Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
TIBA TIBA PERGI


__ADS_3

Mikha dalam balutan bahagia, ia menatap aksi sebuah villa. Yang terbilang cukup ramai dan berdempetan, seperti perumahan elit yang berada di luar negeri.


Hanya saja di batas, dengan pohon beringin kecil dan lampu manik dekat gerbang.


Mata Mikha saat ini tertuju di nomor tujuh belas, sehingga menanyakan. Mengapa selalu nomor sembilan belas? Tapi jawaban Hari hanya senyuman, dan alibi dengan penuh rahasia penuh angka keberuntungan di nomor sembilan, dan satu adalah populer keluarga mereka.


"Mas hanya dapat nomor sisa. Sekarang kita istirahatlah dulu sayang. Sini dekat mas!"


Hari menepuk sofa besar. Mikha pun di buat malu, kala ia bingung akan sikap suaminya yang terang- terangan.


Padahal jelas mereka baru sampai, hingga di mana Mikha mengekor masuk menatap seisi ruangan.


"Mas, ini masih siang. Apa kamu lapar?" tanya Mikha sedikit gugup.


"Ya. Mas lapar, ingin memakanmu." bisik Hari, kala ia menarik lengan Mikha.


"Mas, kamu nakal. Pintu masih terbuka, kamu ga lihat ada orang di luar?"


"Ini negeri tetangga sayang, mereka sudah tidak asing."


"Tapi kita bukan bagian dari itu." menatap seru.


Hari memeluk dan memutar tubuh kecil Mikha bagai anak kecil. Karena ia begitu gemas pada istrinya. Terlihat manik cinta yang terbalas dari mata indahnya.


Hingga di mana mereka saling memangku. Dan aksi gercap tangan Hari. Telah Memegang remot untuk menyalakan televisi.


"Mas sudah pesan makan. Kita bersantai dulu, sebab nanti sore dan Esok. Kita gunakan liburan dengan sebaik mungkin. Kalau perlu kita kelilingi kota ini!" titah Hari.


"Mas. Kamu ini, aneh saja. Negeri tetangga, mana bisa kamu buat seperti itu. Bukannya akan musim salju?"


"Belum tentu, tapi jika ya. Kita bisa melakukan kegiatan indah di kamar ini. Satu hari penuh. Bagaimana? apakah aku terlalu ingin miniature kita cepat hadir."


"Mas, kamu bisa - bisanya." malu merona.


Mikha menatap Hari. Hari pun merasa terobsesi dan candu akan ranum Mikha yang semanis jambu.


Hingga pandangan mereka kembali saling beradu, Mikha di buat bingung. Ketika Hari memiringkan kepala dan ingin menyentuhnya, tiba saja ketukan bell di pintu datang.

__ADS_1


Kriiing!!


"Hello, the order came!" Hey order pesanan datang. Kurang lebih begitulah artinya mungkin.


"Hello. Excuse me the order came!!!" teriak pria asing pengantar makanan.


"Oke .. Wait!" balas Hari, dengan sedikit kesal.


Hari menepuk pipi Mikha dengan halus, ia memintanya untuk menunggu. Wajah Mikha benar sangat malu, ketika sang suami sudah terang - terangan membuat dirinya merasakan cinta yang terbalas.


Hari membuka pintu, Hingga di mana ia memberikan beberapa lembar uang kertas asing. Lalu menutup kembali pintu, terlihat sebuah makanan saji dan dessert. Ia tak ingin Mikha lelah, mengatur dan memasak untuk nya saat ini.


"Sudah datang mas. Kamu pesen apa aja emangnya?" tanya Mikha penasaran.


"Hanya sedikit. Cukup untuk malam, dan sarapan esok mungkin. Tapi kalau kurang, kamu bilang mas. Mas akan memintanya dan memesan ya!"


Baiklah Mikha saat itu mengangguk, ia menatap tiga paperbag besar dan kecil. Tersenyum tak menyangka, kala semuanya adalah makanan siap saji.


Dari mulai, makanan kaleng, desert buah dari kaleng. Dan buah yang mungkin yang ia suka. Semangka dan jeruk manis, tak lupa kue tart yang selalu menemaninya setiap hari.


"Ya. Tapi kecil, mas sedang tak berselera makan manis. Hanya saja istriku ini harus bertambah berat, agar mas menyukai jika kamu bahagia bersama mas." senyum Hari.


"Mas Hari, apaan sih. Kamu bener - bener deh. Kamu mau aku gendut ya, terus kalau aku ga cantik lagi gimana?"


"Gendut atau tidak. Mas akan tetap mencintaimu Mikha sayang. Suer beneran deh. Percaya sama mas!" kala Mikha menepuk wajah Hari, mengusel di anggap bohong, mereka layaknya anak kecil bercanda.


"Heuumh. Gombal banget." Mikha kembali menepuk, namun cekatan tangan Hari. Ia menarik tubuh istrinya itu.


Mikha terdiam kala tubuhnya berputar, suaminya telah berada di atas tubuhnya. Aksi mereka pun di mulai dari lembut, Mikha hanya menutup wajah, membuka bibirnya dan segalanya telah masuk dalam saling bertautan.


Seperti sedang menari nari, sedang hangat hangatnya. Aksi mereka saat ini.


Mikha berusaha tenang, ia tak ingin merusak mood kala suaminya sedang meminta haknya padanya. Meski ia memejamkan mata, kala itu ia cukup membuka mata, mencoba menatap wajah dan mata Hari yang sedang memuncak.


Kini mereka sedang berada dalam surganya cinta. Menyatukan keindahan dan segala yang semestinya di lakukan oleh pasangan sah di mata agama dan hukum. Yakni suami dan istri bahagia yang saling mencintai.


"Mas berterimakasih padamu. Mikha Alora." bisiknya.

__ADS_1


"Mas, ini sudah menjadi tugasku sebagai istri. Kapanpun kamu mau, aku akan ikhlas dan ridho."


"Semoga sampai akhir tua. Kamu manis tak berubah seperti ini Mas!" bisik Mikha menatap suaminya berbalik badan, dimana suaminya banyak uang, bahkan bisa ia mempunyai istri lain diam diam di belahan negara, terlebih dalam berita, suaminya menjadi berita pria berumur tidak lagi muda, tapi usianya semakin muda dan terlihat baby face.


"Ya. Jangan pernah tinggalkan mas ataupun bohong pada mas. Jika terjadi sesuatu katakan sama mas ya. Mas berhak melindungi kamu!"


Mikha masih mode dalam pelukan tak memakai sehelai benang di tubuhnya.


Begitupun Hari, hanya dalam selimut untuk menutupi bawah tubuhnya. Hari yang bersandar dalam bilik dipan kasur. Mikha mencoba bersandar pada tubuh Hari dan menggelitik roti sobek suaminya.


"Sayang. Kamu jangan memancing, mas takut kamu lelah!"


"Heuumph. Aku atau mas?" goda Mikha.


"Kamu berani sama Mas. Kamu mau mas melakukan sampai pagi. Tanpa makan dan apapun?"


Hari membalik tubuh Mikha, mereka kembali bercanda seolah menolak dengan candaan yang sangat jarang, para pasangan sah mengawali di kegiatan sebelum ritual. Hingga beberapa saat aksi mereka merebut remot pun terjadi.


Tlith!! Nada pesan.


"Mas ada sesuatu, siapakah itu yang hubungi mas?"


Hari meraih ponselnya, wajahnya tiba tiba serius ketika membaca pesan itu. Mikha sedikit takut, wajah suaminya yang tadinya happy berubah menakutkan.


Hari tiba saja memakai pakaian lengkap, dengan warna kaos hitam polos, ia menoleh ke arah istrinya itu. "Mas tinggal sebentar ya! tetaplah disini Mikha sayang." kecup kening, dan meninggalkan istrinya sendiri.


"Mas, ada apa. Jangan buat aku panik mas."


"Diamlah disini, jangan membuka pintu selain mas, pintu itu ada celah lubang, sebelum kamu buka, lihat dulu sayang! ingat hanya mas, yang harus kamu buka dan tanpa suara balasan jika itu bukan mas."


"Baik mas."


Mikha menatap suaminya pergi, dimana ia masih melilit sprei putih, lalu menguncinya membuatnya tidak tenang.


'Mas Hari mau apa, jangan bilang pertempuran perusahaan system di negara ini, rapat penting dadakan yang membuatnya pergi begitu saja.' benak Mikha, dimana segera Mikha meraih ponselnya menghubungi seseorang, karena khawatir akan suaminya ini.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2