SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Menginap


__ADS_3

Via termangu sejenak di dekat pagar. Kakinya seakan enggan untuk melangkah.


"Mau berapa lama berdiri di situ? Memangnya sudah lupa cara masuk ke sini?" Pertanyaan itu menghentikan gerakan kaki Via yang hendak melangkah. Via menoleh ke sumber suara.


"Mas Azka?" ucap Via.


"Kirain lupa pulang. Sudah hampir magrib, cepet masuk! Aku mau berangkat ke masjid," kata Azka sambil melangkah meninggalkan Via.


"Kok dia sendirian? Memang Mas Farhan ke mana? Jangan-jangan dia di dalam, tidak berangkat ke masjid. Ah, masa bodo. Aku ketemu bunda aja dulu."


Via melangkah memasuki rumah orang tua angkatnya yang kini menjadi mertuanya.


"Assalamualaikum," ucap Via.


"Waalaikumsalam," suara pria yang sangat Via hafal menjawab dari balik pintu.


Ketika pintu dibuka, muncul sosok pria yang ingin Via hindari. Farhan ternyata baru akan berangkat. Ia sudah rapi dengan baju koko warna biru, warna favoritnya.


Via tertegun. Entah kenapa ia seperti tersihir melihat suaminya.


"Kok malah mematung di sini? Masuklah! Mas mau ke masjid. Bunda kayaknya masih di kamar, belum ke musala. Mas berangkat dulu. Assalamualaikum," kata Farhan.


"Waalaikumsalam," jawab Via lirih. Tubuhnya reflek berputar mengikuti arah perginya Farhan. Ia memandang lelaki itu hingga keluar pagar.


Farhan merasa ada yang memperhatikan. Ia menoleh ke teras. Ia pun tersenyum kala mengetahui Via masih berdiri di depan pintu sambil memperhatikan dirinya.


Begitu mengetahui Farhan menoleh, Via cepat-cepat masuk. Ia bergegas mencari Bu Aisyah.


"Aduh, kok aku tadi malah ngliatin Mas Farhan, sih? Mana ketahuan lagi! Aku jadi malu."


Ketika Via akan naik tangga, Bu Aisyah sudah bersiap turun.


"Via! Kapan datang? Masya Allah, Bunda kangen banget," seru Bu Aisyah.


"Baru saja sampai, Bun," jawab Via.


"Nanti nginep, kan? Wah, sudah lama banget kamu nggak tidur di rumah ini."


Via hanya mengangguk.


"O ya, sana taruh dulu tas kamu! Bunda tunggu di musala. Kamu tidak sedang berhalangan, kan?"


"Baik, Bun. Via ke kamar dulu."


Via bergegas ke kamar yang biasa ia tempati. Selama ia tinggal di ruko, kamar itu kosong. Namun, Farhan selalu membersihkannya.


Azan magrib berkumandang menyeru umat muslim agar menghentikan aktivitas duniawi. Via pun setengah berlari menuju musala yang terletak di bagian belakang. Pak Haris telah bersiap mengimami salat magrib berjamaah. Beberapa pasien dan pengantar ikut berjamaah di musala keluarga.


Selesai salat, Bu Aisyah mengajak Via untuk murajaah. Via melafalkan surat An-Naziat dan An-Naba dengan lancar.


"Alhamdulillah, kamu sudah hafal juz 30. Terus tingkatkan hafalanmu!" ujar Bu Aisyah.


"Baik, Bun."


"Yuk, kita ke dalam dulu! Kita siapin makan malam biar nanti habis isya tinggal makan," ajak Bu Aisyah.


Via menurut. Ia membantu bundanya menghangatkan sayur dan menata hidangan.

__ADS_1


"Bunda masaknya banyak sekali macamnya," komentar Via.


"Tadi sore Farhan bilang kalau kamu mau datang. Bunda inget kamu suka udang tepung dan cah kangkung. Ya udah, Bunda masak lagi. Toh bahan-bahan yang diperlukan tersedia."


"Wah, Via bikin Bunda repot, nih."


"Repot apaan? Kamu sudah lama nggak makan masakan Bunda."


Baru saja selesai menata hidangan, azan isya berkumandang. Via dan Bu Aisyah pun kembali ke musala.


Selesai salat, mereka ke ruang makan. Via menyiapkan air minum.


Tak lama kemudian, anak-anak Pak Haris sudah pulang dari masjid dan masuk ruang makan.


"Ayah masih praktik, Bun?" tanya Azka.


"Sepertinya sudah selesai. Waktu Bunda dan Via masuk, ayah ke musala bareng Rudi."


"Rudi? Siapa, Bun?" Via ganti bertanya.


"Yang bantu ayah ngurusin pasien. Kamu duduk, Vi!"


Via duduk di sebelah Farhan. Sebenarnya, ia masih canggung berdekatan dengan Farhan. Namun apa boleh buat. Kursi yang kosong tinggal di samping Farhan dan di samping Bu Aisyah. Yang di samping Bu Aisyah jelas untuk Pak Haris.


"Ada yang ngomongin Ayah, ya?" tanya Pak Haris seraya masuk ruang makan.


"Eh, Ayah sudah selesai? Pasiennya nggak banyak, ya?" tanya Bu Aisyah balik.


"Alhamdulillah, hari ini pasiennya cuma 15 orang."


"Via, ambilkan untuk Farhan! Atau mau sepiring berdua seperti Ida Laila?" Bu Aisyah meledek.


Via tersenyum tipis. Ia mematuhi perkataan bundanya.


"Ah, betapa senangnya kalau tiap hari dilayani begini. Cuma diambilkan makan sudah membuatku senang," batin Farhan.


Setelah semua mengambil makanan, mereka mulai makan. Tidak ada yang berbicara selama makan. Hanya Farhan yang berkali-kali melirik gadis yang duduk di sebelahnya.


Tingkah Farhan tak luput dari perhatian Bu Aisyah. Perempuan itu menahan senyum melihat putranya seperti itu.


Setelah selesai, Via membereskan peralatan makan. Farhan membantunya.


"Ehm, bagaimana kalau besok pagi kita jogging?" usul Bu Aisyah.


"Bukannya besok bukan Minggu? Biasanya kan kita jogging hari Minggu?" sahut Pak Haris.


"Ya nggak apa-apa. Besok juga libur."


"Setuju, Bun! Mumpung ada Mbak Via, kita berlima jogging," seru Azka.


"Oke, setuju!" Farhan menyahut. Ia tengah membantu Via mencuci piring kotor.


"Yah, lihat Farhan! Dia perhatian banget sama Via, ya? Makanya, Bunda ajak jogging," bisik Bu Aisyah.


Pak Haris mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ia paham yang dimaui istrinya.


"Bunda ingin mereka lebih dekat, kan? Via tampaknya masih ragu dan malu. Farhan kelihatan kalau sedang pedekate," balas Pak Haris dengan suara lirih.

__ADS_1


Azka tersenyum mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Ia ikut memperhatikan Farhan dan Via.


"Deal, ya? Besok kita jogging," kata Azka.


Selesai mencuci, Via menuju kamarnya.


"Sudah ngantuk, Dek?" tanya Farhan.


"Belum. Via mau ngecek orderan," jawab Via.


Begitu masuk kamar, Via mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi yang ia gunakan untuk toko online-nya.


Baru 5 menit di kamar, terdengar suara ketukan pintu diikuti salam. Mau tidak mau Via bangkit membuka pintu kamar.


"Mas Farhan?"


"Boleh masuk?" tanya Farhan meminta izin.


Via hanya mengangguk. Ia menggeser posisi berdirinya, memberi jalan untuk Farhan lewat.


"Duduk, Mas," ucap Via.


Farhan mendorong daun pintu hingga tertutup, baru duduk di ats ranjang.


"Sini, Dek!" Farhan menepuk kasur memberi isyarat agar Via duduk di sebelah kirinya.


Meski ada rasa enggan, Via tetap menurut. Ia duduk di sebelah Farhan.


"Kok jauhan gitu? Jadinya kayak lagi marahan, dong!" ucap Farhan sambil menggeser duduknya mendekat ke Via. "Ini, Mas mau ngasih kaos dan sepatu yang kita beli di Jakarta waktu itu. Kan belum pernah dipakai. Besok kita pakai, ya!"


Via menerima kaos dan sepatu yang masih terbungkus kardus.


"Kaos sudah Mas cuci kok. Kalau nggak percaya, cium deh!"


"Iya, Via percaya. Makasih, Mas."


"Cuma makasih?" tanya Farhan sambil mendekatkan wajahnya.


"Terus, Via mesti gimana?"


"Mas minta pipi Dek Via. Boleh, ya," pinta Farhan.


Via kaget sekaligus malu. Wajahnya memerah. Namun, ia tak bisa menolak karena Farhan adalah suaminya. Ia pun mengangguk dan tetap mempertahankan kepalanya tertunduk.


"Cup!" Farhan mengecup pipi kanan Via.


"Terima kasih," bisik Farhan.


Jantung Via berdegup kencang. Badannya agak gemetar mendapat ciuman pertamanya. Meski hanya sekilas, itu sudah cukup membuatnya gugup.


****


**Bersambung


Terima kasih atas dukungan Kakak pembaca. Mohon terus dukung author dengan memberi like, koment, dan vote 🙏


Author berusaha untuk tetap semangat, up tiap pagi**.

__ADS_1


__ADS_2