
Via mulai merasakan nyeri yang mulai menggigit pada luka sayatan di perut bagian bawah. Ia menahannya sekua tenaga agar orang-orang yang menungguinya tidak mengetahui.
Via mencoba memejamkan mata untuk menyembunyikan sakitnya. Ia berharap bisa tertidur agar terbebas dari nyeri. Tentu saja usahanya gagal karena kuatnya rasa nyeri.
Ia merindukan belaian lembut suaminya saat ini. Biasanya, sentuhan Farhan bisa membuatnya nyaman. Via berandai-andai Farhan hadir menemani di sampingnya.
Tak terasa air mata Via sudah menggenang. Ia tak kuasa membendungnya hingga meleleh di pipinya.
Bu Aisyah menyadari hal itu. Ia menyusut air mata yang membasahi wajah Via dengan tisu. Perempuan setengah baya itu menarik nafas panjang untuk mengurangi sesak di dadanya. Ia bisa memahami rasa yang tengah berkecamuk dalam hati Via.
“Via, sudah mulai merasakan nyeri pada lukamu? Katakan saja kepada Bunda! Kamu tidak usah menyembunyikan sakitmu! Ungkapkan saja biar tidak menambah berat bebanmu,” ucap Bu Aisyah lembut.
Air mata Via semakin deras mengalir. Ia menahan diri agar tidak terisak. Rasa nyeri kian menggigit saat ia bergerak.
“Babak baru kodrat seorang perempuan baru dimulai. Kamu harus siap, setidaknya demi dedek bayi, ya! Berjuanglah, Via! Kalau ada masalah, bilang saja. Kalau kamu pendam, pengaruhnya tidak hanya ke kamu, tetapi juga bayimu,” lanjut Bu Aisyah.
Via mengangguk. Ia menggigit bibit bawahnya untuk menahan isakan. Setelah ia mulai bisa mengendalikan perasaan, ia mencoba mengatur nafas.
“Bunda, kenapa hati kecil Via tidak bisa menerima kepergian Mas Farhan? Via merasa kalau Mas Farhan berada di suatu tempat yang asing baginya. Dia ingin pulang tetapi tidak bisa,” keluh Via lirih.
Bu Aisyah mengambil nafas panjang. Batinnya berkata, “Bunda pun demikian, Via. Tetapi, bukti-bukti menunjukkan kalau Farhan sudah meninggal. Tidak akan ada yang mempercayai perasaan kita. Mungkin karena kita sama-sama perempuan, sama-sama mengedepankan perasaan daripada logika.”
“Mari kita belajar mengikhlaskan sesuatu yang bukan milik kita. Kita mencoba berlapang dada tatkala sesuatu yang kita sayangi diambil kembali pemiliknya,” ujar Bu Aisyah.
“Tapi, kali ini beda. Via sudah tiga kali kehilangan orang terdekat Via. Pertama mama, disusul papa. Sekarang, Mas Farhan. Saat mama dan papa meninggal, Via sudah merasakan mereka memang sudah pergi meninggalkan Via. Tapi, kali ini tidak. Via tidak merasa kalau Mas Farhan sudah meninggal,” kata Via.
“Mungkin karena adanya anak kalian yang menghubungkan, menyatukan perasaan kalian semakin dekat.” Bu Aisyah mencoba memupus harapan yang bisa dikata mustahil terwujud.
“O iya, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayimu?” Bu Aisyah mengalihkan pembicaraan.
“Mas Farhan begitu yakin anaknya laki-laki. Ia sudah menyiapkan baju koko untuk dedek pakai saat akikah kelak. Beberapa waktu yang lalu, ia hadir dalam mimpi Via menitipkan sebuah nama,” papar Via.
“Benarkah? Siapa namanya?” tanya Bu Aisyah antusias.
“Muhammad Zayn. Via menambahkan Alfarizi biar seperti ayahnya,” jawab Via.
Bu Aisyah mengembangkan senyum. Ia suka dengan nama yang Via sebutkan.
“Bagus, Via. Bunda suka nama itu.”
__ADS_1
Pak Adi yang masih berada di kamar itu ikut menyetujui nama tersebut. Rona kebahagian terpancar jelas di wajah tuanya.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk. Ia bermaksud membersihkan tubuh Via.
Setelah dibersihkan, Via sudah tampak lebih segar. Si perawat pun keluar setelah membereskan peralatan yang digunakan.
Bu Aisyah meninggalkan Via untuk mandi dan salat. Sementara ditinggal bundanya, sang kakek menemani di dekatnya. Via tidak pernah dibiarkan sendirian.
Sehabis magrib, Via dikunjungi sahabat hebohnya. Siapa lagi kalau bukan Ratna? Ia datang bersama Mira dan Salsa dengan dijemput Edi.
Kedatangan mereka membuat Via terhibur. Sejenak Via bisa meletakkan beban pikirannya. Omongan dan kelakuan konyol Ratna memang mampu menghangatkan suasana.
Hanya, Via tidak bisa tertawa saat itu. Bukan karena ia menganggap tingkah Ratna tidak lucu, melainkan rasa nyeri yang ia rasakan tiap kali perutnya terguncang. Ia pun hanya tersenyum. Setidaknya, senyum Via membuat keluarganya lega.
Keesokan harinya, Via kembali berjuang melawan nyeri yang mendera. Kali ini, ia berlatih memiringkan tubuhnya. Meski begitu sakit, ia menahannya. Ia bertekad bisa segera berjalan agar bertemu bayinya.
Tidak ada yang lebih mudah antara melahirkan normal dan melalui operasi caesar. Semua merupakan perjuangan ibu untuk menghadirkan generasi baru ke dunia. Semua mempertaruhkan nyawa sang ibu.
Saat keluarnya bayi dari rahim, melahirkan normal tentu lebih sakit. Namun, pasca melahirkan, rasa sakit ibu yang melalu caesar lebih menyiksa. Jadi, semuanya merupakan perjuangan yang tidak perlu dibandingkan.
Pagi itu, seperti biasa perawat masuk ke kamar Via untuk membersihkan tubuh Via. Kali ini, dia juga bertugas melepas kateter.
“Sudah, Sus. Masih nyeri, terutama saat bergerak,” jawab Via.
“Tentu saja. Tapi, Nyonya harus tetap berusaha. Nanti, Nyonya berlatih berdiri dan jalan, ya! Setelah kateter dilepas, Nyonya harus bisa berjalan ke kamar manddi,”lanjut perawat itu.
“Baik, saya akan mencoba.”
“Apa Nyonya mau sekalian breast care agar ASI segera keluar?” Perawat itu menyampaikan penawaran.
Via setuju. Pak Adi pun keluar agar perawat bisa melakukan perawatan lebih leluasa. Bu Aisyah tetap di dalam membantu menyiapkan keperluan Via.
Saat tindakan mulai dilakukan, Via berkali-kali menggigit bibirnya karena menahan nyeri yang menjadi. Kalau bukan demi sang buah hati, mungkin Via sudah menyerah.
“Kalau pa*****a Via terasa kencang, mengeras, bilang Bunda, ya!” pesan Bu Aisyah.
“Iya, Bunda.”
Demi menjaga Via, Bu Aisyah izin ke sekolah haanya saat ada jam mengajar. Selebihnya, ia berada di rumah sakit.
__ADS_1
Ketika mulai siang, Via merasakan pa*****a mengeras. Ia meringis saat bagian itu tersentuh.
“Bunda, pa*****a Via sudah mengeras, kenceng banget. Ini mesti digimanain?” Via berbisik kepada Bu Aisyah. Ia malu karena ada kakeknya juga Azka berada di situ.
Bu Aisyah tanggap dengan kerisauan Via. Ia memberi isyarat kepada Azka agar mengajak Pak Adi keluar.
“Mari Bunda bantu memompa ASI-mu. Kalau ASI sudah keluar, Zayn tidak lagi mengonsumsi sufor,” kata Bu Aisyah.
Dengan hati-hati Bu Aisyah memasang breast pump. Ia memompa perlahan sambil menjelaskan cara menggunakannya.
Setelah beberapa menit, ASI yang tertampung di botol kurang lebih 30 ml. Via tampak kecewa.
“Kok hanya segitu? Apa cukup, Bunda?” keluh Via.
Bu Aisyah tersenyum. Setelah menyimpan ASI perahan pertama, ia duduk di samping ibu muda yang tengah galau.
“Via, ini pertama kali untukmu. Kalau dapatnya hanya sedikit, itu hal yang wajar. Nanti lama-lama bisa banyak, insya Allah. Apalagi kalau kamu banyak makan sayuran hijau terutama katuk. Selain itu, kamu juga harus mengonsumsi makanan berprotein tinggi. Dan, jangan sampai stress!” Bu Aisyah memberi nasihat.
Via mengangguk. Ia sedikit lega mendengar penjelasan Bu Aisyah.
“Kapan Via boleh pulang?” tanya Via.
“Mungkin besok atau lusa sudah bisa. Tapi, bayimu kemungkinan belum,” jawab Bu Aisyah.
“Apa ada masalah?” tanya Via khawatir.
“Dia kan prematur, beratnya hanya 1,4 kg. Paru-parunya juga belum sempurna. Makanya, ia masih harus dirawat di inkubator untuk beberapa hari ke depan.”
Raut muka Via tampak kecewa dan sedih. Padahal, ia sangat berharap bisa menimang bayinya begitu diperbolehkan pulang.
***
Bersambung
Mohon tetap dukung author dengan memberi like dan komen tiap episode juga rate 5 dan vote. Terima kasih atas dukungan Kakak 🙏
Sambil menunggu up lagi, yuk baca novel bagus ini!
__ADS_1