
Elea saat itu mengajak Bram ke ruangan dimana anak anak berada, sebelum mereka pulang dari rumah sakit. Rasanya amat bahagia, bagi Bram kala itu ia bisa bernafas. Hingga seseorang tiba datang meneriaki dengan lembut ke arahnya.
"Kakak!" Arsen pun berteriak, lalu menghambur dalam pelukan Bram.
"Bagaimana kabarmu? Kakak sangat mencemaskan dirimu."
Bram duduk berjongkok agar tingginya seimbang dengan anak itu.
Meskipun sudah duduk di bangku sekolah pertama, tetapi tinggi badan Bram, kurang dari 150 cm. Wajar saja kalau Bram harus menekuk kakinya agar tidak terlalu tinggi di hadapan yang lain.
"Aku baik-baik saja, Kak. Bahkan aku sangat sehat sekarang. Terima kasih, Kak. Berkat kakak aku bisa bertemu dengan adikku kembali."
"Adikmu?"
"Dia ada di sana!" tunjuknya polos.
"Ada ibu dan ayahku juga, tapi maaf, Kak. Orang tuaku hanya buruh saja. Aku takut kakak akan merasa tidak nyaman di dekat mereka. Selama ini aku memang tinggal dengan nenek, tapi disana ada ibu dan ayahku yang ikut kak! Mereka kembali dari pekerjaan 'TKI' nya kak!" jelas Arsen.
Bram mengubah posisinya menjadi berdiri sambil mengacak-acak rambut Arsen. "Siapa bilang kakak akan merasa tidak nyaman di dekat orang tuamu? Bahkan, kakak saja belum melihat wajah mereka, jadi untuk apa kamu sudah berpendapat demikian?"
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, pola pikir Bram berubah cukup drastis. Dirinya yang pada kehidupan pertama, lebih memilih untuk menutup diri dari orang banyak, kini mulai mencoba untuk terbuka.
Arsen Khaimar pun tak mampu menjawab kalimat terakhir, dari pria yang telah menyelamatkan nyawa banyak orang itu.
"Ayo, kita temui orang tuamu." Bram memaksa dan Arsen pasrah.
Namun, dalam hati kecilnya, dia merasa bahagia. Apalagi Elea saat itu tengah mendampingi kekasihnya itu, bertemu anak yang terluka sebelum pulang.
"Lihat Kak. Dia adikku yang hampir satu bulan disekap anggota genk Merah di rumah itu. Itulah kenapa aku bergabung dengan genk Merah untuk memastikan adikku baik-baik saja. Hingga saat itu ketahuan, aku dipaksa makan serbuk dan sebuah benda yang rasanya panas saat itu. Andai kakak tidak datang kala itu, aku pasti sudah mati." raut sedih.
"Hey! Sudahlah, semua anggota dari mereka sudah kakak habisi. Sebagian dari markas mereka sudah dibereskan oleh pihak berwajib." jelas Bram saat itu.
Tak segan-segan Arsen Khaimar menceritakan kronologi pertama kali dirinya memasuki dunia gelap organisasi genk Merah. Bram yang menyimaknya pun menjadi geram sendiri lantaran organisasi itu telah semena-mena terhadap anak-anak. Apalagi Elea tak sangka, dunia modern seperti ini masih bisa tega pada anak dibawah umur. Ia bangga, karena Bram kekasihnya itu menolong mereka.
Hingga saat Elea dan Bram menjenguk dari mereka selesai. Bram berniat akan kembali menatap kondisi para anak anak beberapa minggu lagi.
"Baiklah, sehat sehat ya! Kakak pulang dulu."
__ADS_1
"Iy kak. Terimakasih, ada kak Oliver juga disana. Kakak juga cepat sembuh ya!" senyum Arsen Khaimar melambai Bram, yang masuk kedalam mobil Suv.
***
BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN.
Bram, kala itu berada di apartement lamanya, sementara Elea pulang ke rumahnya alasan mendesak, ia meninggalkan Bram seorang diri.
Bram pun mengecek berbagai pemasukan bisnis kurir yang dijalankan, terlebih saat ini Bram juga belum menemui Hari, dan ibu Inggrid keluarganya, karena kesehatannya belum pulih benar.
Hingga tanpa Elea tahu, Bram ke bank seorang diri, dan dalam beberapa saat mengantri tiba giliran Bram.
Rasa khawatir yang tadi tiba-tiba menyerang dirinya itu sempat membuat wajah Bram begitu pucat. Saat sedang mengamati setiap tindakan yang dilakukan petugas kasir itu lekat-lekat, suasana hati Bram benar-benar tidak karuan rasanya. Keringat dingin sudah mulai meluncur di kening dan punggungnya.
“Semoga bisa...semoga bisa...” begitu tadi Bram, berdoa ia di dalam hati.
Dan setelah dia menunggu cukup lama, proses pembayaran itu pun selesai.
Berhasil! Dia berhasil melakukan pembelian! Dan itu berarti, reward dua miliar itu benar-benar ditransferkan ke rekeningnya.
Setelah meninggalkan meja kasir, Bram sempat terdiam beberapa lama. Dia masih tak percaya dia kini memiliki uang dua miliar tambahan dari misinya. Diamatinya kembali struk pembayaran di tangannya.
Masih ada satu cara untuk memastikan. Bram membuka aplikasi M-banking di ponselnya, lantas mengecek saldo tabungannya, sekalian juga mengecek mutasi.
Dan memang benar. Uang dua miliar rupiah dari kabar Oliver! itu telah ditransferkan ke rekeningnya, dan kini berkurang beberapa ratus ribu akibat transaksi yang baru saja dilakukan oleh Bram.
Cukup sudah. Semua ini telah membuktikan bahwa uang dua miliar itu memang telah jadi miliknya, bahwa sistem Misi naik level itu nyata.
Bram tersenyum lebar seketika. Senyum itu terus menghiasi bibir Bram. Dia amat kaya sekarang! Sistem kurir delivery dan misi naik level telah jadi julukannya, dikehidupan kedua ini.
Jika bukan karena rasa malu akan digunjingkan orang-orang, mungkin Bram saat ini sudah loncat-loncat saking senangnya dia. Tetapi sulit sekali baginya untuk menahan emosi positif yang meluap-luap di dalam dirinya ini. Kedua tangannya mengepal, dan diangkatnya tangannya yang kanan tinggi-tinggi.
“Yes! Yes! Aku jadi miliarder lagi!” ungkapnya, tersenyum lebar.
Dengan uang yang dimilikinya saat ini, kehidupan serba berkecukupan yang dulu pernah dia rasakan akan kembali lagi. Kini semua masalah dalam hidupnya akan bisa diselesaikan.
'Dengan uang ini aku bisa membujuk papa pulang ke ibukota, dan sekaligus melamar Elea.' batin Bram.
__ADS_1
Tetapi Bram teringat dengan sesuatu, sehingga dia menghentikan langkahnya. Akan tetapi terlihat sebuah mobil kuning berhenti di depannya.
Taksi itu berhenti di depannya tepat. Bram yang akan menuju suatu tempat, ia masuk ke dalam taksi yang ada di depannya, dan duduk dengan nyaman.
“Jalan Wuluh Bambu nomor 217 ya pak."
“Baik Pak.” balas supir.
Taksi yang dia tumpangi pun bergerak menuju rumahnya. Dia menyandarkan kepalanya sejenak. Kemudian dia memikirkan hadiah lain yang diberikan sistem kurir delivery dan misinya ini.
Dia sudah membuktikan satu persatu hadiah itu, yang pertama: staminanya tiba-tiba berubah begitu dia menyelesaikan misi. Lalu, kemampuan beladirinya tiba-tiba meningkat tanpa dia pernah belajar sebelumnya. Dan hadiah uang itu… dia melihat paper bag yang dia pegang dengan senyum terkembang.
“Uang itu nyata,” gumamnya sendiri.
Dia menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak lagi tertawa sendiri. Dia tidak mau supir taksi itu menyangka dirinya gila.
Bram antusias, karena selama ini ia bekerja mengantar makanan. Apalagi misi naik level membunuh penjahat, baru bisa ia nikmati.
Bram pun mencoba mengingat hadiah lain yang didapatkannya.
“Apa ya? ah iya keberuntungan!” pekiknya, antusias.
Teriakannya sampai membuat supir taksi di depannya menoleh ke arahnya.
“Ada apa, Pak?” tanya supir taksi itu.
“Ah, tidak ada apa-apa Pak. Maaf, saya hanya kaget.” Bram terkikik geli sendiri, menatap apa yang digenggamnya saat ini.
Setelah itu supir itu kemudian fokus ke jalanan kembali. Sedangkan Bram, kembali sibuk dengan pikirannya.
“Awalnya keberuntunganku hanyalah bertambah 2 poin, sangat rendah sekali. Mungkin karena itu sistem ini memberikan hadiah pertambahan poin keberuntungan yang begitu banyak. Dan sekarang poin keberuntunganku menjadi 5 poin. Tetapi apa kegunaannya?”
Bram tidak sabar melihat bukti nyata dari keberuntungan yang dia dapat.
Saat Bram sibuk dengan pikirannya akan hadiah yang dia peroleh dari sistem misi itu, taksi yang dia naiki sudah sampai ke persimpangan. Dia melihat lampu masih kuning dan masih akan merah beberapa menit lagi. Tetapi dia merasakan laju mobilnya itu semakin melambat.
“Loh, Pak, kok melambat? Tolong dipercepat, Pak. Gas saja! Saya buru-buru!” pinta Bram mendesak.
__ADS_1
Hari ini Bram memang ingin sampai di rumah lebih cepat, karena dia ingin memberi kejutan kepada Elea dan calon ibu mertuanya yang selalu menghina dirinya, semasih ia masih menjadi kurir delivery dulu.
Tbc.