
"Nona. Tuan Damar."
Seseorang berteriak memanggilnya hingga mereka menoleh tak jadi masuk.
"Bibi ada apa?"
Asisten rumah tangga itu, menyodorkan surat pada Siren, membuat Damar menyipitkan alis.
"Surat, dari Dady."
"Dady, papaku kirim surat padamu. Oh? kolot sekali, bukannya nomor ponsel kita dia tahu."
"Hubby, ayo kita lihat dulu." manja Siren agar Damar tidak berfikir bukan bukan.
[ Damar! Dady ada trouble. Kembali lusa pagi paling cepat. Dady ada urusan penting di mexico! dan Hari, di Eropa, untuk beberapa pekan tidak bisa mengantar istrimu ke butik baru, tolong bantu istrimu, selagi tidak ada Dady di rumah. Jadi kalian bersenang lah. ] isi surat.
"Dady tidak ada, kita di mansion bisa apa?" melirik Damar, membuat mata Siren malu.
Mereka masuk, layaknya anak dan mantu yang tinggal di rumah mertua. Bahkan Damar meluangkan waktunya bersama Siren, tidak pergi ke kantor karena masa cuti. Lagi pula, semakin cepat semakin baik bagi Damar, jika bersama Siren. Maka dirinya mungkin akan diberikan mongmongan lebih cepat.
Siren, mempelajari berkas butik dan kerjasama. Sementara besok pagi segera ke butik untuk handle. Bram sudah mengirim email pada Bella asisten kepercayaannya itu.
"Kenapa hubby, ada masalah?"
"Paman Hari ke eropa, harusnya Mikha yang handle, tapi dia pergi ke eropa demi bisnis paman. Jadi Dady memintamu menjaganya, kamu hanya duduk manis mengontrol saja sayang! ingat kamu di butik ga boleh capek."
"Aku bahkan belum bekerja, kamu sudah terlaku khawatir." senyum Siren, memicing maju pada wajah suaminya.
"Ah! menggemaskan, baiklah ayo kita masuk!"
Damar menggendong Siren kala itu, langsung ke kamarnya setelah dari ruang kerja dady. Sudah tak dapat dipungkiri apa yang menjadi dilakukan Damar, jika tak ada Dady Bram, yang selau memerintah membuatnya sibuk mengurus banyak usaha.
Tiga jam kemudian mereka makan bersama, menatap jendela bersama sang istri yang sedang berkutat dengan segala berkas hal butik amat pusing.
__ADS_1
"Hubby ku sayang, kamu menatap bintang lagi, kalau begitu kita ke pantai terdekat malam ini gimana? lelah aku ingin menatap matahari pagi terbit. Sepertinya bagus bukan?"
"Benarkah, juga kita ke villa. Mumpung waktu kita renggang. Ayo kita akan bersiap siap setelah kamu selesai mempelajarinya dan menyiapkan untuk besok."
Damar dan Siren berjalan dengan mobil jeep Andalan. Ia melaju ke arah pantai terdekat kurang lebih 35 menit saja, mereka telah sampai.
Siren terlebih dulu turun, ia menatap segala hal keindahan.
"Sayang, ingatkah beberapa tahun lalu kamu disini?"
Siren melirik!! "Ada apa Hubby, apa yang kamu ingat?"
"Damar, menatap wajah istrinya mendekatkan dan menciumnya. Betapa sulitnya diriku membuatmu luluh dan jatuh hati padaku. Di tempat ini akhirnya aku bisa perlihatkan seluruh alam. Ombak tempat ini jika aku berhasil meluluhkanmu. Terimakasih sudah mau mendampingi bahtera masa depanmu bersamaku Siren sayang. Kamu mau bertahan menungguku."
Siren menatap dan mencium bibir wajah suaminya itu.
"Hubby meski kamu tak memiliki Apapun. Harta yang aku inginkan adalah kamu tetap setia, bahkan aku salut akan perjuanganmu di tengah badai kita tak di restui."
"Aku itu terlahir bukan orang yang berada, bahkan masa lalu keluarga kita telah menghancurkan perasaan dady mu. Rasanya aneh, jika kita berjodoh tapi silsilah keluarga kita rumit bukan?" tambah Siren menjelaskan.
"Benar, perjuangan orang kaya memang aneh, tapi kenapa aku tidak di izinkan lagi ke ruangan itu, bertemu mama Elea?"
"Sekali saja, dia sudah merestui. Dady Bram melarang kita ke tempat itu, hanya paman Alex dan dady saja. Itu syarat agar kita tidak dipisahkan, kamu tahu kan sekeras kepalanya Dady ku." oceh Damar, yang membuat Siren tertawa karena Damar juga sama persisnya.
Dan mereka menikmati bulan yang redup,
berkemah dengan lautan ombak. Suasana ini sangat indah kegemaran mereka dan hobi mereka yang hampir sama menyukai ombak, ketika penat dan menghibur diri, tidak dapat dipungkiri ketika Damar berbicara panjang sebuah pertanyaan telontar dari mulut Siren.
"Hubby, jika kita mempunyai kendala masalah besar, apakah kamu berjanji untuk tidak mengkhianati aku diam- diam?"
"Kamu bicara apa sayang?"
"Berjanjilah dan bicarakanlah masalah apapun itu. Jika aku tak dapat membantumu. Setidaknya jadikan aku pendengarmu satu satunya, agar keluh beban mu ringan, terlebih kita akan saling sibuk! aku mengurus butik Dady dan pekerjaan ku yang akan tiba, dirimu yang akan selalu sibuk mengurus kantor lagi."
__ADS_1
"Saat aku kecil, aku kehilangan sosok Dady. Cuma kamu yang membuat aku ceria, maka dari itu aku bercita cita membuat ruangan khusus system orang mati bisa berkunjung pada dunia manusia, jadi setelah berhasil. Aku tetap mengejar mu, karena aku hanya melihat kamu saja, wanita yang aku cintai sampai mati, jika Dady ku setia. Kenapa ia masih betah sendiri?" jelas Damar membuat Siren mengangguk, meski tetap saja ia takut dinikahi pria bersaldo unlimited
"Sayang, jika sudah di butik. Kamu resign saja dari pekerjaanmu." tambah Damar.
"Hubby. Meski hati aku mundur dari pekerjaaan yang membuatku dari nol. Aku akan menurutinya karena kamu suamiku yang wajib aku patuhi. Aku akan bicara pada pak Kenan nanti. Karena keputusan semua di paman mu itu."
"Tak apa, sayang paman Kenan, pasti tak akan mempersulitmu. Karena usaha paman juga dari Dady! kalau gitu kita bicara saja sama Dady!"
"Hubby, kode etik dong." gemas Siren mencubit hidung Damar.
"Hehehe, aku bercanda."
Mereka pun saling berpandangan dalam ombak lautan malam, hingga pagi matahari terbit mereka akan pulang, menghabiskan waktu dengan suasana alam. Membuat hubungan mereka, semakin erat. Baginya sebuah inspirasi dan masalah akan teratasi dengan ide berlian.
Hingga pagi terbit, Siren mencium suaminya untuk segera bangun dan mengajak suaminya untuk kembali pulang ke rumah, setelah membuka jendela dari villa yang menembus pandangan ke lautan.
"Sayang, cantik sekali menatapmu jika bangun tidur, ah ayo kita bergegas dan bersiap siap! apa kamu lapar sayang?"
"Sedikit hubby, ah iya tiga hari lagi aku akan mengunjungi sebuah resto di hotel Daniz,
apa kamu mengizinkan, aku ingin belajar masak sesuatu, pada koki Daniz?"
"Sayang, koki itu apakah laki laki, kalau begitu charter saja dia datang ke rumah! berapapun jam waktunya aku tak masalah. Dan pastikan di hari sabtu atau minggu ketika aku sudah ada dirumah. Jika kamu pergi kesana sendirian, aku tak mengizinkan, tak ingin istriku menebar pesona pada laki laki lain. Aku akan jadi pembatas ditengah tengah kalian, saat kamu belajar masak."
Deg.
Siren pun menggeleng kepala, ia kembali menunjukan ponselnya, dan bicara pada Damar.
"Sayang, koki Daniz itu perempuan. Ajang bakat di tv internasional, lomba chef, dia adalah juri satu satunya perempuan koki terkeren. Apa kamu mau jadi pembatasku, saat aku belajar masak dengan perempuan?" tanya Siren, membuat Damar beringsut.
"Aku mandi dulu ya! ayo kita siap siap!"
Sontak hal lucu itu, membuat Siren malu menutup mata. Suaminya benar benar masih cemburuan.
__ADS_1
'Aku kan sudah jadi istri kamu, Damar. Kenapa kamu yang cemburu buta sih.' gumam Siren.
TBC.