
Mikha memberi pesan, agar Osin kembali bekerja. Apalagi untuk mencari kandidat pengganti tidaklah mudah, apalagi Mikha baru saja pasca melahirkan, dimana ia tidak akan pergi ke kantor. Bahkan Mikha juga, memberi pesan pada Eri untuk handel kantor sampai waktu yang benar benar ditetapkan Hari Hartanto, jika ingin resign jangan pernah dadakan.
'Bagaimana bisa, adakah seorang pria yang bisa mengarungi mahligai komitmen untuk seumur hidupnya, menyatukan kasih namun tidak sesuai yang di harapkan?'
Osin masih terdiam, ia masih tak bisa menjawab. Bibirnya tipis terkatup bergetar, namun tatapan Eri membuat wajahnya mendongak, dan menatap lebih dalam.
Pertengkaran Ryo dan Eri membuat Osin depresi karena cintanya yang rumit, apalagi ia baru tahu mereka adalah sahabat yang pernah bersama dan tidur dengannya.
"Aku tidak perlu masa lalu kamu untuk berkomitmen, tapi maukah kamu untuk bisa menerima dan memberi kesempatan, aku ingin kamu bisa mengagumi dan mengetahui tulusnya aku padamu Osin!" ucap Eri, pada Osin mengajaknya pulang ke ibu kota.
Ryo dari jauh, ia amat menyesal. Jika tahu dari awal, perasaan Osin sangat dalam. Mungkin ia tak akan memutuskan, di tambah dengan sosok pria jangkung yang terpesona akan Osin. Ia kembali melangkah dan pergi setelah melihat kebersamaan dua pasangan yang membuatnya iri.
"Aku tidak tahu, tapi apa aku bisa Eri?" lirih Osin menatap dalam pada pria yang ia benci.
"Beri aku waktu, dan beri tahu aku. Apa yang kamu benci dariku, sehingga kamu terlihat jijik jika bersamaku?"
Pertanyaan Eri, membuat Osin terdiam. Ia hanya bisa lemas dan duduk lalu merenung flashback ingatan masa lalunya. Entah dari mana, Osin tiba saja mengingat masa lalu itu.
'Dari mana aku bisa membuat dirimu beruntung, entah aku yang beruntung atau aku merasa malu.'
Osin menangis sesenggukan seraya menangkupkan wajahnya di atas kedua lutut yang tertekuk. Ia seolah ingin menyerah sebelum permainan usai. Dia lelah. Bukan karena dia tidak dicintai oleh Eri. Dia pun sadar akan hal itu. Dia sepenuhnya tahu bahwa cinta Eri hanya untuknya. Ada yang lebih menyakitkan dari pada hal itu, yaitu sikapnya terkadang berubah. Osin bisa dengan jelas melihat kebencian di mata Eri suatu saat nanti kala ia menatapnya.
Perempuan itu begitu menyesalkan tindakan dirinya itu. Kepedihan itu sangat dia rasakan saat menyadari bahwa hubungan Eri dan persaudaraan yang mereka jalin bertahun tahun lamanya bersama harus kandas dengan cara yang tidak baik karenanya.
Tidak akan ada lagi agenda nongkrong berdua, saling curcol satu sama lain. Tidak ada lagi Ryo yang selalu mengajaknya berdiskusi tentang bisnis lain, terkait mereka mencintai wanita yang sama.
Tidak ada lagi Osin yang minta dilayani untuk membeli ini itu pada Ryo, ataupun menjadi sekertaris Eri di kantor. Hal itulah yang menjadi sumber kesedihan terbesar yang dirasakan oleh Osin, kesalahannya cinta segitiga pada keluarga Mikha, membuat Osin bingung menentukan hati.
***
__ADS_1
KEDIAMAN MIKHA.
Sementara itu, Hari Hartanto kini sudah berada di kamarnya bersama sang istri. Mereka duduk bersama di atas ranjang sembari mengobrol bersama. Bahkan mendengar kabar Mikha melahirkan lebih cepat, ia sangat bahagia sekali dimana ia cepat kembali ke ibu kota, demi bisa mendampingi sang istri.
“Kapan kamu pulang, Mas?” tanya Mikha mendapat kejutan, seraya menyandarkan kepalanya di bidang milik Hari.
Saat ini, sang bayinya sedang tidur dan di awasi oleh mereka. Tak jauh dari ranjang kasur king size.
"Tiga hari lagi," sahut Hari, seraya melingkarkan tangan di pinggang istrinya.
"Terus selama itu kita ngapain?" tanya Mikha dengan tatapan menggoda.
“Enaknya ngapain?” tanya Hari balik. Matanya nakal menatap wajah istrinya.
Wanita cantik itu tersenyum sambil mendekatkan bibirnya ke Hari. Pria itu menangkap lembut bibir ranum milik Mikha dengan bibirnya. Sejenak bibir mereka saling menaut untuk beberapa menit lamanya.
Hari Hartanto kala itu beranjak dari ranjang untuk mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja kecil di depan sofa. Hari juga, menoleh sebentar ke arah Mikha.
“Halo, Hari,” sapa Bram balik.
"Halo kak, ada apa?"
“Kalian sampai jam berapa tadi?” tanya pria tua itu lagi.
“Sekitar jam 09 an, Kak. Kenapa?”
“Nggak kenapa kenapa. Perjalanan lancar kan?”
“Lancar, Kak. Lancar banget," sahut Hari, seraya sesekali melirik ke arah istrinya.
__ADS_1
“Good kalo lancar. Jangan lupa, daur ulang Sun System, pembuatan peti kulkas untuk gen anti aging, dimana kita berhasil membuat alat face awet muda di usia tua. Apa kau bersedia uji coba lagi dua bulan ke depan?"
“Eh… iya… iya, nanti Hari kirim bahan yang 60% Kak! aku akan jadi model System kakak, sebagai abdi ku.” katanya dengan terbata.
Ucapan salam diucapkan Tuan Bram untuk mengakhiri pembicaraan mereka. Hari meletakkan ponselnya dengan lemas. Lalu melangkah menghampiri Mikha yang masih ada di ranjang.
“Kenapa aneh gitu mukanya?” selidik Mikha.
“Kak Bram, memintaku untuk mengajakmu jalan jalan, tidak boleh di kamar karena kamu baru dua minggu sayang,” sahutnya.
“Mas, jangan buat aku traveling. Lagi pula kita tidak melakukan itu sampai empat puluh hari." senyum Mikha, yang dasarnya Hari menyembunyikan dirinya jadi alat uji coba dimana penelitian project Bram yang baru.
“Masalahnya mas tidak bisa, apalagi kita sedang tenang." goda Hari.
"Mas, jahitan aku masih basah. Tapi aku akan membuatmu lepas. Tanpa kamu merusak dan membuat aku sakit. Kamu rebahan saja, biar aku lakukan untukmu mas. Sepekan lebih aku baru saja melahirkan." senyum Mikha tersenyum pada suaminya.
Hari mendekatkan wajah ke telinga Mikha.
“Kita lanjut lagi,” bisiknya halus.
Mikha mengangguk melihat tatapan nakal suaminya. Keduanya naik ke atas ranjang. Tangan Hari mulai bergerilya di setiap inchi wajah Mikha tanpa merusaknya. Tak lama, mereka tenggelam dalam sebuah kenikmatan dunia berbingkai kehalalan tanpa bercampur.
Hingga beberapa jam kemudian, Mikha yang menatap sang suami tertidur, ia tak sengaja menatap layar ponselnya, yang niatnya ingin menggendong bayinya.
'Sun System Anti Aging.' lirih Mikha yang menatap suaminya, dimana Mikha takut jika suaminya akan menjadi bahan percobaan setelah alat kakak iparnya itu jadi, meski ini adalah perusahaan keluarga, tapi kenapa harus Hari Hartanto lagi yang jadi uji coba.
"Mas, aku harap kamu tidak melampaui batas, dimana berlebihan akan merugikan kamu." lirih Mikha, yang menatap Hari tertidur pulas.
TBC.
__ADS_1