
Keesokan harinya Via bangun sebelum subuh. Ia langsung ke dapur. Ternyata bundanya sudah di sana.
"Bunda bangun jam berapa?"
"Jam 3, Sayang. Kamu memang biasa bangun pagi?"
Via menggeleng. Sebenarnya ia malu. Tapi ia merasa kalau lebih baik berkata jujur.
"Biasanya Via bangun jam setengah 6."
"Sholat subuh gimana?"
"Emmm... Anu, Bun, sering bolong. Papa mama juga. Dosa Via udah banyak banget, ya?"
Bu Aisyah tersenyum lembut. Ia menghentikan memotong sayuran.
"Setiap orang tidak luput dari dosa. Allah Maha Pengampun. Selama masih bisa bernafas, kita bisa bertobat mohon ampunan."
"Dosa Via banyak banget. Apa Allah mau menerima? Via sering meninggalkan sholat, Via nggak ngaji, belum lagi lainnya."
"Bergantung niat kamu. Kalau kamu benar-benar berniat tobat, berarti kamu harus merasa menyesal atas kesalahanmu dan mau memperbaiki, tidak mengulangi kesalahan itu lagi dengan sengaja, Allah akan memberikan ampunan, insya Allah."
"Belum terlambat, Bun?"
Bu Aisyah tersenyum lembut. Ia menatap Via dengan penuh kasih sayang.
"Sebelum nafas di tenggorokan, masih ada kesempatan bertobat."
"Terima kasih, Bun. O iya, sudah hampir subuh, Ayah dan Mas Azka nggak dibangunin, Bun?"
"Mereka sudah berangkat ke masjid setelah qiyamullail."
"Qiyamullail?"
"Ibadah malam, sholat tahajud, witir, terutama di sepertiga malam terakhir."
Via makin kagum dengan kebiasaan keluarga Bu Aisyah.
"Kau belum suci, kan? Belum boleh sholat? Bisa bantu Bunda?"
"Bantu apa, Bun?"
"Tolong goreng ayam ini. Sudah dibumbui kok. Bunda sholat subuh dulu. Bisa?"
"Bisa, Bun."
Via pun melanjutkan pekerjaan bunda angkatnya. Ia menggoreng ayam yang sudah dilumuri bumbu. Tidak sulit. Apalagi dia sudah belajar memasak kemarin.
Pukul 6 mereka sudah selesai sarapan. Via dan Bu Aisyah berangkat paling awal.
Sesampai di sekolah, Via bergegas ke kelas. Ia sengaja tidak melalui depan kelas XII IPA-3. Via masih trauma bertemu Aurelia.
“Kok muter?” tanya Doni yang tengah berdiri di depan pintu kelas.
__ADS_1
“E…iya, pengin lihat suasana sekolah. Kan udah lama aku nggak masuk.”
Doni tidak ingin memperpanjang pertanyaan. Ia sudah tahu kejadian kemarin yang membuat Via sampai pingsan.
Baru saja Via meletakkan tas sekolahnya, Ratna masuk. Seperti biasa, dia membuat kehebohan.
“Yang haus yang lapar… permen, srite, Fanta, arem-arem, tahu.” suaranya persis pedagang asongan di bus. Tangannya menggenggam tas plastic berisi rantang.
“Kamu jualan? Apaan tuh isinya?” tanya Mita penasaran.
“Dipilih, dipilih, Buuuu.”
“Sialan! Ternyata rantang kosong.”
“Hahaha…lapar, Bu? Tadi belum sarapan?”
“Belum sarapan tiga kali,” sahut Mita cepat.
“Alamaaaak… Eh, Tuan Putriku sudah datang. Halo Marimar!” Ratna melangkah ke tempat duduknya.
“Hai! Duduk Ferguso!”
“Sssttt…pulang jam berapa ntar?”
“Normal.”
“Yaaah…kirain ada rapat lagi.”
“Rantang punya Bu Aisyah. Ntar kamu bawa, ya. Bilangin Ratna, ayah, ibu, adik-adik Ratna semua menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Haris sekeluarga.”
“Lebai, ah! Ada ulangan nggak?”
“Ada. Matematika.”
“Sudah belajar, ya?”
“Kok tahu? Jangan bilang semalam kamu datang ke rumahku buat ngintip.”
“Ih, ngapain pake ngintipin kamu. Kurang kerjaan. Kalau semalam aku ngintip, pasti sekarang bintitan.”
“Bentar, coba aku lihat mata kamu.” Ratna menatap mata Via seolah sedang memeriksa.
“Oh, betul tidak bintitan. Cuma ada kotoran sebesar kelereng.”
“Sialan kamu.” Via memukul lengan Ratna menggunakan buku.
“Eh, sekarang kamu punya indra keenam, ya? Bisa mengetahui yang tidak dilihat?”
“Bukan indra keenam. Indra Lesmana sama Indra Brugman.”
“Hahaha… Tumben kamu bisa ngelucu dikit. Eh by the way any way busway, tebakanmu bisa pas, kok. Semalam aku udah belajar. Lagian Matematika tak sesulit Inggris.”
“Bahasa Inggris tuh menyenangkan. Kalau bisa bahasa Inggris kan enak. Bisa ngobrol sama orang asing tanpa guide.”
__ADS_1
“Iya, kamu kan sering ke luar negeri, ketemu bule-bule. Ya penting tuh bahasa internasional.”
“Nanti mau ke perpus lagi, nggak?”
“Nggak, ah. Lagi males.”
“Males apa takut disengat ubur-ubur?”
“Males. Udah, ah, jangan bahas dia. Kamu bilang ntar ulangan. Siap-siap dong."
“Ya elah, Vi, ulangannya jam keenam. Santuy!”
Tak lama bel masuk pun berbunyi. Bu Aisyah yang mengajar 2 jam pertama di kelas Via.
Saat waktu jam kedua hampir habis, Pak Herman, guru Bahasa Inggris masuk. Ia meminta izin kepada Bu Aisyah untuk menyampaikan informasi.
“Novia dan Doni, tolong ikut Bapak ke ruang guru.”
“Baik, Pak,” jawab Via dan Doni. Mereka pun minta izin keluar kelas.
Sesampai di ruang guru, Viki sudah ada di sana. Ia duduk sendirian.
“Duduk, Via, Doni,” Pak Herman mempersilakan. “Begini, kalian bertiga Bapak panggil ke sini karena baru saja sekolah mendapat surat yang isinya diminta mengirim peserta lomba debat bahasa Inggris.”
"Kami kan sudah Kelas XII. Apa tidak kelas XI saja, Pak? Maaf, ini hanya pendapat saya," kata Doni.
"Kamu benar, Don. Seandainya masih cukup waktu untuk mempersiapkan, Bapak tentu akan memilih kelas XI. Tapi ini sangat mendadak. Surat baru diterima tadi sedangkan lombanya besok."
Mereka bertiga ternganga dan saling pandang.
"Mungkin suratnya nyasar dulu, atau gimana, Bapak tidak tahu. Kalian kan tahu kalau sekolah kita juara bertahan. Tahun lalu Via, Viki, dan Wulan yang ikut. Karena Wulan sudah pindah sekolah, Bapak memilih Doni."
"Apa diizinkan? Maksud saya, apakah tidak melanggar ketentuan lomba?" Via menyela.
"Tidak. Pada surat ini tidak disebutkan batasan kelas. Berarti kelas XII bisa ikut."
"Maaf, Pak, kalau saya boleh usul dan tidak melanggar peraturan lomba, bagaimana kalau kita mengirim lebih dari satu tim?" kata Doni.
"Iya, Don. Kita memang akan mengirimkan 2 tim. Yang satu dari kelas XI dan X. Ibaratnya mereka adalah lapis kedua, persiapan untuk tahun depan."
Doni tersenyum. Mereka saling pandang dan mengangguk-angguk.
"Sekarang kalian ke perpustakaan, latihan di sana. Tim 2 sudah di perpustakaan bersama Bu Ratri. Via dan Viki, tolong bantu Bu Ratri. Kalian kan sudah berpengalaman, jadi kalian bisa berbagi dengan adik-adikmu. Meskipun mereka tidak ditarget menang, setidaknya penampilan mereka tidak memalukan."
"Siap, Pak," jawab mereka bersama.
Mereka bertiga segera menuju perpustakaan. Di ruang tersebut tiga adik kelas mereka sedang mendapat arahan dari Bu Ratri.
Setelah selesai memberi petunjuk, Bu Ratri mempersilakan Via dan Viki menceritakan pengalaman mereka mengikuti lomba debat. Tidak hanya bercerita, Via dan Viki juga memberi tips dan motivasi.
Sampai jam keenam mereka berada di perpustakaan. Barulah pada jam istirahat kedua mereka berhenti.
***
__ADS_1