SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagaimana Kabarmu?


__ADS_3

Teriknya sang surya cukup menyengat. Banyak orang bermandikan peluh. Memang, di gedung perkantoran besar tidak berlaku. Dinginnya AC mampu meredam suhu yang panas hingga para karyawan yang berada di dalam gedung tidak merasakan gerah.


Tidak demikian dengan Via. Ruangannya jelas ber-AC. Suhunya diatur 240 C. Namun, ia tetap merasakan gerah.


Sebenarnya, hati Via yang gerah. Ia gelisah karena Farhan belum juga memberi kabar. Beberapa kali ia menelpon, terdengar nada sambung tetapi tidak dijawab. Pesan yang dikirimkan pun diterima, tetapi tidak dibuka.


Azan zuhur membuyarkan angannya. Ia segera berwudu lalu keluar ruangan. Sebagian karyawan berbondong-bondong ke musala. Sejak Farhan menjabat manager, para karyawan memang dibiasakan salat berjamaah saat masuk waktu salat.


Usai salat, Via menemui Edi. Mereka akan pergi menjemput Mira untuk makan siang.


Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Edi telah mengaspal. Mobil pemberian kakek Via itu meluncur di sela ramainya kendaraan yang berlalu-lalang.


“Mbak Via kelihatannya gelisah?” celetuk Edi.


Edi melihat calon ibu muda itu memegang erat ponselnya. Sebentar-sebentar Via melihat layar benda cerdas itu.


Via menghela nafas panjang lalu menjawab, “Iya, Mas. Sedari tadi nunggu kabar dari Mas Farhan, tetapi tidak ada juga.”


“Sudah coba menelepon atau mengirim pesan?” tanya Edi lagi.


“Sudah. Nadanya tersambung, pesan juga masuk. Tetapi telepon tidak pernah diangkat, pesan pun tidak dibuka,” jawab Via sambil menunduk sedih.


“Astaghfirullah, kenapa aku teledor?” Mendadak Edi seperti tersengat lebah.


“Ada apa, Mas?” tanya Via heran.


“Maafkan saya. Saya teledor tidak memberikan pengawalan kepada Mas Farhan. Teledor! Saya benar-benar teledor!” runtuk Edi.


“Sudahlah, Mas Edi jangan menyalahkan diri sendiri gitu. Mas Farhan hanya mengunjungi Dek Azka dan ke perkebunan,” ujar Via menenangkan.


Edi tidak memedulikan ucapan Via. Ia segera menghubungi orang kepercayaan keluarga Wijaya di Medan. Ia memerintahkan agar mereka bergerak memastikan keberadaan Farhan dan mengawal Farhan hingga ia naik pesawat.


Setelah memastikan instruksinya dipahami dengan baik, Edi kembali berkonsentrasi ke jalanan. Tidak lebih dari lima menit kemudian, mereka telah sampai ruko.


Mira dan Ratna telah bersiap. Begitu melihat mobil Via berhenti, mereka mendekat.


“Mbak Mira duduk di depan, ya. Aku males pindah,” ujar Via seraya tersenyum.


Mira terlihat ragu. Namun, ia tetap menurut yang dikatakan Via. Ia membuka pintu depan dan duduk di samping Edi. Sementara, Ratna duduk di sebelah kiri Via. Kemudian, Edi melajukan mobil menuju kafe.


Karena Edi sudah reservasi, mereka mendapat tempat yang nyaman meski saat itu kafe sedang ramai. Tentu saja, saat itu jam makan siang.


“Salsa nggak apa-apa ditinggal bersama karyawan yang baru?” tanya Via.


“Enggak. Kalau ikut, dia malah nggak tenang. Kan dia yang peling dekat dengan karyawati baru. Salsa yang sering ngajari mereka,” jawab Ratna santai.


“Nanti bawakan mereka makanan. Pesankan 3 porsi, ya!” perintah Via.


Tak lama kemudian, hidangan pun tersaji. Mereka menyantap maknan yang terlihat lezat itu.


“Mas Edi, kok diam saja dari tadi? Nggak usah canggung! Ratna kan calon sepupu juga,” ujar Via sambil tersenyum.


Edi mengangguk dan membalas senyum Via. Ia mengelap mulutnya yang sebenarnya tidak belepotan.


“Ehm, Mira, kemarin saya sudah ngobrol dengan orang tua saya. Saya sudah menyampaikan niat saya melamarmu. Mereka sudah setuju.” Edi menceritakan yang sudah ia lakukan.

__ADS_1


“Eh, Mas Edi kan mau melamar Mbak Mira. Berarti, Mas Edi calon suami Mbak Mira. Kenapa ngomongnya formal gitu, sih? Aneh kedengarannya,” celetuk Ratna.


Via menendang kaki Ratna. Ia gemas dengan ulah sahabatnya yang suka ceplas-ceplos.


Mira menahan senyumnya. Dalam hati ia membenarkan yang dikatakan Ratna. Ia sebenarnya geli, tetapi tidak enak untuk mengungkapkan.


“Eh, begitu ya? Saya belum terbiasa, sih,” kata Edi malu-malu.


“Ya dibiasakan, dong! Untung nggak pakai bahasa baku. Ntar dikira mau pidato lo!” canda Ratna dengan gaya cueknya.


Mira tak bisa menaahan tawanya. Ia terkikik mendengan ucapan Ratna. Sementara Via mencubit lengan Ratna pelan.


“Udah, Mas! Jangan dengerin omongan si Inem ini! Lanjutkan yang akan Mas Edi sampaikan!” kata Via.


“Iya. Maaf, ya kalau saya masih kagok. Ehm, rencananya orang tua saya mau menemui orang tua Mira untuk melamar Mira secara resmi sekaligus membahas rencana pernikahan. Mira keberatan, nggak?” ucap Edi dengan nada terkesan berhati-hati.


“Kalau Mira pribadi sih nggak keberatan. Mira akan bilang ke bapak ibu soal rencana Mas Edi ini besok, ya,” kata Mira.


“Halah, aku yakin Om Rudi bakal setuju. Semangat, Mas Edi!" Lagi-lagi Ratna menyeletuk.


“Ish, kamu tu sok tahu,” sanggah Mira gemas.


“Buktikan aja besok,” ujar Ratna cuek. Ia memasukkan sepotong daging ke mulutnya.


“Boleh tahu, kalau adat di sini bagaimana? Maksud saya, apa yang perlu dibawa saat melamar seorang gadis. Kan saya maupun orang ua saya nggak tahu. Kami nggak mau dikira tidak sopan. Makanya, saya ingin menyiapkan agar saat orang tua saya datang tidak usah repot-repot,” papar Edi.


“Masalah itu, serahkan saja ke Ratna. Dia bisa diandalkan, kok,” kata Via dengan menatap Ratna seraya menaik turunkan alisnya.


Ratna mencebik mengetahui kelakuan Via. Ia menyesap jus jeruknya.


“Hush, nggak sopan! Sudah, Mas, pokoknya Mas Edi tenang saj! Mas Edi pikirkan saja bagaimana menhadirkan kedua orang tua Mas ke sini,” potong Via.


Ratna mengangkat bahunya. Ia kembali menyesap jus jeruknya.


Selesai makan, Via membayar makanan yangmereka makan dan yang dibungkus untuk Salsa juga karyawati lain. Kemudian, mereka kembali. Edi mengarahkan mobil ke ruko, barulah ia melanjutkan ke Wijaya Kusuma.


“Bagaimana, ada kabar tentang Mas Farhan? Dia belum menghubungi aku,” ucap Via sambil melangkah masuk ke kantor.


“Belum, Mbak. Yang jelas, Mas Farhan tidak berada di rumah Pak Candra.”sahut Edi yang berjalan di samping agak belaang tubuh Via.


Dari tadi, Via sebenarnya ingin mengetahui kabar Farhan. Namun, ia tidak ingin membuat Ratna maupun Mira menjadi khawatir.


Saat mereka keluar dari lift, ponsel Farhan berbunyi. Lelaki itu segera mengambil ponsel dari dalam sakunya.


Via berhenti. Ia ingin mngetahui apa yang Edi bicarakan. Kali ini dia begitu kepo.


Edi terlihat begitu serius. Ia lebih banyak diam mendengarkan suara dari seberang. Sesekali ia bertanya meminta klarifikasi. Namun, Via tidak bisa menangkap isi pembicaraan mereka.


"Boleh saya tahu, itu orang yang disuruh Mas Edi mengawal Mas Farhan atau bukan?" tanya Via hati-hati.


"Iya, Mbak. Mereka sedang melacak di rute perjalanan menuju perkebunan."


Via teringat pembicaraan terakhirnya dengan Farhan. Ia pun segera memberi tahu Edi.


"Terakhir kontak denganku, Mas Farhan sudah keluar dari perkebunan. Saat itu, Mas Farhan berhenti di bengkel tambal ban karena dua ban mobil yang dinaikinya terkena paku. Mungkin ada yang sengaja menebarkan paku di jalan."

__ADS_1


Edi mengernyitkan keningnya. Ia menangkap ada keanehan pada cerita Via.


"Bengkel tambal ban? Ini aneh. Setahu saya, tidak ada bengkel di dekat perkebunan. Apa baru, ya?" gumam Edi.


"Mungkin saja bengkel baru. O iya, aku tadi nggak sengaja merekam vicall dengan Mas Farhan, " celetuk Via.


"Boleh saya lihat?"pinta Edi.


Via mencari rekaman video call-nya lalu diserahkan kepada Edi. Pria itu mengamati rekanan tersebut dengan cermat. Ada ekspresi keterkejutan yang tampak sesaat. Tetapi, dengan cepat Edi mengubah ekspresi itu.


"Bagaimana, ada petunjuk?" tanya Via tak sabar.


"Sebentar, saya hubungi orang saya terlebih dahulu," kata Edi.


Ia menekan tombol nomor tertentu.


"Din, kemungkinan kelelawar hitam bermain. Konsentrasi pencarian pada titik sekitar 1 sampai 10 kilometer dari perkebunan!"


Edi tampak menyimak penjelasan dari seberang dengan serius. Wajahnya menunjukkan adanya kekhawatiran.


"Hubungi kepolisian! Kita harus bekerja sama dengan kepolisian," kata Edi lemah.


Jantung Via berdetak kencang mendengar Edi menyebut kepolisian. Perasaannya semakin tak enak.


"Bagaimana, Mas? Tolong beri tahu aku!" pinta Via memelas.


"Sebaiknya kita pulang saja. Kita tunggu kabar selanjutnya dari rumah," kata Edi. Ia mencemaskan kondisi Via yang tengah berbadan dua.


Via mengangguk. Ia juga tidak bisa berkonsentrasi lagi. Edi segera memberi tahu Arif, sang sekretaris, kalau Via tidak enak badan.


Dalam perjalanan, Via memaksa Edi menceritakan yang ia ketahui.


"Teman saya mengatakan kalau bengkel tambal ban tidak ada. Bekas-bekas gubuk masih ada. Sekitar 5 kilometer dari bekas bengkel, ada tanda-tanda kecelakaan," papar Edi.


Mata Via terbelalak mendengar penjelasan Edi. Perasaannya semakin kacau.


"La--lalu?" Via bertanya dengan suara bergetar.


"Ditemukan ada mobil yang masuk ke dalam parit yang dalamnya lebih dari 5 meter. Teman saya belum berani menyimpulkan apakah Mas Farhan ada di dalam mobil itu," jelas Edi lagi.


"Bagaimana kondisi mobil?" Via terus mengejar.


"Terbakar. Makanya, teman saya tidak berani menyimpulkan apa pun. Saya sudah menyuruhnya menghubungi polisi."


Via tercekat mendengar penjelasan Edi. Pikiran buruknya pun menari-nari. Ia terus menggumamkan doa untuk keselamatan sang suami. Tak terasa air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


***


Bersambung


Mohon tetap dukung author dengan memberi like, koment, juga vote. Yang belum memberi penilaian, tolong kasih bintang 5 😍


Maafkan author yang belum sempat membalas komentar para readers 🙏.


Insya Allah karya Kakak aku kunjungi balik.

__ADS_1


__ADS_2