SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XLIV


__ADS_3

Udara pagi memang menyejukkan. Jelas saja, udara pagi belum banyak tercemar. Apalagi di hari Minggu karena ada car free day.


Seperti biasa, seusai sholat subuh keluarga dokter Haris bersiap jogging. Mereka sudah bersiap di teras depan. Baru saja Bu Aisyah mengunci pintu, ponsel di saku Pak Haris berdering. Pak Haris segera mengambil ponsel dan menggeser gambar gagang telepon warna hijau.


"Assalamualaikum," ucap Pak Haris.


....


"Sekarang juga?"


....


"Anak-anak tidak usah ikut?"


....


"Baik, sebentar lagi Haris berangkat."


....


"Waalaikumsalam."


Pak Haris menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Bun, eyang menyuruh kita sowan. Hanya kita berdua. Kau buka lagi kunci pintunya," perintah Pak Haris.


"Kenapa? Eyang sakit?" tanya Bu Aisyah heran.


Pak Haris menggeleng dan menjawab, "Ayah juga nggak tahu. Eyang cuma pesen, kita berdua ke sana sekarang. Penting."


Bu Aisyah terdiam sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Ya sudah. Kita berangkat sekarang. Anak-anak, kalian pergilah jogging. Ayah dan Bunda ke rumah eyang. Via kalau nanti mau masak, masih ada sayuran di kulkas. Beli juga nggak apa-apa. Azka, Farhan, jaga Via baik-baik! Jangan sampai ada yang mencelakai Via!" kata Bu Aisyah.


"Ya, Bun," jawab mereka bertiga.


Setelah mengambil kunci mobil, Pak Haris dan Bu Aisyah ke rumah Eyang Probo. Orang tua itu telah menunggu kedatangan anak dan menantunya. Begitu kedua orang yang dinanti turun, Eyang Probo menyambut di halaman rumah.


"Assalamualaikum," sapa Pak Haris dan Bu Aisyah sambil mencium tangan Eyang Probo bergantian.


"Waalaikumsalam. Masuk, yuk!" ajak Eyang Probo.


"Eyang sehat?" tanya Bu Aisyah khawatir.


"Tentu saja. Kalau aku sakit, mana mungkin sebugar ini. Kita ngobrol di dalam. Sumi sudah kusiruh menyiapkan teh hangat dan singkong rebus."

__ADS_1


Mereka duduk di sofa klasik dari kayu jati.


"Sepertinya Ayah akan membicarakan sesuatu yang penting dan rahasia," tebak Pak Haris.


Eyang Probo tertawa, memamerkan deretan gigi yang masih utuh meski usia sudah lanjut.


"Kamu benar, Ris. Pembicaraan kita memang agak rahasia."


Pak Haris dan Bu Aisyah saling pandang. Mereka sama-sama mengangkat bahu.


"Kemarin anak-anak sudah cerita tentang teror yang menimpa Via. Aku yakin pelakunya adalah musuh Wirawan. Parahnya, mereka juga mengincarku sekarang. Perusahaanku menjadi sasaran mereka setelah milik Wirawan ambruk."


"Bukannya Ayah ikut andil mengobrak-abrik perusahaan almarhum Pak Wirawan? Apa ini berarti patner Ayah putar haluan menyerang Ayah?" Pak Haris menyela. Dia pura-pura belum tahu masalah orang-orang licik di belakang ayahnya.


"Iya, begitu. Aku salah menilai Wirawan. Aku keliru mempercayai orang. Anak angkat kalian menjadi korban kesalahan yang telah kulakukan."


"Berarti benar yang diceritakan Azka dan Farhan. Eyang sudah menyadari kesalahannya," pikir Bu Aisyah.


"Aku bermaksud membantu perusahaan Wirawan diam-diam. Selama musuh-musuh dalam selimut belum hancur, aku tidak boleh ketahuan membantu perusahaan Wirawan."


Pak Haris mengangguk-angguk setuju.


"Kemarin siang Farhan menelponku. Dia cerita tentang kedatangan Andi, pengacara almarhum Wirawan dan penjelasan dari Andi. Apa benar kalian akan menikahkan Via dengan keponakan Andi?"


"Itu baru rencana kami, Ayah. Kalau Via atau Surya tidak mau, kami sepakat tidak memaksa," sanggah Pak Haris.


"Tadi malam mereka baru pertama bertemu," jawab Pak Haris.


"Kalian sudah menanyai Via? Bagaimana tanggapan anak itu?"


"Sudah. Sepertinya Via tidak cocok. Kalau Surya, kami belum tahu." Kali ini Bu Aisyah yang menjawab.


"Setidaknya, kalau Via keberatan kan kalian bilang tidak akan memaksa."


"Iya, Ayah. Meskipun Surya mau, kalau Via keberatan tetap tidak ada pernikahan itu," kata Pak Haris.


"Kenapa kalian repot-repot mencarikan jodoh buat Via sementara di dekatnya ada orang yang sangat tepat?"


Pak Haris dan Bu Aisyah saling pandang lagi. Mereka tampak kebingungan.


"Bukannya anak kalian memiliki latar belakang pendidikan ekonomi? Magister lagi. Setahun lebih dia menjadi anak buahku, dia menunjukkan kemampuan yang sangat bagus. Dia sengaja kutempatkan sebagai karyawan biasa agar dia belajar memahami masalah dari bawah sehingga bisa mengatasi masalah sampai tuntas. Kenapa kau tidak pilih dia untuk jadi suami Via?"


"Maksud Eyang, Farhan?" tanya Bu Aisyah ragu.


Eyang Probo tertawa. Ia menyeruput tehnya baru menjawab, "Siapa lagi? Bukankah cocok?"

__ADS_1


"Tapi, apa mereka mau? Satu setengah tahun mereka bersama sebagai kakak adik," sanggah Bu Aisyah.


"Kalian belum mencoba, kan?"


"Baiklah, kami akan mencoba menawari Farhan setelah bicara dengan Andi," kata Pak Haris.


"Kalau Farhan menikah dengan Via, aku lebih mudah menyerang musuh-musuhku dan juga Wirawan. Aku bisa diam-diam bekerja sama dengan orang-orang Wirawan di bawah kendali Farhan. Farhan akan kuberhentikan dari perusahaanku agar dia fokus ke perusahaan Wirawan. Aku yakin, Farhan belum dikenal orang-orang itu." Eyang Probo membeberkan rancangannya.


"Bukannya Farhan sering diajak Eyang menemui rekanan bisnis?" tanya Bu Aisyah.


"Aku ajak Farhan kalau ketemunya dengan orang asing. Kalau dengan pebisnis lokal, aku belum pernah mengajak dia."


Pak Haris mengangguk-angguk. Dia masih berpikir tentang pernikahan Via, menimbang-nimbang rencana ayahnya.


"Apakah Eyang pernah mengatakan rancangan Eyang ini kepada Farhan atau Azka?" tanya Bu Aisyah hati-hati.


"Tentu saja belum. Kalian tanyai dulu Farhan! Dia mau nggak menikah dengan gadis itu. Kalau dia mau, kalian tanyai Via. Kalau mereka berdua setuju, kabari aku. Aku akan mendiskusikan langkah detailnya bersama Farhan dan Andi. Pastikan dulu yang mau menjalani pernikahan."


"Ya, Yah. Nanti kami ketemu Andi dulu karena kami sudah membuat rencan menjodohkan keponakannya dengan Via. Kami harus membatalkan dulu." Pak Haris menyampaikan pendapatnya.


"Aku setuju dengan langkahmu. Batalkan dulu rancangan kalian dengan Andi karena Via keberatan. Setelah itu, kalian ngobrol dengan Farhan. Tawari dia menikah dengan Via. Aku yakin dia setuju."


Pak Haris mengerutkan keningnya lalu bertanya, "Kenapa Ayah bisa seyakin itu?"


Eyang Probo bukannya langsung menjawab justru tertawa terbahak-bahak. Ia menggelengkan kepalanya sambil terus tertawa.


Pak Haris bertambah bingung. Ia menyikut istrinya. Bu Aisyah hanya mengangkat bahu lagi.


"Buktikan saja omonganku. Kalau Farhan sudah bilang setuju, bujuk gadis itu agar mau menjadi menantu kalian! aku tunggu kabar baik dari kalian. Makan dulu singkongnya! Dari tadi kalian kebingungan terus."


Pak Haris dan Bu Aisyah menyesap teh mereka lalu mengambil potongan singkong rebus.


"Insya Allah nanti malam kami bicarakan dengan Farhan. Sepulang dari sini, kami ke rumah Andi terlebih dahulu."


Eyang Probo tersenyum puas.


Setelah dirasa cukup, Pak Haris pun berpamitan. Ia mengajak istrinya ke rumah Pak Andi.


"Eyang tampak bersemangat sekali menjodohkan Farhan dengan Via, ya?" kata Bu Aisyah dalam perjalanan.


"Aku juga nggak tahu. Heran, kenapa ayah begitu yakin ya?"


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar! Terima kasih telah setia mengikuti kisah ini. 😘


__ADS_2