SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kapan Melamar?


__ADS_3

Farhan membuka pintu kamarnya. Wajah cantik dengan blush on alami yang membuat wajah terlihat segar tampak jelas terpantul di cermin. Namun, si pemilik wajah cantik itu tampaknya tidak sedang memperhatikan wajahnya. Apalagi sampai mengagumi pahatan indah Sang Maha Pencipta. Jelas tidak.


Dahi Farhan berkerut melihat pemandangan tak lazim di kamar. Sebelum membuka pintu, ia sudah mengucapkan salam sampai tiga kali. Namun, tidak ada suara yang menjawab salamnya. Tadinya ia mengira Via tidak berada di kamar.


Ternyata, ibu muda itu tengah duduk di depan meja rias. Tatapannya kosong, tidak menangkap pantulan sosok tampan di cermin. Sepertinya, angannya tengah disulam dengan rapi hingga butuh daya imaji yang tinggi, tak tersentuh fakta.


Mata indah itu terbelalak. Keterkejutan tampak jelas di wajahnya. Nafasnya sempat sedikit tersengal seiring rasa kagetnya. Namun, ia berhasil menenangkan ketika tahu pemilik telapak tangan yang menempel di bahunya.


“Hubbiy, kapan datang? Kenapa tahu-tahu di dalam? Nggak biasanya gini? Biasanya kan salam dulu ...emph ....” ucapan bertubi-tubi Via terhenti karena bibirnya terkunci.


Pelaku yang berani mengunci bibir mungil Via tentu saja bibir milik Farhan. Ia merasa gemas dicecar pertanyaan oleh sang istri. Sengaja Farhan membiarkan Via tetap terkunci untuk waktu cukup lama hingga nafasnya mulai tersengal.


“Hubbiy nakal! Bukannya jawab, malah bungkam Via!” sungut Via begitu pengunci bibir terlepas.


“Mau aku bungkam lagi, hem?” ledek Farhan.


Via hanya membentuk bibirnya sedikit maju mengerucut. Ia memasang wajah cemberut.


“Aduh, kalau begini kan malah bikin Mas gemes lagi. Mau Mas gigit tu yang dimonyongan begitu?”


“Haish! Jawab dulu pertanyaan Via!” rengek Via manja.


Farhan terkekeh. Rupanya istrinya tidak menyadari kesalahannya.


“Memangnya sedang melamun apa, sih? Suami datang bukannya disambut, malah dicuekin. Sudah salam sampai 3 kali, tidak dijawab. Sudah gitu, masih diinterogasi,” ucap Farhan dengan muka memelas.


Bibir Via terbuka membentuk huruf O sementara pipinya tampak lebih merah merona. Ia merasa seperti terkena serangan balik yang mematikan.


“Ber--arti ta—di sudah salam? Sudah lama?” tanya Via dengan agak terbata.


“Tentu saja. Memang Cinta lagi mikir apa, sih?” tanya Farhan lembut.


Via menunduk. Lalu, ia bangkit dan menarik tangan Farhan. Mereka duduk berhimpitan di sofa.


“Via teringat ucapan Mbak Mira kemarin. Kasihan dia,” keluh Via.


“Memangnya kenapa?” Farhan heran.


“Dia merasa gelisah karena tidak ada kejelasan perkembangan rencana lamaran Mas Edi,” jelas Via.


“Bukannya Mas Edi sudah mengatakan kalau dia hanya menunda?” tanya Farhan lagi.


Via mengangguk. Ia tampak lesu.


“Waktu itu Mas Edi kan beralasan karena kondisi berkabung, kita sedang mendapat musibah. Sekarang, musibah kan sudah berlalu. Namun, Mas Edi sepertinya belum memikirkan kembali rencana lamarannya.”


“Mungkin karena kita lepas dari mara bahaya kan baru saja. Jadi, Mas Edi belum sempat saja.” Farhan menenangkan sang istri.


“Iya, Sayang. Tapi namanya perempuan, hal seperti itu menjadi sensitif. Bisakah kita berbuat sesuatu?” Via menatap penuh harap.


Farhan terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan Via.


“Begini, Hubbiy bicara sama Mas Edi agar dia merencanakan ulang lamarannya. Mas Edi diminta menghubungi orang tuanya. Soal seserahan, biar Via dan Ratna dibantu Salsa yang menyiapkan.” Via menambahkan.

__ADS_1


Farhan mengangguk-angguk. Ia bisa menerima usulan Via.


“Tunggu! Apa Cinta tidak repot menyiapkan seserahan? Kan harus ngurus si tampan Zayn?” Farhan terlihat ragu.


Via tersenyum. Ia merasa lega karena nada bicara Farhan menunjukkan ia menyetujui usulnya.


“Tenang saja, Hubbiy. Serahkan saja urusan mencari barang kepada Ratna. Via cuma kasih arahan dan masukan. Biar kita yang mendanai lamaran Mas Edi. Dia kan sudah menjadi bagian dari keluarga kita,” kata Via.


“Baiklah kalau Cinta tidak terjun langsung belanja. Iya, Mas setuju. Mas Edi sudah menjadi bagian keluarga kita dan jasanya sangat banyak. Kali ini, kita yang memikirkan rencana hari bahagianya. Dia sudah sering memikirkan kita hingga masalah yang kecil.”


“Iya, benar. Terima kasih, ya,” ucap Via tulus.


“Kok pakai terima kasih?” Dahi Farhan berkerut lagi.


“Ya pokoknya terima kasih,” sahut Via diikuti senyum manis.


Tangan kanan Farhan segera terulur ke bahu Via. Ia hendak merengkuh tengkuk sang istri. Namun, niat itu terpaaksa dibatalkan karena si kecil Zayn terbangun.


Via tertawa kecil. Ia bangkit dari duduknya dan memeriksa popok Zayn.


“Oh, pup ya? Bentar, ya. Bunda bersihkan dulu.”


Tanpa rasa jijik, Via melepas popok Zayn lalu membersihkan bayinya. Setelah itu, ia mengganti popok Zayn.


“Nah, anak soleh sudah bersih. Nyaman, kan?” kata Via sambil mengangkat tubuh Zayn ke pelukannya.


Farhan menatap Via kagum. Ia tak mengira istrinya sudah begitu cekatan mengurus bayi. Padahal, ia tahu persis istrinya anak tunggal yang belum pernah mengurus bayi.


“Mas kagum sama kamu. Baru jadi ibu sudah pintar mengurus bayi.” Farhan duduk di sebelah kiri Via.


Farhan mengecup ubun-ubun Zayn yang tengah menikmati minumannya. Seuntai doa ia panjatkan dalam hati.


“Rabbi habli minash sholihin,” ucapnya dalam hati.


“Semoga ia tumbuh menjadi anak soleh, ya,” kata Via.


Farhan tersenyum lalu menjawab,”Itu doa yang tadi Mas panjatkan. Rabbi habli minash sholihin, yang artinya wahai Rabbku, berilah aku keturanan yang soleh.”


Via mengusap kepala Zayn dengan lembut. Si bayi tampak begitu rakus meneguk ASI.


“Mas tinggal ke paviliun dulu, ya. Siapa tahu Mas Edi sudah pulang,” pamit Farhan.


Via mengiyakan. Ia tetap dalam posisinya.


Langkah Farhan terayun menuju bangunan di samping rumah.Ia melihat  Pak Nono sedang duduk di teras sendiri.


“Assalamualaikum. Pak Nono lagi santai, nih?” sapa Farhan.


“Waalaikumsalam. Iya, Mas. Pulang ngantar Tuan Candra, saya cuma bantu Bu Inah betulin kran musala sama buang sampah.” Pak Nono menjelaskan.


“Mas Edi sudah pulang?” Farhan bertanya kepada Pak Nono.


“Baru saja sepertinya. Motornya ada. Tapi saya belum ketemu,” jawab Pak Nono.

__ADS_1


Farhan hanya ber-oh ria. Ia berpamitan menuju kamar Edi.


“Assalamualaikum. Mas Edi di dalam?”


Tak menungu lama, Farhan sudah mendapat jawaban dari dalam.


“Waalaikumsalam. Ya, Mas. Masuklah!” Edi menjawab sambil membuka pintu kamarnya.


Farhan mengangguk seraya membentuk senyum di bibir yang tak pernah tersentuh rokok. Kaki kanan ia ayunkan untuk memasuki kamar seluas 20 meter persegi.


Tatanan minimalis tersaji di ruang kamar tersebut. Tidak ada hiasan dinding. Yang ada hanya jam berdiameter sekitar 30 cm. Ranjang dengan ukuran single membuat kamar itu terlihat lapang.


“Ada sesuatu yang penting, Mas?” tanya Edi langsung pada sasaran.


“Pengin ngobrol sih. Lama nggak ngobrol berdua sama Mas Edi,” ujar Farhan. Ia meletakkan pantatnya di atas ranjang.


Edi tertawa. Rasanya aneh jika Farhan hanya ingin mengajaknya ngobrol yang tak penting.


“Mas, kapan orang tua Mas Edi akan datang?” tanya Farhan mulai ke pokok masalah.


“Entahlah. Saya belum memikirkan lagi. Waktu itu saya meminta mereka membatalkan niat ke sini karena kita berkabung..”


“Oh, karena aku meninggal, ya?” tanya Farhan.


Mereka berdua terkekeh. Ingatan mereka melayang ke peristiwa beberapa waktu silam.


“Sekarang kan sudah berlalu. Aku selamat, cuma cidera aja. Kenapa Mas Edi nggak lanjutin rencana lamaran?” desak Farhan.


Seberkas keraguan menyapu wajah Edi. Pria itu masih terdiam.


“Ada masalah, Mas?”


Edi menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar. Ia seakan sedang menghalau gundah yang membelenggunya.


“Ayah tiriku, Mas. Ketika saya  menyampaikan kalau saya menunda lamaranku, ia marah. Ia menganggap saya  main-main. Dia tak percaya lagi padaku,” keluh Edi.


Farhan menatap Edi yang tengah menunduk lesu. Ia kasihan terhadap pria yang sudah dianggap saudara.


“Mengapa ayah Mas Edi se-ekstrim itu?” tanya Farhan.


“Ini masalah uang yang kujanjikan. Setelah melamar Mira, pulangnya akan kuberi sepuluh juta. Ayah menganggap saya tak punya uang sebanyak itu makanya membatalkan lrencana lamaran.” Edi menjelaskan dengan suara sendu.


“Atau mungkin Mas Edi transfer agar beliau percaya?”


Edi menggeleng. Ia tampak jelas kalau tidak setuju.


“Kalau sudah terima uangnya, ia tidak akan ke sini. Sebenarnya, tanpa ayah pun saya tak masalah.  Tapi, bagaimana perasaan ibu? Saya juga menjaga perasaan beliau. Selain itu, tanpa kehadiran ayah, bisa saja pandangan keluarga Mira terhadap keluarga saya menjadi buruk.”


Farhan diam-diam mengagumi pemikiran Edi. Ia berpikir keras bagaimana menolong pria itu.


***


Bersambung

__ADS_1


Ada yang mau kasih saran untu Farhan agar dia bisa nolong Edi? Silakan koment di bawah. Insya Allah aku akan mengunjungi karya Kakak. Terima kasih.


__ADS_2