
Setelah mengambil beberapa gambar Via, Doni menyerahkan kembali ponsel Via kepada pemiliknya.
"Makasih, Don. O ya, mana teman-teman kamu?" tanya Via sambil memasukkan ponselnya ke dalam sling bag.
"Kami berpencar karena hari ini kegiatan bebas. Paling kami janjian di tempat parkir. Aku jalan dulu, ya! Kamu nggak apa-apa kalau kutinggal?" Doni sedikit khawatir.
"Enggak apa-apa. Paling sebentar lagi Mas Farhan balik, kok," kata Via menenangkan.
"Ya sudah, aku tinggal. Salam buat Mas Farhan," ucap Doni.
"Iya, Don."
Setelah Doni meninggalkannya, Via celingukan mencari sosok Farhan. Ia terkejut saat sebuah tepukan mendarat di bahunya.
"M--mas Far--han?" Via tergagap.
"Kenapa? Kaget? Aku sudah lihat kalian tadi," kata Farhan dengan ekspresi datar.
"Maksud Mas Farhan?" Via mengerutkan keningnya.
"Bukannya tadi asyik foto-foto? Kenapa cuma sebentar?"
Via merasakan aura dingin dari suaminya. Aura seperti ini pernah ia rasakan saat perpisahan SMA dulu.
"Maksud Mas Farhan...Doni?" Via mencoba untuk tenang.
"Hhmmm," gumam Farhan.
"Mas, Doni itu cuma teman. Kami nggak sengaja ketemu. Dia sedang ada acara dengan teman kuliahnya. Kami juga ngobrol cuma sebentar. Mas marah?" Suara Via bergetar.
"Ngapain minta foto-foto? Memangnya aku nggak bisa fotoin kamu? Kalau bukan ...."
"Kalau bukan apa? Mas menuduh aku yang nggak-nggak lagi?" potong Via. Ia menatap tajam suaminya.
Air mata Via sudah mulai menggenang di pelupuk mata. Ia kemudian berlari meninggalkan Farhan yang masih mematung.
Setelah beberapa detik, Farhan baru tersadar. Ia tidak lagi melihat sang istri. Pria itu pun berlari menuju tempat parkir. Sambil berlari ia menelpon Edi untuk mencari keberadaan Via.
Sesampai di mobil sewaan, ternyata Via tidak di sana. Hanya sopir yang ada di sana.
"Pak, istri saya belum ke sini?" tanya Farhan dengan nafas terengah-engah.
"Belum, Pak. Apa tadi tidak bersama?" si sopir balik bertanya.
"Kami terpisah tadi." Farhan tidak mungkin menjawab jujur. Ia pun kembali menelepon Edi.
"Mas, Via nggak ada di mobil," kata Farhan.
__ADS_1
"Ya, saya sedang mencari. Mas Farhan sudah coba menelepon Mbak Via?" tanya Edi.
"Ah, iya aku lupa. Aku telepon dulu. Nanti saya kabari."
Setelah menutup pembicaraan dengan Edi, Farhan segera mencari kontak Via. Ia mencoba menghubungi. Beberapa kali mencoba, ia gagal menghubungi Via.
"Apa jaringan yang buruk, ya?" gumam Farhan. Ia mencermati layar ponselnya. Ternyata, cukup bagus.
"Ah, iya. Tadi aku menghubungi Mas Edi juga lancar, suara terdengar jernih. Atau jangan-jangan ...."
Farhan menepis pikiran buruknya. Ia segera menghubungi Edi lagi, menyuruh Edi segera kembali. Begitu Edi muncul, Farhan menyuruh sopir untuk mengantarkan ke hotel.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Edi.
"Tadi ada sedikit masalah," jawab Farhan singkat.
Edi paham kalau ia tidak berhak bertanya lebih lanjut.
"Maafkan keteledoran saya, Mas. Seharusnya saya membawa anak buah saya untuk mengawal Mbak Via dari jauh. Saya akan menghubungi mereka agar segera ke sini," sesal Edi.
Farhan hanya diam. Ia benar-benar pusing memikirkan keberadaan Via. Dalam hati ia menyesal akan sikapnya terhadap Via. Namun, kecemburuan lebih menguasai dirinya.
Begitu sampai hotel, Farhan tergesa-gesa masuk. Ia bahkan setengah berlari sampai ke lift.
Betapa leganya dia ketika membuka pintu kamar, dilihatnya Via sedang telungkup di atas kasur. Ia segera mengirim pesan kepada Edi, memberi tahu soal keberadaan Via.
Saat Via naik ke atas tempat tidur, Farhan segera menyusul. Ia duduk bersandar.
"Kita harus bicara," kata Farhan dingin.
Via tidak menyahut. Mulutnya terasa enggan terbuka.
"Aku nggak suka kamu deket-deket laki-laki yang bukan mahram kamu. Apalagi orang yang menaruh hati padamu. Kamu harusnya bisa menjaga diri karena kamu sekarang bukan single lagi. Kamu istriku," lanjut Farhan.
"Aku, kamu? Ke mana tuh panggilan mesra yang terucap dari kemarin? Sudah lupa?" cibir Via dalam hati.
"Kamu dengar aku ngomong nggak, sih?" tanya Farhan gusar.
"Hhmmm...." gumam Via dari balik selimut.
"Kalau dengar, jawab dong!"
"Aku mesti jawab apa? Aku males ngomong sama orang yang lagi dikuasai emosi gak jelas," jawab Via.
Amarah Farhan yang mulai mereda, bergejolak lagi. Mukanya merah padam. Ia segera bangkit mengambil minum. Ia teguk segelas air putih untuk meredam amarah.
"Kau jangan mulai membangkitkan kemarahanku! Aku berusaha bicara baik-baik," bentak Farhan.
__ADS_1
Via kaget mendengar bentakan suaminya. Hatinya kembali terluka. Ia segera menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Sekuat tenaga ditahannya isak tangis yang hampir meledak.
Akhirnya, malam itu mereka masih memendam rasa amarah. Farhan memutuskan untuk tidur di sofa.
Pukul 02.30 Via terbangun. Ia melihat Farhan sedang salat sunah malam. Ia pura-pura belum bangun.
Setelah salat, Farhan menepuk lengan Via pelan.
"Bangun, sudah jam 3," kata Farhan pelan.
"Hhmmm."
Farhan kembali ke sofa. Ia merebahkan tubuhnya dengan kasar.
Via menunggu beberapa saat. Setelah merasa yakin suaminya tidur lagi, perlahan ia bangun. Dengan langkah berjingkat, Via masuk ke kamar mandi. Setelah bersuci, ia pun mendirikan salat malam.
Usai salat witir, Via merenung. Ia mengingat kejadian yang ia alami.
Via merasa sedih mengingat hubungannya dengan Farhan. Ia mencoba menakar kesalahannya.
"Ah, iya. Kenapa aku minta Doni mengambil fotoku? Bukankah aku bisa menunggu Mas Farhan mengambilnya? Aku juga salah," batin Via.
Via duduk sambil terus merenung. Ada sesal menyelinap di hati. Namun, ego mengimbangi penyesalan. Tak terasa air matanya mulai meleleh di pipinya. Sesekali isaknya pun tak dapat ditahan.
"Kenapa juga dia langsung marah-marah nggak jelas? Dulu dia bilang menyesal. Eh, sekarang diulangi. Mana momennya bulan madu lagi. Nggak asyik banget, bulan madu kok marahan, tidur terpisah."
Sementara Farhan pun sebenarnya tidak tidur lagi. Matanya memang terpejam, tapi pikirannya terus berjalan. Isak lirih yang berasal dari wanita yang memakai mukena menambah kegelisahan.
"Apa cemburuku kelewatan, ya? Dek Via tentu marah, sakit hati. Dulu aku sudah janji tidak cemburu buta, kenapa sekarang terulang? Kemarin aku baru saja memintanya untuk bersandar padaku saat dirundung masalah, tapi justru aku yang menjebak dia dalam masalah. Bagaimana dia akan bersandar kepadaku? Ah, bodohnya aku."
Farhan mengingat kejadian di Taman Sukasada. Sejak ia baru keluar dari toilet, melihat Via berduaan dengan Doni, diambil gambarnya oleh Doni hingga mereka bertengkar terbayang jelas di benaknya.
"Harusnya aku ngomong baik-baik. Tapi, waktu itu aku sudah berusaha menekan emosiku. Kenapa dia meledak-ledak bahkan kembali ke hotel tanpa pamit. HP pakai di-off lagi. Bikin orang panik. Sudah begitu, diajak bicara lagi juga marah. Bingung aku."
Farhan pun menimbang-nimbang kesalahannya dan kesalahan Via. Hingga waktu subuh, ia belum bisa memastikan sikap yang harus diambil.
Begitu terdengar suara azan subuh dari ponselnya, Farhan bangkit. Ia mengambil air wudu meski belum batal. Namun, ia yakin air wudu dapat membantu menjernihkan pikiran.
***
**Bersambung
Terus dukung author, ya! Klik like, berikan komentar juga. Yang belum memberikan penilaian, author berharap dapat bintang 5 😍
Authors yang koment insya Allah akan kudung balik karyanya.
Terima kasih 🙏**
__ADS_1