
"Mau kemana. Kena kamu nak?"
Seseorang menarik ransel Elea. Ia pun terpaksa berbalik karena tas ransel kecil, ditarik olehnya, Elea menatap perlahan dan tersenyum paksa.
"Lho, pak Bens?"
"Walah ndok - ndok, mbok yoh kalau liat kaleng masukin dalam bak sampah bukan ditendang. Kalau bukan kamu sudah saya arak keliling." ucap pak Bens.
"Hiih. Maaf pak, maaf maafin lagi frustasi ini. Masa saya, diarak keliling memang saya buat maksiat."
"Ayo ikut, kekantor!"
Perintahnya pak Bens. Membuat mata Elea membulat dan menjawab.
"Apa sekarang pak bens?"
"Heuumh."
"Pak. Sekarang, emang saya harus kemana. Bapak mau laporin saya ya. Pak saya kan anak baik, nanti kalau di laporin HAM. Atau saya ngadu ke kak Seto pengaduan dibawah umur gimana. Pak Bens kan kenal saya bukan. Masa masalah kaleng bapak mau bawa saya. Jangan ya Pak!"
"Loh. Piye ini cilik. Hey, siapa yang mau bawa kamu. Orang suruh ke kantor."
"Kantor. Sekarang, benaran pak?"
"Enggak lain kali aja, tahun depan. Itu pun kalau kamu ga mau gaji bulanan mu cair hari ini toh." ucap pak bens.
Mendengar perkataan cair, Elea segera menyadarkan dirinya. Ia menatap jam dan tanggal di buku kalender sampul bukunya.
"Uuupss, jangan jangan pak. Pak Bens kan tampan sedunia, selautan. Ia saya pasti ikut," tatap Elea. Ia mengekor pada pak Bens.
"Dasar cilik mata duitan. Anak siapa toh kamu?" lirih Pak Bens.
"Anak Ayah dan Ibu lah Pak." balas senyum Elea.
Selama dua jam di kantor, akhirnya Elea pun selesai, dia pun kembali pulang. Sungguh keberuntungan, sebagai siswa dan bekerja freelance nya lancar, diterima dan akan di publish perfilman hollywood ia merasa senang. Elea sendiri sedang menulis sebuah buku berjudul penelitian human, kisah cinta dengan pria kekuatan super mirip hantu.
__ADS_1
"Pas sekali dompetku yang kering keronta terisi kembali." senyum lebar merekah Elea melangkah pulang.
Ia pun menaruh amplop coklat uang itu kedalam tas kecil. Tapi teringat sebuah amplop ungu coklat yang diberikan Nara.
To : Elea
from : Bram
Sobat ku Elea tersayang. Aku mendengar berita tidak enak, kamu akan segera pindah. Aku tunggu habis isya di lapangan tenis sebelah masjid tempat biasa.
Aku tunggu di warung bukde. Aku datang seorang diri, ada yang aku ingin bicarakan hal penting!!
Kenapa juga harus pake surat bikin penasaran deh pria satu ini?!
Elea pun melaju langkah pulang. Sesampainya ia membersihkan diri dan mengemas perlengkapan yang di berikan Wali kelas. Lalu ibu mengetuk pintu dan berkata.
"Elea, gimana sedang apa sayang apa sudah selesai mengemas?" tanya Ibu membuat pikiran mood berubah.
Elea menatap tak membalas, ia merasa masih kesal karena ajukan keinginannya tidak digubris, dengan tas koper ia mengemas terpaksa dan menghiraukan pertanyaan ibu.
Tiba Elea mempercepat mengemas dan meninggalkan ibu ia beranjak keluar rumah.
"Elea. Kamu mau kemana?"
__ADS_1
Tapi Elea hanya tersenyum tipis sebal dan pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Emosi labil anak muda adalah marah. Agar orangtua tau, jika anaknya bersikap demikian adalah merajuk.
"Kenapa harus pindah dari sini sih ah,"
"Kenapa tidak menunggu aku setahun lagi," tambah gerutu Elea.
Hingga Elea tertidur pulas. Ia melupakan ada janji dengan sahabatnya itu.
Adzan isya berkumandang, hampir melewati
jam setengah sembilan, ia mulai terbangun. Lalu menatap dinding kamar dan bola mata memutar pada jam. Ia beranjak dan cuci wajah segera bersiap siap.
"Astaga! semoga Bram masih ada disana."
Elea pun berlari kecil ketempat tujuan dimana mereka janjian. Namun ketika sampai lama menunggu tapi tidak ada.
"Kasian sekali, pasti sudah terlalu lama menunggu."
Hingga terlalu malam tidak mungkin aku ke rumah Bram malam ini. Bukannya ga baik teman perempuan berkunjung, Bram pasti marah dan bilang aku tukang ingkar janji. batin Elea bergumam.
Bram maaf saya terlambat, aku lupa ketiduran loh! aku sampe cepet cepet nih jalan, kamu sudah ga ada, apa yang harus aku lakukan ketika terlambat!! gerutunya.
Elea duduk bersandar dan menutup matanya, tapi terhenti ketika ada suara yang menjawab ia pun melirik kearah belakangnya tak ada siapa - siapa.
Eheuuum.
Terdengar suara kembali tepat dipundak belakangnya. Merasa bergidik Elea pun diam diam mengambil kaca kecil. Di dalam tas genggaman, Elea rogoh dan sedikit membuka lalu menatap perlahan.
Terlihat samar Elea menaikan keatas sedikit ke pelupuk wajah mata, menyampingkan sedikit kaca itu dekat telinga. Elea buka mata yang sedikit menutup, siapa kah dia di belakangku. Berusaha mencari suara tadi dengan perlahan.
Duaar!
"Eh, apa ini. Teko emas, Sendok Emas yang patah." lirih Elea ketika menatap tiba tiba dibawah kakinya ada sebuah teko dan sendok emas. Tak ada siapapun di sana, apalagi pertemuannya dengan Bram tak terlihat.
TBC.
__ADS_1