
Suster ..
"Suster .. Cepat tolong pasien ini." ucap Zie dengan marah kesal.
Mikha sendiri yang menatap sahabatnya, dan melihat tatapan Zie, Zie sendiri adalah teman masa kecil Siren yang menaruh hati, tapi terpendam bahkan Damar sendiri tahu hanya saja tutup mata, tapi dari rautnya apa ia masih menyayangi Siren.
"Baiklah, kalian tunggu diluar kami akan menanganinya." ucap seorang perawat diruang ugd.
[ Kara, kamu sedang tugas dimana? ] ucap Mikha memberi pesan.
[ Siren, dia sedang di ugd pelita anak. ]
Mikha bahkan menjelaskan detail, dan sedikit melirik Zie yang panik tak lupa memberi kabar pada Damar. Hingga dua jam berlalu Siren belum juga pulih dan dokter pun keluar.
"Apa ada keluarga dari nona Siren?"
Belum Mikha menjawab, Zie sudah mendahului.
"Saya, dok masih keluarganya."
"Apa anda suaminya?"
Mikha dan Zie berpandangan.
"Sa .. saya kakak iparnya, tapi masih keluarga suaminya sedang menuju, apa ada yang harus saya lakukan dok?"
"Nona Siren membutuhkan banyak darah O. Apa ada keluarga yang bisa mendonorkan, karena kehilangan darah akan berisiko pada janin nya, dan dehidrasi ruangan membuatnya menjadi tidak baik."
"Apa golongan O, setahuku hanya ayah Siren. Zie, tapi dia di bangka, bagaimana bisa dengan waktu darurat ini."
"Donorkan darah saya O dok," ujar Zie tanpa berfikir lagi.
Mikha terkejut menatap Zie, ia baru tahu jika darah golongan Zie memang sama dengan Siren.
"Baiklah, ayo ikut dan tanda tangan prosedur, ada operasi jahitan yang harus dilakukan segera mungkin, jika tidak salah satu dari nya akan gagal diselamatkan."
"Zie, tapi Damar dan Dady Bram belum sampai."
"Mikha, ini darurat berikan penjelasan pada Dady Bram, aku akan bertanggung jawab kita tak bisa menunggu."
"Baiklah, Zie semoga kalian semua baik baik saja."
Mikha sendiri menunggu kedatangan Dady Bram.
Sedang Zie yang bersandar disebelah Siren di ruang operasi.
__ADS_1
Siren maafkan aku yang setiap luang melewati kediaman mu dengan Damar, bahkan di butik kita terlihat asing. Aku memang tak sanggup sepenuhnya melupakanmu. Tapi aku yakin dengan ini, kamu pasti selamat bertahanlah meski status ku bukan yang terpenting dihatimu saat ini, setidaknya aku bisa menyelamatkan dan melindungi mu dari jauh. Karena melindungi dari dekat hanya Damar yang kamu cintai yang pantas.
Sementara Di Luar.
"Bagaimana keadaan Siren, Mikha?" ucap dady Bram.
"Tante, maaf Mikha belum pasti tapi kita berdoa, agar Siren pasti kuat, dan Zie sedang mendonorkan agar pertolongan cepat."
Hingga Mikha pun menjelaskan secara rinci.
Baiklah, Om sudah menghubungi ayah Siren yang bergolongan darah sama, Dady akan urus adminstrasi dulu ya Mikha, sekalian Dady akan mengunjungi Sena di kantor polisi untuk keterangan.
"Iy, Om hati- hati."
Mikha yang masih menunggu tak lama sudah ada tuan Daru dihadapannya.
"Daru, kamu sedang apa?"
"Ayo kita pergi dari sini!"
"Daru, aku mohon Siren sahabat terbaikku sedang kritis dan pertolongan, aku mohon setidaknya sampai Damar tiba."
"Baiklah, aku akan menunggu menemani."
Daru pun memerintahkan asisten Taqy, dan membelikan dua coffe, dan roti untuknya serta Mikha
"Siren, jika aku boleh meminta kita bertukar tempat aku tak sanggup melihatmu seperti ini. Kembali lah Siren, jangan berakhir seperti ini. Aku akan menolong mu disaat kamu butuh, itu sudah lebih cukup."
Empat jam berlalu ruang UGD mematikan lampu nya, pertanda selesai.
"Apa anda keluarganya?" seorang dokter menghampiri Mikha.
"Bagaimana keadaan Siren dok? bagaimana Siren sahabat saya?"
Dokter terlihat bingung, karena belum ada tanda keluarganya tiba. Tak lama Dady Bram datang.
"Apa anda ayah pasien?"
"Ya benar saya ayah mertua, ayah penggantinya. Bagaimana anak perempuan saya dokter?"
"Baiklah, mari keruangan saya! sebentar lagi nona Siren sudah bisa dipindahkan."
Diruang dokter.
"Begini pak, maaf sebelumnya, untuk operasi sudah selesai, namun masih menunggu hinga dua jam sekali perkembangan nona Siren. Bahkan karena rentan akan jiwa bayi dalam kandungan masih lemah, terlebih saya tidak bisa memastikan apakah keduanya akan selamat atau salah satunya, kondisi pasein masih dalam kritis dan dalam observasi dua jam sekali. Kami sudah menyuntikan cairan ke tubuh Siren, untuk asupan dan vitamin dosis sedang agar kandungan Siren tetap bertahan. Tapi semua itu tergantung imun kekebalan Siren dan kami akan melakukan sebaik mungkin."
__ADS_1
"Selamatkan keduanya dokter, saya tidak ingin kehilangan anak perempuan saya dan cucu saya."
"Apa dia anak perempuan bapak satu satunya?"
"Dia menantu saya, sudah seperti anak saya. dia kebahagiaan anak saya satu-satunya. Apa dengan suntikan cairan itu akan fatal jika diberikan dosis tinggi dokter?"
"Saya berusaha memberikan rendah karena jika kondisi tinggi, takut imun Siren berpengaruh dan mengakibatkan keguguran."
Begitu lemas Bram pun beranjak keluar dan duduk didepan kursi. Tak lama Mikha kini menghampiri dan menguatkan.
"Om, Mikha turut prihatin dan yang kuat, Mikha yakin, Siren pasti kuat dan akan segera pulih dan sadar."
"Mikha, tunggulah disini! Om akan ke kantor polisi memberi tamparan pada Sena. Gila wanita itu benar benar ga habis pikir kenapa obsesinya terlalu seperti ini pada Siren."
"Baiklah Om Bram hati hati!" jawab Mikha.
Sepeninggal Dady Bram, dan asisten tak lama Zie datang.
"Zie bagaimana keadaanmu,?"
"Hanya sedikit lemas, apa kamu mau ikut ke kantin ada yang harus saya bicarakan."
Zie, makan lah bubur itu kamu pasti kekurangan cairan, apa Merli tahu soal ini?
Ya, aku sudah mengabarkan tapi dia di paris tak bisa datang hari ini, karena kesibukannya juga mengurus Isa, yang masuk sekolah, mungkin lusa dia akan datang.
Bagaimana bisa kamu tahu Siren sedang dalam masalah?
"Aku .. aku sedang lewat dan mengunjungi tak sengaja melewati rumah Damar, dan berniat kunjungan. Tak lama melihat Siren berjalan dengan wanita itu, aku langsung menghubungi Darwin." jelas Zie.
"Tapi kenapa Siren jadi sasaran, aku ga habis pikir Sena bisa sejahat itu."
Zie menatap Mikha, tak mungkin ia bicara jika ia masih menyayangi Siren, membuntutinya jika ia selalu aman dan benar bahagia. Bahkan di setiap luang ia berada dekat dikediaman Siren, lagi pula meski sudah berkeluarga dengan Merli, ada kebahagiaan terpaksa, kebahagiaan itu tergadai, andai aku berada diposisi Siren dan lahir kembali bertemu dengan wanita yang sama, ia cintai dan hidup bahagia rasanya tidak mungkin.
Zie kenapa melamun?!
Zie tersenyum, dan melihat cahaya itu hingga silau menerangi tapi tak bisa ia raih.
Brugh.
"Zie .." teriak Mikha.
Nampak Zie, yang habis mendonorkan darah O, nya, ia tergeletak dan pingsan.
Suster tolong!! teriak Mikha berada di kantin rumah sakit, yang kebetulan ada suster disana lewat.
__ADS_1
TBC.