SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Semilir angin menjelang sore membelai mata yang mulai lelah. Kantuk pun mulai menyerang.


Mira bertahan agar matanya tetap terjaga. Sementara Salsa masih sibuk menempel label harga.


"Kok tumben ngantuk banget, ya? Mbak tinggal bikin kopi dulu, ya. Mau dibikinkan sekalian nggak? tanya Mira.


"Nggak usah, Mbak. Makasih. Salsa nggak biasa ngopi," tolak Salsa.


"Mbak juga nggak biasa ngopi, sih. Tapi ni mata udah berat banget."


"Tidur saja sebentar. Toko biar Salsa yang nungguin. Paling sebentar lagi Mbak Via dan Mbak Ratna pulang. Kayaknya Mbak Mira capek banget," saran Salsa.


"Iya, nih. Eh, nggak apa-apa aku tinggal sendirian?" Mira tampak ragu.


"Iya, nggak apa-apa. Sana, Mbak Mira boci dulu!"


"Oke deh. Kalau udah setengah jam, tolong bangunin, ya!" pinta Mira sambil melangkah menapki tangga menuju lantai 2.


"Iya. Moga mimpi ketemu pangeran!" teriak Salsa diikuti tawa cekikikan.


"Mimpi ketemu Pangeran Farhan? Ah kenapa aku kepikiran dia terus, sih? Sampai-sampai tadi malam aku nggak bisa tidur gara-gara terbayang dia. Jadinya gini, deh. Sekarang ngantuk. Datanglah, Mas Farhan!"


Tak sampai lima menit merebahkan diri, Mira telah terlelap.


Begitu lelapnya, ia tak menyadari sering tersenyum sendiri. Ia juga tidak terganggu kala suara Ratna yang berisik memenuhi ruko.


"Masya Allah, Salsa lupa bangunin Mbak Mira. Sekarang hamir satu jam ia tidur," gumam Salsa sambil mengembalikan bungkusan gamis ke etalase.


"Mbak Ratna, bisa minta tolong bangunin Mbak Mira? Tadi Salsa disuruh bangunin kalau sudah setengah jam ia tidur. Salsa lupa karena banyak pengunjung, terus Salsa beres-beres," teriak Salsa.


"Iya," jawab Ratna juga dengan teriakan.


Ia mendekat ke saudara sepupunya. Tepukan di tangan disertai panggilan tak serta-merta mengembalikan Mira dari dunia mimpinya.


"Mbak Mira lagi mimpi apa, ya? Dibangunin susah banget, malah senyum-senyum gitu. Kayaknya bahagia banget," gumam Ratna.


Akhirnya, Ratna mengguncang-guncang tubuh Mira agak keras disertai teriakan.


"Kebakaran... kebakaran! Lari!"


"Mas, ada kebakaran. Ayo kita lari!" Mira bangun lalu meloncat turun dari ranjang.


Ratna terbahak-bahak melihat Mira panik. Sementara Mira berdiri sendiri kebingungan.


"Bukannya ada kebakaran, Rat?" tanya Mira dengan muka tampak bingung.


"Enggak, Mbak. Aku ngagetin Mbak Mira biar bangun hahaha!"


"Dasar, kamu memang pembuat onar. Coba kalau aku punya penyakit jantung, apa jadinya? Bisa-bisa aku nggak bangun selamanya," gerutu Mira.


"Habis, Mbak Mira tidur kayak pingsan. Udah dibangunin berkali-kali nggak bangun juga. Terpaksa deh, Ratna teriak kebakaran," ujar Ratna tanpa dosa.


"Aku ngantuk banget. Semalam kurang tidur. Paling cuma 2 atau 3 jam."


"Memang kenapa? Semalam kan kita nggak lembur? Ada masalah?" tanya Ratna.


"Entahlah, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku," jawab Mira sambil meletakkan pantatnya ke atas ranjang.


"Ada apa, Mbak?" Ratna.


"Eng---enggak kok."

__ADS_1


"Kalau ada masalah, lebih baik ungkapkan saja. Barangkali aku bisa bantu. Kalau enggak, dengan cerita setidaknya beban perasaan bisa berkurang."


Mira tampak ragu-ragu. Ia menatap Ratna dengan tatapan memelas.


"Rat, salahkah kalau aku menyukai seseorang? Tapi, orang itu begitu jauh berbeda dengan aku" desis Mira.


"Boleh tahu, siapa cowok yang Mbak sukai?"


"Ah, aku malu."


"Kan cuma aku yang tahu. Aku janji nggak akan cerita ke orang lain tanpa izin Mbak Mira."


"Bener?" Mira menegaskan.


"Insya Allah, aku nggak bilang ke siapa-siapa kecuali atas izin Mbak Mira.


Mira menunduk. Ia masih tampak ragu untuk berterus terang kepada Ratna.


"Orang yang kusukai itu ... Mas Farhan," ucap Mira lirih.


Ratna tersenyum tipis. Ia sudah menduga hal itu.


"Boleh tahu, kenapa Mbak Mira suka sama Mas Farhan? Dia kan cowok dingin."


"Entahlah. Di mataku dia kharismatik. Dengan bersikap dingin, ia jadi terlihat berwibawa. Soal wajah, tahu sendiri kalau dia termasuk cakep. Dia juga sudah mapan."


Ratna mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia berpikir cara untuk mendekatkan Mira dengan Farhan.


"Mbak, bagaimana kalau minta tolong sama Via? Dia kan saudara angkatnya. Dia paham karakter Mas Farhan. Selain itu, dia kan mudah berkomunikasi dengan Mas Farhan."


"Tapi, aku malu. Aku sadar diri kalau aku terlalu jauh berbeda. Mas Farhan dari keluarga kaya, berpendidikan tinggi, akhlaknya bagus lagi. Sedangkan aku? Kau tahu sendirilah," ucap Mira sendu.


"Aku bingung, Rat. Menurutmu bagaimana baiknya?" Mira balik bertanya.


"Menurutku, Mbak Mira harus berusaha. Apa aku saja yang ngomong ke Via?"


Mira terdiam. Ia tampak berpikir, menimbang segala sesuatu.


"Tapi, kamu harus minta agar Dek Via nggak cerita ke siapa pun. Aku malu kalau ada orang lain tahu. Iya kalau Mas Farhan mau sama aku, kalau nggak? Mau ditaruh di mana mukaku?"


"Di kepala. Sudah, sekarang salat dulu! Aku bantu Salsa." Ratna bergegas keluar dan menuruni tangga menuju lantai 1. Mira pun menyusul bangkit dari duduknya untuk berwudu dan salat.


Malamnya, Ratna masuk ke kamar Via. Gadis itu baru saja menutup laptopnya.


"Ngerjain apa, sih?" tanya Ratna.


"Cuma ngrekap order. Tadi Salsa belum selesai. Ada apa, Rat? Tumben malam-malam kamu ke kamarku,” ucap Via.


“Emang nggak boleh?”


“Siapa yang bilang nggak boleh? Aku cuma nanya keperluanmu. Biasanya kalau malam-malam ke kamarku, kamu mau curhat. Bener nggak?” tebak Via.


“Hehe … bisa aja kamu, Vi. Emang sih, ada yang mau aku omongin. Aku tiduran, ya,” kata Ratna sambil naik ke atas tempat tidur.


“Seterahlah. Udah, sekarang ngomong aja. Ada masalah apa, Non?"


“Ini bukan tentang aku.”


“Lalu?’


“Ini masalah Mbak Mira.”

__ADS_1


“Kenapa dengan Mbak Mira? Apa trauma penculikan itu menghantuinya lagi?” tanya Via penasaran.


“Bukan. Ini nggak ada hubungannya dengan penculikan. Kamu masihmingat yang kita omongin saat pergi ke kampus waktu itu?’ Ratna menguji ingatan Via.


“Yang mana, ya?”


“Waktu kita habis lava tour, seminggu sebelum mid semester. Itu, soal perasaan Mbak Mira.”


“Oh, tentang dugaanmu kalau Mbak Mira tengah jatuh cinta?”


Ratna mengangguk Ia menatap sahabatnya penuh harap.


“Kok natapnya gitu?” tegur Via.


“Karena aku berharap kau bisa bantu saudara sepupuku itu.”


“Maksudmu?”


“Sebelumnya, tolong kamu janji dulu. Berjanjilah untuk tidak memberi tahu orang lain tentang yang kita bicarakan nanti,” pinta Ratna.


“Kok sepertinya rahasia banget? Okelah, aku janji tidak menceritakan apa yang kita bicarakan mala mini dengan sengaja kecuali atas izinmu. Insya Allah. Cukup?”


“Oke, aku percaya. Begini, Vi, Mbak Mira itu suka sama Mas Farhan. Kamu kan saudara angkatnya. Tentu kamu tahu banyak hal tentang dia.”


“Terus?”


“Ya, kamu membantu agar Mbak Mira bisa deket sama Mas Farhan. Bisa, kan?”


Dada Via seperti dihantam palu. Kembali ia merasa hatinya seperti diremas-remas. Ia mengambil nafas panjang.


“Gimana, Vi? Kamu bisa bantu Mbak Mira, kan?” desak Ratna.


“Sebelumnya aku minta maaf. Aku harus mengatakan hal ini. Sungguh, sebenarnya aku tak ingin menyakiti Mbak Mira. Tapi, kalau aku nggak mengatakan, Mbak Mira akan lebih sakit. Rat, Mas Farhan sudah ada yang punya. Mungkin nggak lama lagi ayah dan bunda akan mengadakan resepsi pernikahan Mas Farhan,” kata Via pelan.


“Apa? Siapa calon istri Mas Farhan? Anak pengusaha? Teman kantornya?” cecar Ratna.


“Maaf, aku belum bisa mengatakan sekarang,” Via berkilah.


“Kau kenal?” tanya Ratna lagi.


Via hanya tersenyum. Ia berpindah ke samping Ratna.


“Rat, tolong kamu bilang tentang hal ini kepada Mbak Mira, ya. Aku sebenarnya ingin membantu Mbak Mira, tapi aku nggak bisa. Insya Allah Mbak Mira akan menemukan jodoh yang tepat.”


“Oke, Vi. Tapi ingat, kamu jangan menceritakan kepada orang lain. Ini rahasia kita, ya.”


Via menganggukan kepala sambil tersenyum lembut.


“Kasihan Mbak Mira. Cintamu harus kau pupus, layu sebelum berkembang,” ujar Ratna dalam hati.


***


Bersambung


Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan memberi like, komentar, juga vote.


O ya, kunjungi novel bagus ini, ya!



__ADS_1


__ADS_2