
Bu Aisyah yang baru saja masuk rumah dari pintu samping terkejut dengan sikap Via. Namun, belum sempat bertanya, Via sudah berjalan cepat menuju kamarnya.
Bu Aisyah memilih ke ruang tamu karena tahu ayah mertuanya datang.
"Assalamualaikum, Eyang. Sudah lama?" sapa Bu Aisyah sambil mencium tangan ayah mertuanya.
"Waalaikumsalam. Belum. Duduklah, ada yang akan kubicarakan bersama kalian."
Bu Aisyah menurut. Ia duduk di samping suaminya.
"Ini masalah anak angkat kalian. Kuharap lepaskan anak itu. Dia bisa jadi masalah di kemudian hari."
"Kenapa? Dia gadis yang baik. Lagi pula, dia yatim piatu. Dia tidak punya sanak saudara, Eyang."
"Aisyah, dengarkan baik-baik. Dia itu anak Wirawan. Ayah anak itu adalah musuh Ayah. Wirawan hampir saja membuat Kencana Group bangkrut."
"Maksud Eyang?" Bu Aisyah bingung.
"Yang jelas Wirawan itu licik. Untungnya aku bisa menghabisinya."
Bu Aisyah terbelalak. Jantungnya berdegup kencang.
"Aku bersama Danu dan Kuncoro bekerja sama menaklukkan Wirawan. Kematian istrinya mempermudah usaha kami karena Wirawan kehilangan kewaspadaan setelah istrinya meninggal." Eyang Probo melanjutkan.
"Danu? Maksud Eyang Danu Santoso, pemilik Santoso Jaya Group?"
"Iya. Kau tahu?"
"Dia ayah dari muridku dulu. Dia juga ayah teman Azka."
"Bagus kalau kalian akrab.'
"Bukan begitu. Aisyah hanya tahu orang itu, tidak mengenal dengan baik."
"Yang jelas berkat ide Danu, perusahaan Wirawan kocar-kacir. Tapi, aku tidak mengira nasibnya tragis. Ia akhirnya meninggal karena kecelakaan. Sebenarnya, tujuanku hanya membatasi pergerakan Wirawan agar tidak menggangguku."
"Ayah, aku berhutang kepada Pak Wirawan," kata Pak Haris menyela.
"Apa maksudmu? Hutang apa?"
"Ini menyangkut nyawa Farhan," jawab Pak Haris lirih.
"Farhan? Apa hubungan Farhan dengan Wirawan?"
__ADS_1
"Ini terjadi saat Farhan masih balita. Waktu itu, Haris sedang di Jakarta mengambil spesialis dalam. Farhan hanya bersama Aisyah. Hari Minggu pagi mereka jalan-jalan. Namanya anak kecil, Farhan sering berlari-lari. Aisyah kewalahan mengikutinya. Dan... terjadilah kecelakaan. Farhan tertabrak motor hingga terpental. Kebetulan Pak Wirawan lewat jalan itu. Tanpa dimintai tolong, almarhum membawa Farhan ke rumah sakit bersama Aisyah. Farhan kehilangan banyak darah. Sementara persediaan darah B di PMI kosong. Aisyah tidak mungkin mendonorkan darahnya karena sedang mengandung Azka. Pak Wirawan lah yang mendonorkan darahnya. Kalau tidak, entah apa jadinya."
"Tunggu...tunggu! Kenapa aku tidak tahu soal itu?"
"Waktu itu Eyang sedang ke Singapura. Cukup lama Eyang di sana. Waktu Eyang pulang, Farhan sudah sembuh," Bu Aisyah menjelaskan.
"Apa yang kalian bilang kalau Farhan habis opname saat aku menjenguk kalian sepulang dari Singapura?"
"Betul, Yah," jawab Pak Haris.
Eyang Probo melongo. Sementara Bu Aisyah menunduk sambil mengusap matanya yang mulai basah. Bayangan peristiwa dua puluhan tahun yang lalu tergambar jelas dalam ingatannya.
"Apa pun yang terjadi dulu, pokoknya Ayah tidak suka anak itu ada di sini. Keberadaan anak itu bisa jadi ancaman di kemudian hari. Ayah pulang. Assalamualaikum," kata Eyang Probo ketus. Ia bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar.
***
Sementara itu, Via mengunci pintu kamarnya lalu membanting tubuhnya ke tempat tidur. Wajahnya dibenamkan ke bantal. Tak lama terdengar isaknya.
"Pa, Ma, kenapa Via harus mengalami ini semua? Kenapa Via ditinggalkan sendirian? Via mesti gimana?" keluh Via di sela isaknya.
Entah berapa lama ia tenggelam dalam kesedihan. Ia tidak mendengar ketukan pintu kamarnya juga suara orang yang memanggilnya. Akhirnya, Via tertidur beralaskan bantal yang basah oleh air matanya.
Via terbangun ketika adzan ashar berkumandang. Ia mengusap mukanya yang sembab. Agar tidak ketahuan, ia mandi agak lama di bawah guyuran shower. Setengah jam kemudian, ia ke mushola. Tampaknya Bu Aisyah telah selesai sholat ashar. Via pun sholat munfarid.
Selesai sholat, Via bergegas kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponsel dan membuka kontak Ratna. Diketiknya pesan untuk sahabat karibnya itu. Kebetulan terlihat Ratna sedang online.
Tak lama balasan dari Ratna masuk.
[Sudah. Jadi sewa kamar kost, kan?]
Via kembali mengetik pesan.
[Jadi dong! Boleh, kan?]
Ratna membalas.
[Tentu boleh asal bayar hehehe... Mulai kapan?]
Sejenak Via berpikir. Setelah itu, kembali ia menjawab chatt Ratna.
[Besok. Antarkan aku ketemu ibu kost, ya.]
Selesai chatting dengan Ratna, Via membereskan pakaian di lemarinya. Ia hanya menyisakan beberapa setel.
__ADS_1
Usai makan malam bersama, Via menahan bundanya agar tetap di ruang makan.
"Bun, ada yang akan Via sampaikan. Bisa bicara di sini?"
Bu Aisyah mengangguk. Ada perasaan tidak enak menyusup di hatinya. Namun, wanita setengah baya itu berusaha tenang.
"Begini, Bun. Jarak dari rumah ke kampus Via kan lumayan jauh. Itu agak melelahkan. Apalagi beberapa bulan terakhir ini Via dan Ratna mencoba bisnis kecil-kecilan. Lumayan hasilnya, Bun. Hitung-hitung sambil praktek ilmu. Nah, sekarang bisnis Via mulai berkembang. Ini cukup menguras waktu. Kalau Bunda nggak keberatan, Via ingin kost bareng Ratna."
Bu Aisyah memejamkan mata dan mengambil nafas panjang untuk menata gejolak perasaannya.
"Via, kalau kamu kost, apa kamu pasti lebih baik? Jangan karena kamu merasa tidak enak hati, kamu menghindar dari kami."
"Enggak gitu, Bun. Via dari kemarin memikirkan masalah kost ini. Bahkan, Via sudah nyuruh Ratna menemui ibu kostnya."
"Bunda pikir-pikir dulu, ya. Besok kita bicarakan lagi."
Bu Aisyah bangkit dari tempat duduknya dan langsung ke kamar. Dadanya terasa sesak.
Baru saja Bu Aisyah duduk di tepi tempat tidur, suaminya menyusul. Pak Haris duduk di samping sang istri.
"Kenapa? Masalah Via?" tebak Pak Haris yang melihat istrinya galau.
"Iya. Rasanya aku dihadapkan pada buah simalakama. Kalau mengizinkan Via kost, berarti melepas tanggung jawab atas anak itu. Dia masih butuh tempat untuk bersandar. Bagaimana mungkin aku tega melepasnya? Sementara kalau aku tidak mengizinkan, bagaimana dengan Eyang? Eyang kan tidak setuju Via ada di sini."
"Kalau menurut Mas sih kita izinkan Via kost. Bukan berarti kita lepas tangan. Kita terus memantau Via dari jauh. Kau minta nomor rekening Via agar bisa mengirimi uang untuk kebutuhan sehari-hari."
"Apa Via bisa hidup di tempat kost?"
"Kelihatannya Via anak yang mudah beradaptasi. O iya, saat libur, dia harus pulang ke sini."
"Baiklah kalau itu yang terbaik. Besok kita bicarakan."
"Bisakah kita tidur sekarang? Atau mau main-main dulu?" tanya Pak Haris sambil mengerling genit.
"Ih, udah tua masih genit," gerutu Bu Aisyah.
"Eh, aku belum tua. Semangat masih 45 lo!"
"Sudahlah, kita tidur lebih awal saja."
Pak Haris tersenyum geli melihat wajah istrinya memerah. Rasanya seperti masih usia dua puluhan tahun.
***
__ADS_1
Terima kasih kepada readers yang setia mengikuti kisah Via. Apalagi yang telah memberi boom like, bintang 5, dan vote.
Peluk sayang dari author 😘😘😘