SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Membuat Perencanaan


__ADS_3

Setelah dhuhur, Via dan Ratna mengatur letak etalase dan manekin. Mereka ingin toko fisik mereka segera beroperasi.


"Yang beli manekin dan etalase siapa, Vi?" tanya Ratna.


"Entahlah. Mungkin suruhan Eyang Probo. Aku diberi tahu kalau ruko ini siap ditempati baru kemarin sore."


"Kok Eyang Probo berubah begitu cepat? Bukannya dulu begitu bencinya sama kamu? Kamu kost karena beliau, kan?"


Via mengangkat bahunya tanda ia tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan Ratna.


"Kayaknya selama liburan ini banyak terjadi perubahan di keluargamu, ya?"


Via hanya tersenyum. Dia tidak ingin memberikan tanggapan karena tidak ingin membuka rahasia.


"Banyak, Rat. Tapi, maafkan aku. Aku tidak bisa menceritakan semua kepadamu. Ini menyangkut keselamatan aku dan keluargaku."


"Vi, kok melamun? Kalau kita buka toko fisik, berarti harus ada papan nama. Iya kan?"


"Bener juga. Nanti aku minta tolong Mas Azka mesenin. Tapi, nama toko kita apa?"


"Pakai bahasa Arab saja, gimana?"


"Boleh. Apa idemu?"


"Wardah atau Az-Zahra? Bagus kan?"


"Itu sepertinya sudah sering dipakai. Kalau Azrina, gimana?"


"Artinya apa?" Ratna tak paham.


"Baik, cinta yang baik juga bisa. Gimana?"


"Boleh juga. Aku setuju."


Mereka berbincang sambil terus menata baju yang belum rapi. Beberapa pakaian dipasang di manekin.


"Kita butuh pegawai, Rat. Kalau berdua, kita sangat kerepotan. Masa setiap kita kuliah, toko tutup? Pelanggan malas datang kalau sering tutup," kata Via.


"Mmm, nepotisme boleh nggak?" tanya Ratna ragu.


"Maksud kamu apa?"


"Aku punya saudara sepupu, lulusan SMK jurusan akuntansi, pengin cari kerja. Dia nggak kuliah."


"Rumahnya jauh dari sini?"


"Jauh. Bagaimana kalau tinggal bersama kita? Dia biar sekamar dengan aku," usul Ratna.


"Dia kira-kira mau nggak jagain toko? Kita juga perlu tenaga yang bisa jadi admin untuk toko online kita."


"Berarti butuh dua orang?"


Via mengangguk.


"Bagaimana kalau aku tawari sepupuku dulu? Kalau dia mau, kita tinggal cari satu orang lagi. Kalau dia nggak mau, kita cari dua orang sekaligus."


"Okelah. Sekarang juga kamu hubungi dia!" perintah Via.


Sementara Ratna menghubungi saudara sepupunya, Via menghubungi Farhan. Ia tidak berani telepon.


Via


[Assalamualaikum. Maaf, Via mau ganggu.]


Kebetulan Farhan sedang online. Tak lama ia sudah mengetik balasan dan mengirim ke Via.


Farhan


[Waalaikumsalam. Ganggu? Mas suka kok diganggu Dek Via😍😍😍]


Melihat emoticon yang Farhan gunakan, Via tak sadar tersenyum sendiri. Untunglah Ratna sedang fokus dengan teleponnya.


Via


[Mas, Via bisa minta tolong pesenin papan nama buat dipasang di toko?]


Farhan

__ADS_1


[Ah, iya. Tokomu belum ada namanya. Oke deh, ntar Mas pesenin. Apa sih yang enggak buat istri Mas]


Meski hanya melalui tulisan, isi pesan Farhan mampu membuat pipi Via merona.


"Ih, ni orang sekarang pinter nggombal. Belajar dari mana dia? Bukannya selama ini kayak kulkas?"


Via


[Namanya Azrina, Mas]


Farhan


[Teman Dek Via? Cantik nggak?]


Tanpa sadar Via mendengus kesal.


Via


[Nama toko, Massssssss]


Farhan


[S-nya banyak bener?🀣🀣🀣]


"Iya, karena keluar dari kulkasmu, Mas."


Via


[Memang Mas lagi cari cewek yang cantik?]


Farhan


[Enggak. Ngapain cari cewek cantik? Istri Mas yang cantik aja belum diapa-apain.]


"Tuh, kan? Sekarang kenapa berubah jadi nyebelin gini, ya?"


Via


[Udah, ah. Mas Farhan bisa mesenin, kan?]


Farhan


Via


[Itu aja dulu. Makasih. Assalamualaikum]


Farhan


[Waalaikumsalam. 😘😘😘]


"Tuh, pakai emoticon ginian lagi. Ni orang sekarang kok jadi gini, ya? Apa kesambet jin penunggu hotel di Jakarta kemarin?"


Ratna baru saja menutup pembicaraan. Ia heran melihat ekspresi Via. Sesekali temannya itu kelihatan kesal dengan bibir yang berkerut.


"Kamu kenapa? Sudah minta tolong Mas Azka?" tanya Ratna.


"Ee---nggak apa-apa, kok. Sudah, aku sudah minta tolong."


"Trus, kenapa bibirmu dimajukan begitu? Mas Azka keberatan?"


"Oh, enggak. Nggak keberatan. Ni mau langsung dipesankan, kok."


"Huff, aku nggak mungkin ngomong minta tolong sama Mas Farhan. Pasti Ratna tanya-tanya kenapa sekarang lebih dekat sama Mas Farhan. Haaa, aku pusing cari jawaban."


"Gimana dengan sepupu kamu? Dia mau nggak?" tanya Via mengalihkan pembicaraan.


"Saudara sepupuku mau kerja di sini. Katanya, besok sore dia datang."


"Sudah minta izin sama orang tuanya?"


"Sudah. Aku bicara langsung sama om."


"Dia juga mau nginep bareng di kamar kamu?" tanya Via.


"Iya. Aku sudah bilang kalau kamarnya lebih luas dan lebih nyaman dibandingkan tempat kost kita."


"Memang dia pernah datang ke tempat kost kita dulu?" Via heran.

__ADS_1


"Pernah. Waktu itu kamu belum kost."


"Oh, begitu."


"Kalau gitu, kita tinggal cari orang satu lagi. Iya, kan?"


"Yup. Pasang pengumuman di status saja. Sama ditempel di depan toko," usul Via.


"Yoi. Kalau sampai besok belum ada yang melamar, gimana?" ucap Ratna ragu.


"Jangan pesimis gitu, dong! Kalau kita belum dapat, sementara sepupumu jaga toko sendiri. Pas kita kosong, kan bisa nemenin. Insya Allah tidak sampai seminggu kita dapat pegawai."


Mereka sudah berencana tidak membuka toko esok hari, tetapi lusa. Hari pertama masuk kuliah akan mereka gunakan untuk membuat perencanaan yang lebih matang.


Esoknya, Via dan Ratna tidak terlalu lama di kampus. Pukul 11 mereka sudah kembali ke ruko.


"Rat, sudah ada 3 orang yang chatt nglamar jadi pegawai kita, nih," ucap Via.


"Alhamdulillah. Berarti pengumuman di depan toko aku lepas saja, ya."


"Nanti dulu. Kita belum tahu orangnya seperti apa. Aku sudah balas mereka agar datang ke sini nanti jam 1-an."


"Mau diseleksi?"


"Iyalah. Kita hanya butuh satu. Yang nglamar ada tiga orang."


"Mungkin nggak dari tiga itu nggak ada yang cocok?"


"Mungkin saja. Makanya, jangan ditutup dulu! Aku mau istirahat sebentar, ya. Habis dhuhur kita siap terima calon pegawai."


"Siap, Bos! Aku juga ingin rebahan. Rasanya liburan kurang panjang."


Via mencebikkan bibirnya. Ia segera menuju kamar. Ratna pun melakukan hal yang sama.


Sehabis salat dhuhur, mereka membuka toko. Tak berapa lama, salah satu pelamar datang.


Akhirnya, acara pengajuan lamaran dan wawancara calon pegawai berakhir sebelum azan asar. Total ada lima pelamar yang datang. Via menjanjikan untuk menghubungi mereka jika diterima.


Setelah salat asar, Via dan Ratna berdiskusi tentang kualitas pelamar. Ketika sedang asyik membahas calon pegawai, seorang gadis datang. Ia membawa tas besar.


"Mbak Mira! Alhamdulillah, akhirnya sampai. Nggak kesasar, kan?" seru Ratna begitu melihat sosok yang berdiri di depan pintu toko.


"Enggaklah. Kan ruko ini letaknya strategis, mudah dicari."


"Masuk, Mbak. Ni kenalin. Ini bosku, namanya Via," ujar Ratna.


"Ih, jangan lebay kamu! Saya teman kuliah Ratna, Mbak. Kami kerja sama bikin bisnis kecil-kecilan ini," sanggah Via.


"Saya Mira. Saya belum punya pengalaman kerja. Jadi, mohon bimbingan, ya."


"Jangan formal gitu, Mbak! Kita kelola sama-sama. Saya dan Ratna juga masih belajar. Kita hanya berbagi tugas. Mbak Mira suka bermain sosmed nggak? Suka belanja online?"


"Sosmed punya. Kalau belanja online sih pernah, tapi nggak suka. Nggak punya duit buat belanja, hehe."


Via tersenyum. Dia terus menanyai hal-hal yang berkaitan dengan tugas admin. Semua bisa dijawab dengan lancar oleh Mira.


"Okey. Aku rasa Mbak Mira bisa jadi admin. Nanti dibantu oleh Bila."


"Bila? Siapa dia?" tanya Ratna bingung.


"Ckk, kamu nih. Itu tadi, pelamar yang pakai gamis hijau, yang kita wawancarai urutan ketiga," jawab Via.


"Oh, Salsabila? Kok nggak dipanggil Salsa? Dia yang diterima?"


"Iya. Dia kelihatan cekatan. Soal IT juga cukup paham."


"Okelah, aku setuju "


"O iya, Mbak Mira silakan istirahat dulu di kamar. Rat, anterin Mbak Mira, dong!"


Ratna menurut. Mira diajak ke kamarnya. Sambil membantu saudara sepupunya menata pakaian, Ratna sedikit bercerita tentang sosok Via.


***


**Bersambung


Jangan lupa untuk dukung novel ini! Tinggalkan komentar, like, juga vote yang punya persediaan poin 😍

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan pembaca tercinta 😘**


__ADS_2