SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Sepenggal Pilu


__ADS_3

Via masuk diikuti Mira, Ratna, juga Edi. Mereka dipersilakan duduk di ruang tamu panti.


Ruang tamu itu tidak luas, hanya berukuran 3 X 4 meter. Dindingnya berwarna biru muda yang sudah mulai pudar. Kursi kayu di ruang tamu pun sepertinya sudah berusia puluhan tahun.


“Sudah lama kita tak bertemu. Apa kabar, Via?” tanya cowok itu sambil mengambil air mineral yang ada di sudut ruangan. “Maaf, hanya air putih.”


“Via baik, Mas. Alhamdulillah. Mas Rio bagaimana? Kok ada di sini? Bu Aminah ke mana?” tanya Via balik.


“Ibu sedang menemui calon donatur. Aku sekarang tinggal di sini. Yah, kurang lebih setahu. Oh, sepertinya Amri terbangun. Maaf, aku tinggal sebentar.” Rio bergegas ke dalam meninggalkan keempat orang tamunya.


Ratna menatap Via. Ia memberi kode agar Via menjelaskan siapa cowok itu.


“Itu Mas Rio, kakak Lia. Masih ingat Lia, kan?” jelas Via dengan suara lirih.


“Ih, memang aku amnesia? Lia si ubur-ubur, kan? Kok kalian saling kenal?” taya Ratna heran.


“Dia teman Dek Azka. Dulu, waktu masih kuliah S-1 dia sering mampir ke rumah bunda. Kami jadi sering ketemu,” papar Via.


“Pantesan, rasanya pernah lihat tu cowok,” gumam Ratna.


Tak lama Rio muncul sambil menggendong bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun. Ia duduk dengan memangku bocah itu.


“Maaf, ya. Aku harus mengasuh adik-adik di sini. Anak ini sedang kurang enak badan, makanya sebentar-sebentar rewel,” kata Rio.


“Nggak apa-apa. Mas Rio nggak capek? Apa ikut saya saja? Yu, Dek, ikut Kakak cari kupu-kupu! “ Ratna mengulurkan tangan.


Anak bernama Amri menatap Ratna ragu. Ternyata, ia menyambut uluran tangan Ratna. Gadis itu menggendong Amri ke halaman.


“Mas Rio kenapa tinggal di sini? Papa Mama dan Lia ke mana?” Via penasaran.


Rio mengambil nafas panjang. Raut mukanya mendadak diselimuti mendung.


“Sejak Santoso Grup gulung tikar, papa menderita stroke. Ia lumpuh, tidak bisa bangun dari tempat tidur. Mama menjadi tertekan. Ia sering uring-uringan. Lia juga sama. Dia DO dari kuliahnya.”


Rio berhenti sejenak. Pandangannya menerawang.


“Rumah papa dijual untuk biaya pengobatan. Mama dan Lia ikut saudara mama di Medan. Aku dilarang ikut agar tidak membebani mereka. Selain itu, mama juga menuduh aku ikut menghancurkan papa dengan memihak keluarga kalian. Mama curiga karena kedekatan antara aku dan Azka.”


Via terhenyak. Ia tidak mengira kehidupan temannya berubah sedrastis itu setelah kejahatan Pak Danu terbongkar.


Ada perasaan trenyuh menyelip di hati Via. Ia pernah merasakan pahitnya saat perusahaan remuk.


“Mengapa Mas Rio memilih tinggal di sini? Mas Rio nggak kerja?” tanya Via lagi.

__ADS_1


“Sebelum aku diadopsi, aku diasuh di sini, Via. Alhamdulillah Bu Aminah bersedia menampungku. Aku sempat bekerja di percetakaan selama 8 bulan. Sayangnya, percetakaan itu bangkrut. Aku belum dapat pekerjaan lagi. Jadi, sekarang aku hanya bantu-bantu Bu Aminah ngasuh adik-adik.”


Dada Via terasa sesak mendengar cerita Rio. Matanya terasa panas. Ia segera meneguk air mineral untuk mengurangi sesak di dadanya.


“Bagaimana kabar Azka? Aku sudah lama tidak berhubungan dengan dia. Sekarang, aku nggak punya HP.”


“Dia melanjutkan studinya di Medan. Dek Azka ikut om-ku di sana sekalian membantu mengelola perkebunan kakek.”


Sejenak Rio terdiam. Beberapa detik kemudian, ia menepuk dahinya.


“Ah, iya. Kamu menikah dengan Mas Farhan, kakaknya Azka, ya? Sekarang, kamu panggil dia adik. Kamu beruntung bisa bertemu dengan keluarga ayahmu. Mereka tajir pula.” Rio tertawa getir.


Via hanya mengangguk. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia kembali meneguk air mineral di depannya.


“O ya, ada perlu apa ke sini? Mau bertemu Bu Aminah, kan?” tanya Rio.


“Iya, Mas. Kami bermaksud mengundang anak-anak akhir pecan ini ke rumah. Kami mau bikin selamatan kecil-kecilan,” jelas Via.


“Oh, begitu. Sepertinya akhir pecan ini tidak ada kegiatan khusus, sih. Semuanya, Vi?” Rio meminta kejelasan.


“Iyalah. Bu Aminah dan Mas Rio juga.”


Pembicaraan mereka terhenti tatkala seorang perempuan berusia sekitar 60 tahun masuk. Meski sudah memasuki usia senja, garis-garis kecantikan masih tampak jelas. Penampilan sederhananya tak mampu menyembunyikan keanggunannya.


“Assalamualaikum. Ada tamu rupanya. Sudah lama nunggu, ya?” ucap Bu Aminah.


“Baru sekitar 15 menit, Bu,” kata Edi.


Via pun mengutarakan maksudnya. Bu Aisyah mengangguk-angguk, menyetujui rancangan Via.


Mereka kemudian mendata kebutuhan anak-anak panti. Mira mencatat semuayang Bu Aminah sampaikan.


Setelah dirasa cukup, mereka berpamitan. Sebelum pergi, Via menyerahkan amplop coklat berisi sejumlah uang untuk membantu biaya operasional panti.


Mereka tidak langsung pulang melainkan ke supermarket. Via membeli baju, alat tulis, juga mainan untuk anak-anak. Sesuai pesan Farhan, Via meminta agar barang belanjaannya diantar ke rumah.


“Sekalian dibungkus saja, Vi. Pulang dari sini kita bereskan sekalian tuh barang-barang,” usul Ratna.


“Benar. Kami siap bantu. Kita kan sudah biasa packing barang. Akhir pekan, Dek Via sudah tidak memikirkan masalah bingkisan.” Mira menambahkan.


Via setuju. Sepulang berbelanja, mereka memilah barang sesuai kebutuhan. Mereka membungkus dan melebeli setiap bungkusan dengan nama-nama sesuai catatan Mira.


Edi ikut membantu kesibukan para wanita”pejuang ol-shop”. Ia mengambilkan barang-barang yang mereka perlukan.

__ADS_1


Tak jarang, lengann Edi beradu dengan lengan Mira. Entah hal itu disengaja atau tidak, Edi yang lebih tahu. (Author pura-pura nggak tahu)


“Si ubur-ubur gimana kabarnya, ya? Kamu tadi tanya sama Mas Rio, nggak?” tanya Ratna sambil memasang label pada kotak yang baru dibungkus.


“Dia bersama kedua orang tuanya tinggal di Medan, rumah saudara mamanya,” jawab Via.


“Kok Mas Rio nggak ikut? Kenapa dia malah tinggal di panti?” Ratna bertanya lagi.


“Nggak boleh ikut, biar nggak membebani keluarganya.”


“Lho, memang Mas Rio bukan anggota keluarga? Kok dibeda-bedakan,” ujar Ratna sewot.


“Mas Rio itu anak angkat kedua orang tua Lia. Waktu itu, mama Lia belum bisa punya anak. Mamanya, ia mengadopsi Mas Rio dari panti asuhan “Kasih Bunda.” Sekarang, Rumah mereka dijual. Karena tidak punya tempat tinggal, Mas Rio tinggal di panti. Begitu, Neng.”


Ratna terdiam. Pikirannya melayang ke cowok bernama Rio. Ia merasa iba akan nasib cowok itu.


“Ratna! Rat, kok diam?” Via menoleh ke sahabatnya.


Via melambaikan tangan di depan wajah Ratna. Gadis itu tidak bereaksi. Ratna masih saja diam mematung.


“Hei, kenapa diam begini?” seru Mira yang duduk di sebelah kanan Ratna. Ditepuknya bahu Ratna.


Ratna tergagap saat ada tepukan mendarat di bahu. Ia seperti orang yang baru bangun tidur.


“Melamun, ya? Mikir apaan, sih?” tanya Mira.


“Jangan-jangan mikirin Mas Rio. Dari tadi nanyain Mas Rio melulu. Giliran dijawab, malah bengong.”


“Iya, nih. Bener, ya tebakan Dek Via. Kamu lagi mikirin Mas Rio? Hayo, ngaku!” Mira menyambung ledekan Via.


“Ish, apaan? Aku lagi merenung. ternyata hidup ini seperti beroda, berputar, semua dirasa manusia. Kadang di atas, kadang di bawah.”


Via, Mira, dan Edi saling tatap bergantian. Mereka heran dengan jawaban Ratna yang absurd.


“Kesambet kali tu anak,” gerutu Mira.


“Apaan kesambet? Mbak Mira jangan sembarangan! Kesambet peri cinta baru tahu rasa. Mas Edi, I love … auw!” Kalimat Ratna akhirnya terhenti oleh cubitan kecil dari jari lentik Mira.


“Mbak Mira apa-apaan sih? Kalau mau nyubit, tuh cubit Mas Edi. Sini, Mas! Ni Mbak Mira gemes pengin nyubit Mas Edi!” seru Ratna.


“Blush…” Rona merah menghiasi pipi Mira. Edi pun tampak tersipu. Hal itu tak luput dari penglihatan Via dan Ratna.


***

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa klik like dan rate 5 ya!


__ADS_2