
Selesai menutup pembicaraan dan memasukkan ponselnya, lelaki itu masuk rumah sambil melepas penutup kepalanya.
"Kenapa kau lepas penutup kepalamu, To?" tanya lelaki berbadan kekar sambil meletakkan cangkir kopinya.
"Gerah. Memangnya gadis itu sudah siuman?"
"Belum, sih. Bagaimana kalau gadis itu saja yang kita tutup mukanya?" usul yang lain.
"Aku setuju usul Aryo. Nutupnya pakai kain apa?" tanya lelaki yang dipanggil To.
"Cukup mata dan mulutnya yang kita tutup biar dia nggak bisa lihat kita dan juga nggak bisa teriak. Tinggal cari kain, beres," ujar lelaki berbadan kekar.
"Bukankah kamu sudah menempati rumah ini sejak seminggu yang lalu, Sas? Kamu harusnya paham di mana kita bisa dapatkan kain itu," celetuk Aryo.
"Iya, aku coba nyari. Kayaknya ada kain yang biasa dipakai anak sekolah," sahut Sas seraya berdiri. Ia lalu masuk ke kamar.
Tak lama kemudian lelaki itu membawa 2 helai kain berwarna merah dan putih serta tali Pramuka. Ia memberikan kepada Aryo.
"Tutup mata dan mulutnya, Yo. Tangannya diikat pakai tali Pramuka, ya!" perintah Sas.
Aryo menerima kain dan tali dari Sas lalu mengikat tangan, menutup mata dan mulut gadis yang masih dalam pengaruh obat bius.
"Bos ke sini kapan, To?" tanya Aryo.
"Bilangnya jam 4 dari sana. Kenapa? Kita bisa istirahat dulu. Toh tu cewek belum sadar," jawab To santai.
"Jangan gegabah! Bukankah bos sudah mengingatkan kalau tu cewek otaknya cerdas. Kita berjaga saja. Jangan sampai uang jutaan rupiah melayang gara-gara teledor!" sanggah Sas.
"Iya. Tapi kenapa kamu bikin kopi cuma satu?" To protes.
"Sana ke dapur, bikin sendiri! Mi instan dan telur juga ada."
Dengan malas To pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa semangkok mi dan secangkir kopi.
"Kamu balas dendam, To? Masa bikin mi cuma satu?" gerutu Sas.
"Enggak, kok. Di dapur masih ada. Aku masak 4 bungkus tadi. Sana, ambil sendiri di panci!"
Mereka bertiga menikmati mi instan rebus dan kopi hitam. Meski hanya makanan sederhana, setidaknya itu bisa membuat mereka terjaga.
Aroma mi instan menusuk hidung membuat kesadaran sosok wanita yang terikat tangannya mulai bangkit. Ia menggeliat dan mencoba melepaskan ikatan tali di tangannya.
"Sstt...dia mulai sadar," bisik Sas.
"Biarkan saja. Toh dia tidak bisa ke mana-mana. Dia juga tidak akan mengenali kita," sahut To dengan suara pelan.
"Dan dia tidak bisa teriak minta tolong," sambung Aryo.
Tanpa diduga, gadis yang tengah mereka perbincangkan mencoba bangkit dan berjalan terhuyung-huyung.
"Hei, mau ke mana? Duduk kembali, Nona!"
__ADS_1
"Uh...uh...."
"Makanya, menurutlah! Kami nggak akan nyakiti Nona kalau Nona tidak berulah," kata Sas.
To bangkit dari duduknya dan menyeret gadis yang masih tampak lemas untuk kembali duduk.
"Apa perlu kita ikat badannya?" bisik Aryo.
To hanya menggelengkan kepala.
"Dengar, Nona. Kamu tidak bisa bicara juga melihat. Bagaimana kamu mau kabur? Yang ada kamu nyungsep, hahaha," kata To.
"Uh...uh...emh...."
"Sudahlah, semakin kamu mencoba melepaskan ikatan di tanganmu, justru tanganmu semakin sakit. Ikatan itu sangat kuat. Tunggulah sebentar lagi. Kalau bos datang, mungkin kamu bisa dibebaskan dengan syarat," lanjut To.
Ketika semburat merah mulai menghiasi ufuk timur, sebuah mobil berwarna silver metalik memasuki halaman rumah. Seorang lelaki dengan perut agak buncit dan kepala botak turun dari mobil itu diikuti 2 lelaki berbadan kekar.
"Selamat datang, Bos," ucap To begitu pintu terbuka.
"Mana gadis itu?"
To menunjuk ke arah gadis yang terikat.
"Hhmmm, bagus! Dia tidak kalian apa-apakan, kan?"
"Utuh, Bos. Gadis itu cantik, sih. Tapi nggak seksi. Malem-malem aja pakai kerudung. Jelas bukan selera kami," sahut Sas cengengesan.
"Hallo Arman. Kamu masih mengenaliku?" tanya lelaki itu begitu telepon tersabung.
"Tunggu! Apa ini Tuan Beno?" terdengar suara dari seberang.
"Hahaha, ingatanmu bagus juga. Aku memang majikanmu. Ah, tepatnya mantan majikanmu."
"Ada apa pagi buta begini menelponku?"
"Aku suka pertanyaanmu. Aku punya tawaran menarik. Saat ini anak Wirawan ada di tanganku."
"Maksudmu Mbak Via?"
"Memang anak Wirawan ada berapa? Ya Via, siapa lagi?" gerutu Beno.
"Tuan, masalahmu denganku. Lepaskan Mbak Via. Dia tidak bersalah."
"Dia salah karena terlahir sebagai anak Wirawan, orang yang sangat kubenci. Aku benci orang yang menolong pengkhianat."
"Aku yang bersalah kepadamu. Kenapa Tuan melampiaskan kepada keluarga almarhum Pak Wirawan?"
"Tentu kau akan merasakan akibatnya. Tunggu saja sebentar lagi."
"Apa maumu? Aku minta lepaskan Mbak Via."
__ADS_1
"Ah, tidak enak bicara lewat telepon. Bagaimana kalau kita ketemu nanti sambil minum kopi."
"Jangan bertele-tele! Katakan cepat! Di mana Mbak Via? Awas kalau sampai terluka!"
"Hey, kamu bisa mengancam juga. Ikuti permainanku atau ...."
"Brakkkk...." Terdengar pintu ditendang dari luar. Orang-orang yang ada di dalam rumah terkejut.
"Angkat tangan! Kalian terkepung!" Seorang berpakaian seragam berwarna coklat membentak sambil menodongkan pistol.
Beno meloncat menjauh. Ia menarik gadis tawanannya untuk dijadikan tameng.
"Kenapa kalian sampai bisa ketahuan menculik Via? B*d*h!" desis Beno.
"Tidak usah melawan, Tuan. Percuma!" seru seorang polisi.
"Kalian kira aku lemah, menyerah begitu saja? Kalau kalian berani mendekat, gadis ini aku habisi. Minggir!" Beno ganti membentak.
Salah satu polisi memberi isyarat agar orang-orangnya memberi jalan untuk Beno.
"Kalian bersiap di mobil! Aku jadikan gadis ini untuk melindungi kita," bisik Beno kepada anak buahnya.
Beno beserta lima lelaki lain keluar sambil menyeret gadis yang masih tertutup mata dan mulutnya serta tangannya terikat. Baru saja Beno keluar, seorang lelaki berpakaian preman berjalan santai mendekati Beno.
"Jangan berani mendekat! Atau gadis ini aku habisi!" Beno membentak lagi sambil mempertahankan posisi pisau lipatnya.
"Kamu tega menghabisinya?"
"Kenapa tidak? Dia anak orang yang kubenci."
"Coba kamu perhatikan! Apa benar kamu tega membunuhnya? Kalau dia majikanku, aku tentu akan melakukan apa saja kalau gadis itu terancam. Bagaimana kalau dia keluargamu?" Suara lelaki itu terdengar mengejek.
"Apa maksudmu?" Beno kebingungan. Namun, ia tetap dalam posisi waspada.
"Buka saja kain yang menutupi wajahnya agar kamu tahu!"
Lelaki yang ternyata Edi tertawa sinis.
Meski marah, Beno menuruti kata-kata orang itu. Ia membuka kain yang menutup mata dan mulut gadis yang ia jadikan sandera.
"Bagaimana, apa kamu tega membunuhnya?"
"Mira?" pekik Beno kaget.
Beno terperangah karena ternyata gadis yang diculik bukan Via, melainkan Mira. Saat itulah seorang polisi bergerak cepat memukul tengkuk Beno hingga lelaki itu terjatuh dan pisau lipat di tangannya terlepas.
Begitu tahu lepas dari cengkeraman orang yang masih saudaranya, Mira berlari menjauh. Ia berlindung di balik salah seorang petugas.
****
Bersambung
__ADS_1