SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XV


__ADS_3

Suasana kelas XII IPA-1 begitu ramai. Sorak-sorai terdengar saat Via dan Doni masuk kelas. Secara kebetulan, mereka sampai sekolah hampir bersamaan. Via dan Doni dielu-elukan bak pahlawan. Berita kemenangan tim debat Bahasa Inggris telah menyebar.


“Selamat kepada Via dan Doni yang telah menjuarai Lomba Debat Bahasa Inggris, mempertahankan gelar kejuaraan, dan mengharumkan nama bangsa eh nama sekolah. Tepuk tangan untuk sang juara,” kata Toni, wakil ketua kelas XII IPA-1.


Tepuk tangan pun bergema di kelas itu. Sesekali terdengar suitan.


“Kalian ini ada-ada saja. Kelas lain pasti heran dengan ulah kalian. Masa aku dan Via diperlakukan kayak atlet yang baru dapat medali emas olimpiade,” kata Doni sambil geleng-geleng kepala.


“Sekarang kita dengarkan pidato kemenangan sang juara yang akan diwakili Saudara Doni.”


“Haish…udah deh. Ntar ketahuan guru, kita kena marah lo! Kasihan Bu Aisyah, wali kelas kita kalau ini jadi masalah. Udah, bubar…bubar!”


“Eits…nggak bisa kayak gitu. Syukurannya gimana?” tanya Mita.


“Kami sudah bersyukur kehadirat Allah subhanahu wataala yang telah melimpahkan rakhmat dan hidayat-Nya kepada kita. Puas?” balas Doni.


“Gak asyikkamu, Don.”


“Biarin!”


Beberapa anak kelas lain melihat kehebohan anak-anak kelas XII IPA-1 dari balik jendela. Salah satunya adalah Lia. Kebenciannya semakin bertambah melihat kedekatan Via dan Doni. Wajahnya merah padam.


“Selamat, ya Vi. Aku bangga pada kalian,” kata Ratna sambil mengulurkan tangan.


Via menyambut uluran tangan Ratna. Sambil tersenyum tulus, Via menjawab,” Makasih Rat. Meski kau tidak hadir di tempat lomba, aku yakin kau mendoakan kami, kan?”


Ratna hanya tersenyum. Dia masih berhati-hati saat bicara dengan Via. Rem cakram sudah ia pasang di mulut agar tidak kebablasan.


“Kamu nggak marah padaku, kan Vi?”


“Marah? Hei…apa alasan yang bisa kupakai untuk marah ke kamu?”


“Mmmm…waktu itu…aku salah ngomong, bikin kamu sedih. Maafkan aku, ya.”


“Ratna, kamu apa-apaan sih? Udah, deh! Aku aja yang masih suka baperan.”


“Beneran kamu nggak marah?”


“Iiih…ni anak ngeyel banget, sih.”


“Iya, iya, aku percaya. Makasih, sayangku.” Ratna memeluk Via erat.


“Ratna, jangan lebai gini deh! Geli, tau?”


Ratna terkekeh. Rem cakram di mulutnya segera dilepas.


“Aku kan kangen gak ketemu kamu.”


“Mulai lagi deh. Lebai. Berapa hari sih gak ketemu aku? Sebegitunya," sungut Via.


“Dua hari, Neng. Dua kali sepuluh jam pelajaran tanpa kamu, dunia terasa hampa.”


“Bhuahahaha… Kayak di angkasa luar dong! Emangnya kenapa?”

__ADS_1


“Kan nggak ada yang ngasih contekan”


“Emang ada ulangan?”


“Enggak, sih. Tapi tugasnya seabreg. Hufff… Bisa kurus kering kalau kau tak di sisiku sebulan.”


Via kembali tertawa cekikikan. Ratna memang sering lebai.


“Nanti kutraktir deh. Sekali-sekali, aku masih bisa nraktir kamu di kantin.”


“Beneran? Nggak ngrepotin? Ah, senangnya.”


“Hehe…bagi-bagi rejeki lah.”


“Emang kalian kemarin dikasih duit?’


“Ada uang saku. Lumayan, bisa buat nraktir kamu. Kalau nraktir semua teman, aku tekor dong. Bangkrut bandar.”


“Kamu emang temanku yang baik hati, tidak sombong, …”


“Dan suka menabung,” sambar Via disusul tawa keras.


“Sssttt…sudah, ntar kebablasan. Tuh, Pak Ari masuk.”


Via menutup mulutnya. Ia segera mengeluarkan buku Fisikanya.


Saat jam istirahat, Via dan Ratna berjalan cepat ke kantin. Kalau tidak cepat, kadang tidak kebagian tempat.


Untunglah masih ada tempat duduk. Mereka duduk di dekat pintu. Mereka siap menyantap beberapa gorengan ditemani dua gelas es jeruk.


"Eh, kena baju si gembel. Maaf, ya, sengaja. Lagian tumben-tumbenan si gembel berani ke kantin. Punya duit? Atau habis ngemis?" ujar gadis yang baru menumpahkan es teh.


"Lia! Kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu cari gara-gara? Apa salah Via?" teriak Ratna penuh emosi.


"Hei, kacung! Ngapain kamu belain si gembel? Dia kan sudah ga punya apa-apa buat bayar kamu."


"Aku nggak butuh bayaran dari seorang sahabat. Kamu nggak pernah punya sahabat pasti nggak tahu pentingnya sahabat."


"Wiiih, sok bermoral kamu. Buat apa sahabat kalau nggak menguntungkan. Yang ada bikin ribet."


"Sudah...sudah... Jangan diperpanjang," Via berusaha menenangkan Ratna yang hampir memukul Lia.


Via bangkit dari duduknya lalu ke wastafel. Diusapnya bagian yang terkena tumpahan es teh agar tidak lengket. Setelah selesai, ia kembali ke etalase makanan dan mengambil siomay dengan saus cukup banyak.


Via membawa siomay ke tempat duduknya. Namun, ia sengaja melewati tempat duduk Lia dan pura-pura tersandung kursi.


"Brakkk!" Siomay di tangan Via berhamburan dan sebagian mengenai baju Lia.


"Maaf, sengaja," ujar Via dingin. Ia melenggang santai ke tempat duduknya.


"Kurang **** kamu! Berani kamu melawan aku?" Lia berdiri mendekati Via dengan muka merah padam.


"Oh, tentu tidak. Saya tidak berani, Nona," jawab Via santai.

__ADS_1


Ratna menahan tawa melihat pemandangan di depannya. Ia tidak mengira Via berani membalas dengan tindakan tak terduga.


Lia sangat geram. Ia menarik baju Via hingga Via harus berdiri. Dengan cepat Lia menyambar gelas berisi es teh yang tinggal setengahnya. Ia siramkan ke tubuh Via. Sayangnya, Via dengan cepat menghindar.


"Auw!" terdengar teriakan seorang cowok yang baru masuk ke kantin.


"Doni! Ma...maaf, aku nggak sengaja. Ini gara-gara si gembel dan kacungnya. Aduh, kamu jadi basah. Kita ke ruang BK aja, yuk! Kita adukan kelakuan mereka."


Doni tersenyum sinis. Ia mendekat ke meja Via. Ia sudah menduga Lia yang cari gara-gara ketika melihat baju Via juga basah seperti dirinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Doni.


"Tadi si ubur-ubur sengaja nyiram baju Via. Terus, Via balas numpahin siomay ke ubur-ubur. Eh, si ubur-ubur marah, trus berniat nyiram Via lagi. Tapi malah kena kamu. Berarti kamu emang ditakdirkan senasib sama Via," kata Ratna.


"Diem kamu, kacung. Nggak gitu, Don. Bajunya basah bukan ulahku, kok," Lia membela diri.


"Kamu bilang mau mengadukan masalah ini? Jadi nggak? Nanti aku akan minta rekaman CCTV kantin," kata Doni dengan tatapan tajam.


Lia baru sadar kalau di kantin sudah terpasang CCTV. Ia tidak mungkin bisa membalikkan fakta.


"Eee... tidak usah. Aku bersedia ganti rugi. Biar aku beli seragam di koperasi, ya," pinta Lia memelas. Kasusnya membully Via di perpustakaan saja belum selesai, dia tidak mau menambah masalah.


"Tidak perlu! Kau minta maaf ke Via."


"Nggak bisa gitu, Don!" protes Lia.


"Ya sudah, kita selesaikan di ruang BK."


Mendengar ancaman Doni, Lia ketakutan. Akhirnya, mau tidak mau ia meminta maaf kepada Via.


"Maaf," bisiknya.


"Tidak seperti itu! Minta maaf untuk apa? Kamu juga harus janji tidak akan mengulangi lagi. Katakan dengan jelas dan suara yang keras biar semuanya mendengar!" perintah Doni tegas.


Lia sangat gugup. Situasi ini benar-benar membuatnya gugup, marah, dan malu.


"Cepat, Lia!" bentak Doni.


Ratna menutup rapat mulutnya dengan tangan kanan. Ia bersusah payah menahan tawa yang hampir meledak.


"Via, aku minta maaf karena telah mengganggumu. Aku janji tidak akan mengulangi lagi!" teriak Lia.


"Prok...prok...prok" Anak-anak yang berada di kantin bertepuk tangan. Lia berlari keluar dari kantin.


"Bhuahaha... Sungguh adegan yang mengharukan," ujar Ratna. Ia merasa lega telah melepaskan tawanya.


"Makasih, Don," kata Via tulus.


"Buat apa? Anak seperti itu memang perlu dikasih pelajaran."


"Bajumu jadi basah," kata Via merasa bersalah.


"Kamu juga. Biarlah kubersihkan dulu." Doni melangkah ke wastafel dan membersihkan bajunya.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2