
Mereka tidak beranjak dari sajadah hingga azan subuh berkumandang.
"Mas Farhan mau ke masjid? Agak jauh dari sini. Kalau musala sekitar 300 meter."
"Kali ini Mas jadi imam kamu, ya. Mas belum yakin situasinya benar-benar aman."
Via mengangguk. Ia sendiri belum tenang.
Seusai salat sunah, mereka mendirikan salat subuh berjamaah. Ini adalah kali pertama Via makmum kepada Farhan.
Setelah selesai, Via membereskan mukenanya. Ia akan memasak untuk sarapan.
"Ada pesan dari Mas Edi. Mereka sedang bergerak. Pak Beno sudah datang," kata Farhan sambil memandangi layar ponselnya.
"O ya? Ada kabar apa lagi?" Via penasaran.
"Belum ada. Mungkin saat ini Mas Edi sedang fokus dalam misi penyelamatan Mira dan penangkapan Pak Beno."
Via mengurungkan niatnya ke dapur. Ia duduk di sofa di depan Farhan. Mereka diam dalam suasana tegang. Mata mereka menatap benda persegi pipih milik Farhan.
Semenit, lima menit, sepuluh menit telah berlalu. Namun, belum ada notifikasi apa pun di ponsel milik Farhan.
Via mengambil nafas panjang untuk meredakan kegundahan hatinya.
Flashback off
Via dan Farhan sangat tegang menanti kabar dari Edi. Meski sudah ada polisi di sana, mereka tetap mengkhawatirkan keselamatan Mira.
Mata Via melotot saat melihat ponsel Farhan menyala. Secepat kilat Farhan menyambar ponselnya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah lancar. Tolong ke kantor polisi. Bawa baju ganti untuk Mira. Nanti saya share lokasi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Farhan sambil tersenyum.
"Bagaimana, Mas?" tanya Via tak sabar.
"Alhamdulillah lancar. Saat ini mereka dalam perjalanan ke kantor polisi. Untuk lebih jelasnya, kita tanya Mas Edi secara langsung."
"Kita susul ke sana, Mas."
"Iya, sekalian bawakan baju buat Mira. Mandilah dulu! Eh, Mas nggak bawa baju ganti. Jam segini mana ada toko baju yang buka."
"Ada."
"Di mana?" tanya Farhan heran.
"Di bawah. Gak tahu ada yang sesuai dengan selera Mas Farhan apa enggak. Kalau mau, pilih aja sendiri. Via mau mandi dulu."
Farhan tersenyum. Ia lupa kalau istrinya berjualan pakaian. Ia turun ke lantai 1 mencari pakaian yang cocok untuknya.
"Eh, ada pakaian dalam juga ternyata," gumam Farhan sambil melihat nomor yang tertera.
__ADS_1
Setelah menemukan baju yang sesuai, Farhan kembali ke atas. Ia menelepon Azka untuk memberi tahu yang terjadi.
Baru saja Farhan selesai berbicara lewat telepon, Via memanggilnya.
"Mas, ini sikat gigi Via bisa dipakai. Tenang, masih baru."
Farhan menerimanya. Aroma sabun dari tubuh Via menggoda Farhan untuk mendekat.
"Cup!" Sebuah kecupan mesra mendarat di kening Via. Meski tidak lebih dari 5 detik, hal itu cukup membuat Via merona dan berdebar-debar.
Setelah mengecup Via, Farhan dengan santai masuk ke kamar mandi. Sambil mandi, ia senyum-senyum sendiri mengingat yang barusan ia lakukan.
Sementara Via bergegas mengambil pakaian untuk Mira sambil menenangkan hatinya.
"Assalamualaikum," terdengar suara orang mengucap salam diikuti suara langkah kaki ke lantai 2.
"Ratna? Pulang sama siapa?" tanya Via begitu melihat sahabatnya datang.
"Sopir taksi. Kamu lagi ngapain? Kok bawa baju Mbak Mira? Itu ada mobil di depan, mobil siapa?"
"Mau nganterin baju buat Mbak Mira. Itu Mas Farhan. Sekarang orangnya lagi mandi. Kamu mau ikut, nggak?"
"Ke mana?"
"Kantor polisi. Semalam Mbak Mira diculik."
"Apa? Diculik? Kamu becandanya jangan keterlaluan, dong!"
Ratna menurut. Ia segera mandi dan bersiap ikut Via.
Via duduk di jok belakang bersama Ratna. Dalam perjalanan Via menceritakan apa yang terjadi hingga Mira diculik.
"Sebenarnya target mereka itu aku. Waktu itu, aku sudah hampir keluar membukakan pintu. Aku pikir kamu kembali dan lupa bawa kunci. Saat aku pakai jilbab mau keluar kamar, Mas Farhan menelponku dan meminta agar aku tidak keluar apa pun yang terjadi. Saat itulah Mbak Mira keluar lalu dibawa penculik. Aku tetap di dalam kamar sampai Mas Farhan datang," kata Via mengakhiri ceritanya.
Ratna berkaca-kaca. Ia tidak mengira Om Beno ternyata jahat.
"Pantesan, dia sering bertanya tentang kebiasaanmu, kepulangan kita juga," desis Ratna.
"Perlu kamu ketahui juga Rat, orang yang meneror kita dengan paket kiriman adalah suruhan om kamu. Demikian pula dengan otak di balik kecelakaan yang kedua, yang membuat Doni patah tulang. Om Beno-lah pelakunya."
Ratna terlonjak kaget. Ia menatap lekat wajah Via mencari kejujuran atas yang baru terucap dari mulut Via.
"Kamu mungkin nggak percaya. Itu sebabnya ketika Doni memberi tahu soal itu, aku nggak cerita ke kamu. Doni juga kusuruh tutup mulut soal om kamu itu."
"Waktu di kafe? Kenapa aku nggak tahu?"
"Iya. Waktu Doni ngasih tahu soal Om Beno pelakunya, kamu sedang di kamar mandi gara-gara diare. Masih ingat, kan?"
Ratna mengangguk. Tak terasa air mata mulai meleleh di pipinya.
"Maafkan aku, Vi. Aku nggak tahu kalau Om Beno seperti itu."
"Kamu nggak salah, Rat. Oh iya, bagaimana tantemu? Parahkah?"
__ADS_1
Ratna menggeleng lalu menjawab, "Cuma lecet sedikit. Entahlah, apa tante beneran kecelakaan atau sandiwara, aku nggak tahu."
Via merangkul bahu Ratna. Diusapnya agar teman karibnya itu merasa tenang.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di kantor polisi. Baru saja turun dari mobil, Edi sudah menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Non Via, Mas Farhan, dan Mbak ...."
"Ratna," sahut Farhan, "Ini Mas Edi, Dek. Dialah yang mengawasi keadaan di ruko selam beberapa bulan terakhir."
Via menangkupkan tangan di depan dada sambil mengangguk dan tersenyum ramah. Ratna mengikuti yang dilakukan Via.
"Mari. Kasihan Mbak Mira menunggu lama. Dia masih shock. Mungkin Non Via dan Mbak Ratna bisa membuatnya tenang," kata Edi.
Baru saja mereka sampai di depan ruang pemeriksaan, Mira berlari mendekat. Ia menghambur ke pelukan Ratna dan menangis.
"Rat, Om Be--no keter--la--luan," isaknya.
Ratna memeluk erat sepupunya. Tangisnya pun tak bisa ditahan.
"Sudah, sudah, duduk dulu, yuk!" ajak Via.
Via membimbing keduanya duduk di bangku panjang.
"Mbak Mira dan Ratna, kita tidak menduga hal ini terjadi. Biarlah ini jadi pembelajaran bagi kita. Semua sudah digariskan oleh Allah. Kita harus menerima dengan lapang dada. Seburuk apa pun, Om Beno tetap om kalian. Terutama Ratna."
"Aku takut. Aku diikat oleh mereka. Bahkan, Om Beno tega melingkarkan pisau ke leherku. Salah langkah sedikit saja, urat leherku bisa putus. Sungguh menyeramkan," Mira kembali terisak.
Ratna dan Via memeluk gadis itu.
"Tenanglah, Mbak. Sekarang Mbak Mira sudah aman. Mbak Mira nggak usah takut karena mereka sudah ditangani polisi," ujar Via.
"Kalau ada komplotan yang lain?" Mira masih khawatir.
"Kami terus menjaga ruko, Mbak," sahut Edi.
"O ya, itu Mas Edi. Dia akan mengawasi kita, menjaga keselamatan kita."
Mira menatap Edi sekilas. Ia ingat kalau lelaki itu yang menggertak Om Beno.
"Sekarang, Mbak Mira bersihkan diri dulu. Aku sudah bawakan baju ganti dan peralatan mandi, kok."
"Pembalut?" bisik Mira.
Via mengangguk.
***
**Bersambung
Tetap dukung author, ya. Author siap dukung balik authors lain yang meninggalkan jejak koment.
Spesial buat yang kasih vote, author mengucapkan banyak terima kasih teriring doa barakallahu fiikum**.
__ADS_1