
Mikha tak habis pikir, dimana ia membuka surel membuat laporan sebagai klien pt gold crop miror, dimana intinya adalah ingin tahu sebesar apa perusahaan system. Di mana menanyakan pada Siren, dia tetap bungkam tak menyebutkan apa itu.
Atau Siren tahu, dirinya seorang model takut jika Mikha sampai bocor, bagaimanapun kesuksesan keluarga hartanto kekayaannya karena system yang tak pernah Mikha bisa lihat, meski ia bagian keluarga dari mereka, tetap saja secara privasi tak boleh di publikasikan.
Mikha kembali masuk, ketika security khusus memintanya kembali masuk. Benar lagi pula, pergi dimalam hari ia tak mau gegabah terjadi sesuatu, sehingga Mikha menitipkan sebuah pesan dengan sebuah foto ke nomor suaminya itu.
[ Mas, kita harus bicara! Aku tidak akan pergi kemanapun, sampai mas Hari, jujur padaku! ] message Mikha dengan mengirimkan gambar emoji hati yang patah.
"Harusnya tadi gue gak ke ruangan itu, kan jadi ga karuan sendiri. Ah! Kenapa gue kesal dan nangis gini sih?" gumam Mikha mengusap air matanya hampir sembab di kamar.
TAK LAMA BUNYI BEL, DI MALAM HARI MEMBUAT MATA MIKHA YANG TERPEJAM. KEMBALI MEMBUKA MATA.
Pukul 02.00 malam. "Ada apa ya pak?"
Mikha menatap kotak yang di berikan pak Ujang sang supir. Lalu berterimakasih, menutup pintu dan kembali ke ruangan kamarnya. Mikha membuka kotak itu dengan perlahan dan ragu.
Kotak berwarna hitam, dengan pita berwarna emas. Membuat Mikha terdiam sedikit takut.
"Apa ini kotak dari Mas Hari, sebelum ia pergi?" pikir Mikha. Ia membuka perlahan pita itu, lalu menatap kertas putih lembut yang terlipat. Mikha pun membukanya dengan perasaan berdebar.
Hingga di mana, ia menatap sebuah surat dari seseorang. Lalu ia menatap sebuah foto kebersamaannya dengan Dani dulu.
__ADS_1
[ Besok pukul 10.00 Grand Steel, aku ingin bertemu penting soal siapa keluargamu Mikha, dan apa hubunganmu dengan pak Hari Hartanto. Hanya aku yang tahu! Itupun jika kamu tidak ingin menyesal ] by. Dani.
"Dani. Jadi ini semua foto ini di kirim ke alamatku oleh Mas Hari. Kenapa dia tahu tempat tinggal sekarang? jangan bilang, mas Hari salah paham dengan aku saat itu bersama Dani." gumamnya.
Sebuah foto pernikahan dengan sakral yang suci. Membuat mata Mikha berbinar binar senyum. Mikha merasa itu adalah pernikahan terindahnya seumur hidup, tapi menatap kenyataan hal pahit, ia sadar hanya sebagai langkah warisan. Mikha begitu sakit, kala menatap satu foto keluarga.
Hingga di mana, Mikha meletakkan semua foto. Lalu menyembunyikannya di bawah sofa dengan rapat. Ia sembunyikan dengan buntalan handuk kecil agar tetap aman tak terlihat.
"Mama Inggrid. Baiklah, aku harus mulai kembali mencari biodata rumah sakit mana mama di pindahkan oleh mas Hari. Aku akan lakukan apapun, tapi jika alasan mas Hari aku tidak boleh menemuinya. Karena takut disakiti atau syok karena Mikha adalah istri kedua putranya, Itu adalah omong kosong, aku cukup menjenguk dan merawat beliau sama seperti ibu saja. Apa yang harus mas Hari takuti? bahkan jika mereka masih satu keluarga."
Perkataan Mikha. Ia bicara sendiri, kemungkinan itu terlintas begitu saja dalam pikirannya. Hal yang sulit bagi Mikha adalah memahami cinta yang tulus. Memang benar perasaannya masih ada nama Dani dahulu, tapi ia sulit membedakan sikap dan ketulusan seseorang setelah benar membuka hatinya untuk mas Hari si pria berumur, tapi yang ia dapati adalah kekecewaan.
"Hah. Aku saja yang terlalu naif, atau aku memang wanita yang dilahirkan terlalu bodoh. Sudah tahu mas Hari, berkali kali membohongiku. Tapi jika tiap aku bertemu, aku semakin takut jika tatapan itu benar tulus dan jujur. Tapi aku juga bingung, kenapa melihat biodata mas Hari, aku kesal rasanya mas Hari tidak tulus, dia itu darah seorang ayah bernama Angga yang mempunyai dua istri?" ujar Mikha.
Mikha mengatur nafas, lalu ia mencoba memejamkan mata. Agar kelak tidurnya malam ini sangat cukup untuk istirahatnya.
KE ESOKAN HARINYA.
Mikha yang telah bersiap rapih, ia menatap jam pukul sembilan pagi. Ia lupa, jika ada seseorang yang ingin menemuinya. Hal ini membuat Mikha sedikit mengurangi suntug nya.
Mikha tahu, jika ia menerima pesan dari mas Hari. Hingga ia menyakini, jika mas Hari, benar benar memberitahu kebenaran akan dirinya.
__ADS_1
Mikha pun tak lupa, ia mengirim pesan pada nomor mas Hari. Meski kala itu masih centang belum terbaca. Atau mungkin sedikit sinyal yang sulit. Mikha berencana setelah menemui Hari, ia akan pergi ke kantor pak Kenan. Ia telah mendapati janji. Kebetulan meeting di luar resto, ia ingin banyak bertanya, apa dia sudah bisa mulai bekerja seperti sedia kala.
Setelah sarapan, Mikha memesan taksi. Hingga berlalu menatap jam telah memakan waktunya kurang lebih satu jam sepuluh menit. Mikha tiba di sebuah gedung dan menanyakan pada resepsionis kala itu.
"Mbak. Reservasi ruang meeting Zona Steel di mana ya?" tanya Mikha.
"Ruang vvip atau cluster bawah. Nomor berapa ?"
"Vvip, nomor tujuh belas."
"Sebentar. Atas nama Tuan Hari Hartanto ada di lantai empat. Lalu sebelah kiri dan ada beberapa petugas biasanya di depan pintu bu."
"Baiklah Terimakasih." senyum Mikha.
Benar benar aneh, dimana terdapat bayangan tali. Tali sinar x, entahlah jika ia lewati tidak akan tersentuh kulit. Mirip walpaper 3D. Benar benar, ruangan lantai 4, tak pernah Mikha bayangkan jika kantor suaminya itu benar benar canggih, dimana setiap langkah saja ada sebuah suara robot, menyambutnya dan meminta data jejak kaki, jika dia tamu tidak berbahaya
Mikha menaiki lift, hingga menepi dalam ruangan yang mungkin Hari, kirim beberapa saat lalu melalui pesan. Hingga di mana, ia menanyakan pada dua pria mirip bodyguard. Lalu mereka mempersilahkan Mikha untuk masuk.
Mikha tak berfikir banyak, karena ia tak mungkin terjadi sesuatu padanya saat ini. Tetapi saat dua pria di luar mengunci. Mikha berbalik arah dan cukup terkejut.
"Hey! Kenapa dikunci, kalian menjebak ya?" teriak Mikha menggedor pintu besar, mencari celah untuk kabur.
__ADS_1
TBC.