SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Keseruan Belanja


__ADS_3

Mobil Via kembali melaju meninggalkan kediaman dokter Haris. Ada lima penumpang yang duduk manis di dalam.Azka duduk di depan, di saming Pak Nono yang mengemudikan mobil. Di belakang sopir ada Via yang duduk bersebelahan dengan Ratna. Sementara Anjani dan Meli duduk di jok  paling belakang.


Roda mobil menggilas aspal jalanan kota dengan kecepatan sedang. Karena bukan akhir pekan dan bukan jam sibuk, jalanan tidak begitu padat. Sekitar 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai Gembiraloka.


Azka dengan cepat turun dan menuju loket pembelian tiket. Hanya 5 buah yang ia beli karena Pak Nono tidak mau ikut.


Setelah melewati pengecekan tiket, mereka berjalan santai menyusuri  rute pengunjung. Sesekali mereka mengambil gambar untuk kenang-kenangan. Azka sering disusuh mengambil gambar yang lain.


“Sudah kau upload ke status ya, Mel?” tanya Anjani.


“Sudah. Statusku hari ini cuma berisi liburan kita,” sahut Meli.


“Bang Dika kalau lihat pasti langsung ingin nyusul ke sini,” ledek Anjani.


“Siapa itu Dika?” tanya Azka tiba-tiba.


Meli terkejut. Ia tidak mengira Azka berada di belakangnya. Tentu saja ia menjadi gugup.


“Oh, dia teman kami, Mas. Dika suka travelling. Kalau lihat ada status orang bepergian, dia pasti ingin,” jawab Anjani menenangkan.


Azka hanya mengangguk-angguk. Kemudian, ia meninggalkan Meli dan Anjani menuju Via yang terlihat lelah menggendong Zayn.


“Hufff, selamat. Kamu, sih,” ucap Meli.


“Hehehe, aku nggak tahu Mas Azka di belakang kita. Tapi, jawabanku meyakinkan, kan? Lusa, kau belikan aku coklat Dika, ya!” kata Anjani sambil tertawa.


“Apaan? Kamu sendiri yang buat gara-gara pakai nyebut nama Dika,” sungut Meli.


“Ah, kamu payah! Kalau kamu yang beli, pasti dapat diskon,” canda Anjani.


“Kamu ternyata juga suka diskon. Eh, kalau kamu berulah lagi, aku kirim foto kamu dan Mas Azka ke Kak Mario,” ancam Meli.


Anjani terbelalak. Beberapa detik kemudian, ia tertawa lepas.


“Kapan aku foto berdua Mas Azka? Lagian, ngapain kamu kirim ke Kak Mario?” tanya Anjani kalem.


“Kan ada foto yang kamu berdiir dekat Mas Azka. Kak Mario kayak apa ya kalau lihat fotomu berdua begitu.”


Meli pura-pura begidik ngeri. Anjani menadi sebel dengan rencana Meli.


“Jadi, kamu mau coba-coba fitnah aku? Nanti kalau Mas Azka melamar aku, kamu nangis darah, lo”


Meli tersentak mendengar ucapan Anjani. Ad rasa tidak suka dalam hati Meli.


“Makanya, jangan punya niat jelek begitu!” tutur Anjani bijak.


“Iya, Ustazah,” ucap Meli.


Mereka berdua  cekikan. Anjani menarik tangan Meli menuju Via dan yang lain.


“Bagaimana kalau kita naik kereta kelinci, keliling bonbin? Via menawari.


“Boleh, bolek! “ seru Meli senang.


Azka tanggap siruasi. Ia pergi ke loket. Mereka pun menikmati pemandangan sambil dudukk di kereta. Kali ini, Meli duduk berdua dengan Via.


Banyak spot yang bagis untuk foto. Buar preewedding juga bagus,” celetuk Meli.


“Kamu mau foto prewedding di sini? Sama siapa?” tanya Anjani.


“Eh, enggak.  Aku  cuma asal ngomong,” jawab Meli.


“Beneran kamu belum ada yang melamar?” bisik Via.


“Ih, apaan! Belumlah! Aku juga masih kuliah. Bisa-bisa kuliahku berantakan karena harus urus suami dan anak,” jawab Meli.


“Kalau cuma nikah dulu, ngurus suaminya setelah lulus, mau?” Via menatap Meli  tajam.


“Via, jangan meledek aku terus! Belum ada cowok yang naksir aku,” kata Meli.


“Kalau sekarang ada, kamu mau?” kejar Via.


“Ma—maksud kamu?” Meli mulai gugup.

__ADS_1


“Kalau cowok yang lagi mangku Zayn melamar kamu, diterima nggak?”


Meli semakin gugup mendengar ucapan Via. Pipinya sudah berubah kemerahan.


“Memangnya Mas Azka mau sama cewek macam aku?” ucap Meli malu.


“Aku yakin mau. Kamu gimana?” tanya Via lagi.


“A—aku belum tahu. Lagian apa ayahku mengizinkan, aku nggak tahu,” elak Meli.


Via tersenyum. Meski ia tidak mendapat jawaban yang pasti dari Meli, ia sudah bisa menakar isi hati gadis itu.


“Meli, kamu nggak ingin selfi sama saudara tua?” tanya Anjani sambil menunjuk monyet.


Meli yang tengah memikirkan ucapan Via tidak mendengar pertanyaan Anjani. Ia diam saja.


Karena tidak mendapat jawaban, Anjani menoleh. Ia melihat tatapan Meli kosong. Sementara Via hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. Anjani pun tak lagi bertanya.


Setelah puas berkeliling, mereka menuju musalla untuk salat zuhur. Kemudian,  Azka meminta Pak Nono melanjutkan perjalanan.


“Kita makan siang di mana? Di Malioboro saja?” tanya Azka.


“Emm, kalau gudeg lesehan bagaimana?” Anjani mengajukan permintaan.


“Boleh. Yang lain setuju?” tanya Azka lagi.


“Okelah. Mumpung di Jogja, harus menikmati makanan khas Jogja,” ucap Ratna.


Meli diam saja. Rupanya ucapan Via masih menggelayut di benaknya.


“Meli, kamu setuju nggak?” tanya Anjani sambil menyikut lengan Meli.


Meli tergagap lalu menjawab,”Setuju! Ke KUA sekarang?”


Anjani terbahak-bahak mendengarnya. Untung saja kalimat tanya Meli tidak diucapkan dengan keras. Hanya Anjani yang mendengarnya. Yang lain hanya mendengar kata setuju yang terucap dari mulut Meli.


“Kamu ngapain ke KUA? Mau nikah sama siapa?” bisik Anjani.


Meli tampak kebingungan. Ia menatap Anjani.


Anjani menahan tawa. Ia melihat ekspresi Meli yang begitu lucu.


“Aku tanya, kamu setuju nggak makan gudeg lesehan? Kamu jawab setuju lalu tanya apa mau ke KUA sekarang,” jelas Anjani.


Muka Meli kemerahan lagi. Ia menjadi salah tingkah.


“Sebenarnya kamu lagi mikir apa, sih?” bisik Anjani.


“Eng—enggak,” elak Meli.


Anjani tidak lagi menanyai Meli. Ia membiarkan sahabatnya berkelana dalam lamunan.


Saat makan pun, Meli masih banyak diam. Seringkali ia bereaksi setelah pertanyaan diulang. Ratna dan Via juga merasakan perubahan sikap Meli.


Usai makan siang, mereka berjalan-jalan menyusuri Jalan Malioboro. Begitu melihat banyak pernak-pernik, Meli kembali ke sifat asal. Lamunannya sudah ia buang, diganti barang-barang yang tersaji di sepanjang Jalan Malioboro.


“Bagaimana kalau kita beli kaos untuk Juno, Kak Ken, Kak Mario, ...,” Meli menghitung sahabatnya.


“Alenna,Berlian, juga  Vina. Masak cowok semua yang disebut?” protes Anjani.


Meli terkekeh. Ia mulai melihat-lihat kaos yang dijajakan.


“Kaosnya khusus buat yang cowok, Anjani. Buat cewek, kita carikan yang lain,” kata Meli.


“Buat Dika juga, dong,” bisik Anjani.


Meli menghela nafas panjang. Ada rasa yang menyesakkan dadanya. Anjani hanya melirik sahabatnya tanpa menanyakan.


“Yang mana? Sebentar, aku tanya penjualnya dulu,” kata Ratna.


Tawar-menawar pun terjadi antara Ratna dan penjual. Via hanya tersenyum melihat kegigihan Ratna menawar. Ratna memang biasa berbelanja, tahu persis harga barang seperti itu.


Setelah terjadi kesepakatan, Anjani membawa kaos yang ia pilih. Ia mengambil dompet. Namun, ia kalah cepat. Azka sudah membayarnya.

__ADS_1


“Terima kasih, Mas Azka. Kami jadi merepotkan kalau begini,” ucap Anjani.


“Biasa saja, Anjani. Pokoknya, puaskan hasrat belanjamu! Pak Bos siap membayar. Kalau duit Pak Bos habis, masih ada Bu Bos,” kata Ratna sambil cengengesan.


Via dan Azka hanya mengangkat bahu karena keusilan Ratna.


“Kalian kan tamu kami. Nggak tiap bulan juga ke sini. Mumpung kalian di sini, apa salahnya kami melayani kalian?” ucap Azka.


“Cieee...melayani. Ah, aku juga mau! Yuk, cari tas!” ajak Ratna.


Mereka pun mencari sling bag. Anjani dan Meli pun memilihkan untuk ketiga temannya. Lagi-lagi Azka yang membayar semua belanja mereka.


“Buat Paman dan istrinya belum? Kan Paman Sam yang sudah beliin kita tiket,”  kata Meli.


“Iya. Buat Renal dan Ma juga. Buat Paman Roni, Bibi Fatimah masa enggak?” ganti Anjani mengingatkan Meli.


Azka mengajak mereka ke toko batik. Hem dan blouse batik mereka pilih sebagai oleh-oleh untuk keluarga.


Setelah puas berbelanja di Malioboro, mereka menuju ruko. Anjani yang belum pernah mengunjungi ruko Azrina tampak begitu antusias.


Saat mereka datang, toko cukup ramai. Mira dan Salsa dibantu dua lainnya tampak sibuk melayani pembeli. Ratna mengajak para wanita ke lantai 2. Sementara Azka dan Pak Nono berpamitan ke masjid.


Usai salat ashar, Ratna melihat lantai 1 sudah sepi. Hanya ada satu pembeli tersisa. Mira dan Salsa yang tengah melayani. Dua karyawati teman Ratna sedang salat ashar.


“Yuk melihat-lihat toko!” ajak Ratna.


Mereka berempat turun ke lantai 1. Zayn yang tertidur dibaringkan di ranjang Ratna.


“Mbak Mira, Salsa, ini teman-temanku dari Jember. Tadi kalian sedang sibuk, jadi kami langsung ke atas,” ucap Ratna.


Salsa terkesiap mendengar kata ‘Jember’. Sementara Mira bersikap biasa saja karena dia sudah tahu kedatangan mereka waktu Ratna berpamitan ke rumah dokter Haris.


“Assalamualaikum. Saya Anjani,” ucap Anjani sembari mengulurkan tangannya ke Mira.


“Saya Meli,” sambung Meli. Ia mengulurkan tangan ke Salsa.


Ada perih menyerang hati Salsa. Namun, sekuat tenaga ia menyembunyikannya. Toh, ia bukan siapa-siapa Azka. Meli bukan pepacor apalagi pelakor.


“Kalau kalian suka, ambil saja gamis yang kalian mau. Ini model terbaru. Satu set dengan jilbab juga ada,” Ratna menunjukkan koleksi gamis Azrina.


Mata Meli tampak berbinar. Ia begitu senang melihat koleksi gamis yang cantik.


“Ah, rasanya pengin boyong ini semua,” desah Meli.


“Ambil saja! Buat ibu kalian juga! Buat ayah, kalian bisa ambil koko. Jatah gaji Bu Bos masih cukup untuk memborong gamis dan koko,” bisik Ratna.


“Ah, nggak enak. Masa tadi kami sudah dibayarin Mas Azka begitu banyak, sekarang ganti merampok toko?” ujar Anjani.


“Mumpung gratis, Anjani,” bisik Meli.


Anjani menginjak kaki Meli. Hampir saja gadis itu menjerit kalau Anjani tak buru-buru membungkam ulutnya.


“Sudah, nggak usah sungkan begitu! Bu Bos  sudah kasih lampu hijau, tuh. Ya nggak, Bu Bos?’ ucap Ratna.


Via hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia mendekati Meli dan Anjani.


“Ini cocok untuk kalian. Sesekali beli gamis couple,” kata Via sambil menunjukkan gamis warna hijau tua kombinasi toska.


“Cantik. Jilbabnya juga cantik,” komentar Meli.


Via menyerahkan dua gamis yang sama ke Ratna. Dengan cekatan, Ratna melipatnya dan memasukkan ke paper bag.


“Silakan kalian pilih buat ibu kalian. Aku nggak tahu ukurannya. Nggak usah sungkan! Seperti yang Dek Azka bilang, kalian nggak tiap bulan ke sini. Mumpung kalian di sini, biarkan kami memberikan pelayanan yang baik,” ucap Via tulus.


Akhirnya, mereka tak kuasa menolak kebaikan Via. Tidak hanya untuk mereka, untuk keluarga dan teman-teman mereka pun Via belikan.


Menjelang pukul 17.00 Via berpamitan. Ratna tidak ikut karena harus menjaga ruko. Salsa sengaja menunda kepulangannya menunggu para tamu pulang. Gadis itu berhasil meredam gejolak di dada, menyembunyikan pedih di hati.


***


Bersambung


Terima kasih buat readers yang setia. Yang belum tahu Mario, Ken, Alenna, dan teman-teman Anjani-Meli, bisa meluncur ke novel karya Kak Indri Hapsari. Jangan lupa untuk selalu klik like dan tinggalkan komentar! Itu sangat berharga bagi kami. O iya, baca juga cerpen karyaku, Menanti Pelangi.

__ADS_1



__ADS_2