanti? Kakak tidak bisa pergi sebelum mengatakannya lebih dulu pada Kak Olive, jelasnya hati-hati karena tidak ingin menghancurkan harapan besar Arsen.
"Kak Olive ya. Itu, dia ada di belakang kakak!" tunjuk Arsen semangat.
Dirinya memang sempat kecewa lantaran Bram, tidak langsung mengambil tindakan yang sesuai dengan ekspektasinya.
Bram, berbalik badan, "Bapak ada di sini juga?" Dirinya bertanya dengan gaya bahasa yang sudah disesuaikan.
Jika sedang berada di muka umum, maka dirinya wajib memanggil Bapak! dengan sebutan sesuai profesi yang sedang dilakoni.
"Saya tidak sengaja lewat sini. Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Arsen... Kenapa kamu ada di luar kelas, bukankah ini masih jam belajar? Sudah ketinggalan pelajaran kan dirimu."
"Ya pak! Saya habis dari toilet, tak sengaja ingin sekalian berterimakasih pada Kak Bram, sekaligus guru tiga bahasa." jelasnya penuh semangat.
"Begitukah? Jika sudah selesai. Kembali ke kelas." titah Bapak Olive, yang hanya Arsen tahu nama aslinya semenjak di rumah sakit.
Sebagai Utusan Langit yang sudah sangat terlatih, Olive bisa menempatkan dirinya pada situasi sekitarnya.
Bram akhir-akhir ini berdecak kagum pada Olive. Mungkin pertemuan pertama tidak mengenakan, tapi seiring berjalannya waktu, dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Olive.
"Kenapa diam seperti itu? Ayo, masuk kelas! Kamu juga, Pak. Seharusnya Anda masih memiliki satu kelas lagi," tegur tegas Olive bukan hanya untuk Bram, tapi untuk Arsen juga.
Arsen yang sejak awal sudah berharap akan bisa melancarkan rencananya, untuk menyelamatkan teman-temannya yang disekap pun, sepertinya pupus sudah, dikarenakan Olive yang seolah tidak memberi jalan.
__ADS_1
Bram, yang melihat perubahan raut wajah Arsen, segera berbisik pada Olive.
Tbc.