SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ke Panti


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Edi baru saja memasuki parkir Wijaya Kusuma. Farhan turun terlebih dahulu dan menunggu Via turun.


Mereka berjalan bersama memasuki gedung. Karyawan yang berpapasan selalu mengangguk, memberi hormat sambil memberi salam. Farhan dan Via membalas salam mereka dengan bonus senyuman.


Di ruang Presdir Wijaya Kusuma, Farhan segera menyiapkan alat tempurnya. Laptop ia keluarkan lalu dihidupkan. Sementara Via membantu menata dokumen yang dibutuhkan.


Setiap Farhan mengerjakan sesuatu, Via hampir selalu di sampingnya. Bukan karena ia tidak mau berjauhan dengan sang suami. Ia mencermati yang Farhan lakukan. Itu karena dia harus menggantikan posisi Farhan dalam waktu dekat. Eyang Probo sudah meminta agar Farhan menggantikan posisinya.


"Hubbiy, hari ini ada jadwal meeting dengan klien?" tanya Via di sela-sela kesibukan mereka.


"Enggak. Tadi sudah tanya Arif, hari ini kosong. Kalau besok ada, jam 10 dan jam 1 siang. Kenapa?" tanya Farhan sambil mengedit bahan meeting untuk esoknya.


"Nanti bisa kita ke pantai asuhan "Kasih Ibu"? Kan rencananya akan mengundang anak-anak yatim ke acara mapati. Kita juga perlu tahu yang mereka butuhkan. Saat mapati, kita ngasih bingkisan kepada mereka sesuai yang mereka butuhkan," jawab Via.


Farhan menghentikan aktivitasnya. Ia memutar kursinya menghadap Via.


"Maaf, Cinta. Jam 11 ada meeting dengan para direktur membahas strategi pemasaran. Mas nggak tahu selesai jam berapa nanti," sesal Farhan. Ia menggenggam telapak tangan Via erat.


"Via harus ikut meeting?" tanya Via dengan nada ragu.


"Kalau bisa ikut, tentu lebih bagus. Tapi kalau nggak, ya nggak apa-apa. Nanti Mas kasih salinan notulanya. Memang kenapa nggak ikut?"


"Kalau boleh, Via ke sana sendiri. Emm, bukan sendiri. Mak-maksud Via diantar Mas Edi. Bagaimana? Boleh, apa nggak ngelarang?" Via memasang wajah imutnya.


Farhan tidak kuasa menahan gemasnya. Ia mendaratkan kecupan mesra di bibir Via.


Yang baru mendapat kecupan memutar bola matanya. Ia seolah baru pertama kali mendapatkan kecupan di bibir.


"Jangan seperti itu! Nanti Mas nggak tahan, lo!" ucap Farhan.


"Memang kalau nggak tahan, mau apa?" tanya Via sok polos.


"Beneran mau tahu? Sekarang? Di sini?" cecar Farhan. Ia bangkit dari duduknya.


Via kaget. Ia tidak mengira Farhan akan bereaksi seperti itu.


"Aduh, kenapa aku membangunkan macan yang sudah jinak, sih? Tuh kan, sekarang tampak garang kayak Kak Ros-nya Upin Ipin?"


"Hub--biy mau apa?" tanya Via gugup.


"Bukankah ingin tahu bagaimana kalau aku nggak tahan?" Farhan menarik tangan Via hingga berdiri rapat di depan Farhan.


Secepat kilat Farhan menempelkan bibirnya ke bibir Via. Tentu saja Via gelagapan karena tidak siap. Namun, ia tidak meronta. Tengkuknya yang tertutup jilbab tertahan tangan Farhan.


Setelah beberapa saat, Farhan melepaskan p***tannya. Via memanfaatkan kesempatan untuk mengambil oksigen.


"Mau menggoda lagi? Ayo, lakukan! Mas nggak keberatan," bisik Farhan.


Via menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


"Kenapa? Bukannya tadi ingin tahu? Ayo, lanjutkan!" Farhan menantang istrinya.

__ADS_1


"Aaa... Via em--mau ke pantri dulu. Mau bi--bikin kop--pi dulu," ujar Via gugup.


Farhan tersenyum. Ia tahu kalau Via hanya cari alasan. Makanya, ia tidak menggubris ucapan Via. Farhan justru merengkuh tubuh Via dan membawanya ke sofa.


"Ish, ini kantor," protes Via.


"Memang kenapa? Kok khawatir gitu?" Farhan menahan tawanya.


"Kalau ada yang masuk, gimana? Mau jadi tontonan gratis?"


"Nggak akan ada yang masuk tanpa minta izin. Lagian, kita mau ngapain?"


Pipi Via merona. Ia kehabisan kata-kata.


"Tok...tok..."


Farhan mendengus kesal mendengar suara ketukan pintu. Sementara itu, Via tersenyum penuh kemenangan. Ia segera bangkit.


"Masuk!" perintah Farhan setelah memastikan Via kembali rapi.


"Permisi, Pak. Saya mengantarkan dokumen untuk meeting nanti." Ternyata Arif, sekretaris Farhan, yang datang.


"Letakkan saja di atas meja. Terima kasih, ya," kata Farhan.


"Permisi, Pak." Arif keluar lagi.


Farhan melirik istrinya yang masih duduk di sofa. Ia melihat Via tengah menahan senyum.


"Hhmmm, seneng ya?" ucap Farhan kesal.


"Udah, ah, jangan ngambek! Ntar cepet tua!" canda Via.


"Biar tua tetep cakep, banyak yang naksir," kata Farhan penuh kenarsisan.


"Cih, kepedean. Ah, sudahlah tidak membahas itu lagi."


Farhan hanya melirik dengan senyuman.


"Gimana soal ke panti? Via ke sana bareng Hubbiy apa enggak?" Via mengulang pertanyaan yang belum dijawab.


"Coba ajak Ratna biar ada teman," usul Farhan.


Via mengangguk. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ratna.


Sejenak Via bercakap-cakap dengan Ratna melalui video call. Farhan tidak memperhatikan percakapan mereka. Ia melanjutkan pekerjaannya.


"Hubbiy, Ratna bisa. Sekalian Mbak Mira. Salsa hari ini tidak datang, sedang flu. Ruko mau libur. Via jemput mereka?" ucap Via tanpa jeda.


"Mas Edi saja yang ke ruko. Panti asuhnnya kan lebih dekat dari sini," saran Farhan.


"Iya deh. Via hubungi Mas Edi dulu." Via setuju lalu menelepon Edi.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Farhan.


"Iya, nanti jam 10 Mas Edi ke ruko. Kalau sudah, Mas Edi kasih tahu Via."


"Kalau begitu, selesaikan dulu tugasmu. Tuh, cek berkas untuk persiapan meeting dengan Pak Handika besok." Farhan menunjukkan dokumen yang ia maksud.


Sejenak Via tenggelam dalam pekerjaannya. Baru saja selesai, ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk dari Edi.


"Hubbiy, Via berangkat sekarang. Nanti sekalian belanja, ya." Via berpamitan setelah menutup pembicaraan dengan Edi.


"Hati-hati! Jangan terlalu capek. Kalau banyak, minta pihak toko mengirim ke rumah kita. Jaga diri anak kita baik-baik!" Farhan berpesan cukup banyak.


Via hanya mengangguk dan tersenyum. Diraihnya tangan kanan Farhan lalu dicium lembut.


"Assalamualaikum," ucap Via.


"Waalaikumsalam," jawab Farhan sembari mendaratkan kecupan di kening Via.


Via bergegas turun menuju area parkir. Edi membukakan pintu depan begitu Via sampai.


"Via bisa duduk di belakang? Emm, maaf Mbak Mira, bisa pindah depan nggak?" pinta Via.


Mira yang duduk di sebelah kiri Ratna pun turun dengan senang hati. Ia pindah ke depan, duduk di sebelah kiri pengemudi. Ia tidak berprasangka apa pun terhadap Via.


Via sengaja membuat Mira duduk dekat Edi. Ratna yang paham jalan pikiran sahabatnya hanya tersenyum.


Perjalanan ke panti asuhan hanya memakan waktu 15 menit. Selama itu, Edi tidak ikut mengobrol, hanya sesekali melirik gadis yang duduk di sampingnya.


Pantai asuhan tampak sepi. Anak-anak usia sekolah tentu sedang belajar di sekolah masing-masing.


Via memencet bel yang berada di dekat pintu. Tiga kali ia pencet, belum ada yang membukakan. Via memencet lagi.


"Ya, sebentar," terdengar suara laki-laki dari dalam.


Via merasa lega. Ia sempat khawatir tidak ada orang di panti.


Pintu terbuka. Sesosok pria berusia sekitar seperempat abad berdiri di depan Via dengan ekspresi kaget.


"Via! Kok ...." Pria itu tidak melanjutkan kalimatnya.


"Mas? Kok ada di sini? Ada perlu?" Via tidak kalah terkejut.


"Eh, mari semuanya masuk dulu. Kita ngobrol di dalam," ajak pria tersebut.


Via masuk diikuti Mira, Ratna juga Edi. Mereka dipersilakan duduk di ruang tamu panti.


***


Bersambung


Siapa pria itu ya? Maaf, author belum fit jadi hanya bisa segini.

__ADS_1


Tetap dukung author dengan memberi like episode ini juga episode sebelumnya. Jangan lupa krisan dan vote, ya.


Makasih Kakak 🙏


__ADS_2