
Farhan merasa bersalah. Batinnya seperti diiris melihat istrinya terluka karena kebodohannya.
"Maafkan, Mas. Karena Mas bodoh, Mas berprasangka buruk kepadamu. Mas cemburu melihat kalian berdua. Kecemburuan Mas membutakan mata hatiku sehingga tidak bisa berpikir jernih. Mas terima kalau Dek Via mau menghukumku. Lakukanlah, asal bisa menghapus sakit hatimu," kata Farhan sambil berlutut di hadapan Via.
Via kaget mengetahui suaminya berlutut. Ia segera menarik tangan Farhan.
"Tidak pantas Mas berlutut begitu. Duduklah!" kata Via lembut. Ia menyusut air matanya.
Farhan bangkit dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Dihapusnya air mata Via yang masih tersisa di dekat mata.
"Apa yang harus Mas lakukan agar bisa menghapus lukamu? Mas dihantui rasa bersalah karena telah menyakiti hati istri Mas sendiri," bisik Farhan.
"Berjanjilah agar Mas tidak lagi berprasangka buruk. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik."
"Insya Allah Mas tidak akan mengulangi kesalahan Mas."
Via menatap mata lelaki yang telah resmi menjadi suaminya. Ia menangkap kejujuran dan ketulusan di sana.
"Terima kasih," ucap Via lirih.
"Jangan berterima kasih kepadaku! Aku sudah bersalah. Aku pantas dihukum."
Via tersenyum lembut, "Dengan menyadari kesalahanmu dan tidak mengulangi lagi itu sudah cukup."
Farhan merasa lega. Begitu bahagianya, ia tak sadar memeluk Via, mendekap erat di dadanya.
"Mas, ini tempat umum. Meskipun kita sudah menikah, tak baik mengumbar kemesraan di depan orang. Aku juga malu," bisik Via sambil meronta.
Frhan segera melepaskan pelukannya. Ia melihat pipi Via merona merah.
"Maaf, aku lepas kontrol. Aku sangat bahagia."
Via hanya mengangguk. Wajahnya masih disembunyikan.
"Dek, kita memang masih harus banyak belajar saling memahami. Sambil belajar, aku ingin kau jadikan sandaran. Saat kau ada masalah, aku ingin jadi orang pertama yang mengetahuinya, yang membantumu menyelesaikannya. Bolehkah?" pinta Farhan.
Lagi-lagi Via hanya mengangguk. Kali ini ia sudah berani menatap Farhan.
"Sudah siang. Pulang, yuk! Tapi, aku ingin makan bersamamu dulu. Mau?" ajak Farhan.
"Boleh," jawab Via.
Mereka berjalan menuju tempat parkir. Sesampai di sana, Farhan membuka jok dan mengambil bungkusan plastik.
"Duduklah!" perintah Farhan.
Via menurut, duduk di atas jok motor. Ia kaget karena Farhan jongkok di depannya, melepas kaos kaki Via yang basah.
"Mas ...," pekik Via tertahan.
"Diamlah! Aku tahu, kau pasti main-main air. Makanya aku siapkan kaos kaki. Kalau tidak segera ganti, nanti kamu masuk angin," kata Farhan sambil memakaikan kaos kaki baru.
Via malu sekaligus terharu. Ia bingung apa yang seharusnya dilakukan. Maka, ia hanya diam membiarkan Farhan mengganti kaos kakinya.
"Sudah selesai. Yuk, makan siang!"
Farhan menstater motor dan melajukannya ke sebuah restoran.
"Kita mau makan di sini?"
__ADS_1
"Iya. Kenapa?"
"Ini kan restoran mewah," desis Via.
"Tenang, uangku masih cukup, kok."
Sudah lama Via tidak makan di restoran mewah. Dulu, ketika kedua orang tuanya masih hidup, makan di restoran mewah adalah hal biasa. Saat weekend, mereka sering makan di tempat seperti itu.
Via memilih menu yang harganya termasuk murah. Ia tidak ingin suaminya menghabiskan uang untuk sekadar makan.
"Besok lagi, nggak usah makan di tempat yang mahal kayak gini. Jangan menghamburkan uang," bisik Via.
"Sesekali nggak apa-apa. Untuk perempuan istimewa, apa pun kuberikan. Ini sekaligus untuk menebus kesalahanku kemarin," jawab Farhan juga dengan berbisik.
"Besok lagi, jangan boros! Gunakan uang dengan bijak."
"Iya. Sesekali boleh dong, kencan sama pujaan hati."
Blush.... Rona merah dengan cepat menghias pipi Via.
"Via boleh nanya, nggak?"
"Masa nggak boleh? Tanya apa, sih?"
"Kenapa Mas Farhan naik motor punya Mas Azka?"
"Memang kenapa? Dek Via malu?"
"Malu?" Mata Via melotot.
Farhan segera menyadari kesalahannya. Via tentu sedang merasa dituduh sebagai cewek matre.
Via menggeleng. Ia berkata lirih, "Toh orang yang mengenal aku dan Mas menganggap Mas Farhan kakakku. Asal nggak terlalu sering, tentu mereka nggak akan curiga."
Farhan tersenyum lega. Ia sempat khawatir kalau Via tersinggung.
"Sebenarnya, ada alasan khusus kenapa aku pakai motor."
"Apa itu?" Via penasaran.
"Yang pertama, aku sekarang ke kantor pakai motor agar tidak mencolok dan bisa ke mana-mana lebih leluasa. Khusus hari ini, aku sengaja pakai motor karena ingin suasana romantis. Makanya, aku tadi minta Dek Via memeluk pinggangku."
"Tuh, modus kan?" tuduh Via dengan pipi kembali kemerahan.
Farhan hanya tertawa kecil.
Tak lama menu pesanan mereka telah tersaji.
"Makan, yuk! Apa aku suapi?" Farhan bertanya sambil mengedipkan matanya.
"Ish, ini tempat umum. Tidak boleh mengumbar kemesraan!" ucap Via dengan penekanan.
"Oke. Kapan Dek Via pulang? Biar kita bisa bermesraan di ruang pribadi."
"Maunya!" Via memasang wajah cemberut. Farhan tertawa melihat ekspresi Via.
"Habis makan, Dek Via ingin ke mana? Mas siap antar ke mana saja."
"Pulang saja, Mas."
__ADS_1
"Beneran pulang? Bukannya tadi mau belanja?"
Mendadak Via seperti tersengat listrik.
"Masya Allah! Via lupa. Pasti Ratna dan Mbak Mira cemas karena Via belum kembali."
Via segera mengambil ponselnya dan membuka kunci layar. Benar saja, ada lima panggilan tak terjawab dan dua pesan dari Ratna.
Ia segera membuka pesan Ratna.
Ratna
[Vi, kamu ke mana? Kok belum pulang?]
[Kamu nggak diculik, kan? Tolong angkat telepon, dong!]
Via tersenyum. Ia segera mengetik pesan untuk Ratna.
[ Maaf, Rat. Tadi ada Mas Farhan. Aku ada urusan penting. Aku baik-baik saja.]
Via mengembalikan ponsel ke dalam tas. Kemudian, ia menghabiskan minuman yang masih tersisa setengah gelas.
"Sudah? Mau pergi sekarang?" tanya Farhan.
Via mengangguk. Farhan pun segera menyelesaikan pembayaran. Lalu, ia menggandeng tangan Via keluar.
Mereka menuju sebuah supermarket. Sesampai di sana, Farhan yang mengambil dan mendorong troli. Via mengambil barang-barang yang ia butuhkan.
"Kalian masak nggak untuk makan sehari-hari?"
"Iya. Kenapa?"
"Sekalian beli untuk kebutuhan sehari-hari."
Farhan mengambil barang-barang kebutuhan pokok. Dalam sekejap, troli sudah penuh. Via hanya menggengkan kepala.
"Apa lagi?" tanya Farhan.
"Kita ke sana," ajak Via.
Sesampai tempat yang dimaksud, Via mengambil tiga bungkus pembalut. Lagi-lagi pipinya merona merah. Farhan senang sekali melihat Via yang sedang dilanda rasa malu.
"Kan Mas jadi tahu yang biasa kamu pakai. Siapa tahu Mas harus membelikan," ucap Farhan santai.
"Sudah, ah. Pulang, yuk!"
"Lho, belanjaan ini ya harus dibayar dulu, baru pulang," kata Farhan. Ia mendorong troli ke kasir.
"Ssstt, simpan uangmu," bisik Farhan saat Via mengambil dompet.
Via akan protes. Namun, jari telunjuk Farhan sudah menempel di bibirnya.
"Sini, yang satu biar Via bawa," pinta Via. Ia merasa tidak enak karena Farhan membawa belanjaannya yang cukup banyak.
"Tak usah. Mas masih kuat, kok. Ni beneran pulang ke ruko sekarang? Dek Via nggak mau beli baju atau sepatu?"
"Enggak, Mas. Masih banyak, kok."
Akhirnya, mereka keluar menuju tempat parkir motor.
__ADS_1