SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kejutan 1


__ADS_3

Farhan mengambil koper Via. Ia meletakkan di bagasi mobil. Kemudian, ia membukakan pintu depan untuk Via.


"Silakan masuk, Tuan Putri," ucapnya sambil membungkuk.


"Ih, Mas Farhan lebay," kata Via. Ia mencebik lalu masuk ke dalam mobil.


Farhan tersenyum melihat reaksi istrinya. Kemudian, ia berputar dan menyusul masuk. Ia pun sudah bersiap di belakang kemudi.


"Berangkat sekarang?" tanya Farhan. Ia belum menyalakan mesin mobil.


"Tahun depan," jawab Via tanpa menoleh.


"Beneran? Ya udah, berarti kita diam di sini."


Via menoleh. Matanya melotot ke Farhan.


"Mas Farhan nyebelin!" sungutnya.


Farhan terkekeh. Ia begitu senang menggoda Via.


"Ni orang ternyata nggak jauh beda sama Mas Azka. Dulu kesannya dingin kayak kulkas, nggak pernah becanda, bikin aku sungkan. Berarti dulu sok jaim," batin Via.


"Istriku ternyata manis sekali kalau begini. Dia nggak sekalem yang kukira. Jadi nggak sabar nunggu besok," pikir Farhan.


Tanpa sadar, Farhan tersenyum sendiri. Hal itu tertangkap pandangan Via.


"Ngapain senyum-senyum sendiri? Ni beneran mau diam di sini?" tanya Via.


"Eh, iya. Ni mau jalan, kok."


"Terus, kenapa senyum-senyum sendiri nggak jelas begitu?"


"Nggak jelas bagaimana? Jelas, kok. Jelas bahagia. Mas lagi mbayangin acara besok," ucap Farhan dengan senyum lebar. Ia mulai menstater mobilnya. Tak lama kemudian, mobil itu sudah melaju di tengah keramaian kota.


"Kok arahnya ke sini? Bukannya mau pulang?" tanya Via bingung.


"Kita mampir ke butik untuk fitting terakhir sekalian bawa gaun pengantin," jawab Farhan tanpa menoleh.


Sepuluh menit kemudian, mereka telah sampai butik. Farhan menggandeng tangan Via masuk ke dalam butik.


"Selamat datang, Mas Farhan dan Mbak Via. Gaun dan jas pengantin Anda sudah siap. Silakan dicoba dulu untuk memastikan kenyamanan saat dipakai besok," ucap seorang pegawai dengan ramah.


Pegawai itu mengajak Farhan dan Via ke dalam.


"Silakan dicoba dulu," kata pegawai itu. Ia mengantar gaun Via ke kamar pas. Ia pun membantu Via mengenakan gaun itu.


"Aku rasa sudah pas, Mbak," kata Via sambil menatap bayangan dirinya di cermin.


"Mau ditunjukkan kepada Mas Farhan?" tanya si pegawai.


"Ah, nggak usah. Mbak lihat saja! Sudah pas, kan?" cegah Via.


"Kalau begitu, tinggal gaun yang satunya."


Via melepas gaun yang baru dicoba. Kemudian, ia mencoba gaun lainnya.


"Ini juga sudah pas," gumam Via.


"Bagaimana, beneran pas? Mbak Via nyaman?"


Via mengangguk. Baru saja tangannya menyentuh resleting, terdengar suara Farhan.


"Dek, sudah dipakai? Coba Mas lihat, dong!"


Via membatalkan niatnya melepaskan gaun pengantin. Ia juga ragu untuk keluar.

__ADS_1


"Sudah pas, kok. Ini mau Via lepas," jawab Via dari dalam.


"Keluar sebentar, dong! Mas pengin lihat," pinta Farhan lagi.


Akhirnya Via menurut. Dengan langkah ragu ia keluar.


Melihat Via yang mengenakan gaun berwarna putih tulang, Farhan terpesona. Ia tak berkedip memandang istrinya.


"Kenapa, Mas? Gak cocok, ya?" tanya Via khawatir.


"Cantik, Sayang. Cantik banget malah," gumam Farhan.


Via masih mendengar dengan jelas yang Farhan katakan. Ia merasa malu karena dipanggil sayang dan dipuji cantik.


"Gaunnya yang cantik, kan?" tanya Via untuk menepis malu.


"Semua. Tapi kamu lebih cantik."


"Udah, ah. Via mau ganti baju dulu."


Via masuk kembali ke kamar pas. Ia melepaskan gaun pengantinnya dan mengganti dengan gamis.


"Udah, Mas. Besok pasti lebih cantik. Sekarang bentar aja lihat istri Mas pakai gaun pengantin. Besok puas-puasin, deh," goda pegawai butik.


Farhan tersenyum malu. Ia pun kembali ke kamar pas lain untuk melepaskan jasnya.


"Tante Fani ke mana, Mbak?" tanya Farhan.


"Bu Fani keluar sejak jam 11. Bareng Bu Aisyah malah. Mas Farhan nggak tahu?" Pegawai butik itu balik bertanya.


"Seragam keluarga sudah diambil? Pembayaran gimana?" Farhan tidak menjawab justru bertanya lagi.


"Seragam keluarga sudah diambil tadi pagi sama Mas Azka. Pembayaran sudah beres. Mas Farhan mau kasih bonus?"


"Masih ada yang lain, Mas?" tanya Via yang baru keluar dari kamar pas.


"Enggak. Kita pulang, yuk!" ajak Farhan.


Mereka pun berpamitan kepada pegawai butik milik teman Bu Aisyah. Tak menunggu lama, mobil Farhan sudah mengaspal membelah keramaian lalu lintas kota.


"Kita ke mana lagi?" tanya Via. Ia merasa arah mobil tidak menuju kediaman dokter Haris.


"Ada sesuatu yang akan Mas tunjukkan. Kita mau melihat lokasi nggak?"


"Nggak usah, Mas. Via percaya sama WO. Pasti mereka profesional menyiapkan segala sesuatunya."


"Beneran? Kamarnya juga?" Farhan melirik Via sambil tersenyum menggoda.


"Kamar apa?" Via bingung.


"Kamar pengantin. Meski kita sudah sah berbulan-bulan yang lalu, kita kan belum pernah ...." Farhan sengaja menggantung kalimatnya.


Via sudah tahu arah pembicaraan Farhan. Ia menunduk karena merasa malu.


"Pihak WO menyiapkan kamar pengantin juga. Jadi, habis resepsi, kita langsung istirahat di kamar hotel," kata Farhan menjelaskan.


Via diam saja. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.


"Mas, ini yang membiayai ayah sama bunda? Berapa budget resepsi begini? Pasti mahal. Sebetulnya Via nggak ingin dirayakan dengan mewah," ujar Via.


Tangan kiri Farhan dilepas dari kemudi. Ia menggenggam telapak tangan kanan Via.


"Dengar, ada yang sangat menginginkan pernikahan kita dirayakan. Karena jumlah undangan banyak, ya pakai jasa WO dan sewa aula hotel. Soal biaya, orang itu yang menanggungnya," kata Farhan menjelaskan.


Via menatap Farhan bingung. Ia tak mengerti maksud Farhan.

__ADS_1


"Bukan ayah dan bunda? Lalu siapa? Mas Farhan? Eyang Probo?" kejar Via.


Farhan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu menepikan mobilnya.


"Kok berhenti di sini? Ada apa?"


"Dek Via mau tahu orang itu?"


Via mengangguk. Ia memang penasaran.


Farhan tidak memberikan jawaban. Cowok itu justru mengambil kain hitam dari saku celananya. Sepertinya ia sudah mempersiapkan.


"Mas, Mas mau apa?" tanya Via gugup.


"Dek Via mau tahu orang itu, kan? Makanya, menurut sama Mas. Maaf, mata Dek Via Mas tutup dulu, ya."


"Memang harus?" protes Via.


Farhan mengangguk. Ia bersiap mengikat tali untuk menutupi mata Via.


"Via harus datang dengan mata tertutup. Ini kejutan. Bagaimana?"


Akhirnya Via pasrah. Ia hanya menurut saat Farhan mengikat kain hitam menutupi matanya. Kini, Via seperti orang buta karena tidak bisa melihat apa pun.


"Sekarang, Dek Via rebahan saja. Rileks, ya. Nggak lama, kok. Paling seperempat jam," bujuk Farhan.


Lelaki itu menyetel posisi jok yang diduduki Via agar bisa untuk rebahan dengan nyaman.


Setelah Via terlihat nyaman, Farhan menarik rem parkir dan memindah persneling, lalu menekan pedal gas. Mobil mulai melaju kembali.


Tak sampai 30 menit, mobil berhenti. Farhan memarkir mobilnya di halaman rumah yang megah dan mewah.


"Turun, yuk!" ajak Farhan.


Ia membuka pintu mobil dan membimbing Via keluar. Begitu keluar, Via merasakan sesuatu yang tak asing.


"Mas, ini di mana? Via meras mengenal dengan baik lokasi ini," ucap Via.


Farhan tidak menjawab. Ia menggandeng Via melangkah.


Setelah kurang lebih 50 langkah, Farhan mengajak berhenti.


"Sini, aku buka ikatan kain itu," pinta Farhan.


Cowok itu dengan sigap melepaskan tali yang ia pasang pada kepala Via.


Via mengerjapkan matanya. Ia sapukan pandangan ke seluruh penjuru halaman rumah. Lalu, ia menatap lekat rumah di depannya.


"Mas, ini kan.... Ini rumah papa. Iya, kan?" desis Via.


Farhan mengangguk sambil tersenyum. Ia membiarkan Via mengamati tiap bagian halaman rumah.


"Kenapa kita ke sini? Siapa pemiliknya sekarang?" tanya Via dengan mata berkaca-kaca.


"Kita ke dalam, yuk! Nanti pertanyaanmu akan dijawab di sana," ajak Farhan.


***


Kejutan apa lagi yang menanti Via ya? Ada kejutan lain yang lebih seru di episode selanjutnya lo.


Ikuti terus kisah Via, ya! Insya Allah author update tiap hari. Tapi author ga bisa janji bikin crazy up. Maaf Saudara-saudara πŸ™πŸ™


Jangan lupa tinggalkan like dan komen, lebih-lebih vote😍


Biar author tambah semangat, per episode lebih dari 1200 kata.

__ADS_1


__ADS_2