
Pukul 13.05 pesawat take off. Aku menarik nafas lega. Sekitar 3 jam lagi aku bisa menginjakkan kembali di tanah kelahiranku. Aku akan kembali berkumpul bersama keluargaku.
Aku mengucapkan selamat tinggal kepada bumi Sumatera Utara. Suatu saat, aku ingin berkunjung lagi meski di sana aku mengalami peristiwa teramat pahit yang hampir merenggut nyawaku. Namun, di sana juga aku mendapat pelajaran berharga dari keluarga sederhana Agus.
Pesawat landing tepat waktu. Doni segera memesan taksi online. Dia memang tidak ingin dijemput karena khawatir sopir keluarganya tidak bisa merahasiakan tentang aku.
Baru saja taksi keluar kompleks bandara, nyeri di kepalaku menjadi-jadi. Aku merasakan nyeri kali ini lebih hebat dibandingkan biasanya. Tampaknya Doni panik mengetahui aku terus-menerus menahan sakit. Pandanganku lama-kelamaan kabur. Akhirnya, kesadaranku hilang.
***
Flash Back Off
Hembusan nafas lega terdengar dari orang-orang yang mengelilingi Farhan. Pak Haris berkali-kali mengusap wajahnya. Sementara, di dekat Farhan dua perempuan tempat berlabuhnya cinta Farhan mengusap air mata yang terus-menerus mengalir.
“Alhamdulillah yaa Allah, segala puji bagi-Mu zat Yang Maha Berkehendak,” ucap Pak Haris irih.
“Berarti, jenazah yang kita makamkan adalah Tedi?” gumam Edi.
Pak Adi tersentak. Ia fokus pada kisah Farhan hingga melupakan nasib Tedi.
“Masya Allah, kau benar. Kasihan istri Tedi. Dia belum tahu kalau suaminya meninggal. Padahal, dia sedang sakit. Kau hubungi Candra, Ed!” perintah Pak Adi.
“Maaf, apa tidak sebaiknya besok pagi saja? Ini sudah malam, takut mengganggu istirahat mereka,”
usul Pak Haris.
“Saya sependapat dengan Pak Dokter. Toh penyampaian kabar tentang Tedi dan penyerahan santunan untuk
keluarganya tidak mungkin dilakukan malam ini,” sahut Edi.
Pak Adi tampak berpikir menimbang usul mertua cucunya. Beberapa detik kemudian, orang tua itu
menganggukkan kepala tanda setuju.
“Karena sudah malam, mari kita beristirahat. Apalagi Farhan. Kamu harus segera tidur, Nak!”
kata Pak Haris.
“Biarlah saya menginap di sini. Tuan Adi biar diantar Pak Yudi, ya,” pinta Edi.
“Kamu jangan jadi perusuh, Ed!” ucap Pak Adi ketus.
Edi kaget dan tampak kebingungan. Ia pun bertanya, “Maksud Tuan?”
“Kamu jangan mengganggu pasangan yang mau melepas rindu! Giliranmu besok setelah ijab,” jawab Pak Adi seraya menatap tajam ke arah Edi.
“Kan saya nggak di sini. Saya tidur di luar, Tuan,” ucap Edi sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
Semua orang tertawa. Sementara, Via tertunduk dengan muka memerah.
“Ada kamar kosong di sebelah. Biasanya ditempati dokter Rey. Tapi, sekarang beliau tidak bertugas
di sini lagi. Nanti aku suruh OB mengambilkan kunci. Nak Edi bisa tidur di situ. Bu Inah mending pulang saja, ya,” saran Pak Haris.
__ADS_1
“Ed, tambahkan anak buahmu di sini! Jangan hanya perempuan! Aku tidak mau kecolongan lagi!’
perintah Pak Adi tegas.
“Baik, Tuan. Tadi saya sudah menghubungi regu 2 untuk bersiaga. Nanti saya cek keberadaan mereka
dan mengatur titik penjagaan. O iya, saya mau minta maaf kepada Mas Farhan karena saya teledor. Selama Mas Farhan di Medan tidak dikawal bodyguard. Bahkan, saya tidak tahu kalau Mas Farhan pergi ke Medan hingga saya kembali. Maaf, Mas,” ucap Edi sambil menunduk.
“Sudahlah, Mas Edi. Jangan menyalahkan diri sendiri! Yang sudah berlalu biarlah berlalu,” sahut Farhan.
“Dan sekarang, mari beristirahat!” tambah Bu Aisyah diiringi senyum.
Setelah ruangan kembali rapi, semua orang meninggalkan Farhan dan Via di ruangan. Via mengunci pintu lalu mengganti penerangan dengan lampu tidur yang redup. Via belum bisa berada di ruangan tanpa cahaya. Ia belum sepenuhnya sembuh dari trauma akibat teror video yang didalangi Beno dulu.
Via melepas jilbabnya dan membiarkan rambut panjangnya terurai. Kemudian, ia menyusul Farhan naik ke ranjang queen size. Memang tidak selapang ranjang di rumah mereka. Namun, Via merasakan begitu nyaman ketika tubuhnya terbaring di atas kasur.
Tentu saja bukan karena kualitas ranjang maupun kasur atau pun seprei. Teman tidurlah yang membuat kenyamanan tercipta.
Via menyusup ke dalam selimut yang sama dengan suaminya. Tubuh mereka pun bersentuhan satu sama
lain. Tangan Farhan terulur, melingkari tubuh Via. Seulas senyum pun terlukis di bibir mungil perempuan yang baru saja resmi menjadi seorang ibu.
“Betapa Mas sangat merindukanmu, menginginkan kita berdua begini dalam kesunyian. Mas kangen sentuhanmu, aroma tubuhmu, hembusan nafasmu, semua tentang kamu,” bisik Farhan.
“Apa dikira kangen itu hanya milik Hubbiy? Apa hanya Hubbiy yang merasakan rindu, hem?”” balas Via.
Farhan terkekeh lirih. Dikecupnya kening sang istri dengan lembut.
“Sekarang, pejamkan mata, ya! Hubbiy harus istirahat. Kita masih punya banyak waktu untuk meredam rindu yang belum padam. dan, aku ingin kerinduanku tidak benar-benar padam. Selalu ada rindu untukmu seiring tumbuhnya cintaku padamu,” bisik Via.
Via menempelkan jari telunjuknya ke bibir Farhan.
“Hubbiy jangan bandel! Ingat, Hubbiy harus banyak istirahat. Kalau nggak mau diem, Via pindah tidur di sofa, nih,” ancam Via.
“Iya, iya. Nih, merem,” sahut Farhan cepat.
Farhan memejamkan kedua matanya. Tak lama kemudian, hembusan nafasnya terdengar halus dan teratur. Via menghela nafas lega. Ia sendiri belum bisa tidur.
Dalam temaramnya cahaya lampu tidur, dipandanginya wajah Farhan yang tampak damai. Wajah tampan
yang tidak bisa lepas dari ingatan.
Tangan Via beralih ke dada sang suami. Telapak tangannya diletakkan tepat di dada kiri Farhan. Via merasakan naik turunnya dada bidang itu mengikuti irama nafasnya. Sampai detik itu, Via masih terasa sedang bermimpi. Perasaannya memang tidak pernah menerima kalau Farhan meninggal. Namun, ia hanya bisa mengungkapkan hal itu kepada sang bunda. Hari ini baru terbukti kalau perasaannya benar.
Mungkin ikatan batin antara istri dengan suami yang saling mencintai membuat hal itu terjadi. Demikian pula halnya dengan Bu Aisyah yang selalu memendam keyakinan kalau putranya masih hidup. Perasaan kedua perempuan yang sama-sama meyakini Farhan belum meninggal tercipta karena kekuatan cinta mereka.
Setelah cukup lama memandangi sang suami, Via ikut memejamkan mata. Ia berusaha beristirahat cukup demi keduaa orang yang ia cintai.
Via terbangun tepat pukul 03.00. Ia tidak menemukan Farhan di sampingnya. Seketika ia panik. Ketakutan akan kehilangan Farhan kembali menyergap.
Via pun memanggil nama Farhan berkali-kali. Setelah panggilan kelima tidak ada sahutan, Via panik. Ia benar benar takut kalau yang baru ia alami hanya ilusi atau mimpi.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sosok Bu Inah tidak ia jumpai. Berarti, kemungkinan besar Bu Inah pulang dan kedatangan Farhan bukan mimpi. Demikian simpulan Via.
__ADS_1
“Hubbiy, Mas Farhan!” panggil Via lagi.
Via melangkah ke pintu. Ia bermaksud memberi tahu Edi kalau Farhan menghilang. Namun, niat itu segera ia urungkan.
Kali ini ia mendengar suara orang berdehem dari balik tembok. Via menajamkan telinganya menentukan arah sumber suara. Tak lama kemudian, pintu di tengah salah satu sisi dinding terbuka. Via menghambur ke pelukan pria yang berdiri di depan pintu.
“Hubbiy...Via takut!” pekik Via.
“Takut kenapa?” tanya Farhan. Ia mengeratkan pelukan.
“Via takut kalau ini hanya mimpi. Via takut kehilangan Hubbiy lagi,” rengek Via.
Farhan terkekeh. Diciuminya rambut hitam Via. Semerbak aroma sampo Via tercium.
“Jadi, tadi bangun dan tidak menemukan Mas di sampingmu membuatmu takut?” bisik Farhan.
Via mengangguk malu. Ia masih belum mau melepaskan pelukannya.
“Tadi Mas bangun tidur lalu qiyamul lail. Sengaca tidak membangunkanmu karena Cinta tidak salat, masih nifas, kan?”
Lagi-lagi Via hanya mengangguk. Dikendurkannya jalinan tangan yang memeluk tubuh Farhan.
“Kalau begitu, kita tidur lagi, yuk! Subuh masih agak lama,” ajak Farhan.
Keduanya kembali naik ke ranjang. Namun, Farhan tidak merebahkan tubuhnya. Ia menyandarkannya ke ranjang. Via pun melakukan hal yang sama. Hanya, ia menyandarkan kepala ke bahu Farhan.
“Hubbiy kok tahu ada ruangan di sebelah? Via nggak memperhatikan kalau di situ ada pintu,” ucap Via sambil menunjuk dinding.
“Cinta lupa, siapa pemilik ruangan ini? Terus, Mas ini siapanya?” Farhan terkekeh pelan.
“Ah, iya. Mas sudah pernah berada di ruangan ini tentu,” ucap Via sembari menepuk keningnya.
“Sini, bobok di dada Mas,” kata Farhan sambil menarik tubuh Via. Istri Farhan itu pun condong ke kanan dan bersandar di dada bidang sang suami.
“Ayo,, pejamkan mata! Kita istirahat lagi!” ajak Via.
Farhan membelai lembut rambut Via. Berkali-kali ia menciumi ubun-ubun istrinya.
“Kok jadi seperti pengantin baru, ya?” desis Via.
“Masa, sih? Dulu waktu kita baru jadi pengantin, kan masih canggung,” bantah Farhan.
“Eh, iya juga, ya? Sekarang tidak ada lagi canggung itu. Yang ada, kadang suamiku mesum?” Via cekikikan.
“Bilang apa tadi?”tanya Farhan. Ia mencubit pipi Via pelan.
“Nggak ada berita ulang. Udah, jangan ngobrol terus! Bukannya tadi ngajak bobok lagi?” Via mengingatkan.
Akhirnya, Farhan menurut untuk tidak berkata-kata lagi. Mereka melanjutkan istirahat mereka. Pelukan antara dua orang yang saling mencintai menimbulkan ketenangan pikiran. Tidur mereka pun lebih berkualitas. Meski tidak lebih dari satu jam, mereka merasa seperti berjam-jam.
***
Bersambung
__ADS_1
Next episode insya Allah Azka kembali hadir. Jangan lupa dukung karya recehku ini! Kik like dan bintang 5, tinggalkan komentar, ya! Terima kasih