
Mata Via menyipit saat melihat sosok yang ia kenal. Seorang pria yang
tengah berdiri di depan IGD sambil memainkan ponselnya. Ia sudah cukup lama tidak bertemu dengan pria
itu. Namun, ia masih tetap mengenal meski dari jarak jauh. Via berjalan mendekatinya.
Pria yang terlihat dari samping itu terlihat fokus ke benda yang ia pegang.
Ia tidak memperhatikan sekeliling. Saat jarak Via dengan pria itu kurang dari
15 meter, pria itu justru melangkah meninggalkan ruang IGD.
“Doni!” panggil Via setengah berteriak. Namun, suaranya belum bisa
selantang hari-hari biasa karena luka di perutnya terasa sakit jika ia
berteriak terlalu keras.
Pria yang Via panggil tampaknya tidak mendengar. Ia tetap melangkah
menjauhi IGD sekaligus membuat jarak dengan Via makin melebar.
Via memanggil dengan lebih keras,”Don, Doniii!”
Via berusaha berjalan lebih cepat. Ia lupa kalau dia belum bisa berjalan
cepat. Saat ia setengah berlari, justru perutnya terasa begitu sakit.
“Auw, sakit!” rintih Via.
Via menyeret langkahnya ke bangku di depan IGD. Ia meringis menahan nyeri.
Tak lama berselang, dua orang perempuan berpakaian serba hitam mendekat.
Salah satu di antara mereka memegang tangan Via dengan lembut.
“Mari saya antar ke dokter. Nona merasakan nyeri, bukan?” tanya perempuan
itu.
“Siapa kalian?” desis Via ketakutan.
“Kami orang suruhan Tuan Edi yang bertugas menjaga Nona Via. Bagaimana,
Nona kami antar ke IGD atau ke ruangan dokter Haris?” tanya perempuan itu lagi.
“Oh, begitu. Tolong antarkan aku ke kamar di dekat ruang peristi saja. Aku
kira aku hanya perlu beristiraha. Toh obatku masih ada,” pinta Via.
Bodyguard itu mengambil kursi roda. Dengan hati-hati, mereka memindahkan
Via ke kursi roda lalu mendorongnya ke kamar.
“Mbak Via? Mbak Via kenapa?” Bu Inah begitu khawatir melihat Via diantar
dua perempuan berbaju serba hitam. Apalagi wajah Via sedikit pucat.
“Nggak apa-apa, Bu. Via cuma sedikit nyeri. Tadi Via lupa kalau luka bekas
operasi belum sepenuhnya sembuh,” jelas Via.
Bu Inah memapah Via ke tempat tidur dibantu salah satu bodyguard perempuan.
“Terima kasih,” ucap Via lirih.
“Nona tidak perlu berterima kasih. Itu kewajiban kami. O ya, apa kami perlu
membawa pria yang tadi Nona panggil ke sini?” tanya salah satu bodyguard.
“Tidak perlu. Dia teman sekolahku dulu,” jawab Via.
“Kalau begitu, kami undur diri,” ucap mereka.
Bu Inah terbengong-bengong melihat dua orang bodyguard itu. Ia bingung
karena kedua orang yang terlihat garang itu ternyata begitu sopan kepada Via.
“Memangnya mereka itu siapa, Mbak?” tanya Bu Inah.
“Mereka itu bodyguard suruhan Mas Edi,” jawab Via.
“Budi kat itu apa? Kok saya baru dengar? Saya tahunya brukat.” Bu Inah
dengan lugunya meminta penjelasan.
Via sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak. Namun, ia menahan tawanya agar
perutnya tidak terguncang. Ia pun mengambil nafas panjang untuk meredam
keinginannya untuk tertawa.
“Bo-dy guard, Bu Inah, bukan budi kat.”
“Oh, salah ya? Terus bodi gad itu apa?” tanya Bu Inah lagi.
“Bodyguard itu sama saja pengawal. Mas Edi menyuruh beberapa orang yang
memilik kemampuan bela diri untuk menjaga keselamatan Via. Mereka ditempatkan
secara diam-diam agar tidak mencolok dan Via juga tidak risih karena
terus-menerus dikawal.”
“O, begitu.” Bu Inah mengangguk-angguk paham. “Ini kok tumben tidak ada
yang ke sini, ya? Pak dokter, Bu dokter, Mas Azka, Mbak Ratna juga.”
“Kangen, Bu?” tanya Via sambil mengerling Bu Inah.
“Hehe...suka aja kalau ramai. O iya, Mbak Via belum minum susu, kan?
Sebentar saya buatkan dulu.”
__ADS_1
Saat Bu Inah sedang membuat susu untuk Via, Edi datang dengan tergesa-gesa.
Wajahnya tampak cemas.
“Assalamualaikum. Mbak Via nggak apa-apa?” tanya Edi.
“Waalaikumsalam. Via nggak apa-apa. Memang kenapa? Mas Edi datang-datang
kok mukanya begitu menyeramkan? Apa yang terjadi?” tanya Via heran.
“Syukurlah kalau tidak kenapa-kenapa.” Edi menarik nafas lega.
“Memang ada apa, to? Mas Edi kayak orang ketakutan gitu?” Bu Inah ganti
bertanya. Disodorkannya gelas berisi susu kepada Via.
“Tadi Lastri laporan kalau Mbak Via kesakitan setelah mengejar seorang
pria. Benar begitu?” Edi memberi tatapan meyelidik.
Via tersenyum. Ia meneguk susu yang baru Bu Inah buat terlebih dahulu.
“Aduh, itu bodyguard berlebihan deh. Via tadi seperti melihat teman SMA Via
dulu. Via ingin menyapa dan menanyakan sedang apa dia di sini. Tadi dia di
depan IGD,” kata Via meenjelaskan.
“Oh, teman akrab? Eh, maaf.” Edi buru-buru meminta maaf karena merasa telah
lancang bertanya terlalu jauh.
“Dia ketua kelas Via dulu dan beberapa kali menjadi patner dalam lomba
antar sekolah. Nah, tadi dia nggak dengar waktu Via panggil. Via lupa kalau
belum bisa jalan terlalu cepat. Karena dipakai buat jalan cepat, bekas operasi
Via terasa nyeri. Si Lastri dan temannya membantu Via dengan membawa Via ke
sini pakai kursi roda,” papar Via.
“Beneran, ya, Mbak Via baik-baik saja?” Edi memastikan.
“Iya, Mas Edi nggak usah khawatir. Sekarang saja nyerinya sudah mulai
reda.” Via mencoba menenangkan Edi.
“O iya, bagaimana kabar Bang Tedi? Apa sudah ditemukan?”
“Belum, Mbak. Dia seperti hilang ditelan bumi. Orang-orang kepercayaan Tuan
Candra kesulitan menemukan jejaknya. Demikian juga orang yang memboncengkan
Tedi. Mereka belum bisa menemukan keberadaan orang tersebut. Bahkan, identitas
orang itu juga belum terungkap.” Edi menjelaskan apa yang ia ketahui.
"Apa mungkin yang dikatakan Kakek Adi waktu itu benar, ya?" gumam Via.
“Lalu, apa polisi sudah mendapatkan titik terang dalang di balik kecelakaan
yang menimpa Mas Farhan? Siapa yang menyuruh Kelelawar Hitam?” tanya Via lebih
lanjut.
“Belum juga. Tapi, mereka semua terus berusaha. Tuan Candra tidak akan
tinggal diam. Beliau terus memantau bahkan kadang turun tangan langsung ke
lapangan. Tuan Candra kemarin mendatangi langsung rumah Tedi di kampung, lo,”
tutur Edi.
Via melongo. Ia tidak mengira kalau adik kandung papanya begitu serius
mengungkap kasus kecelakaan yang menimpa Farhan.
“O iya, ini ada beberapa dokumen yang harus Mbak Via tanda tangani. Semua
sudah saya cek isinya. Namun, sebaiknya Mbak Via cek lagi.”
Edi menyodorkan tumpukan kertas kepada Via. Via menerimanya lalu membaca
isinya. Setelah yakin, ia membubuhkan tanda tangan pada dokumen-dokumen itu.
“Dokter Haris dan Bu Aisyah nggak di sini?” tanya Edi setelah menyadari
hanya Bu Inah yang menunggui Via.
“Ayah tadi pulang menjelang jam 3 sore. Kelihatannya ayah kelelahan. Bunda
siang ini ada rapat, pulang dari sekolah jam 5 nanti. Entah langsung ke sini
atau pulang, Via nggak tahu,” jawab Via sambil menodorkan kembali dokumen yang
baru ia tanda tangani.
“Mas Azka?”lanjut Edi.
“Kata ayah, Mas Azka ke Medan siang tadi. Nggak tahu untuk berapa lama.
Kakek tadi siang di sini, Via minta untuk pulang. Kelihatannya kakek lelah. Via
nggak mau kakek jatuh sakit.”
“Kalau begitu, saya pulang dulu. Nanti malam saya ke sini bareng Pak Yudi
insya Allah,” pamit Edi.
Via mengangguk dan berpesan,”Hati-hati, ya! O ya, bisakah minta tolong
bawakan baju Mas Farhan? Via kangen. Biar malam ini Via tidur sambil memeluk
__ADS_1
bajunya.”
“Baik, Mbak. Assalamualaikum,” ucap Edi.
“Waalaikumsalam,” jawab Via dan Bu Inah.
Beberapa saat setelah Edi pergi meninggalkan kamar tersebut, Via mencoba
turun dari tempat tidur. Ia melarang Bu Inah membantunya.
“Via cuma mau mandi. Tadi Via buru-buru ke ruang peristi untuk belajar
memandikan bayi. Rasa nyerinya sekarang sudah hilang, kok,” kata Via memberi alasan penolakan bantuan Bu Inah.
Perlahan Via berjalan ke kamar mandi. Dia cukup berhati-hati.
Usai mandi, wajah Via terlihat segar. Ia memilih gamis biru dipadukan
jilbab warna senada yang lebih terang.
“Bu, bisa minta tolong anterin Via ke depan? Via ingin ke IGD. Barangkali
Doni masih di sana, “ pinta Via.
“Tentu saja. Mari, sekalian jalan-jalan. HP jangan lupa dibawa, Mbak. Kali
aja ada yang menghubungi dan penting,” sahut Bu Inah.
Via mengangguk dan memasukkan alat komunikasi pintarnya ke saku gamis. Kemudian, dengan hati-hati ia duduk di kursi roda yang sebelumnya digunakan untuk
membawanya dari IGD.
Bu Inah mendorong kursi roda sesuai arahan Via. Tak berapa lama, mereka
sampai dekat IGD.
Mata Via tampak berbinar melihat sosok pria yang tadi tidak mendengar waktu
ia panggil. Ia pun menyuruh Bu Inah mendorongnya lebih cepat.
“Doni!” panggil Via.
Pria itu menoleh. Tampak kekagetan mewarnai ekspresi wajahnya.
“Via, sedang apa di sini? Kamu sakit?” tanya Doni tak bisa menyembunyikan
kekagetannya.
“Enggak. Beberapa waktu yang lalu aku operasi. Sebenarnya sudah hampir sembuh. Tadi aku lupa
ngejar kamu, jadi sakit lagi,” jawab Via dengan mengembangkan senyum.
“Ngejar aku?” tanya Doni bingung.
“Iya. Tadi aku lihat kamu berdiri di sini sambil main HP. Aku panggil, kamu
malah pergi. Jadinya aku lupa kalau aku belum bisa jalan cepat hehe...”
“Oh, maafkan aku. Beneran aku nggak tahu kalau kamu memanggilku,” ucap Doni
dengan raut muka menyesal.
“Nggak apa-apa. O ya, kamu nunggui siapa? Keluargamu? Sakit apa?’” Via memberondong
Doni dengan pertanyaan.
Doni sedikit kebingungan. Namun, ia justru menyunggingkan senyum tipis di
bibirnya yang tak pernah tersentuh rokok.
“Mendingan nanti kamu ke dalam ketemu orangnya. Tunggu dokter selesai
memeriksa, ya,” kata Doni penuh teka-teki.
Via menatap Doni kebingungan. Ia tidak mengerti yang Doni maksudkan. Ketika
Via mau bertanya, Doni melangkah mendekati perawat yang tengah berjalan ke arahnya.
“Sekarang Mas bisa masuk. Pasien sudah sadar,” kata perawat.
“Boleh dengan teman?” tanya Doni.
“Paling banyak dua orang yang masuk, ya,” pesan perawat itu.
“Baik, Sus. Terima kasih, ya,” ucap Doni. Ia berbalik mendekati Via.
“Yuk, kita masuk! Bu Inah tunggu di luar dulu, ya,” ajak Doni.
“Memang kita mau menemui siapa? Kok kamu jadi penuh teka-teki begini, sih?”
protes Via.
Doni tidak menjawab. Ia mendorong kursi roda yang diduduki Via ke dalam
salah satu bilik yang ada.
***
Bersambung
Jangan lupa terus dukung aku, ya!
Kalau sampai aku nggak balas koment Kakak, maafkan aku. Kadang pas mau
ngetik ada selingan iklan habis itu lupa deh. Aku akan berusaha mengunjungi dan
mendukung balik (memberikan like tiap episode, koment, rate 5) karya Kakak.
Insya Allah besok aku up 2 episode. Semoga bisa.
Sambil menunggu siapa pasien yang akan ditemui Via, kunjungi novel ini dulu, ya.
__ADS_1