
"Kamu Damarkan?" bisik Sheila.
"Tahu dari mana, kau sengaja membuat tipuan genit ya."
"Eeh, meski aku tidak yakin. Tapi aku harap kamu itu Damar, teman kecilku." ucap Siren, sehingga ia ingat kenangannya dulu, sementara Damar masih diam menatap gadis aneh itu.
Siren merupakan anak kedua dari pasangan suami istri yang bernama ibu Kanya dan Ayah Husin. Meski begitu ia mempunyai kakak bernama Zala yang lebih cantik parasnya.
Musik telah berhenti, Siren berdiri di depan cermin full body yang menempel di lemari pakaian dengan bibir yang melengkung ke atas lebar, membentuk senyum manis yang mengawali pagi hari senin ini.
Senyum Siren luntur dan wajahnya berubah murung.
"Bekas jerawatnya aja belum hilang, eh ... muncul jerawat lagi belum lagi tompel wajah setengah hitam," gumam gadis itu sembari memegang dahi dengan posisi di dekat alis kanannya yang tebal.
Huffh!! sudahlah, Siren tak mau membeberkan semua rasa sakitnya yang dia simpan, entah sampai kapan, mungkin saja sampai dirinya merasa sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang selalu dia rasakan akibat ucapan orang orang yang dia sayangi, terutama ibu dari kekasihnya.
"Inget! Lo jangan pernah sekalipun keluar kamar selama masih ada temen gue di bawah, ngerti?!" itu kata Zala karena operasi wajahnya berhasil, tidak seperti Siren gagal karena terlalu banyak campur klinik kecantikan, apalagi Siren terlalu ingin perfect dimana ia ingin bertemu teman kecilnya, yang berjanji akan membuat impian bersama.
Siren mengangguk, lalu ia mengambil minum di dapur. Sebelum itu Siren mendekatkan dirinya di dekat pintu kamarnya, menempelkan telinga kanannya di sana, mencoba mendengarkan suara di luar.
'Kayak udah nggak ada suara, mungkin aja temen Zala, udah pada pulang kali ya.' batin Siren, lalu membuka pintu yang awalnya dia kunci itu.
Perlahan tapi pasti Siren melangkah menuju arah tangga, menuruni satu persatu anak tangga dengan kepala menunduk, tanpa tahu bahwa di ruang keluarga yang letaknya dekat dengan tangga ke arah lantai dua itu terdapat beberapa remaja yang tengah sibuk dengan urusan masing masing.
Tap tap tap!!!
Suara langkah kaki yang beralaskan sandal rumahan itu, dapat mengalihkan atensi kelima remaja yang tengah duduk santai di sofa ruang keluarga.
"Widihh, siapa tuh Zal," celetuk salah satu remaja di sana yang membuat Siren spontan berhenti di undakan tangga terakhir dengan tubuh menegang.
"Adik gue. Siren namanya." lirih kecil suara Zala.
"Ho'oh siapa tuh Zala, keknya cantik tuh, kenalin dong," timpal remaja yang memakai kaos trendy.
Orlando yang duduk di single sofa gelagapan.
"H–hah? Yang kalian maksud siapa?" tanya Orlando pura pura tidak tahu.
"Itu tuh yang berdiri kek patung di tangga," jawab remaja yang memakai anting hitam di telinga kanannya meski tempelan. ujar Damar.
Orlando melirik Siren sekilas, lalu berujar berbohong dengan mencoba santai.
__ADS_1
"Dia itu kan .."
Zala terdiam kala teman baiknya Orlando nyeletug.
"Ohh itu pasti anaknya pembantu Zala, dia mungkin baru aja bersihin lantai atas."
Sakit, sungguh sakit hati Siren setelah mendengar apa yang diucapkan teman kakaknya itu. Tak tahan, Siren berlari berbalik arah kembali menuju kamarnya.
"Ohhh, tapi itu kenapa naik lagi ke atas?" tanya Damar yang tak mempermasalahkan face dalam berteman.
Dan itu adalah memori kelam Siren pertama kali di saat masih remaja, hingga mereka dipertemukan kembali setelah dewasa dan bekerja setelah lulus kuliah dengan wajah dan tampilan berbeda. Siren merubah tampilannya tomboy karena perlakuan tersisih.
"Memangnya bayangan cintamu seperti Apa sih?" senyum Cady kala menatap Siren Ia adalah sahabat berbeda sekolah.
"Yang jelas, dia itu sangat baik. Mampu membuat aku tersenyum, dua puluh empat jam nonstop di sisi aku." lirik Siren pada Cady.
Cetregh!!
Damar menjentikan jari, lalu berlalu pergi, membuat lamunan Siren terdiam karena ia ingat, masa masa nya seperti dengan pria di depannya itu.
"Kau lanjutkan saja lamunan dan kegenitan mu! aku tidak punya banyak waktu." cercah Damar, kala Alex terlihat mencarinya.
"Sure." Siren yakin dia adalah pria masa kecilnya, hingga Siren punya ide untuk mencari tahu sendiri, kala Pria bernama Damar, berjalan pergi dari hadapan Siren. Bisa bisanya ia melamun, di saat dirinya telah menarik pria itu ke dalam lift.
Damar adalah kakak pembina yang humble. Yang membuat dirinya semangat dan beruntung. Dari tugasnya mendapat bully di sekolah. Tapi seiring kepintaran dan prestasi. Ia jadi dekat dengan ketua osis, bahkan masa kecilnya ia pernah berjanji dengan impian bersama,
"Akan tetapi, kenapa Damar tidak ingat diri ku saat ini?" lirih Siren, yang berlalu dari acara itu.
Sesampai di pagar Rumah. Siren di buat terkejut, kala rumahnya ramai.
"Mama!" teriak Siren.
Siren berlari dan mengejar keramaian, ia menyenggol bahu orangtua dengan permisi.
Permisi bu! Permisi pak! ada apa ini sih?
"Mama, Mama kenapa. Ka Zala ada apa dengan Mama?" histeris Siren.
"Dek, Mama gak apa. Kamu tenangin diri, jangan panikan ya!" pinta Zala sang kakak.
"Terus, Mama kenapa kak?" huhuu mode menangis. Namun Zala memeluk sang adik.
__ADS_1
"Mama, udah di cek pak dokter. Jangan nangis deh, lebay tau gak. Mama ga sengaja kepeleset, udah ga apa kok. Kamu jangan cengeng ya, malu tau gak!"
Siren mengusap air mata di pipi, setelah itu Zala berterimakasih karena tetangga membantunya menggendong dan membantu sang Mama cepat tertolong.
"Kak, pipi Mama dan kening kok biru. Jatuh emang bisa seperti ini ya?"
"Iya, udah gih. Ga usah khawatir, kamu bersih bersih dulu. Jangan buat Mama tambah sedih. Masa gadis Mama bisa bisanya cengeng, katanya udah punya cowo. Kenalin dong, Mama sama kakak pengen tau!"
"Ikh, apaan sih kakak. Aku lagi tanya kondisi Mama. Malah yang lain. Owh ya, kak. Apa ayah udah tau, kalau Mama jatuh?"
Zala terdiam, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Namun Zala pandai menyimpan rasa sebuah kekecewaan, tidak ingin adiknya merasakan pahit dan emosi tapi tak bisa berbuat apa apa. Ia hanya bisa berjanji pada Mama. Untuk menutup dan menjaga rapat semua yang ia lihat.
"Udah dik. Ayah bentar lagi juga sampai. Mungkin besok malam, ayah lagi di luar kota. Kamu yang semangat ya belajarnya!"
Siren pun di kamar meletakkan tas selempang, lalu bersandar pada kasur yang empuk. Membuka jendela dan menatap pemandangan yang terlihat asri. Ya, tak jauh adalah sebuah perbukitan gunung. Meski rumahnya paling terlihat mewah dari desanya. Tapi Siren selalu ramah, bahkan ia mempunyai Mama dan Ayah yang membuat ia jadi panutan.
"Kamu lihat, kelak kamu dan aku bersatu. Akan menjadi sosok keluarga bahagia. Seperti Mama dan Ayah. Mereka adalah orangtua aku pastinya dong. Yang paling super best!" lirik Siren pada sebuah tulisan kertas berbentuk hati.
Siren ingat akan manisnya perjumpaannya dengan Damar tadi di pesta. Tapi seiringnya waktu, beberapa tahun belakangan. Siren merasa Damar melupakannya, atau ia bukan Damar yang ia kenal.
'Aku harus cari tahu pria tadi.' lirih Siren.
***
Berbeda tempat dengan Damar, ia pulang menemui ayah Bram, di kamar Bram sering sakit sakitan. Sehingga pertemuan kuliahnya kali ini ia ceritakan.
"Dady aku sudah pulang."
"Bagaimana kamu tadi senang di pesta acara kuliah nak?"
"Tidak begitu Dady! pesta yang membosankan, apalagi saat tadi Damar bertemu pria gadis tomboy menarik Damar .. Mmmh .. lalu dia ternyata memakai rambut palsu, sesaat Damar tak sengaja menolak tangannya menempel."
Deg. Damar keceplosan, bahkan soal wanita saja ia selalu bertukar cerita dengan Ayahnya.
"Hahaha, serius. Atau mungkin kamu menyukainya, atau kamu mengenalnya nak?'
"Damar tidak ingin bahas, lupakan ocehan tidak penting tadi Dady! saat ini Damar ingin tanya soal s konstruksi, sebuah system komputer diretas. Tapi Alex dan anak buahnya sedang mencari tahu akar siapa yang berani mengusiknya. Maafkan Damar Dady."
"Itu hal biasa nak, bahkan proyek paman Hari, pabrik timun emas yang di handle nya saja. Sering terjadi hak yang ingin mencuri lahan tersebut, karena perusahaan kita selalu nomor satu, maka banyak musuh yang ingin menjatuhkan, menggulingkan. Tugasmu nak! selain asmara, utamakan perusahaan Dady dan waris perusahaan Kakekmu tetap stabil, berada di rate 1 sampai 3, di bumi ini." ujar Bram, menyemangati putranya itu.
"Ok, dady. Damar pasti tidak akan mengecewakan Dady." senyum Damar.
__ADS_1
TBC.