SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Menguji Mira


__ADS_3

Via melangkah meninggalkan kampus pelan-pelan. Kecepatan langkahnya jauh lebih lambat dibanding biasanya. Sejak hamil, Via merasa mudah lelah. Namun, ia tidak ingin hal itu membuat kuliahnya terganggu.


Ratna terpaksa ikut pelan. Ia tidak mungkin tega meninggalkan sahabatnya berjalan sendirian di bawah terik matahari.


“Pegel, ya?” tanya Ratna.


Via mengangguk. Tangannya mengurut pinggang kanan yang terasa seperti ditarik.


“Masih kuat? Apa naik becak saja?” Ratna menawari Via.


Via malah mencebik. Ia merasa tawaran Ratna berlebihan.


“Kamu kira aku nenek-nenek jompo yang sudah nggak kuat jalan? Aku cuma sedikit pegal. Kadang kakiku kram kalau jalan terlalu cepat. Makanya, aku jalannya pelan. Kalau kamu nggak sabar, sana duluan gih!” Via menjawab panjang lebar (nggak pakai tinggi).


Ratna tertawa mengejek. Ia memang merasa seperti jalan bersama nenek jompo.


“Kan emang kamu kayak nenek jompo, jalan kayak siput,” ejek Ratna.


“Huh, kamu belum pernah hamil. Suatu saat kamu hamil terus tingkahmu aneh, aku dengan senang hati akan menertawakanmu,” sungut Via.


“Aaah, itu kan planning yang realisasinya entah berapa tahun lagi. Aku yakin kamu sudah lupa.”


Via menoleh ke Ratna. Ia menyipitkan mata indahnya.


“Kenapa kamu bilang realisasinya entah berapa tahun lagi? Kamu belum punya keinginan menikah dalam waktu dekat? Kita kan hampir lulus,” cecar Via.


Ratna mengangkat bahunya. Ia tak memedulikan tatapan Via yang mengintimidasi.


“Kan kamu tahu sendiri aku jomblo akut. Ada teman jomblo, sih. Mbak Mira. Selain itu, aku dan Mbak Mira senasib. Karena kami bukan orang kaya, kami harus kerja keras untuk hidup. Aku lebih beruntung dibanding sepupuku. Setidaknya aku masih menikmati bangku kuliah meski harus berusaha cari penghasilan untuk tambahan biaya hidup dan beli keperluan kuliah. Terima kasih, Via. Berkat kamu, aku dan Mbak Mira bisa dapat penghasilan. Tidak hanya untuk diriku sendiri. Aku juga bisa membantu orang tua, memberi uang saku kepada adikku.” Suara Ratna kali ini terdengar sendu. Tidak ada wajah kocak di sana.


Via menggandeng tangan Ratna. Seolah ia ingin berkata kalau Ratna tidak sendiri menghadapi permasalahan hidup.


“Mbak Mira sekarang juga bisa membiayai adik-adiknya. Mungkin, adik Mbak Mira bisa kuliah karena tabungan Mbak Mira cukup lumayan. Dia memang pandai mengatur keuangan. Sayang …” Ratna menggantung kalimatnya.


“Sayang kenapa, Ratna?” Via penasaran.


“Sayang, perjodohannya nggak beda sama aku. Kami sama-sama jomblo, haha…” tawa Ratna pecah. Raut muka sendunya telah menghilang.


“Jodoh sudah ada yang mengatur. Sekeras apa pun kita kejar, kalau dia bukan jodoh kita ya tidak akan bersatu. Sebaliknya sekeras apa pun kita menghindarinya, kalau dia jodoh kita ya pasti akan bertemu,” kata Via bijak.


“Kamu dulu menghindari Mas Farhan, ya?” ledek Ratna.


Muka Via memerah. Sebuah cubitan kecil hinggap di lengan Ratna. Si pemilik lengan memekik lirih.


“Aw, sakit. Cubit Mas Farhan saja, jangan aku!” Ratna bersungut.


“Habis kamu ngomongnya suka bener, bikin malu,” desis Via.


“Eh, by the way any way busway, aku menangkap ada yang aneh pada diri Mbak Mira.”


Via menghentikan langkahnya. Ia memandang Ratna serius.


“Aneh bagaiman? Kalau ngomong yang jelas!”


“Aku teringat setelah lava tour. Ada binar-binar cinta di mata Mbak Mira. Ternyata, dia jatuh cinta sama Mas Farhanmu. Nah, sekarang, aku menjumpai pancaran cinta di mata Mbak Mira,” jelas Ratna.


“Kok kamu seperti juru ramal, sih?” ucap Via.


“Ish, bukan juru ramal. Tapi aku menebak dari gejala-gejala yang timbul. Aku dapat ilmunya dari novel-novel yang kubaca. Nah, baca novel juga bermanfaat, kan? Tidak hanya untuk hiburan,” kata Ratna.


Via terdiam. Ia teringat saat mengetahui Mira jatuh cinta kepada Farhan. Belas kasihan terhadap Mira pun muncul.

__ADS_1


“Kamu tahu siapa lelaki yang Mbak Mira sukai?” Via mencoba mengorek informasi.


“Aku kira dia adalah Mas Edi.”


Via tersentak. Matanya terbelalak memelototi Ratna.


“Kok bisa kamu menyimpulkan Mbak Mira suka Mas Edi?”


“Aku memperhatikan tingkah Mbak Mira saat ada Mas Edi atau pun membicarakan Mas Edi,” jawab Ratna mantap.


Via mencoba mengingat moment saat Mira bersama Edi. Ia juga ingat saat ditanya Mira tentang Edi. Tanpa sadar, Via mengangguk-angguk, menyetujui pendapat Ratna.


"Mbak Mira nggak pernah curhat?" tanya Via.


"Enggak, tuh."


Via terdiam sejenak. Ia terlihat sedang berpikir.


"Bagaimana kalau kita mengujinya?" usul Via.


"Maksud kamu gimana? Kayak uji sampel di lab," ujar Ratna sembari cekikikan.


"Hus, diam! Aku minta Mas Farhan agar Mas Edi ke ruko, nanti kita tinggalkan Mas Edi dan Mbak Mira di lantai 1 sekitar 15 menit. Kita lihat reaksi mereka ketika bertemu," papar Via.


"Oke, aku setuju. Cepat kamu hubungi Mas Farhan!"


Via mengeluarkan benda pipih yang cerdas. Jemari lentiknya pun segera menari di atas layar monitor.


Tak terasa mereka telah sampai ruko. Setelah basa-basi sebentar dengan Mira dan Salsa, Via dan Ratna bergegas naik.


"Mas Farhan oke. Kita tunggu saja. Panggil Salsa nanti."


"Assalamualaikum. Mbak Via sudah ada di sini?" tanyanya sopan.


Mira yang tengah merekap order online terperanjat. Ia terlihat sedikit gugup.


"Wa--waalaikumsalam. Silakan masuk. Saya panggil Dek Via dulu."


Secepat kilat gadis itu menuju lantai 2. Dengan nafas terengah-engah, dia memberi tahu Via kalau dijemput Edi.


"Mbak, tolong bilang ke Mas Edi agar nunggu sebentar. Via lagi menyelesaikan tugas kelompok. Tolong juga bikinkan minum, Mbak. Biasanya dia ngopi," kata Via.


Mira menurut. Ia membuat secangkir kopi lalu dibawa turun.


"Eee, Dek Via sedang mengerjakan tugas kelompok bareng Ratna. M--mas Edi diminta menunggu," ujar Mira.


"O begitu," sahut Edi.


"Silakan diminum kopinya."


"Makasih. Kok malah repot-repot."


Suasana hening. Mereka berdua sama-sama diam. Terlihat kecanggungan melanda keduanya.


"Assalamualaikum," ucap seorang pria berusia sekitar 25 tahun sambil tersenyum.


"Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu?" Mira menyambut pria itu.


"Saya mau beli gamis untuk hadiah ulang tahun adik saya. Bisa minta tolong pilihkan, Mbak?" pinta pria itu penuh harap.


"Usia berapa? Tinggi badannya seberapa?"

__ADS_1


"Dia hampir lulus SMP, usianya 16 tahun. Postur tubuhnya nggak jauh beda sama Mbak."


Mira menunjukkan koleksi gamis untuk remaja. Ia menjelaskan setiap model yang ia tawarkan.


Akhirnya, pria itu memilih sebuah gamis berharga Rp 550.000,00. Ia tampak puas.


"Mbak, boleh minta tolong sekali lagi? Tolong bungkus dengan kertas kado."


"Tentu, Mas. Kami memang menyediakan jasa bungkus kado," jawab Mira sambil tersenyum.


Dengan cekatan Mira membungkus gamis dengan kertas kado. Pembeli itu terus memperhatikan Mira.


"Mbak, boleh kenalan? Saya Roni," ujar pria itu.


"Nama saya Mira," jawab Mira tanpa menoleh.


Tiba-tiba Edi mendekat. Ia berdiri di samping pria yang mengaku bernama Roni.


"Kado untuk istri, Mas?" tanya Edi.


Pria itu menatap Edi dengan tatapan tak bersahabat. Ia menggeleng.


"Buat pacar?" tanya Edi lagi.


"Adik," jawab Roni sedikit ketus.


"Sudah, Mas. Ini gamisnya. Semoga adik Mas Roni menyukainya," ucap Mira sambil menyodorkan paper bag.


Roni tersenyum senang. Ia menyodorkan 6 lembar ratusan ribu.


"Kembaliannya ambil saja. Terima kasih atas bantuan Mbak Mira. Lain kali saya akan datang lagi. Assalamualaikum," ucap Roni.


"Waalaikumsalam," jawab Edi dengan nada agak ketus.


"Mas, ini ada kok uang kembalian. Saya nggak enak," kata Mira sambil mengambil lembaran uang berwarna biru.


Roni menoleh sambil tersenyum. Ia melambaikan tangannya. Tak lama kemudian ia sudah melesat bersama motor sportnya.


"Apa sering pembeli seperti tadi berkunjung ke sini?" tanya Edi datar.


"Maksud Mas Edi apa, ya? Minta dibungkuskan kado, begitu? Sering, Mas. Dan kami memberikan jasa layanan bungkus kado gratis," jawab Mira.


"Bukan itu. Pembeli laki-laki yang meminta kenalan."


Mira tersenyum tipis. Ia merasa aneh ditanyai seperti itu oleh Edi.


"Enggak, kok. Lagi pula pengunjung ruko ini lebih banyak perempuan dari pada lelaki," jelas Mira.


"Hati-hati menghadapi lelaki ganjen sok kaya macam tadi," ujar Edi datar.


Mira mengangkat sedikit bahunya. Lalu, ia kembali menyelesaikan tugas rekap order. Sesekali diliriknya pria yang duduk menikmati kopi buatannya sambil memainkan ponsel.


***


bersambung


Like, koment, vote, juga rate 5 jangan dilupakan, ya! Makasih buat readers yang setia dukung author 🙏


Sambil nunggu up lagi besok, baca novel seru ini, ya! Kisah remaja yang baru lulus SMA dipaksa menikahi dokter yang karakternya sedingin kutub 🤭


__ADS_1


__ADS_2