
Via masih menatap layar monitor laptopnya. Ia terus mencermati tulisan yang terpampang di sana. Sesekali ia menggoreskan tulisan pada agenda.
Satu jam sudah ia melakukan iru. Kemudian, ia meraih teleponnya.
....
“Mas Edi bisa ke ruangan saya sekarang?”
....
“Baik, saya tunggu.”
Lima menit kemudian, Edi masuk ke ruangan Via. Dia membawa beberapa berkas.
“Sudah ada laporan perkembangan penyelidikan dari Kiki?”
“Iya, ada. Untuk dalang sabotase dan juga yang menyuruh Elang perkasa sudah fix Jaya Sakti Persada.”
“Oke. Yang itu berarti rancanganku nanti jalan. Aku juga sudah dapat laporan dari Mas Farhan kalau perusahaan itu benar pernah menjalin kerja sama dengan Kencana Grup.”
Edi mengangguk paham.
“Lalu, putusnya kerja sama karena memang sesuai perjanjian atau ada sebab lain?” Edi meminta penjelasan.
“Ada sebab lain. Pihak sana berbuat curang. Pimpinan perusahaan korup dana proyek. Itulah sebabnya Eyang Probo memutuskan kontrak.”
“Jadi, kemungkinan mereka dendam kepada Tuan Probo. Begitu?” Edi menegaskan.
Via menghela nafas panjang. Ia kembali menatap catatannya.
“Ada kemungkinan begitu. Tapi, kita tidak boleh menyimpulkan sebelum bukti-bukti lengkap. Tolong Mas Edi sampaikan ke Kiki agar mencari bukti-bukti itu.”
“Maaf, Mbak. Bukankah dengan bukti-bukti bahwa mereka dalang di balik insiden ini sudah cukup bagi kita untuk bertindak?” Edi menyela.
Via menggeleng. Ia menatap Edi sekilas.
“Saya nggak mau gegabah dalam bertindak. Saya harus tahu latar belakang mereka berbuat seperti itu. Saya tidak ingin dendam dibalas kejahatan. Kalau seperti itu, dendam tidak akan berakhir. Saya ingin menghentikan dendam agar tidak berkepanjangan. Itu pun kalau benar mereka bertindak atas dasar membalas dendam.”
Edi sedikit terperangah. Lagi-lagi Via menunjukkan kelasnya. Dia tidak mau kejahatan dibalas kejahatan, membiarkan dendam berkepanjangan.
Biasanya, Pak Candra akan membalas perbuatan musuh-musuhnya. Bahkan, sering kali lebih kejam. Edi begitu hafal dengan kebiasaan Pak Candra. Itu sebabnya, Pak Candra disegani oleh lawan. Mereka berpikir berkali-kali untuk melawan seorang Candra Wijaya.
Cara Via menghentikan aksi pemilik Elang Perkasa sudah membuat Edi terkesan. Sekarang, rencana Via kembali membuat pria itu memuji sang majikan dalam hati.
“Baik, Mbak. Saya paham yang Mbak Via maksud. Insya Allah Kiki segera mendapat informasi yang Mbak Via minta.”
__ADS_1
“Terima kasih, Mas. O iya, tolong hubungi Dirut WK Husada! Aku butuh rapat dengan direktur WK Husada,” perintah Via.
“Apa ada masalah dengan WK Husada?” Edi sedikit khawatir.
“Tidak. Ini kaitannya dengan rumah sakit ayah.”
Edi mengernyitkan dahi karena belum paham.
“Aku akan minta WK Husada menjalin kerja sama dengan rumah sakit ayah. Melalui WK Husada, aku mau menggelontorkan dana segar yang ayah butuhkan untuk menopang kebutuhan. Saat ini pasti kondisi finansial rumah sakit mulai kacau.”
“Lalu, dananya dari mana? WK Husada kan masih tergolong baru,” kata Edi.
“Tentu dari sini. Yang penting, atas namanya WK Husada. Kalau langsung Wijaya Kusuma, pasti ayah menolak mentah-mentah. Kita harus menyembunyikan identitas WK Husada, jangan sampai ayah tahu kalau itu anak cabang Wijaya Kusuma.”
Sekarang Edi paham yang Via maksud. Ia kembali memuji dalam hati kecerdasan pemikiran sang majikan.
Edi undur diri ketika Via sudah merasa cukup. Ia segera menghubungi Kiki untuk bergerak lebih cepat. Setelah itu, dia menelepon Dirut WK Husada sesuai perintah Via.
Sementara itu, dokter Haris tengah mencermati angka-angka yang disodorkan oleh bendahara. Berulang kali dokter senior itu memijit keningnya yang terkadang berdenyut. Nafas panjang beberapa kali diambil untuk melapangkan dadanya.
Perhitungan bendahara rumah sakit tentang kerugian yang harus mereka tanggung akibat insiden keracunan sangat besar. Tidak hanya menanggung biaya pengobatan pasien yang keracunan yang membuat dokter Haris pusing. Jumlah pasien rawat jalan pun menurun drastis. Tentu hal ini mengguncang kondisi finansial rumah sakit.
Saat dadanya makin sesak memikirkan masalah rumah sakit, dokter Haris berdiri mengambil Al Quran. Ia menenggelamkan diri dalam bacaan ayat-ayat suci. Setelah satu juz, kondisi dokter Haris merasa lebih baik. Ia menutup kitab suci itu.
Ketukan di pintu membuat dokter senior itu bangkit dari duduknya. Ia membuka pintu ruangannya. Dua orang gadis berseragam batik berdiri di depan pintu.
“Waalaikumsalam. Ada hal yang penting? Silakan masuk,” kata dokter Haris.
Mereka melangkah masuk mengikuti dokter Haris. Keduanya duduk berhadapan dengan sang kepala rumah sakit.
“Tadi ada telepon dari WK Husada. Mereka bermaksud mengajukan kerja sama dengan rumah sakit.”
Dokter Haris menatap anak buahnya sekilas. Ia tidak ingin menyela sehingga membiarkan gadis di depannya melanjutkan pembicaraan.
“Draftnya sudah dikirim lewat email. Ini print outnya. Silakan dokter bisa mempelajarinya. Bila tertarik, saya akan menghubungi untuk mengatur pertemuan dengan mereka.”
“Sepertinya saya baru dengar WK Husada.” Dokter Haris mengernyitkan kening.
“Memang perusahaan ini belum lama berdiri. Saya sudah mengecek profilnya. Meski masih baru, kelihatannya memiliki prospek cerah. Manajemennya bagus.”
“Baiklah, saya pelajari dulu. Nanti saya beri tahu langkah selanjtnya,” kata dokter Haris memutuskan.
“Baik. Kalau begitu, kami permisi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
__ADS_1
Begitu dua orang gadis itu keluar, dokter Haris membuka print out yang tadi disodorkan anak buahnya. Ia membaca dengan cermat. Beberapa bagian ia beri tanda.
“Luar biasa. Apa ini jawaban atas doa-doaku? Kerja sama ini sangat menguntungkan. Kalau deal, kondisi finansial rumah sakit ini bisa diselamatkan,” gumam dokter Haris.
Segera diraihnya telepon antarruang. Ia menghubungi gadis yang tadi mengantarkan print out draf kerja sama.
“Mbak Umi, kita rapat terbatas untuk membahas rencana kerja sama dengan WK Husada. Saya tunggu di ruang rapat 30 menit lagi.”
“Baik, dok. Segera saya hubungi yang lain.”
“Terima kasih.”
Setelah memutuskan percakapan, dokter Haris membuka laptopnya. Ia membuat kalkulasi kebutuhan rumah sakit.
Rapat direksi siang itu memutuskan mereka menerima tawaran kerja sama dengan WK Husada. Umi diminta menghubungi pihak WK Husada, mengatur pertemuan dengan mereka.
Setelah berkomunikasi, Umi segera melaporkan hasilnya.
“Dari WK Husada meminta bertemu nanti malam sekalian makan malam. Bagaimana, dok?” ucap Umi.
“Sekalian tempatnya. Kita ngikut saja,” jawab dokter Haris.
“Baik, dok,” kata Umi.
Setelah membicarakan tentang kerja sama, dokter Haris menuju ruang ICU. Ia mengecek kondisi sang ayah yang masih belum kembali sadar.
“Kondisi vitalnya stabil. Berarti nanti bisa dipindahkan ke bangsal,” gumam dokter Haris.
Ia menemui perawat yang piket menanyakan hasil pemeriksaan dokter syaraf.
“Ini rekam medis Tuan Probo. Menurut dokter Fandi, Tuan Probo sudah bisa dipindahkan ke bangsal,” tutur perawat.
“Baik. Kalau begitu, siapkan kamar. Nanti pindahkan ke bangsal!” perintah dokter Haris sambil melangkah keluar.
Begitu di luar ruang ICU, dokter Haris segera menghubungi istrinya, memberitahukan kondisi Eyang Probo. Ia pun memberi tahu Farhan.
Dokter Haris begitu senang saat itu. Ia sedikit tenang karena ayahnya sudah stabil. Ia pun punya gambaran jalan keluar menyelesaikan masalah finansial rumah sakit.
Ia tidak menyadari sepasang mata tengah mengawasi dirinya. Orang berbaju hitam, berkaca mata hitam, dan mengenakan masker itu berdiri sekitar 10 meter dari posisi dokter Haris.
*
Bersambung
Harap sabar menanti kasus ini selesai, ya. Yang kangen Meli, bisa nengok dia di novel CS1 karya novelis kece Kak Indri hapsari. Jangan lupa untuk dukung kami dengan meninggalkan like dan komentar.
__ADS_1
Barakallahu fiik