
Sudah berapa banyak, Bram mengitari ruangan keempat. Setiap pintu ia buka kosong tak ada anak anak yang di sandera. Hingga ia menuju lantai lainnya dengan penuh hati hati.
Bram, berlari cepat untuk mendatangi anggota genk Merah yang juga berlari untuk menghalaunya.
Pertarungan tak dapat terelakkan lagi. Satu melawan puluhan orang. Namun, Bram tidak takut sama sekali. Dia tersenyum saat melawan mereka semua.
Anggota genk Merah sampai bergidik ngeri, mendapati Bram, yang tersenyum saat bertarung.
Mereka tahu, orang yang tersenyum dan tidak berkedip saat membunuh seseorang, artinya ia telah melewati banyak pertarungan hidup dan mati.
Pada kehidupan pertamanya, Bram memang tidak banyak membunuh seseorang, tetapi selama lima tahun terakhir itu dirinya dihadapkan dengan berbagai pertarungan, yang membuat pengalamannya kian bertambah.
Lalu, pada kehidupannya kali ini, dirinya telah melatih fisiknya untuk mencapai ketahapan yang lebih jauh.
Setiap gerakan yang tercipta, diperolehnya saat melakukan pertarungan pada kehidupan pertamanya.
Bram sekurangnya telah berhasil melumpuhkan tujuh orang lainnya. Mereka rata-rata mengalami luka lebam di wajah dan patah tulang.
Sementara diluar sana, Olive telah selesai dengan urusannya, dia hanya melawan lima orang saja. Padahal menurut dugaannya, akan ada banyak anggota genk Merah yang datang untuk menyerang, tapi sepertinya mereka lebih tertarik pada Bram dibandingkan dirinya. Sehingga Olive fokus agar Bram, bisa berhasil melawannya.
Terlebih Olive tau, jika kekuatan aneh yang Bram miliki hanya ada diwaktu tertentu dan ancaman bahaya Bram, agar tetap bertahan hidup, tidak mati untuk kesekian kalinya.
"Dia memang manusia super system. Tidak salah jika dirinya memiliki Takdir Langit."
Olive berdecak kagum sambil memperhatikan pertarungan Bram, melawan puluhan anggota genk Merah, dari kejauhan.
Kurang rasanya jika menonton pertunjukan tidak ditemani makanan ringan, terutama popcorn balado.
THEEK ..
Demi menemani kesendiriannya, Olive memunculkan satu box popcorn pedas dengan berbagai rasa. Dia menyantapnya dengan lahap sembari menonton pertarungan Bram vs genk Merah.
Ketika Olive asyik makan popcorn, suasana berbanding terbalik dengan Bram. Pemuda tinggi 187 cm itu sedang bertarung mempertaruhkan nyawanya di sana, tanpa peduli tenaga yang mulai habis.
__ADS_1
Bram tetap berusaha bertarung meskipun dirinya telah mendapatkan beberapa luka serius di tubuhnya. Demi menyelamatkan banyak nyawa dan mengembalikan senyuman semua orang, maka dirinya akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Sehingga kala itu, ia bisa kembali pulang menjalani bisnisnya dan romansa kehidupannya yang tertunda.
Di tengah-tengah kepungan, netranya menangkap kalau Olive tengah bersantai di sana, sambil memakan sesuatu.
Hyaaackhhh ...
Bram, berteriak sambil menghadang segala serangan yang datang. Darah segar telah mengalir dari mulutnya. Dia bermandikan keringat, tatapannya nanar pada Olive yang tidak membantunya malah leha leha ngemil popcorn, dia yang berdiri di sana. Dia geram. Marah.
"Aaaaakh!"
Mereka yang mengepung pun terpental beberapa meter dari sana, tersungkur di lantai dengan bersimbah darah.
Bram pun bermandikan darahnya, dan mereka seketika terpental saat mulutnya Bram juga terkena pukulan mengeluarkan darah. Hingga beberapa ada yang kaku gosong begitu saja. Bram pun diam menguatkan tenaganya saat itu masih berfikir.
Hingga sepuluh orang itu mati, gosong tatkala Bram menyempurnakan berdirinya untuk menghampiri Olive disana.
"Oliver Kristalion..." teriaknya sejadi-jadinya.
"Kenapa berteriak, bukankah kekuatan system itu mengeluarkan sengatan ketika kau tak berdaya! Huch, lemah kau."
"Hey .."
"Ayolah, kita langsung ke lantai atas Bram! Daripada berdebat, semakin cepat kita selamatkan anak anak yang di sandera."
Bram pun ingin marah tak bisa, sehingga Oliver menjetikan jarinya. Mereka sudah berpindah tempat.
Cteeegh!!
***
**Berbeda Hal Dengan Elea**.
Saat ini bukan tanpa alasan mengelak untuk bertemu, Elea yang sudah mengamati dan mencari keberadaan Bram. Saat itu ia meminta penjelasan pada Kristal yang sudah aneh gelagatnya.
__ADS_1
Amat tampak kantor sepi, karena hari libur. Sehingga Elea juga tak melihat Hari dan Ibu Inggrid datang ke kantor.
Bragh!
"Kristal, ayolah! Beritahu apa maksudnya ini. Saldo Bram semakin bertambah, apa gunanya jika semua uang ia miliki luar biasa. Tapi aku merasa di nomorduakan karena uang ini. Sebenarnya Bram, sedang menjalankan pekerjaan apa. Lantas, kenapa kita ga lapor polisi, bilang kalau Bram masih hidup. Apa ini cara permainan kalian?" cetus Elea.
"El, aku ga bisa kasih penjelasan. Biar Bram, yang mengatakan semua itu. Mungkin setelah misinya berhasil, aku juga pergi kamu akan mengerti. Jadi sabar, dan tenangkanlah!"
"Apaa .. Saaa ..baaar. Sampai kapan? Atau jangan jangan sebenarnya Bram mengelabui dengan kematian. Lalu ia punya wanita lain, dan anak itu benar anak Bram. Sehinga sulit sekali aku mencari, and tetangga mereka bilang sudah pindah. Jujurlah Kristal! Apa kamu juga orang yang terselubung. Kamu sekongkol dengan semua ini kan?" emosi Elea, tak terbendung.
"Kamu berfikir jauh El. Bram bukan bekerja, ia sedang menjalankan tahap misi. Misi kekayaan unlimited yang tanpa batas. Setidaknya kalian bersatu, tidak akan kekurangan. Jangan berfikir buruk lagi tentangnya! Tetaplah mengerti, jalani kantor bisnis calon suamimu, dengan baik!" ketus Kristal, dan berlalu.
Sementara seperginya Kristal. Elea sangat tidak tahan. Kenapa ia dan Bram, amat sulit bersatu. Dulu sebelumnya terhalang restu, tapi kini setelah mempunyai segalanya. Entah kenapa Bram tak pernah ada disisinya. Elea pun mengusap air mata dipipinya, dan ia mengelus perutnya yang sudah ingin sekali bunuh diri. Jika saja bunuh diri bisa menuju surga, mungkin Elea sudah melakukannya.
Kristal yang tidak tega, dan sudah tahu apa masalah Elea, tanpa Elea bicarapun. Ia hanya berharap misi Bram cepat berakhir. Sehingga Bram pulang dan kembali pada kekasihnya yang sudah merindukannya, meski usaha bisnis Bram lancar. Tetap saja, Kristal tidak tahan jika ibu Inggrid mengecoh pekerjaannya. Terlebih Hari, ya! Hari Hartanto yang Kristal perhatikan, ia tidak punya power dan tegas pada ibunya yang salah.
Elea saat itu segera mendapat telepon, ya itu adalah nomor tak dikenal.
[ Hallo, ya benar saya Elea. Yang mencari data Arsen Khaimar dari rumah sakit Buana Center! Apa pak, jadi anda adalah wakil kepala sekolahnya. Anda besedia memberitahu alamat sekolah dan tinggal mereka yang baru? ] senyum Elea, ada raut kebahagiaan yang tampil di area pupil indah matanya.
[ Baik pak! Saya segera menuju alamat bapak! Dua jam lagi, saya segera sampai. ]
Tlith! Sambungan Ponsel Terputus.
Elea segera berlari meraih tasnya, terlihat juga ia mencari Kristal. Tapi saat di pintu lain, terlihat ibu Inggrid dan Hari, baru saja Tiba. Tatapan ibu Inggrid memang sinis pada Elea, tapi tidak termasuk pada Hari Hartanto.
"Kak, kenapa berlari..?" tanya Hari.
"Aku sangat bahagia, Hari. Aku minta tolong, selama beberapa hari kedepan. Duduklah dibangku kerjaanku, aku akan kembali dengan orang yang kita tunggu selama ini." ocehnya, membuat tatapan Hari ikut merasakan kebahagiaan.
"Hah, benarkah. Baiklah kak, kalau begitu hati hati dijalan!" ujar Hari, menyemangati.
Tbc.
__ADS_1