Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KISAH SEBENARNYA


__ADS_3

Pukul 9 Pagi.


Reksa Hartanto, menjatuhkan keputusannya tepat saat Hari, baru saja naik dari liang lahat ibunya, usai menutup jenazah sang ibu dengan papan kayu.


Bahkan liang lahat Inggrid, belum sepenuhnya tertutup dengan tanah.


Keputusan itu jelas membuat Hari, lebih hancur dari yang seharusnya, ibunya sudah meninggalkan dia untuk selamanya. Kemudian ayahnya sudah mencabut nama belakangnya, meski Hari tahu alasan apa yang digunakan oleh Reksa Hartanto.


Tetapi, apakah Reksa tidak tahu alasan apa yang Hari, miliki dengan bersikap seolah menantang ayahnya selama ini?


"Kenapa, Papa melakukan ini padaku?" tanyanya dengan sendu.


Reksa memalingkan wajahnya dari tatapan Hari, ia diam diam tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk memberi jawaban pada pemuda di hadapannya.


Tidak ingin menodai pemakaman sang ibu, Hari segera pulang dari sana. Meski sebenarnya dia masih ingin memeluk pusara sang ibu. Dan Bram ikut mengejar Hari, untuk tetap pulang ke rumah, dan tidak pergi ketika suasana papa juga masih panas dan sekeluarga ikut berduka. Bram juga tak sangka, jika utuhnya kembali keluarga mereka adalah yang terakhir.


Duduk diam di kamar Inggrid, Hari menatap nanar figura berisi foto Inggrid yang tengah memeluk dirinya.


Senyum lembut keibuan menghiasi wajah wanita tersebut, bahkan Hari seolah merasakan jika ibunya sangat bahagia memiliki dirinya.


Baju yang dikenakan olehnya masih menyisakan tanah merah dari pemakaman sang ibu. Dia enggan untuk melepas pakaian tersebut, pelukan hangat ibunya sudah tidak dapat dia rasakan lagi.


Menyisakan ruang kosong dan dingin di dalam hatinya, yang sedari awal sudah sepi tanpa kasih sayang dari Reksa Hartanto.


Reksa yang baru pulang dari pemakaman istrinya, dan selesai menemui para pelayat. Urung masuk ke kamarnya karena ada Hari di sana, dia lebih memilih membersihkan diri di kamar tamu. Melupakan anak keduanya itu dari istri kedua. Sesak ketika lagi lagi istrinya lebih dulu pergi meninggalkannya di usia senja.


Tok tok tok.


"Den, ditunggu tuan di ruang keluarga," ucap seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah itu, kepada Hari.


"Iya Bi," jawab Hari tanpa menoleh.


Meletakkan kembali foto sang ibu dia beranjak menuju ruang keluarga tanpa membersihkan diri.


"Mulai detik ini kamu bukan lagi Seorang Hari Hartanto. Maka kamu harus keluar dari rumah saya." Belum sempat Hari, mendudukkan dirinya di sofa, Reksa sudah mengingatkan agar dia keluar dari rumah ibunya.


Hati Hari sakit, bukankah dia anak kandung dan Reksa Hartanto Juga?

__ADS_1


Apa kesalahan yang dia perbuat terlampau besar, sampai hukuman yang dia dapat juga sedemikian besar?


Hari diam membisu, namun dia menatap Bram yang nampak biasa saja, tak mencegah apapun.


Jika diusir, bukankah Bram juga terlihat senang. Terlebih dia hanyalah anak kedua yang tidak berhak lagi.


"Bram, selamat kau senang kan atas semua ini?" unjuk Hari.


"Jaga bicaramu Hari, dasar anak tidak tahu diri." ucap Reksa emosi. Bram pun memaklumi sikap Hari, bagaimana pun Bram sedang mendinginkan suasana yang tak disangka akan buruk saat ini.


Hari, sendiri terpaku kilasan ingatan semasa dia kecil menghujani isi kepalanya. Hari kecil yang berusaha menarik perhatian Reksa dan Reksa yang memberi perhatian sekenanya.


Dia mengernyit heran, ada apa?


Kenapa?


Tetapi sejak Bram kembali datang ke rumahnya, Reksa terlihat begitu perhatian pada pemuda yang berusia lima tahun lebih tua darinya itu.


Hari tidak sadar mengenai hal tersebut, sebab dia terlampau sibuk menarik perhatian Reksa, dengan kelakuan - kelakuan nakalnya.


Saat ini barulah dia sadar mengenai perbedaan antara dirinya dan Bram di mata Reksa Hartanto.


Bahkan dugaan-dugaan yang dia buat, terlampau sulit untuk dibayangkan menjadi kenyataan.


"Ayo kita pergi Den," ajak seorang tukang kebun yang sedari tadi memperhatikan Hari, yang diam saja setelah diinjak-injak harga dirinya oleh sang papa.


"Tapi, Mang. Mama ada di sini, mama masih di sini," racau Hari, masih tidak mau meninggalkan rumah masa kecilnya.


"Nanti Den, nanti. Ayo ikut sama Mamang."


Tukang kebun yang diberi kepercayaan oleh Bram, untuk menjaga Hari, segera menarik tuan mudanya untuk pergi dari rumah papa.


"Kenapa Papa tidak mengatakan yang sebenarnya pada anak itu? pah, dia anak papa juga. Aku tidak ingin semua ini salah karena aku pah!"


Hari masih mendengar dengan jelas perkataan Bram, karena dia baru saja melewati ambang pintu ruang keluarga.


Dia menatap mang Jaya yang juga menatapnya dengan netra melebar, mang Jaya tidak menyangka jika Bram, akan mengatakan demikian. Hari pikir, Bram akan senang setelah sang papa membuang nama belakangnya itu, yakni Hari Hartanto hilang.

__ADS_1


"A-nak yang terlupakan? Maksudnya apa Mang?" tanya Hari, dengan jantung berdebar kencang.


"Ayo Den, ayo kita pergi dari sini. Nanti saja Mamang ceritakan." Mang Jaya semakin keras menarik Hari, agar tuan mudanya tidak mendengar lebih banyak lagi perkataan Bram dan tuan besarnya itu, jelas Bram saat ini sedang berjuang menyadarkan hati tuan besar yang sedang marah bercampur sedih.


Di dalam taksi online yang membawa Hari, dan mang Jaya pergi entah ke mana.


Baik Hari mau pun mang Jaya memilih diam, jika mang Jaya bingung harus memulai kisahnya dari mana.


Maka pikiran Hari saat itu penuh dengan berbagai dugaan, yang sangat sulit dia bayangkan.


***


Tiba di sebuah rumah kecil yang jika saja Hari anak manja, sudah tentu dia akan merengek tidak suka.


Namun, untuk yang satu ini mang Jaya harus merasa bangga, sebab hasil keluyuran tuan mudanya memiliki sisi yang positif.


Duduk lesehan di rumah milik mang Jaya, pemuda itu menatap Mang Jaya penuh tuntutan. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan, tapi tidak mengerti harus bertanya apa saking kusutnya isi di dalam kepalanya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan, Den?" tanya mang Jaya.


Hari tersentak kaget, dia tidak menyangka akan diberi pertanyaan oleh pria paruh baya di hadapannya.


Mencoba mendengarkan hati, dengan lirih Hari bertanya. "Apa maksud Bram yang mengatakan aku ... anak ... anak ... yang diluapkan, Mang?"


Hari tercekat saat menyebut dirinya sendiri sebagai anak yang dilupakan.


"Kamu bukan anak dilupakan, Den. Dulu sewaktu ibumu masih muda, dia memiliki kekasih yang begitu mencintainya." Mang Jaya menatap teduh Hari yang tersesat setelah kehilangan cahaya dalam hidupnya.


"Namanya Regi Armanto mereka sudah memutuskan untuk menikah. Kakek dan nenekmu merestui hubungan mereka, ijab kabul dilakukan lebih dahulu di hadapan kakek dan nenekmu juga Mang Jaya sebagai saksi. Dia adalah adik dari papa Reksa, yang kala itu sakit. Bahkan kala itu Nyonya dayana ibu dari Bram, meninggal dan Tuan Reksa menikahi inggrid, karena adanya kamu den. Sebagai wasiat ia menikahi ibumu, selang beberapa bulan nyonya Dayana meninggal dengan tragedi papa aslimu, yang sedang menjalankan proyek."


Deuuugh!! Hancur hati Hari, saat mendengar itu semua.


Mang Jaya mengingat bagaimana bahagianya Inggrid dan Regi Armanto saat itu.


Pesta besar sudah dirancang untuk mengumumkan pernikahan dari putra pemilik PT CF dengan seorang konsultan keuangan bersertifikat internasional.


Sayang sekali, beberapa hari sebelum pesta tersebut dilangsungkan. Armanto mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya tewas di tempat kejadian. Bersamaan dengan nyonya Dayana istri pertamanya tuan Reksa Hartanto karena sebuah tragedi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2