
Brak! Boom!
"Bram, ayo kita pulang!" senyum Elea, hingga kala itu Bram bangkit dan masuk kedalam mobil, sementara Elea tak sabar rindunya dengan ketakutan ia segera memeluk Bram.
Beberapa saat!
"Biar aku yang setir, maaf aku membuatmu cemas El." cercah Bram, yang kala itu ikut membalas pelukan erat Elea. Sehingga mereka berpindah posisi, Bram pun sanggup menyetir dalam beberapa puluh menit, Elea juga bercerita panjang sampai Bram senyum mendengarkan.
Triiith .. Rem dadakan.
Tak lama dari arah lain, Sebuah tabrakan beruntun terjadi, ledakan pun tak terelakkan.
Suara ledakan yang sangat dahsyat terdengar, bahkan di posisinya sekarang Bram merasa ada sedikit guncangan. Padahal jarak mobil Bram dan tempat kecelakaan itu cukup jauh.
“Astaga! Ya Tuhan, ada kecelakaan! Bram! Bram lihat disana, ada kecelakaan,” teriak Elea, pada Bram histeris.
Bram segera turun dari mobil, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bingung sekaligus takut. Dia melihat beberapa mobil yang berada di dekat kejadian itu terbakar, kobaran api menjulang tinggi. Bahkan dia bisa melihat orang-orang yang ada di dalam mobil itu tidak bisa keluar dan berteriak meminta tolong.
Dan kemudian...
Boom! Ledakan susulan terjadi.
“Tolong! Tolong!” teriakan orang-orang berlarian.
Semua orang termasuk dengan Bram, Elea berlari menjauh dari mobilnya dan menunduk karena takut. Begitu juga dengan Elea. Napas Elea ikut memburu, tersengal-sengal seperti habis lomba maraton. Menyaksikan sendiri kecelakaan tragis di depan matanya cukup membuat dirinya terpukul. Namun juga bersyukur, karena ia bersama Bram kekasihnya itu selamat tanpa kurang satupun.
__ADS_1
Rupanya keberuntungannya telah berubah. Jika tidak, mungkin sekarang dirinya dan Elea sebelum sampai lewat di jalan depannya, sudah hangus karena dilalap si jago merah. Dan namanya hanya akan tinggal.
Elea segera mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor darurat agar bantuan segera datang.
“Selamat sore, saya mau melapor, ada kecelakaan di persimpangan lima empat. Tolong segera kirim bantuan,” kata Elea, membuat Bram senyum pada kekasihnya yang cekatan.
Terdengar dari seberang bahwa bantuan sedang menuju ke daerah ini. Elea pun menutup panggilannya tersebut. Dan memasukkan kembali ponselnya. Beberapa polisi sudah turun ke jalan untuk mengkondisikan lalu lintas yang mulai carut marut. Orang-orang banyak yang meninggalkan mobilnya karena takut jika ledakan itu akan sampai di tempat mereka. Begitu juga dengan Elea dan Bram tersebut yang menyaksikan sebagai saksi.
Setelah mobil pemadam tiba di lokasi, api besar yang telah melalap truk dan beberapa kendaraan di belakangnya itu pun bisa diatasi. Bram menghembuskan napas lega.
“Syukurlah, semua bisa diatasi,” kata Bram lega.
“Iya, kamu benar Bram, andai kamu tadi ngebut, kita sudah di alam lain bersama bukan?" ucap Elea, membuat Bram berjanji tidak akan ngebut dan tetap berhati hati.
Sekitar setengah jam kemudian, polisi dan pemadam kebakaran sudah bisa mengatasi ledakan akibat tabrakan beruntun itu. Mobil Elea dan Bram pun sudah kembali menyala. Sesuai arahan polisi lalu lintas, mobil tersebut bergerak melaju melewati keramaian orang-orang. Terlihat para tenaga medis sedang menolong para korban kecelakaan itu.
Setelah semua mobil pertolongan itu lenyap dari pandangannya, Bram melangkahkan kakinya menuju rumah bersama Elea, dengan mobilnya. Hingga dalam beberapa jam mereka sampai dikediaman Bram.
Saat dia membuka pintu rumahnya, dia melihat orangtuanya Elea sedang menonton televisi. Mau tidak mau Bram pun menyapa mereka berdua.
Biasanya, di momen-momen seperti ini, Bram akan merasa gugup, cemas, bahkan ketakutan. Itu karena perkataan dan perlakuan kedua orangtuanya Elea itu kepadanya selalu buruk dulu. Tak jarang kata-kata dan tindakan mereka menyakiti hati Bram. Tetapi, kali ini, Bram justru santai dan lega. Itu karena dia bersyukur tak jadi korban kecelakaan maut tadi.
Akan tetapi, sikap dan ucapan mereka berdua terhadap Bram memang sudah berubah. Apalagi jika kedatangan mereka karena pernikahan mereka yang akan tiba dan pasti menanyakan, soal fitting pernikahan Bram pergi meninggalkan Elea.
“Wah, lihat tuh, Mah. Bram sudah datang,” kata calon ayah mertuanya, memandang.
__ADS_1
“Kamu ini beneran dari mana aja sih Bram? Kerja di mana ada yang pulang jam segini? Jangan-jangan itu hanya bualan kamu saja, ya? Awas saja kamu, tinggalin Elea lagi di butik." serang calon ibu mertuanya.
"Mah, Bram baru tiba. Bahkan Elea juga bersama Bram, mama lupa ini kediaman Bram. Bram tidak tinggalin Elea begitu aja kok."
"Sudah ayo nak! ikut duduk, tapi kamu Bram bersihkan diri dulu. Kamu kerja apa sih, sampai kotor berkeringat gitu."
"Baik, Bram pamit kebelakang dulu om, Tante." di anggukan mereka.
Bram menghela napas panjang. Sedari dulu, calon ayah dan ibu mertuanya ini selalu saja berpikiran negatif tentangnya. Tak pernah sekalipun mereka percaya jika calon menantunya ini bisa diandalkan. Tidak saat dia bekerja di kurir, tidak juga sudah bos selalu dianggap tidak perhatian pada Elea.
Tapi sampai di kamar mandi, Bram juga berfikir jika waktunya dengan Elea selalu dinomor duakan. Mungkin calon mertuanya itu benar, Elea membutuhkan dirinya selaku ada, meski harta Bram beberapa sudah menjadi milik Elea sebagai bentuk cinta keseriusannya.
Bram memejamkan matanya menahan rasa sakit yang teramat di hatinya. Dia merasa seperti sedang dihujam ribuan belati tepat di jantungnya. Bram sudah hampir mencapai batas kesabarannya.
Sebenarnya, Bram sudah terbiasa di kata katai oleh ibu dari kekasihnya itu. Meskipun hatinya tetap sakit, dia sudah bisa menerima itu. Namun, dia tidak suka jika sang calon ibu mertua sudah menyinggung dikediamannya.
Bram pun setelah mandi, ia akan menatap ibu mertuanya. Fokus. Tatapan matanya tajam, setajam elang yang sedang mengincar mangsa. Ia akan meminta kedua orangtua Elea percaya, jika ia tidak akan pernah meninggalkan Elea seorang diri. Bahkan setiap apa yang Bram jalani, ia akan terus terang pada Elea.
“Kenapa kamu melihat mama seperti itu, El? Berani menantang mama kamu sekarang, hah?!” teriaknya di ruang tv.
"Mah ayolah, mama tahu dari mana soal Bram tinggalin Elea di butik, ada kejelasan penting mah. Bram sudah banyak melewati kesulitan. Dan semua itu demi Elea, dan kehidupan Elea bersama Bram bahagia."
"El, mama cuma ga mau kamu dapat kekayaan. Setelah dipikir pikir tapi kamu seperti tak ada, Bram sibuk pergi terus. Mama ga mau setelah menikah kamu kesepian. Justru itu fitting baju pernikahan itu sakral, pake segala tinggal ga peka banget jadi cowo." ujar ibu Elea.
"Benar itu Elea, justru kedatangan kami. Tunggu Tuan Reksa Hartanto. Ini hari ketiga calon mertuamu datang bukan? jadi kami datang kemari, ingin menanyakan keseriusan Bram menikahi mu dengan cepat." ujar sang papa, membuat Elea tak enak hati pada Bram.
__ADS_1
'Semoga Bram, tak dengar perkataan mama dan papa.' batin Elea.
TBC.