
Hari menatap celah lubang Apartement! Dan itu adalah Osin dengan sebuah paperbag. Hari kembali ke hadapan Mikha dan berbicara padanya dengan lembut.
"Osin yang datang, ini jam bukan menerima tamu. Lima belas menit, temuilah!"
"Mas, soal tadi ... " terdiam, Mikha kala Hari sudah masuk ke kamar, ia tahu apa yang di rasakan seorang pria menahan hasrat dan gagal. Sudah pasti wajah itu akan berubah menjadi berenuk, seperti kembaran buah melon ketika terbelah penciuman, akan pemandangan sepet, tak enak di pandang yang berbau mengeluarkan bak asap sampah.
'Seperti itu kah wajah mas Hari, sedikit gahar dan asem sekali, apa semua pria tertahan akan seperti itu?' batin, lalu Mikha menuju pintu dan membukanya.
"Tara.. Hey! akhirnya bener juga ini alamatnya, setengah mati gue cari. Minta tolong pa Eri, dih ampun deh ga mau anter apalagi kasih tahu. Dasar kaki tangan pelit, sombong." gerutu Osin.
"Udah, masuk yuks!" senyum Mikha.
"Mikha. Sorry, tapi sungguh. Baru kali ini, gue datang ke rumah bos besar. Kalau bukan sahabat gue yang manis. Mana bisa sih gue kesini! apalagi diluar kantor gue bisa manggil enggak kaku kan."
Osin terkejut akan suasana tempat tinggal baru Mikha. Lalu ia tak sengaja melihat sebuah kain di balik sofa.
"Mikha. Itu apaan? Kayak buntelan kain mirip kacamata. Kok di situ?" Osin menghampiri. Menaikan alis curiga pada Mikha.
Hingga di mana, Mikha langsung menarik dan menaruhnya di keranjang cucian kotor. Dengan senyum Mikha yang sedikit mengumpat, Osin menepuk jidat.
"Tar dulu. Gue duduk di sini, lo habis main di situ ya? Lo ga pake Bra-?" menunjuk sofa.
"Apaan sih, cucian jatuh mana ada sih. Mau tidur, biasa juga gitu kan lebih nyaman. Owh ya, tadi kamu bawa apaan?" tanya balik Mikha.
Osin memberikan kotak. Ia terlihat antusias, ketika sebuah ponselnya yang hilang kembali. Namun Osin sadar, ia tak bisa menanyakan serius sampai waktu nya benar tepat.
"Ponsel kamu nih! sekaligus camilan."
"Eeeekh. Udah ketemu ya, padahal mas Hari udah beliin yang baru. Tapi thanks banget ya." peluk Mikha pada Osin.
Mikha pun melihat semua data dalam ponselnya. Lalu dengan sigap ia bingung akan kontak yang hilang.
"Kok banyak yang ilang. Mmmmh .. terus, ponsel aku ketemu di mana?" tanya Mikha.
__ADS_1
"Lo beneran ga inget apa - apa. Mikha, lo beneran udah membaik?" tanya Osin sedikit khawatir.
"Emang aku kenapa?" saling menatap.
Osin akhirnya berbicara, jika ponsel Mikha telah di temukan oleh suster. Sehingga Mikha tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada sahabatnya itu.
"Osin. Tunggu bentar ya! Gue udah buatin minuman buat kamu!"
"Heuumph. Oke!"
Dalam ruangan dapur, Mikha sedikit menatap cermin. Ia mengaduk sebuah minuman. Mikha sungguh senang, ketika sahabatnya itu benar perhatian. Hingga di mana, ia mengingat kejadian Lena yang membuat dirinya lemas setengah mati. Mikha tahu, jika Lena tak sengaja melakukannya, ia hanya terbakar takut dirinya mengambil Hari dan sulit merebut mantan suaminya lagi.
'Jelas dia sudah memiliki buah hati, kenapa harus takut aku merebutnya?' masih mode mengaduk teh.
Mikha segera keluar, ia menyuguhkan beberapa minuman hangat dan cemilan. Hingga di mana hujan deras, hal itu mereka sadari ketika jendela terbuka. Mikha menutupnya, ia sangat senang ketika melihat rintik hujan yang semakin deras.
Mikha mencoba menutupnya, namun dengan nafas yang indah membuat dirinya segar. Mikha menatap cuaca mendung itu dengan air yang turun. Mikha menengadah tangannya pada percikan air hujan. Tersenyum pada langit dengan penuh harapan.
'Langit. Kamu tahu, hatiku mendung seperti warna awan yang gelap. Rintikan air hujan yang turun. Sangat mirip dengan suara hatiku yang menangis. Tolong sampaikan, aku ingin pria yang berada di sampingku tetap sabar. Sabar bersamaku dan menunggu perasaan tanpa luka!'
"Mikha. Hujan makin gede, ayo cepetan masuk!"
"Ya. Nih, cuma pengen sebentar liat aja." senyum Mikha.
"Lo pasti inget Dani ya?"
Osin menepuk punggung Mikha. Berusaha menyabarkan dan meminta Mikha untuk melupakannya.
"Lo ada perjanjian apa sih. Sampe selama ini masih aja ga bisa move on?"
"Osin. Gue mau banget hilangin nama Dani. Lo tau, kita bersama dalam satu atap rumah besar. Sering ketemu selama tiga tahun, tapi andai aja dia ga manfaatin gue. Gak akan sesulit ini kan? tapi gue hanya kecewa, bukan hati gue ada disana. Hati gue jelas ada pria yang saat ini ada sama gue."
"Its ok. Perlahan gue harap lo jangan pernah beri harapan. Gue cuma takut, lo ketipu lagi sama Dani. Menurut insting gue, dia ga layak dan ga baik! bos kita ini baik, tapi emang kaku, dia lebih baik buat kamu."
__ADS_1
"Iy, gue tahu itu. Dan gue udah ga senyaman dulu, yang jelas gue bingung sama perasaan gue. Kalau mas Hari pergi, rasanya gue kehilangan dan takut. Sedih, gue kenapa setakut ini ya." balas Mikha.
"Gue pamit dulu ya! Gue cuma mau bisikin lo jangan gengsi, sejujurnya ketakutan lo itu udah nyaman, dan yakin jatuh cinta sama pak bos."
Mikha terdiam, benarkah ia sudah jatuh cinta tapi tak mengakuinya saat ini. Tak lama, Mikha mengantar Osin keluar, Mikha melupakan suaminya Hari, yang menyalakan air keran.
Ah, benar benar mengusir secara halus.
"Cepat kembali ngantor ya! jangan lupa kuenya di makan." ucap Osin.
"Thanks."
Mikha menutup pintu, namun samar samar, sudah ada tangan kokoh tanpa sehelai apapun yang menusuk dari arah belakang, pelukannya yang tiba tiba membuat Mikha menoleh, dan memberanikan diri menatap suaminya itu.
"Mas ..?"
"Apa kamu siap, Mikha aku ingin kita .."
Jlegeeur.
Petir membuat Mikha ketakutan, dimana pelukan terhambat oleh sebuah benda berdiri di tengahnya, tanpa menunggu Hari sudah mengeratkan tubuh Siren, dimana Siren sudah ngilu mengigit bibirnya yang terasa sesuatu masuk secara paksa.
Uph.
Hari sudah mengoyangkan gendongan tubuh mungil Mikha, yang sudah berjalan dengan menusuk nusuk
Tok Tok.
Sebuah ketukan pintu, pintu sudah terkunci. Dimana Hari sudah membawa Mikha ke dalam buaian Hari.
'Jangan pedulikan, fokus pada inti kita saat ini. Aku ingin kita mempunyai miniatur, agar kelak hubungan kita semakin bahagia bukan?'
Ah! Mikha benar benar melotot, dimana ketegangannya sudah dibawa oleh Hari si pria berumur, dimana Pria itu sudah membuatnya sedikit gila, benar benar usianya tua tapi kegilaan dalam sensitif seperti usia muda.
__ADS_1
TBC.