Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
BERTEMU PREMAN SABU


__ADS_3

Hari berikutnya. Setelah mengantar Arsen si anak pingsan, kepada keluarganya dan sebentar berbincang dengan nenek tua, ia pun pamit pulang, setelah Bram mengatakan ia adalah guru baru 3 bahasa disekolah.


Hingga saat diperjalanan ia memperhatikan seseorang lagi. Bram sudah stand by di tempat kemarin, berdirinya saja tepat di samping tiang listrik. Sebelah tangannya dililit perban, sebab kemarin terlalu kencang meninju tiang listrik, alhasil tangannya harus terluka, meski tidak terlalu dalam dan serius.


Sebelum datang kemari, terlebih dulu dirinya memastikan Olive tidak akan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Berpindah tempat seenak jidatnya saja.


Saat ditemui di ruang kerjanya, Olive berkilah bahwa ia sedang sibuk sekali di sekolah mengurus beberapa pekerjaan sebagaimana tugasnya sebagai kepala sekolah baru.


Sejak kemarin malam Bram bertekad untuk menghentikan para pengedar barang haram tersebut. Dirinya sudah sangat geram melihat bagaimana generasi muda harus hancur karena ulah jahat mereka.


Bram sendiri telah siap di sana lima belas menit lebih awal dari waktu kemarin. Dia terus melihat benda berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu tanpa ada kata bosan.


Belasan menit berlalu, tepat saat arlojinya menunjukkan pukul 13:25, mereka yang telah ditunggu-tunggu pun akhirnya menunjukkan batang hidungnya juga.


Kali ini yang terlihat hanya dua pria dewasa berjenggot saja. Sangat disayangkan, dirinya malah berharap ada lebih banyak pria-pria berjenggot lainnya yang datang agar dirinya lebih mudah menghabisi mereka dalam satu waktu. Walaupun begitu, Bram tetap senang. Setidak-tidaknya akan ada dua dari mereka yang jahat pergi dari dunia ini.


Bram membawa langkah gagahnya menuju mereka yang berada di depan toko kemarin.


Hari ini yang datang bukan dua remaja yang kemarin. Bram tidak terkejut sama sekali lantaran sudah menebak sebelumnya, bahwa para perusak masa depan generasi muda itu telah menguasai area ini. Sudah pasti banyak kaula muda yang terhasut oleh mereka.


"Ampun, Pak. Jangan pukul saya," lirih remaja laki-laki, memiliki para wajah yang lumayan tampan untuk seusianya.


Ia menggosok-gosok tangannya, memohon ampun pada pria bertubuh gempal dengan kumis dan jenggot yang tebal.


PLAK.


Pria itu melayangkan tamparan keras pada remaja laki-laki tersebut, tanpa merasa bersalah. Alhasil tubuh mungil itu terhempas dan kepalanya membentur tembok, saking kerasnya tamparan yang diterima.


Tidak cukup hanya dengan memberi satu tamparan, pria gempal itu menarik tubuh mungil yang sudah tak berdaya itu. Lalu, tangannya telah siap untuk menampar kembali.


Remaja berseragam putih biru itu pasrah. Ia menutup matanya tidak berani melihat wajah bringas laki-laki di hadapannya.


"Cukup!" Bram, datang di waktu yang tepat. Sebelum tangan itu berhasil melukai remaja tak berdosa itu, dirinya lebih dulu menangkap tangan penuh dosa tersebut.


"Siapa kamu?"

__ADS_1


Pertanyaan yang lumrah saat seseorang ikut campur dalam urusan orang lain. Bram pun menunjukkan tatapan tajam dan dingin, supaya yang melihat dirinya menjadi takut.


"Lepaskan tanganku!" bentak si gempal itu sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman orang asing tersebut.


Baginya Bram adalah orang asing yang datang pada waktu yang tidak tepat.


Bram menyeringai, "Lepaskan sendiri, jika Tuan bisa melakukannya!" Dia menggertak, menunjukkan keperkasaannya.


"Bedebah!" umpat kasar rekannya, yang geram karena melihat orang asing datang-datang langsung memasang wajah sombong.


Dengan begitu Bram pun mendapat serangan dari dua orang dalam satu waktu. 'Disenyumin aja' kira-kira itulah yang tergambar dari ekspresi wajahnya.


Bram tidak langsung melakukan serangan. Saat rekan dari si gempal hendak memberinya tinjauan, Bram berhasil menghindar.


Sengaja dirinya menghina untuk mencari ruang bertarung yang lebih luas. Setidak-tidaknya, remaja berseragam putih abu abu itu bisa aman terlebih dulu.


"Ayo, kalian maju!" tantangnya gamblang.


Secara terbuka Bram meminta keduanya untuk menyerang bersama-sama.


"Maju kalian berdua!" tantangnya lagi, sebab kedua pria berjenggot itu tak kunjung maju.


Keduanya tarik ulur siapa yang akan melakukan serangan lebih terlebih dulu. Alhasil pria berjenggot yang postur tubuh lebih kecil dari rekannya itu, malu duluan.


"Yaaaachhh." Ia berteriak sekeras mungkin, seirama dengan langkahnya yang lebih disebut berlari itu menghampiri Bram.


Tidak mau kalah, Bram juga mengeluarkan teriakan andalannya yang kerap kali membuat lawan-lawannya takut lebih dulu.


Hubh!


Bugh...


Dengan cekatan, Bram berhasil menangkap pergelangan tangan lawan tarungnya dengan mudah. Lalu, dirinya menyeringai. Sementara lawan tandingnya menahan napas tanda tidak percaya.


Namun, sebelum ia mampu menguasai pikirannya, Bram sudah lebih dulu melayangkan tinju keras di bagian perut si petarung yang menjadi penantangnya.

__ADS_1


Kesempatan tersebut tak akan Bram sia-siakan begitu saja. Dirinya tidak hanya satu kali meninju, tapi hampir lima sampai enam kali memberikan tinju keras pada tempat yang sama.


Hasil dari buah kerja kerasnya itu langsung terlihat. Laki-laki berjenggot agak tebal itu tersungkur di aspal, dengan mulut yang mengeluarkan darah segar.


"Yuhu! Bapak hebat!" teriak remaja berseragam sekolah itu antusias. Ia sampai melompat-lompat saking senangnya.


Bram, melemparkan senyuman kecilnya pada remaja tersebut, ikut merasa senang karena telah berhasil mengembalikan tawa serta menghilangkan rasa takutnya.


"Bedebah! Melawan satu tikus kecil saja kau tidak bisa!" umpat si tubuh gempal kesal karena rekannya menelan kekalahan.


Bram menyeringai, sebelah tangannya menerima tanda agar lawannya itu segera maju.


"Yaaaachhh"


Teriakan keras menjadi andalan mereka. Namun, bukan hal yang perlu ditakutkan bagi Bram.


Duel pun terjadi kembali. Bram sendiri cukup mudah mengimbangi pertarungan yang kedua ini lantaran lawannya tidak menggunakan senjata.


Sebenernya juga tidak masalah kalau ada senjata, tapi Bram tidak yakin akan bisa menang jikalau senjatanya yang diharapkannya berupa pedang dan lain-lainnya, yang ukurannya lebih besar dan kemampuan bertarungnya pun tinggal.


Keduanya pun saling bertukar jurus. Kali ini pertarungannya cukup alot lantaran lawan Bram sekarang, juga memiliki kemampuan bela diri karate, yang mana pada masa kesempatan kali ini jurus-jurus yang dikeluarkannya dapat terbaca dengan mudah.


Tak lama, empat ... Delapan komplotan kembali datang dari arah lain, menimpuk Bram. Bocah itu bringsut dan mengumpat diminta Bram. Tapi saat bersamaan Bram langsung memegang tiang listrik dan fokus pada salah satu orang yang bertubuh gempal.


Sssssrrrrrtt! Bram memegang tangannya, musuh itu melotot dan gosong. Tat kala anak buah lainnya ikut membantu terkena sengatan listrik. Lima pria yang berusaha membantu bosnya ikut gosong mati kaku dan matanya melotot.


"Astaga Son! Bukan manusia tandingan kita." ucap tiga pria berusaha kabur.


"Hey! Jika kalian masih mencekoki anak anak remaja sekolah ini, maka kalian akan bernasib sama. Tunggu kedatanganku ke markas kaliaaaaaaan .." teriak Bram.


Seketika anak remaja itu terdiam, ia mengangguk dan berterimakasih. Setelah Bram menghampiri anak itu.


Bagaimana tidak lima pria berjenggot tua, gempal, kurus yang hangus tiba saja berubah jadi butiran kayu arang.


"Pulanglah! Bapak manusia biasa, hanya saja tangan bapak berbeda jika melihat kejahatan di depan bapak!" ucap Bram.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2