SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pulang


__ADS_3

Matahari mulai menyapa penghuni bumi. Sinarnya memupus embun yang ada di dedaunan. Kicau


burung terdengar begitu merdu.


Ah, mungkin terlalu lebay? Bukankah selama ini aku tidak mendengarkan kicauan mereka. Entah


apa yang membuatku tertarik menyimak kicauan unggas liar ini.


Mungkin, aku terbawa suasana hatiku. Ya, hatiku dipenuhi bunga-bunga yang indah. Aku hanya


tinggal menanti saatnya mereka bermekaran seiring kuncup harapan yang telah muncul.


Kuhirup nafas dalam-dalam. Kupenuhi paru-paruku dengan udara segar. Aku tidak menyadari kalau


bibirku dilukis senyum mengembang seandainya Doni tidak menegurku.


“Mas Farhan terlihat begitu bahagia. Dari tadi Mas Farhan senyum-senyum terus,” tegur Doni.


“Ah, iyakah? Aku tidak menyadarinya. Aku memang teramat bahagia membayangkan aku bisa pulang.


Tahukah, Don, aku hampir kehilangan harapan dapat pulang secepatnya. Aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu. Kedatanganmu mungkin adalah jawaban dari doa-doaku,” tuturku. Biarlah Doni menganggapku lebay.


Doni tertawa. Ia melingkarkan lengannya ke bahuku.


“Aku sudah bilang, Mas Farhan nggak usah sungkan. Aku juga putra Bu Aisyah hehe...”


“Iyalah, aku rela berbagi bundaku. Kalian begitu menyayangi bundaku, ya?” Aku mencoba akrab


dengannya.


“Kita duduk di teras, yuk!” ajak Doni.


Aku menurut. Kami berjalan bersama menuju teras lalu duduk di bangku yang terbuat dari bambu.


“Mas, bagaimana kalau kita pergi ke dokter spesialis? Atau minimal ke dokter umum. Jujur saja,


aku merasa was-was dengan kondisi Mas Farhan. Setidaknya kita bisa minta obat atau apalah untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang fatal,” katanya sambil menatapku dengan tatapan memohon.


Jujur, aku tidak enak hati merepotkan Doni.


“Aku yakin aku kuat, Don. Di samping itu, aku khawatir keberadaanku tercium oleh Kelelawar Hitam. Nantinya tidak hanya aku, tapi keluarga Agus juga terancam,” kataku memberi argumen penolakan.


Doni masih menatapku. Aku mendapati ketulusan di matanya.


Aku sebenarnya malu. Selama ini aku telah berprasangka buruk kepada Doni. Ah, betapa kerdilnya


aku di depan Doni.


“Dokter spesialis memang agak jauh. Bagaimana kalau dokter umum saja? Nggak jauh dari sini ada


praktek dokter umum., Nanti sore kita ke sana, ya,” bujuk Doni.


Aku tak tega menolak terus. Akhirnya, aku menganggkkan kepala tanda setuju.


“Don, aku—aku mau minta maaf ke kamu. Maukah kamu memaafkannya?” pintaku.


“Maaf? Untuk apa Mas Farhan minta maaf kepadaku? Kita bertemu saja sangat jarang. Kalau tidak


salah, waktu perpisahan, ya? Oh, tidak. Waktu aku di rumah sakit, kan? Saat itu aku habis dioperasi. Kalau di Bali aku hanya berjumpa Via. Mas Farhan sedang ke belakang.” Doni mengingat-ingat.


Haish, kenapa mengingatkan aku pada kejadian konyol itu? Aku meruntuki kebodohanku.


“Iya, benar. Tapi, tahukah kamu kalau aku cemburu kepadamu? Aku mendengar saat kamu mengungkapkan perasaan kepada gadis yang sekarang menjadi istriku. Kupikir kau masih mencintai Dek Via dan berusaha merebutnya dariku. Itu sebabnya aku mempunyai image buruk terhadap kamu. Maafkan aku, ya.” pintaku dengan


menebalkan muka menahan malu.


Doni tertawa kecil. Ia sama sekali tidak menunjukkan kemarahan.


“Memang, dulu aku mencintai Via, tapi Via menolakku. Sejujurnya, aku masih memiliki perasaan itu


meski Via sudah menikah dengan Mas Farhan. Namun, aku nggak punya niat sedikit pun merebut Via darimu, Mas. Apalagi sekarang, aku sudah bisa move on meski aku belum tahu perasaannya,” akunya. Aku menatap wajahnya. Sorot matanya mengatakan kejujuran atas ucapannya.

__ADS_1


“Semoga beruntung, ya! Cepat-cepat lamar dia! Kalau kelamaan, nanti keburu disambar


orang. Aku yakin dia cantik. Siapa yang tahan?” godaku.


“Aamiin. Doakan saja, Mas.”


“Tentu aku doakan. Kalau berhasil, undangan untuk kami jangan sampai lupa!” Aku masih menggodanya.


“Duuuh...menyatakan perasaan juga belum, nih. Masa tahu-tahu menikah, Mas?” sahutnya dengan muka


memerah.


“Makanya, aku bilang kan cepat lamar dia! Nggak usah pacaran, Don! Nikah saja langsung,”


ucapku menyemangati Doni.


Cowok yang ingginya selisih sekitar 5  cm denganku itu tampak berpikir. Mungkin, ia tengah mempertimbangkan usulku.


“Kalian sedang apa? Ibu sudah menyiapkan sarapan, tuh. Yuk, kita makan dulu!” ajak Agus yang


tiba-tiba muncul dari balik pintu.


“Okelah. Ayo, Mas, kita sarapan dulu,” sahut Doni.


Kami berdua mengekor langkah Doni masuk ke dalam rumah. Ibu dan adik-adik Agus sudah


menunggu kami.


Hanya ada lauk tahu bacem dan kerupuk yang tersedia. Namun, entah mengapa terasa begitu nikmat


di lidahku. Mungkin terbawa perasaanku yang tengah bahagia menanti saat pertemuanku dengan orang-orang tersayang. Aku makan dengan lahap seperti saat awal kedatanganku. waktu itu perutku sudah sangat lapar.


“Aku nggak ngira kalian orang kaya tapi mau menyantap makanan sederhana begini. Ibu senang sekali,” kata ibu Agus dengan raut muka ceria.


“Enak, kok. Apalagi makannya bersama-sama kayak gini,” sahutku.


Usai membantu membereskan piring kotor, aku dan Doni kembali ke ruang tamu. Banyak hal yang


 


Aku menjadi tahu lebih banyak tentang Doni. Ternyata dia membantu Agus tidak dengan meminta uang


kepada papanya. Ia hanya minta pekerjaan untuk Agus kepada om-nya melalui papanya. Rumah yang ditempati Agus merupakan pemberian Doni. Ia membelinya menggunakan uang tabungan.


Aku semakin kagum kepada Doni. Kukira dulu dia anak manja yang suka menghamburkan uang. Ternyata


penilaianku salah sama sekali.


Doni sosok anak yang mandiri, tidak mau mengemis jabatan. Sejak SMA dia sudah bisa cari uang


sendiri.


“O ya, Mas Farhan mau menelepon Via? Barangkali Mas Farhan ingin memberi tahu keberadaan Mas


Farhan sekarang.  Ini ada kontak Via,” kata Doni sambil menyodorkan ponselnya.


Aku menerima benda kotak pipih itu. Kalau aku akan menelepon Via, aku tinggal menyentuh ikon


telepon.


“Ah, tidak. Aku takut Via shock dan hal itu berpengaruh buruk terhadap anak kami.Sementara, aku


nggak bisa memeluk dia untuk menenangkan.  Biarlah besok menjadi kejutan untuknya.” Akhirnya, kuserahkan kembali ponsel cerdas milik Doni.


Setelah salat asar, aku diantar ke tempat praktek dokter. Agus menyuruhku memakai masker. Bahkan saat di dalam periksa pun masker tidak aku lepas. Hal tersebut untuk mengantisipasi barangkali ada anak buah Kelelawar Hitam.


“Kakak saya ini jatuh dari motor hingga terguling jauh dari badan jalan. Kepalanya membentur batu. Tangannya pun demikian, dok,” kata Doni.


Aku lebih banyak diam. Hampir semua pertanyaan dokter Doni yang menjawabnya. Hal ini memang


sudah dirancang Agus sejak dari rumah.

__ADS_1


“Sebaiknya Anda ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tangan kiri Anda


harus dirontgen untuk memastikan kondisi tulangnya sedangkan kepala Anda membutuhkan CT-scan untuk mengetahui  masalahnya. Saya buatkan rujukan, ya,” kata dokter itu.


“Iya, dok. Namun, bisakan dokter ngasih obat dulu. Rontgen dan CT-scan biar kami lakukan di Jakarta. Nenek kami minta kami datang. Jadi, besok kami akan terbang ke Jakarta. Nggak apa-apa, kan?” Doni mengarang cerita.


“Sebenarnya tidak disarankan melakukan perjalanan jauh. Tapi, karena kondisi darurat, ya apa boleh buat. Saya tuliskan resep silakan tebus di apotek. O ya, usahakan Tuan Andre tetap rileks selama perjalanan,” pesan si dokter.


“Baik, Dok. Terima kasih,” ucap Doni.


Kami keluar dari ruang pemeriksaan setelah semua selesai. Agus masih setia menunggu kami.


“Kita perlu ke apotek guna menebus obat. Di mana apotek terdekat?” tanya Doni.


“Itu, di sana ada apotek. Kita jalan bersama ke sana,” ajak Agus.


Alhamdulillah,hingga pulang ke rumah Agus, kami tidak mengalami peristiwa yang menakutkan. Semuanya lancar. Namaku menjadi Andre untuk menyembunyikan identitasku yang sebenarnya. Aku akui, Agus begitu jeli menyiapkan hal ini. Mungkin karena ia pernah bergumul di dunia hitam.


Malam itu menjadi malam terakhir aku menginap di rumah Agus, penolongku. Rumah yang sederhana itu


menjadi saksi mulianya hati mantan penjahat bayaran. Aku tidak akan melupakan jasa-jasa Agus dan keluarganya..


Ketika matahari hampir sampai di atas ubun-ubun,  kami bersiap ke bandara. Agus memaksa mengantar kami sampai bandara karena khawatir ada anggota Kelelawar Hitam yang mengenali aku.


“Ibu, saya mohon diri. Doakan saya bisa kembali berkumpul bersama keluarga saya. Saya sangat berterima kasih atas semua kebaikan Ibu beserta keluarga. Semoga Allah membalas budi baik Ibu dan keluarga Ibu berlipat-lipat,” pamitku dengan menahan rasa haru yang memenuhi dadaku.


“Iya, Nak. Hati-hati! Sampaikan salam kami kepada keluargamu. Doa Ibu menyertai kalian. Suatu saat jika ke Medan, singgahlah ke sini,” jawab ibu Agus dengan air mata berlinang.


Usai perpisahan dengan keluarga Agus yang mengharukan, kami masuk ke taksi yang sudah dipesan


Doni. Masker tidak pernah lepas dari wajahku.


“Terima kasih telah mengantar. Kamu bisa pulang. Hati-hati, ya!” kata Doni.


“Tidak. Aku akan menunggu sampai pesawat take off. Meski aku tidak berada di samping kalian, aku


harus memastikan pesawat kalian mengudara dan kalian berada di pesawat itu,” tolak Agus tegas.


Ah, benar-benar lelaki yang sangat baik. Aku tidak akan melupakan jasamu. Dalam hati aku berjanji suatu saat akan menemui dia dan keluarganya untuk membalas budi baiknya.


Saat berpisah, kami berpelukan. Kulihat tangan Doni menyelipkan amplop ke saku celana Agus. Sahabat Doni itu langsung menyadari ada sesuatu yang masuk ke sakunya.


“Apa ini, Don?” tanya Agus sambil merogoh sakunya.


Doni memegang erat tangan Agus. Ia mencegah Agus mengeluarkan amplop yang baru ia masukkan.


“Untuk berobat ibu. Jangan kau tolak! Atau, kamu jangan anggap aku saudara!” ancam Doni.


“Ya sudah. Kamu memang selalu baik kepadaku. Terima kasih, Don,” ucap Agus pasrah.


Aku semakin kagum terhadap Doni. Ternyata hatinya begitu lembut, penuh kasih sayang.


Pukul 13.05 pesawat take off. Aku menarik nafas lega. Sekitar 3 jam lagi aku bisa


menginjakkan kembali di tanah kelahiranku. Aku akan kembali berkumpul bersama


keluargaku.


Aku mengucapkan selamat tinggal kepada bumi Sumatera Utara. Suatu saat, aku ingin berkunjung


lagi meski di sana aku mengalami peristiwa teramat pahit yang hampir merenggut


nyawaku. Namun, di sana juga aku mendapat pelajaran berharga dari keluarga


sederhana Agus.


***


Bersambung


Terima kasih atas dukungan Kakak yang membuatku tetap bersemangat. Mohon tetap dukung aku dengan klik like, rate 5, tinggalkan komet, juga vote.

__ADS_1


__ADS_2