SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Misi Berlanjut


__ADS_3

Obrolan mereka terhenti. Dari luar kamar, terdengar ketukan pintu diiring salam. Meli segera membuka pintu kamar sambil menjawab salam.


“Maaf, Bunda ganggu nggak? Ini Zayn bangun, nyari bundanya,” kata Bu Aisyah.


“Enggak, kok. Mari masuk saja, Bunda,” sahut Meli. Ia menggeser posisi berdirinya, memberi ruang untuk Bu Aisyah masuk ke kamar.


“Eh, Sayang. Cari Bunda, ya?”  ucap Via sambil mengulurkan tangan.


Dalam sekejap, Zayn dalam rengkuhan Via. Ia menikmati ASI dari bundanya. Anjani dan Meli menatap Baby Zayn gemas.


“Ini anakmu, Via? Lucu banget,” kata Anjani.


“Iya. Alhamdulillah, sekarang dia sudah bisa dikatakan sama dengan beyi seusianya. Dulu dia lahir prematur,” jelas Via.


Anjani dan Meli terus menatap Baby Zayn. Sesekali senyum merekah tanpa mereka sadari.


“Kalian nggak ingin punya anak lucu begini?” pancing Via.


Anjani dan Meli saling tatap. Mereka tertawa dengan pipi kemerahan.


“Anjani tuh yang sudah siap. Kalau dia mau, Mario pasti dengan senang hati melamar lagi,” celetuk Meli.


“Memang Meli belum ada calon?” Bu Aisyah ikut bertanya.


“Emm, be—belum. Mana ada cowok yang mau sama Meli?” kata Meli sambil menunduk.


Bu Aisyah menoleh ke Via. Ia memberi kode dengan kedipan matanya.


“Memang cowok idaman kamu seperti apa, sih?” Via kembali memancing.


“Ah, yang standar saja,” jawab Meli malu-malu.


“Standar itu bagaimana?” kejar Via.


“Maksudku yang seiman, bisa menjadi imam yang membimbing aku menjadi lebih baik lagi, bertanggung jawab. Pokoknya gitu, deh,” jawab Meli masih dengan sikap yang sama.


“Kalau ada yang seperti itu melamarmu, apa siap menerima?”  Kali ini Bu Aisyah ambil bagian.


Meli tampak kebingungan. Ia menatap Anjani meminta bantuan. Temannya justru hanya mengangkat bahu sambil tersenyum.


“Gimana, Meli? Siap nggak? Tuh ditanya Bunda. Siapa tahu Bunda punya calon untuk kamu,” desak Via.


“Aaah, bagaimana, ya? Meli bingung. Memangnya ada yang mau sama Meli?” ujar Meli sambil menggosok telapak tangan untuk menyembunyikan kegugupannya.


“Kamu sendiri siap nggak kalau enikah muda seperti Via?” tanya Bu Aisyah.


Meli kembali terdiam. Pertanyaan Bu Aisyah membuatnya dilema, seperti menghadapi buah simalakama.


“Menikah itu menyempurnakan agama seseorang seseorang.  Ada hadis yang mengatakan hal tersebut di antaranya  dari Al-Ghazali. Maknanya bahwa menikah itu akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk hal yang mendapatkan jaminan dari Rasululah dengan surga,” papar Bu Aisyah.


“Kalau pacaran yang islami itu seperti apa, Bun?” tanya Meli spontan.


Bu Aisyah tersenyum. Ia menatap Meli dengan tatapan lembut.


“Definisi pacaran itu bagaimana?” tanya Bu Aisyah balik.


“Ya proses pranikah untuk mengenal calon suami atau calon istri. Kan kita nggak mau menikahi orang yang belum kita kenal,” jawab Meli.


“Kalau sebatas saling mengenal orang dan karakternya, dalam Islam ada taaruf. Tapi, kalau pacaran yang biasa dilakukan remaja bahkan yang sudah dewasa cenderung tidak sebatas kenalan. Biasanya orang pacaran melakukan aktivitas jalan berdua, kencan, begitu kan?”


“Memang nggak boleh sekadar jalan berdua?” Tanya Meli lagi.


“Kalau jalan berdua untuk bersenang-senang karena berduaannya itu, tentu nggak boleh. Nanti cenderung akan bergandengan tangan, kadang memeluk juga. Padahal itu kan nggak boleh. Itu sebabnya, pacaran model sekarang dikategorikan mendekati zina,” terang Bu Aisyah.

__ADS_1


Meli mengangguk-angguk. Ia seperti sedang  mengikuti pengajian dengan gaya santai.


“Kalau taaruf itu kan juga proses pranikah. Apa bedanya dengan pacaran?”  Meli kembali bertanya.


“Dalam taaruf mengenal calon pasangan itu tidak berduaan. Ada yang menemani. Jadi, kecil kemungkinan terjerumus zina,” jawab Bu Aisyah.


Via dan Anjani senyum-senyum mendengarkan kedua orang beda generasi itu berdialog. Tak lama kemudian, Via menyadari kalau Zayn telah kembali terlelap.


“Anjani, Meli, aku ke kamar dulu, ya. Besok kita lanjutkan lagi,” pamit Via.


“Bunda juga. Kalian istirahatlah! Tentu lelah seharian duduk di kereta. Assalamualaikum,” ucap Bu Aisyah.


“Waalaikumsalam,” jawab Anjani dan Meli serempak.


Meli dan Anjani megantar kedunya sampai depan pintu. Saat itu, Farhan tengah melintas. Pria itu berhenti di depan Via dan mengambil Zayn dari pelukan bundanya.


“Sini Ayah saja yang gendong Zayn. Dia sudah mulai berat,” ucapnya sambil menatap Via dengan tatapan penuh cinta.


Rupanya, Meli memperhatikan itu. Mendadak jiwa jomblonya meronta. Ia segera masuk kamar.


Anjani heran melihat tingkah sahabatnya. Meli tampak meronasambil memegang dadanya.


“Kamu kenapa, Meli?”


“Kamu nggak lihat bagaimana sikap Mas Farhan tadi? Oh, begitu indah tatapannya ke Via. Aku jadi pe....” ucapan Meli terjeda.


“Maksud kamu?” Anjani makin bingung.


“Ah, enggak.” Meli tampak tersipu.


Anjni menautkan keningnya. Namun, sesaat berikutnya senyum merekah di bibir Anjani.


“Maksudmu, kamu ingin seperti Via, begitu?” tebak Anjani.


“Sudahlah, kelihatan kok dari sikap kamu. Wajar kalau kamu baper lihat kemesraan Via dan Mas Farhan. Kamu sudah pantas seperti Via, kok,” kata Anjani.


“Maksud kamu?” Meli pura-pura tak paham.


“Maksud aku tentu saja kamu sudah pantas menikah, menjadi sosok istri. Begitu,” jawab Anjani gemas.


“Ah, aku  masih ingin melanjutkan kuliah. Kamu juga begitu, kan?”


“Kalau suamimu ikhlas, kamu kan bisa tetap lanjut kuliah. Via contohnya,” jawab Anjani.


Meli mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


“Kamu sendiri kenapa nggak menikah dengan Kak Mario?”


“Memangnya dia melamar aku?” Anjani  balik bertanya dengan pipi merona.


“Berarti kalau dia melamarmu, kamu siap menerima?” cecar Meli.


“Tau ah. Aku mau tidur, capek,” jawab Anjani sembari berjalan menuju kamar mandi.


Meli terkekeh melihat reaksi Anjani. Ia sendiri teringat ucapan Bu Aisyah.  Ia membayangkan Azka datang ke Jember bersama keluarganya untuk melamar dirinya. Senyum pun merekah di bibir yang  tak dipoles lipstik itu.


***


Keesokan harinya, dapur Bu Aisyah tak sesepi biasanya. Empat perempuan cantik tengah memasak untuk keperluan sarapan.


“Via, kamu kalau di rumah sendiri masak juga?” tanya Anjani.


“Sejak hamil Zayn, aku jarang masak. Bahkan, waktu hamil aku nggak boleh masak. Mas Farhan melarangku. Dia takut aku kecapekan,” jawab Via sambil mengulek bumbu.

__ADS_1


“Mas Farhan romantis, ya? Seneng pastinya punya suami romantis, penuh perhatian,” celetuk Meli.


Ketiga orang lainnya menoleh ke Meli. Mereka melihat Meli yang menunduk melihat sayuran yang ia potong sambil senyum-senyum sendiri.


“Kamu lagi membayangkan suamimu seperti Mas Farhan, ya?” tanya Anjani.


Via dan Bu Aisyah tertawa mendengar pertanyaan Anjani. Muka Meli sendiri menjadi seperti tomat matang.


“Ish, apaan,” desis Meli.


“Semoga kalian mendapat jodoh yang baik, penyayang, dan perhatian,” ucap Via.


“Aamiin,” sahut Meli dan Anjani serentak.


“Anjani dan Meli sudah ada calon?” tanya Bu Aisyah.


“Be—belum,” jawab Anjani sedikit gugup.


Meli melotot ke Anjani.


“Kak Mario dikemanain?” bisik Meli.


Anjani balas memelototi Meli.


“Oh, Anjani sudah punya calon. Meli juga?” tanya Bu Aisyah.


“Belum, Bun,” jawab Meli cepat.


"Bukannya Bunda semalam sudah nanyain soal ini? Kok nanya-nanya terus soal calon, ya? Jangan-jangan lagi cari menantu buat Mas Azka. Haish, mikir apa aku ini," batin Meli.


“Tapi, dia tertarik sama cowok yang nolong dia waktu kehilangan dompet beberapa waktu lalu. Katanya cowok itu kayak tokoh hero ....” kalimat Anjani belum selesai karena ia dikejutkan potongan wortel yang mendarat di kepalanya.


Meli menatap Anjani dengan tatapan membunuh. Anjani hanya mengangkat bahu lalu berdiri ke wastafel.


Sementara, Via dan Bu Aisyah saling lirik. Keduanya melempar senyum penuh makna.


“Kayaknya heboh banget. Ada yang bisa Azka bantu?” Azka bertanya dari pintu dapur.


Semua menoleh ke pintu. Wajah Meli tampak memerah.,Kemudian, ia menunduk.


“Kali ini Bunda mendapat bantuan dari para bidadari. Tenagamu tidak dibutuhkan di sini. Kamu bersihkan halaman saja!” sahut Bu Aisyah.


Azka tampak enggan meninggalkan ruangan itu. Namun, ia tak mungkin tetap di situ setelah mendapat penolakan dari bundanya.


“Kayaknya modus tuh anak,” gumam Bu Aisyah.


“Modus bagaimana, Bun?” tanya Via.


“Ada cewek cantik di sini, makanya mau bantuin. Dia bantu Bunda di dapur kan pakai mood,” jawab Bu Aisyah.


Via dan Anjani tertawa mendengarnya. Tapi, tidak dengan Meli. Gadis itu malah terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang tengah bergejolak di dadanya.


***


Bersambung


Bagaimana kisah Azka-Meli selanjutnya? Ikuti terus karya receh ini, ya! Jangan lupa tinggalkan like dan komentar! O ya, yang belum tahu sosok Anjani dan Meli, baca novel karya Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1!



Baca juga novel yang berlatar Jawa, yang bisa bikin jomblo baper 🤭


__ADS_1


__ADS_2